32.1 Episode Depresif Sedang Dengan Gejala Somatik

View previous topic View next topic Go down

32.1 Episode Depresif Sedang Dengan Gejala Somatik

Post by Gerald Mandra on Mon Jul 13, 2015 1:18 am

LAPORAN KASUS
EPISODE DEPRESIF SEDANG DENGAN GEJALA SOMATIK



Oleh :
Gerald Mandra Dwi Putra
H1AP010015

Pembimbing :
dr. Lucy Marturia B, Sp.KJ


KEPANITERAAN KLINIK PSIKIATRI
PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
RUMAH SAKIT KHUSUS JIWA SUPRAPTO
BENGKULU
2015



LAPORAN KASUS

Riwayat Psikiatri
Riwayat psikiatri diperoleh dari heteroanamnesis dengan Nn. I (Anak kandung pasien) dan autoanamnesis. Kebenaran anamnesis dapat dipercaya.

Identitas Pasien
Nama : Ny. Y
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 60 tahun
Anak : kedua dari tujuh bersaudara                
Pendidikan : SMA          
Status : Menikah
Suku : Bengkulu
Agama : Islam
Alamat : Jalan xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Bengkulu
Tgl masuk : 06-05-2015, Dibawa oleh keluarga

Identitas Anak Pasien
Nama : Nn I
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 25 tahun
Anak : Kedua dari dua bersaudara                
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Pegawai swasta
Status : Belum menikah
Suku : Bengkulu
Agama : Islam
Alamat : Jalan xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Bengkulu

 
I. Riwayat Psikiatri
A. Keluhan Utama
Merasa sedih terus menerus sejak 2 minggu SMRS

B. Riwayat Gangguan Sekarang
AUTOANAMNESIS
Wanita 60 tahun, merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara dan telah menikah. Pasien baru berobat ke poli klinik RSKJ Suprapto pada tanggal 06 Mei  2015, dengan keluhan merasa sedih terus menerus sejak + 2 minggu yang lalu. Pasien mengaku keluhan ini dimulai setelah pasien kehilangan suaminya yang meninggal karena sakit jantung. Pasien merasa tidur gelisah. Pasien juga sering merasa bersalah kepada suaminya, karena tidak mengikuti perintah suaminya selama beliau hidup. Dalam satu tahun terakhir, pasien menderita stroke dan selama itu juga suami pasien merawat pasien dan sering memberi motivasi agar tidak putus asa dalam mengobati sakitnya. Setelah suaminya meninggal, pasien menjadi tidak semangat dan merasa takut serta pesimis dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Setiap malam pasien melamun memikirkan kesalahan beliau terhadap suaminya. Pasien juga mengeluh kurang nafsu makan, dan mulai malas untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Pasien juga merasa tangannya sakit dan terkadang sakit kepala. Keluhan mendengar suara-suara tidak ada. Keluhan melihat bayangan dan mempunyai kekuatan juga tidak ada. Pasien juga tidak ada keinginan untuk bunuh diri, karena pasien takut untuk mati dan berdosa apabila melakukan bunuh diri.

HETEROANAMNESIS
Diperoleh dari anak kandung pasien, Nn. I, berusia 25 tahun, bekerja sebagai Pegawai Swasta. Nn. I mengatakan bahwa sejak suami pasien meninggal pasien sulit tidur dan merasa berduka sehingga pasien memintanya untuk dibawa berobat ke RSJ supaya bisa menghilangkan kedukaannya.
Anak pasien menceritakan bahwa pasien merupakan ibu yang baik, dan ceria. Semenjak suaminya meninggal, pasien mudah marah apabila tersinggung dan diajak untuk belajar berjalan. Pasien juga malas-malasan untuk belajar jalan dan tidak bersemangat. Pasien juga terlihat susah tidur dan gelisah saat tidur. Anak pasien mengatakan kalau pasien tidak pernah bicara atau ketawa sendiri. Pasien mengatakan kepada anaknya untuk berobat karena pasien merasa ingin menghilangkan perasaan sedih dan melupakan perasaan bersalah kepada suaminya.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien belum pernah ada gangguan psikiatri sebelumnya, pasien belum pernah berobat ke rumah sakit jiwa maupun ke psikiater.
2. Riwayat Gangguan Medik
- Pasien mengalami stroke sejak 29 September 2014 dan sekarang pasien dalam tahap pengobatan.
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol
Riwayat mengkonsumsi alkohol, rokok, dan penyalahgunaan zat tidak ada.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi
a. Riwayat pranatal
Tidak bisa didapatkan data yang mendukung
b. Riwayat masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Tidak bisa didapatkan data yang mendukung
c. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan padan masa ini normal. Pasien berkembang menjadi anak yang periang, dan mudah bergaul. Prestasi di sekolah biasa.
d. Riwayat masa remaja
Saat remaja pasien tetap berkembang menjadi seseorang yang  periang dan mudah bergaul. Pasien sering mengikuti kegiatan-kegiatan sosial dan keagaaman. pasien juga aktif dalam berorganisasi.

e. Riwayat dewasa muda
Setelah tamat SMA, Setelah itu pasien hanya menghabiskan waktu di rumah bersama keluarganya.
f. Riwayat pendidikan
Pasien sekolah SD, SMP, dan SMA. Prestasi di sekolah biasa.  
g. Riwayat pekerjaan
Pasien seorang ibu rumah tangga, setiap hari pasien memasak untuk anak dan suaminya.
h. Riwayat pernikahan
Pasien menikah 1 kali.
i. Riwayat kehidupan beragama
Pasien beragama Islam, selalu menunaikan sholat dan ibadah lainnya. Sejak menderita stroke, pasien menjadi jarang ikut kegiatan keagamaan di lingkungannya.
j. Riwayat Psikoseksual
Pasien telah menikah dan memiliki dua orang anak.
k. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan terlibat dalam masalah hukum.
l. Aktivitas sosial
Setelah mengalami stroke pasien menjadi jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan tetangga. Terkadang pasien keluar rumah, dibantu oleh keponakannya dan kadang tetangga mengunjungi pasien untuk mengobrol dan bercengkrama.

E. Riwayat Keluarga
Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. Pasien merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara. Pasien memiliki 2 orang anak, satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Sejak ditinggal oleh suaminya pasien  tinggal bersama kedua anaknya dan sorang keponakannya Hubungan dengan saudara-saudara pasien baik.
Keluarga Inti Ny. Y  (pasien)

No Nama Jenis kelamin Usia Hubungan Sifat
1 Tn. P
(Meninggal) Laki-laki 52 tahun Suami Tegas, Penyayang, Sabar
2 Ny. Y Perempuan 60 tahun Pasien Sedih, Murung
3 Tn. S Laki-laki 27 tahun Anak kandung Rajin, Penyayang
4 Nn. I Perempuan 32 tahun Anak Kandung Rajin, Penyayang

Struktur keluarga yang tinggal serumah saat ini

No Nama Jenis kelamin Usia Hubungan Sifat
1 Tn. S Laki-laki 27 tahun Anak kandung Rajin, Sabar, Penyayang
2 Nn. I Perempuan 25 tahun Anak kandung Rajin, Penyayang
3. Ny. Y Perempuan 60 tahun Pasien Sedih, Murung
4. Nn. B Perempuan 19 tahun Keponakan Periang, Membantu pasien saat sakit

Genogram



Pasien adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Ia dibesarkan dalam lingkungan sosiokultural Bengkulu dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Hubungan pasien dengan ayah dan ibunya cukup dekat sedangkan hubungan pasien dengan saudara-saudaranya baik.

F. Situasi Kehidupan Sekarang
Pasien sekarang tinggal bersama kedua anaknya dan seorang keponakannya di daerah Padang Harapan, Bengkulu. Lingkungan tempat tinggal pasien terkesan padat penduduk dan saling berdekatan rumahnya dengan tetangga, hubungan keluarga pasien dengan tetangga sekitar rumah baik. Rumah Sakit Umum berada kira-kira 1 kilometer dari rumah pasien. Saat ini pasien hanya beraktivitas di rumah, menonton tv dan terkadang belajar berjalan dengan ditemani oleh keponakannya. Dalam biaya pengobatan pasien menggunakan BPJS sehingga tidak dikenai biaya. Keluarga  pasien sangat terbuka dan mendukung kesembuhan pasien.

G. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya dan Lingkungannya
Pasien sadar bahwa dirinya sakit dan perlu pengobatan sehingga ia pergi ke Poliklinik RSKJ untuk meminta obat penenang supaya bisa tenang dan tidur dengan nyenyak. Tetapi pasien tidak mengakui bahwa ia menderita gangguan jiwa. Pasien berobat atas kemauan sendiri dan berkomitmen minum obat sesuai anjuran dokter dan bila obat habis pasien ingin kontrol secara mandiri.

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan di Poliklinik RSKJ pada tanggal 06 Mei 2015, hasil pemeriksaan ini menggambarkan situasi keadaan pertama kali datang berobat.
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Wanita 60 tahun, paras sesuai umur dengan postur tubuh yang astenikus (kurus), kesan gizi pasien kurang. Pasien datang dengan kaki kanan menyeret dan tangan kiri menangkat tangan kanan. Rambut pasien merata di seluruh kepala dan berwarna hitam dan sebagian sudah beruban. Pasien menggunakan baju daster warna biru. Pasien tampak murung dan tidak bersemangat, keadaan pasien tenang.
2. Kesadaran
Kompos mentis
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Keadaan pasien tenang. Pasien tidak memperlihatkan gerak-gerik yang tidak bertujuan, gerak berulang, maupun gerakan abnormal/involunter.
4. Pembicaraan
• Kuantitas : Pasien dapat menjawab pertanyaan dan dapat mengungkapkan isi hatinya dengan jelas.
• Kualitas : pasien dapat memahami dan memberikan respon dengan baik, dan menjawab pertanyaan dengan spontan, volume bicara cendrung pelan, intonasi pasien berbicara agak lambat, pengucapan kata jelas dan pembicaraan dapat dimengerti.
• Tidak ada hendaya berbahasa.

5. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif, kontak mata adekuat. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan baik
B. Keadaan Afektif
1. Mood : Sedih
2. Afek : Murung / dalam rentang luas
3. Keserasian : Serasi
C. Gangguan Persepsi
- Halusinasi tidak ada
- Depersonalisasi tidak ada
- Derealisasi tidak ada
- Ilusi tidak ada
D. Proses Pikir
1. Bentuk pikir : Realistik
2. Arus pikir
a. Produktivitas : pasien dapat menjawab spontan saat diajukan pertanyaan,
b. Kontinuitas : Koheren, mampu memberikan jawaban sesuai pertanyaan
c. Hendaya berbahasa : Tidak terdapat hendaya berbahasa
3. Isi pikiran : Normal, Waham tidak ada
E. Fungsi Intelektual / Kognitif
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
• Taraf pendidikan
Pasien lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA)
• Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat siapa presiden Indonesia dan sistem jaminan kesehatan di Indonesia sekarang.
2. Daya konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien baik, pasien dapat berfikir 100 dihitungg mundur ke 80, pasien juga mampu  mengalikan angka seperti 4x5 atau 5x10.
Perhatian pasien baik, pasien bisa bisa menyebutkan benda-benda yang berawalan huruf A atau J.
3. Orientasi
• Waktu : Baik, pasien mengetahui saat wawancara saat pagi hari
• Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada dirumahnya, dan menjalani pengobatan di RSKJ Bengkulu
• Orang : Baik, pasien mengetahui siapa saja saudaranya, siapa saja yang tinggal serumah dengannya, dan mengetahui sedang diwawancara oleh siapa.
• Situasi : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang konsultasi dan  wawancara.
4. Daya Ingat
• Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien masih dapat mengingat dimana pasien bersekolah SD
• Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat apa yang dilakukan pada bulan lalu
• Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat makan apa kemaren.
• Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa  dan dapat mengulang 5 kata yang disebutkan oleh pemeriksa seperti kursi, gunting, meja, batu, dan sepatu.
• Akibat hendaya daya ingat pasien
Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien saat ini.
6. Kemampuan baca tulis: baik
7. Kemampuan visuospatial: baik
8. Berpikir abstrak: baik, pasien dapat menjelaskan persamaan apel dan jeruk
9. Kemampuan menolong diri sendiri : baik, pasien dapat melakukan perawatan diri sehari- hari secara mandiri seperti mandi, makan, minum, dan melakukan pekerjaan rumah sendiri.
F. Daya Nilai
Daya nilai sosial pasien baik. Uji daya nilai realitas pasien juga baik.
G. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien baik, selama wawancara dapat mengontrol emosinya dengan baik (tidak mengamuk atau menangis)
H. Tilikan
Tilikan derajat 6, karena pasien menyadari bahwa dirinya mengalami kedukaan dan pasien memerlukan pengobatan untuk dapat tidur nyenyak.
I. Taraf Dapat Dipercaya
Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup baik dengan jujur mengenai peristiwa yang terjadi, dan di cross check juga dengan keterangan dari anak pasien yang menceritakan kejadian yang serupa.

IV. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis dan Vital Sign
• KU : Tampak sehat
• Sensorium : CM   (GCS: E4 V5 M6)
• TD : 120/80 mmHg
• Nadi : 88 x/menit
• RR : 20 x/menit
• Suhu : 36,5 oC
a. Status Internus
Kepala Normocephali, pertumbuhan rambut merata, dan warna rambut hitam-putih.
Mata Sklera ikterik -/-, konjungtiva palpebra anemis -/-, edema palpebra -/-
Hidung deformitas (-), tidak ada sekret.
Telinga deformitas (-), liang lapang, pengeluaran sekret (-).
Mulut bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal

Thorax Tidak terdapat scar, simetris kiri dan kanan
Paru Pernapasan statis-dinamis kanan=kiri.
Jantung iktus kordis tidak  terlihat
Bunyi jantung normal
Abdomen Datar, tidak tampak benjolan
Bising usus (+)
Ektremitas Dextra Pitting edema (-/-) pada ekstrimitas, akral teraba hangat.
Ekstremita Sinistra Akral hangat, paralisis (+), Parasthesia (-), atrofi otot
b. Status Neurologis
i. Saraf kranial : dalam batas normal
ii. Saraf motorik : Ekstremitas sinistra (-)
iii. Sensibilitas : dalam batas normal
iv. Susunan saraf vegetatif : dalam batas normal
v. Fungsi luhur : dalam batas normal

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT
- pada pasien belum dilakukan pemeriksaan penunjang
- disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap

VI. FORMULASI DIAGNOSIS
 Wanita 60 tahun,  menikah, ibu rumah tangga, tinggal dirumah dengan kedua anaknya dan seorang keponakan.
 Penampilan rapi, perawatan diri pasien baik
 Riwayat stresor : Kematian suaminya dan penyakit stroke.
 Pasien mengeluh nyeri di tangan kanan dan sakit kepala selama + 2 minggu
 Pasien kooperatif, kontak mata adekuat, pembicaraan pasien koheren.
 Mood pasien sedih, afek pasien murung/dalam rentang luas dan serasi
 Gangguan pada aktivitas sosial

VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I
F 32.1 Episode Depresif Sedang Dengan Gejala Somatik
DD/ F54 Faktor Psikologis dan Perilaku yang Berhubungan dengan  Gangguan atau Penyakit
Aksis II
Z03.2 Tidak ada diagnosis
Aksis III
Stroke Iskemik
Aksis IV
Masalah Kesehatan, Masalah Keluarga
Aksis V
GAF scale 60 – 51 sejak 1 Tahun terakhir

VII. PROGNOSIS
Faktor yang memberikan pengaruh baik:
◦ Faktor pencetus jelas yaitu: Kematian suami pasien
◦ Riwayat premorbid yang jelas yaitu menderita sakit stroke sejak satu tahun yang lalu
◦ Dijumpai adanya riwayat depresi
◦ Dukungan keluarga yang baik terhadap kesembuhan pasien
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah dubia ad Malam
Sehingga kesimpulan prognosis pada pasien berdasarkan wawancara diatas sebagai berikut :
Quo Ad Vitam : Dubia Ad Malam
Quo Ad Functionam : Dubia Ad Malam
Quo Ad Sanationam : Dubia Ad Bonam
VIII. Terapi
• Psikofarmaka
o Fride (Sertralin) 1 x 25 mg
• Psikoterapi & Edukasi
Psikoterapi yang diberikan pasien adalah psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan terapi kognitif-perilaku.
- Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens (pertahanan) pasien terhadap stres. Perlu diadakannya terapi untuk meningkatkan kemampuan pengendalian diri dan memberikan motivasi hidup.
- Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien dengan mengawasi pasien untuk minum obat teratur.
- Psikoterapi rekonstruktif bertujuan membangun kembali kepercayaan diri pasien, menjelaskan kepada pasien bahwa pasien memiliki semangat hidup dan keinginan kuat untu melihat anak pasien bahagia. Menolak semua pikiran negatif.
- Edukasi
o Menyarankan kepada keluarga untuk selalu memberikan dukungan  kepada pasien, jangan membatasi aktivitas positif yang disukai  pasien, ajak pasien bergembira, kurangi hal-hal yang dapat meningkatkan stresor.
o Berdiskusi terhadap pentingnya pasien untuk minum obat teratur dan kontrol lagi.

PEMBAHASAN

Penegakan diagnosis aksis I berdasarkan anamnesis dengan pasien adanya kehilangan minat dan kegembiraan, energi yang mudah lelah saat beraktivitas, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, merasa tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimitis, gangguan tidur dan penurunan nafsu makan yang sudah dialami selama 2 minggu terakhir. Pada episode depresi sedang sekurang-kurangnya 2 dari 3 gejala utama dan ditambah sekurangnya 3 (sebaiknya 4) dari gejala tambahan, lama episode minimal 2 minggu dan menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga.1 Gangguan depresif merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dengan gejala penyerta termasuk perubahan pola tidur, nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa, tak berdaya dan gagasan bunuh diri.2

EPIDEMIOLOGI
Gangguan depresi adalah suatu gangguan yang sering terjadi, dengan prevalensi seumur hidup kira-kira 15 % dan kemungkinan sekitar 25 % terjadi pada wanita. Diduga adanya hormon, pengaruh melahirkan, menyebabkan perempuan dua kali lipat lebih mudah terkena depresi. Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan interpersonal yang erat atau pada mereka yang bercerai dan berpisah. Seperti yang dialami pasien yaitu mengalami sulit tidur setelah kehilangan suaminya.

ETIOLOGI
Dasar umum untuk gangguan depresi berat tidak diketahui, tetapi diduga faktor-faktor dibawah ini berperan :

Faktor Biologis
Data yang dilaporkan paling konsisten dengan hipotesis bahwa gangguan depresi berat adalah berhubungan dengan disregulasi pada amin biogenik (norepineprin, dopamin dan serotonin). Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi dan pada beberapa pasien yang bunuh diri memiliki konsentrasi metabolik serotonin di dalam cairan serebrospinal yang rendah serta konsentrasi tempat ambilan serotonin yang rendah di trombosit.

Faktor Genetika
Data genetik menyatakan bahwa sanak saudara derajat pertama dari penderita gangguan depresi berat kemungkinan 1,5 sampai 2,5 kali lebih besar daripada sanak saudara derajat pertama subyek kontrol untuk penderita gangguan. Pada pasien tidak diketahui secara jelas adanya riwayat gangguan suasana perasaan yang pernah dialami oleh keluarga pasien.

Faktor psikososial
Peristiwa kehidupan dan stres lingkungan, suatu pengamatan klinis yang telah lama direplikasi bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada episode selanjutnya, hubungan tersebut telah dilaporkan untuk pasien dengan gangguan depresi berat.

GEJALA DAN PENEGAKAN DIAGNOSIS DEPRESI1
Untuk menegakkan diagnosa depresi seseorang, maka yang dipakai pedoman adalah ada tidaknya gejala utama dan gejala penyerta lainnya, lama gejaa yang muncul, dan ada tidaknya episode depresi ulang. Sebagaimana tersebut berikut ini :
1. Gejala utama pada derajat ringan, sedang dan berat
1) Afek depresi
2) Kehilangan minat dan kegembiraan
3) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan yang mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.


2. Gejala penyerta lainnya:
1) Konsentrasi dan perhatian berkurang
2) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
3) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
4) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
5) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
6) Tidur terganggu
7) Nafsu makan berkurang

Untuk episode depresi dan ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat. Kategori diagnosis depresi ringan, sedang dan berat hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresi berikutnya harus diklasifikasikan di bawah salah satu diagnosis gangguan depresi berulang
Pedoman Diagnostik Episode Depresi Sedang
1. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama depresi seperti tersebut di atas
2. Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya
3. Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
4. Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga.

PSIKOFARMAKA
Mengingat profil efek sampingnya, pemilihan obat Antidepresi sebaiknya mengikuti urutan (step care)2 :
• Step 1: Gol. SSRI (Fluoxetin, Sertraline, dll)
• Step 2: Gol. Trisiklik (Amitriptilin)
• Step 3: Gol. Tetrasiklin (Maprotiline)
  Gol. Atipikal (Trazodone)
                   Gol. MAOI Reversible (Maclobemide)
Rencana terapi yang diberikan adalah sertralin 1 x 25 mg, obat anti depresan  bekerja menghambat reuptake dari neurotransmiter aminergic yaitu dopamin, serotonin, norepinefrin di celah sinaps dan juga menghambat penghancuran oleh enzim monoamine oxidase sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter pada celah sinaps neuron tersebut yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor serotonin.
Selain psikofarmaka, psikoterapi dan edukasi juga sangat diperlukan. Pada kasus ini dimana pasien perlu menyelesaikan permasalahn melalui komunikasi, dan menciptakan kondisi lingkungan keluarga yang tenang.
Prognosis pada pasien adalah dubia ad bonam karena episode depesi sedang dapat disembuhkan, tapi harus diingat kemungkinan rekurensi episode depresi yang lebih berat.


DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R. (editor). 2002. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari  PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya
2. Maslim R. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga.  Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya
3. Elvira, S. 2013. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta : Badan Penerbit FK UI
4. BJ, Kaplan HI, Grebb JA. 2010. Buku ajar psikiatri klinis. Edisi 2. Jakarta : EGC

Gerald Mandra

Posts : 10
Reputation : 0
Join date : 2015-04-22
Age : 25
Location : Bengkulu

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum