Depresi Sedang dengan Gejala Somatik

View previous topic View next topic Go down

Depresi Sedang dengan Gejala Somatik

Post by Selvi SulistiaNingsih on Sat Nov 28, 2015 8:21 pm

Laporan Kasus

EPISODE DEPRESIF SEDANG DENGAN GEJALA SOMATIK

Selvi Sulistia Ningsih, S.Ked.


Pembimbing :
dr. Andri Sudjatmoko, Sp.KJ



KEPANITERAAN KLINIK PSIKIATRI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
BENGKULU
2015


Bengkulu, 15 November 2015
                           

BAB I
LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRIK


I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. W
Usia : 30 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jln. xxxxxx Bengkulu
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Suku : Serawai
Bangsa : Indonesia
Status Perkawinan : Sudah menikah
Tanggal Pemeriksaan : 08 November 2015

II. RIWAYAT PSIKIATRIK
Autoanamnesa dengan pasien pada tanggal 8 November 2015, pukul 10.00 WIB.
A. KELUHAN UTAMA
Sulit tidur sejak ???

B. KELUHAN TAMBAHAN
Sering gemetaran, jantung berdebar-debar, takut, sedih, cemas, tidak bersemangat, tidak bergairah melakukan aktifitas dan nafsu makan menurun. sejak ????

C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Autoanamnesa
Sejak 2,5 tahun yang lalu pasien merasa gemetaran sampai dengan sekarang, gerakan tidak terkontrol saat memegang suatu barang kemudian tanpa sadar terjatuh, seperti tidak ada kekuatan untuk menggenggam sesuatu. Pasien juga merasa jantungnya berdebar-debar, pasien pernah berobat ke Sp.S, hasil pemeriksaan T3,T4, TSH normal dan menurut dokter tidak ada kelainan. Selain itu  pasien mudah cemas dan mudah memikirkan sesuatu. Pasien sering merasa sakit kepala seperti ditusuk paku di sebelah kiri, sakit kepala muncul tiba-tiba, tangannya juga sering merasa kesemutan, awalnya menurut pasien gerakan yang ia lakukan biasa saja tetapi menurut orang lain gerakannya lebih cepat dan tidak seperti biasa. Pasien juga pernah berobat dengan beberapa dokter untuk mengobati penyakitnya ini namun keluhan yang dilaminya tidak mambaik bahkan menurut pasien sekarang bertambah parah, Pasien mengaku baru sekali berobat ke poli RSJ Soeprapto Bengkulu pada tanggal 17 Oktober 2015.
Os mempunyai keluhan sulit tidur, keluhan tersebut dirasakan sejak 4 bulan terakhir. Os mengaku sulit untuk memulai tidur dan memerlukan waktu lebih dari satu jam untuk bisa tertidur. Os biasanya memulai tidur sekitar pukul 21.00-23.00 dan terbangun setengah jam kemudian. Saat tertidur os mudah terbangun pada tengah malam namun masih bisa melanjutkan tidurnya kembali walau sebentar-sebentar. Os mengaku saat tertidur os merasa tidak nyenyak dan masih bisa mendengarkan suara-suara mobil disekitarnya. Pasien merasa putus asa, gampang emosi, gampang tersinggung, tidak bergairah, sering mual, nafsu makan terganggu dan berat badan menurun karena memikirkan apa sebenarnya penyakit yang dideritanya, keluhan ini bertambah berat jika ia memikirkan nasib kedua anaknya yang masih kecil-kecil jika nanti terjadi apa-apa dengan dirinya.
Untuk aktivitas sehari-hari, os masih bisa melakukannya dengan baik, sosialisasi dengan keluarga maupun tetangganya agak berkurang. Os menyangkal melihat adanya bayangan maupun mendengar bisikan-bisikan atau keinginan bunuh diri.

Heteroanamnesa
Menurut suami pasien, pasien sering mengeluh pusing dan sulit tidur sejak 4 bulan yang lalu. Menurut suaminya, pasien sering pusing dan susah tidur karena memikirkan penyakitnya yang tidak sembuh-sembuh sudah 2,5 tahun ini diatambah lagi ia memikirkan nasib kedua anaknya yang masih kecil jika terjadi apa-apa nantinya. Selain itu nafsu makan pasien menurun (sebelumnya pasien bisa menghabiskan 1 piring makan namun sekarang setangah piring terkadang tidak habis). Pasien sering merasa putus asa, tidak bergairah, cemas, gampang emosi dan tersinggung, ± 4 bulan ini pasien jarang mengikuti kegiatan di lingkungan rumahnya, biasanyanya pasien sering ikut pengajian dan arisan di musolla di lingkungan tempat tinggalnya namun sekarang kadang ia hanya ikut satu kali atau tidak ikut sama sekali dalam satu bulan.

D.  RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
1. Gangguan Psikiatrik Sebelumnya
Pasien belum pernah mengalami gangguan psikitrik sebelumnya
2. Riwayat Gangguan Medis
Pasien tidak ada riwayat hipertensi, diabetes mellitus, tiroid, demam tinggi hingga penurunan kesadaran atau kejang, tidak ada riwayat trauma kepala.
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif
Pasien menyangkal adanya riwayat merokok, minum alcohol dan NAPZA.

E. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI      
1. Riwayat prenatal dan natal
Keadaan ibu pasien saat mengandung sehat, tidak pernah mengalami sakit berat dan tidak pernah sakit-sakitan. Pasien lahir cukup bulan dengan bantuan bidan di rumah, lahir spontan, tidak ada kesulitan saat dilahirkan, tidak terdapat cacat bawaan.
2. Riwayat masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Tidak didapatkan data yang mendukung
3. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pasien tinggal bersama orangtuanya. Di sekolah dasar pasien memiliki prestasi yang cukup bagus. Pendidikan sekolah dasar ditempuh selama 6 tahun. Pasien mudah bergaul dan memiliki banyak teman
4. Riwayat masa remaja
Pasien saat remaja berkembang menjadi remaja perempuan yang normal sesuai dengan seusianya. Pasien melanjutkan pendidikan lanjutan di SMP dan kemudian SMA. Pada umur 16 tahun pasien sudah mumpunyai pacar.
5. Riwayat dewasa muda
Saat berusia 22 tahun pasien memiliki teman dekat seorang laki-laki dan akhirnya menikah dengan laki-laki tersebut. Pasien mengaku bahagia dengan pernikahannya.
6. Masa dewasa
a. Riwayat pekerjaan
Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga, yang sehari-harinya sibuk mengurusi kedua anaknya, suami dan pekerjaan di rumah.
b. Riwayat pendidikan
Pendidikan terakhir adalah SMA
c. Riwayat beragama
Pasien beragama Islam. Pasien rajin beribadah dan sering mengikuti pengajian di lingkungan sekitar
d. Riwayat psikoseksual
Pasien sudah menikah dan memiliki 2 orang anak
e. Aktivitas sosial dan situasi kehidupan sekarang
Pasien mengaku mempunyai hubungan baik dengan tetangga dan lingkungan sekitar. Pasien sering mengikuti pengajian di lingkungan rumahnya, namun sejak 4 bulan ini pasien kurang aktif lagi mengikuti kegiatan di lingkungan tempat tinggalnya. Sekarang pasien tinggal bersama suami dan kedua anaknya.
f. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien belum pernah mempunyai masalah yang berkaitan dengan hokum
g. Persepsi Tentang Diri dan Lingkungannya
Pasien menyadari keadaan dirinya yang selalu merasa merasa sering putus asa, tidak bergairah, cemas, gampang emosi dan tersinggung, dan perasaan ini yang membuatnya stress hingga tidak bisa tidur. Pasien kurang dapat menikmati pekerjaannya dan kurang keinginan untuk bersosialisasi dengan keluarga dan tetangga

F. RIWAYAT KELUARGA
Genogram:
                 









Keterangan:
Laki-laki         Pasien                  
Perempuan Meninggal


III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
A. DESKRIPSI UMUM
1. Penampilan
Pada saat diwawancara tanggal 8 November 2015 pukul 10.00 WIB di rumahnya, pasien berperawakan kurus, penampilan tampak sesuai dengan usianya. Kulit sawo matang dengan memakai baju pink, rok hitam dan jilbab hitams, berpakaian rapi dan perawatan diri cukup. Pasien juga tidak terlihat ada bekas trauma atau luka.
Os tampak cemas tetapi berusaha tenang, sering terlihat tangan pasien bergerak tanpa tujuan. Saat diminta duduk, pandangan mata os menghadap ke pemeriksa. Saat diajak berjabat tangan dengan pemeriksa, os mau berjabat tangan, ada eye contact saat berjabat tangan. Saat ditanya nama dan umur, os menjawab dengan benar.
Saat os diajak bicara pemeriksa, os mengarahkan pandangan ke pemeriksa. Saat menjawab pertanyaan, os dalam kecepatan normal dalam menjawabnya.
2. Kesadaran
Compos mentis, secra kualitas tidak berubah
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Keadaan pasien tenang. Pasien tidak memperlihatkan gerak-gerik yang tidak bertujuan, gerak berulang, maupun gerakan abnormal
4. Pembicaraan
- Kuantitas: pasien dapat menjawab pertanyaan dan dapat mengungkapkan isi hatinya dengan cukup jelas.
- Kualitas: pasien dapat menjawab pertanyaan dengan baik ketika ditanya dan menjawab pertanyaan tidak terlalu spontan. Pasien sering bercerita dengan spontan mengenai keadaan dirinya saat ini. Intonasi berbicara pasien cukup jelas. Pembicaraan dapat dimengerti.
- Tidak ada hendaya dalam berbahasa.
5. Sikap terhadap Pemeriksa
Pasien kooperatif, kontak mata adekuat. Pasien selalu menjawab pertanyaan dengan melihat kearah pemeriksa. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan cukup baik.



B. KEADAAN AFEKTIF, MOOD, KESERASIAN
1. Mood       : hypotimia
2. Ekspresi afektif     : depresif, sedih
3. Keserasian : sesuai

C. FUNGSI INTELEKTUAL DAN KOGNITIF
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
• Taraf pendidikan
Pasien lulusan Sekolah Mengah Atas
• Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat ibukota Negara Indonesia dan Presiden Indonesia.
2. Daya konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien baik, pasien dapat menghitung dengan benar angka-angka yang diberikan pemeriksa seperti 312 x 12 dan 630 : 15.
3. Orientasi
• Waktu : Baik, pasien mengetahui waktu wawancara dilakukan yaitu pagi hari.
• Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada di rumahnya, dan menjalani pengobatan di RSKJ Soeprapto Bengkulu.
• Orang : Baik, pasien mengetahui nama ibu dan  saudara – saudaranya. Selain itu pasien juga mengetahui dirinya diwawancarai oleh siapa.
• Situasi : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang konsultasi dan  wawancara.
4. Daya Ingat
• Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien masih dapat mengingat beberapa nama teman pasien pada saat di Sekolah Dasar.
• Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat umur berapa dia menikah dan pertama kali memiliki anak.
• Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat secara tepat apa aktivitas yang dilakukannya kemarin pagi.
• Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa dan dapat menyebutkan nama benda yang baru saja diucapkan oleh pemeriksa.
• Akibat hendaya daya ingat pasien
Tidak ada hendaya dalam daya ingat pada pasien.
5. Kemampuan membaca dan menulis
Baik, pasien dapat menulis beberapa kalimat sederhana.
6. Kemampuan visuospasial
Baik, pasien dapat meniru gambar yang berhimpitan satu sudut, seperti segitiga dan lingkaran.
7. Berpikir abstrak
Baik, pasien dapat menjelaskan persamaan buah jeruk dan buah apel.
8. Kemampuan menolong diri sendiri
Baik, pasien dapat melakukan perawatan diri sehari - hari secara mandiri seperti mandi, makan dan minum.

D. GANGGUAN PERSEPSI
1. Halusinasi A/V/O/G/T
(audio/visual/olfaktori/gustatori/taktil) = ( - / - / - / - / - )
2. Ilusi :  tidak ada
3. Depersonalisasi :  tidak ada
Derealisasi :  tidak ada  
       
E. PROSES PIKIR
1. Arus pikir
a. Produktivitas : realistik
b. Kontinuitas : relevan
c. Hendaya berbahasa : tidak ada
2. Isi Pikir
A. Preokupasi : ada ( isi pikiran pasien terfokus pada masalah kesedihan dan rasa cemas yang terjadi pada dirinya)
B. Gangguan pikiran :
Waham(-), obsesi(-), fobia(-)

F. PENGENDALIAN IMPULS
Pengendalian impuls pasien baik, selama wawancara pasien dapat mengendalikan emosi dengan baik, namun ada satu kali pasien meneteskan air matanya saat bercerita. Namun, pasien kembali dapat menceritakan kondisinya dengan tenang.

G. DAYA NILAI
1. Daya nilai sosial : baik
2. Uji daya nilai   : baik
3. Penilaian realita   : baik

H. TILIKAN
Derajat 5 = menyadari akan penyakitnya dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakitnya namun tidak diterapkan dalam praktiknya.

I. TARAF DAPAT DIPERCAYA
Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup akurat, pasien berkata dengan jujur mengenai peristiwa yang terjadi, dan di cross check juga dengan keterangan dari suami pasien yang menceritakan kejadian yang serupa.



J.   Hamilton Rating Scale for Depression (HRSD)
1. Mood è 4. Pasien menyatakan perasaan sesungguhnya dalam komunikasi baik verbal dan non-verbal secara spontan
2. Perasaan bersalah è 0
3. Perasaan ingin bunuh diri è 0
4. Insomnia (dini) è 2. keluhan tiap malam sukar masuk tidur
5. Insomnia (middle) è 1. mengeluh, gelisah, terganggu sepanjang malam
6. Insomnia (late) è 1. bangun di waktu fajar, tetapi tidur lagi
7. Bekerja & aktivitas è 2. hilangnya minat akan kegiatan-kegiatan (pasien menyatakan harus memaksakan diri dalam bekerja)
8. Kelambatan berpikir è 0
9. Kegelisahan è 1. kegelisahan ringan (memainkan tangan, rambut, dll)
10. Anxietas psikis è 2. mengkhawatirkan hal-hal kecil
11. Anxietas somatik è 2
12. Gx. Somatik GIT è 1. nafsu makan berkurang tetapi dapat makan tanpa dorongan teman. Merasa perutnya penuh
13. Gx. Somatik umum è 0
14. Genital è 0
15. Hypochondriasis è 2. preokupasi dengan penyakitnya
16. Kehilangan berat badan è 1. kemungkinan BB menurun berhubungan dengan sakit sekarang
17. Insight / tilikan è 0. mengetahui sedang depresi
*TOTAL NILAI: 19 (DEPRESI SEDANG)
Skala perbandingan nilai
• 0-6   : Tidak dijumpai depresi
• 7-17   : Depresi ringan
• 18-24 : Depresi sedang
• > 24 : Depresi berat

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
A. STATUS GENERALIS
KU : Tampak lemas
Sensorium : Compos mentis
Vital Sign
TD : 120/70 mmHg
Nadi : 108 x/menit
RR : 27 x/menit
Suhu : 36,5 oC

B. STATUS INTERNUS
Kepala Normosefali, deformitas tidak ada.
Mata Edema palpebra tidak ada, sklera ikterik -/-, konjungtiva palpebra anemis -/-, exoftalmus -/-
Hidung Simetris, deformitas (-), deviasi (-), tidak ada sekret.
Telinga Simetris, bentuk dalam batas normal, menggantung, deformitas
(-), sekret (-), nyeri tekan tragus  mastoid tidak ada
Mulut Bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal, tiroid tidak membesar, KGB tidak teraba
Thorax Tidak terdapat skar, spider naevi (-), simetris kiri dan kanan
Paru I: Pernapasan statis-dinamis kiri = kanan.
P: Stemfremitus simetris kiri dan kanan
P: Sonor disemua lapang paru
A: Suara napas vesikuler normal (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
Jantung I: Iktus kordis tidak  terlihat
P: Iktus kordis tidak teraba
P: Tidak dilakukan
A: Bunyi jantung I dan II normal, gallop (-), murmur (-)
Abdomen I: Datar, tampak benjolan (-)
A: Bising usus (+)
P: Timpani (+) di seluruh regio abdomen
P: Nyeri tekan (-)
Ektremitas Superior, inferior, dekstra, sinistra dalam batas normal

C. STATUS NEUROLOGIKUS
N I – XII : Tidak ada kelainan
Gejala rangsang meningeal : Tidak ada
Gejala TIK meningkat : Tidak ada
Refleks Fisiologis : Normal
Refleks patologis : Tidak ada

V.  PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT
Pada pasien belum dilakukan pemeriksaan penunjang, sehingga disarankan untuk  melakukan pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap.

VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Autoanamnesis
a. Ansietas
b. Afek depresif
c. Hilang kegembiraan (Anhedonia)
d. Penurunan aktivitas untuk bersosialisasi
e. Pesimistis
f. Mudah emosi
g. Anoreksia
h. Insomnia
i. Gejala sudah ada sejak minimal 4 bulan yang lalu.
j. HRSD 19

VII.    FORMULASI DIAGNOSTIK
1. AKSIS I      
Berdasarkan autoanamnesa dan pemeriksaan status mental, maka kasus ini termasuk gangguan jiwa karena  menimbulkan penderitaan (distress) pada pasien serta terdapat hendaya (disability) serta gejala kejiwaan berupa :
- Mood yang depresif
- Anhedonia
- Anenergi
- Tidur terganggu
- Nafsu makan berkurang
- Ansietas
- Pesimistis
Pada pasien tidak ditemukan hendaya berat dalam menilai realita melainkan hendaya ringan saja, tidak ditemukan waham dan halusinasi sehingga digolongkan dalam Gangguan Jiwa Non Psikotik.
Pada pemeriksaan status internus dan neurologik tidak ditemukan adanya kelainan yang mengindikasikan gangguan medis umum yang dapat menimbulkan gangguan fungsi otak serta dapat mengakibatkangangguan jiwa yang diderita pasien ini (Gangguan kesadaran, gangguan deficit kognitif dan faktor organik spesifik). Sehingga kemungkinan adanya gangguan mental organik dapat disingkirkan dan diagnosis diarahkan ke Gangguan Jiwa Non Psikotik Non Organik.
Dari autonamnesa dan pemeriksaan status mental didapatkan adanya afek dan mood hipotimia (depresif), kehilangan minat dan kegembiraan, gejala lainnya berupa gangguan tidur, nafsu makan berkurang, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, selain itu ada gejala dimana pasienmerasa jantung berdebar-debar, gemetaran dan sering sakit kepala sejak 2,5 tahun yang lalu, pasien sudah berobat ke Sp.S dan beberapa dokter dan hasilnya tidak ada kelainan, tapi pasien tetap merasa gelisah dan memikirkan penyakitnya. Sehingga berdasarkan Hamilton Rating Scale for Depression (HRSD) dengan skor 19 termasuk ke dalam depresi sedang, menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ III) diagnosis diarahkan pada Episode depresi sedang dengan gejala somatik (F.32.11) yaitu :
- Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada episode depresi ringan
- Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya
- Lamanya seluruh episode berlangsung minimum  sekitar 2 minggu
- Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan social, pekerjaan dan urusan rumah tangga.

Pedoman diagnosis menurut PPDGJ-III
Pedoman diagnostik pada depresi dibagi menjadi:
1. Semua gejala utama depresi
a. Afek depresif.
b. Kehilangan minat dan kegembiraan.
c. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah.
2. Gejala lainnya
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang.
b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang.
c. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna.
d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimis.
e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri.
f. Tidur terganggu.
g. Nafsu makan berkurang
2. AKSIS II : Tidak ada diagnosa
3. AKSIS III : Tidak ada ditemukan kelainan medis
4. AKSIS IV : Kekhawatiran terhadap penyakitnya yang membuat pasien merasa takut terjadi sesuatu pada dirinya
5.  AKSIS V : GAF scale 70-61 : Gejala ringan dan mentap, diabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik

VIII. DIAGNOSIS BANDING
F41.1 : Gangguan cemas menyeluruh
F41.2 : Gangguan campuran anxietas dan depresi

IX. DAFTAR MASALAH
1. ORGANOBIOLOGIK
Tidak ada ditemukan kelian fisik yang ebrmakna, namun diduga terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter, maka dari itu pasien memerlukan farmakoterapi
2. PSIKOLOGIK
Ditemukan adanya hendaya ringan sehingga pasien memerlukan psikoterapi untuk menghilangkan gangguan depresi sedang
3. STRESSOR
Kekhawatiran terhadap penyakitnya yang membuat pasien merasa takut terjadi sesuatu pada dirinya
4. SOSIAL
Ditemukan adanya hendaya dalam bersosialisasi dan pemanfaatan waktu senggang untuk beraktivas di lingkungan sekitar sehingga perlu dilakukan sosioterapi.

X. PROGNOSIS
Faktor yang memberikan pengaruh baik :
1. Gejala depresi episode sedang, tidak ada gejala psikotik
2. Indikator psikososial: fungsi keluarga stabil
3. Tidak ada komorbiditas dengan gangguan psikiatri lainnya.
4. Tidak pernah dirawat inap karena depresi berat.
5. Tidak ada riwayat penyalahgunaan zat dan alkohol.
6. Tidak ada riwayat lebih dari sekali episode depresi sebelumnya.
Faktor yang memberikan pengaruh buruk :
Isi pikir : preokupasi (isi pikiran pasien terfokus pada masalah penyakitnya yang tidak sembuh-sembuh).
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah dubia ad bonam. Sehingga kesimpulan prognosis pada pasien berdasarkan wawancara diatas
sebagai berikut :
Quo Ad Vitam : dubia ad bonam
Quo Ad Functionam : dubia ad bonam
Quo Ad Sanationam : dubia ad bonam

IX. RENCANA TERAPI
Medika mentosa:
Maprotiline 0-0-25 mg
Non medikamentosa
• Psikoterapi
Psikoterapi yang diberikan pasien adalah psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan psikoterapi rekonstruktif.
1. Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens (pertahanan) pasien terhadap stres. Perlu diadakannya terapi untuk meningkatkan kemampuan pengendalian diri dan memberikan motivasi hidup.
2. Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien dengan mengawasi pasien untuk minum obat teratur.
3. Psikoterapi rekonstruktif bertujuan membangun kembali kepercayaan diri pasien, menjelaskan kepada pasien bahwa pasien memiliki semangat hidup dan keinginan kuat untu melihat anak pasien bahagia. Menolak semua pikiran negatif.
4. Edukasi
Menyarankan kepada keluarga untuk selalu memberikan dukungan  kepada pasien, jangan membatasi aktivitas positif yang disukai  pasien, ajak pasien bergembira, kurangi hal-hal yang dapat meningkatkan stresor. Berdiskusi terhadap pentingnya pasien untuk minum obat teratur dan kontrol lagi.



























BAB III
PEMBAHASAN

a. Anamnesis
Diagnosis Episode Depresi menurut PPDGJ-III
Teori Fakta
• Gejala Utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat) :
- Afek depresi
- Kehilangan minat dan kegembiraan
- Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan menurunnya aktifitas

• Gejala lainnya :
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang
b. Harga diri dan kepercayaan berkurang
c. Gagasan tentang rasa bersalah & tidak berguna
d. Pandangan masa depan yg suram & pesimistis
e. Gagasan/perbuatan membahayakan diri
f. Tidur terganggu
g. Nafsu makan berkurang

• Diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis

• Menghadapi kesulitan yang nyata untuk meneruskan kegiatan social, pekerjaan dan urusan rumah tangga - Terlihat afek depresi pada wajah pasien
- Berkurangnya minat dan kegembiraan
- Aktifitasnya juga sangat menurun & terbatas sebagaian besar hanya dirumah saja


- Harga diri dan kepercayaan berkurang
- Mengalami gangguan tidur
- Pandangan masa depan yg suram & pesimistis
- Pasien juga mengalami penurunan nafsu makan







- Hal ini telah dialami pasien lebih dari 2 minggu (sekitar 4 bulan yang lalu)

- Pasien masih menjalankan tugasnya sebagai ibu ruamh tangga yang menurusi anak dan suaminya, namun 4 bulan terakhir dalam hal bersosisalisasi dengan lingkungan sekitarnya mengalami penurunan.

Berdasarkan anamnesa yang diperoleh secara heteroanamnesa, sebagian besar gejala-gejala yang dialami oleh pasien mencakup gejala dalam pedoman diagnosti episode depresif sedang menurut PPDGJ-III
Penatalaksanaan
Teori Fakta
a. Farmakoterapi depresi
- SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor)
- Trisiklik
- Tetrasiklik
- MAOI
- Atypical.

b. Psikoterapi
- Psikoterapi suportif


- Psikoterapi reedukatif













- Psikoterapi rekonstruktif





- Edukasi - Tetrasiklik  Maprotiline 
0 – 0 - 25 mg (malam). Efek samping otonomik, kardiologik, relative kecil, efek sedasi lebih kuat diberikan kepada pasien yang kondisinya kurang tahan terhadap efek otonomik dan kardigenik (usia lanjut) dan sindrom depresi dengan ansietas dan insomnia yang menonjol.

- meningkatkan kemampuan pengendalian diri dan memberikan motivasi hidup.

- meningkatkan pengetahuan keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien dengan mengawasi pasien untuk minum obat teratur.
- Menjelaskan kepada pasien bahwa keluhan yang dirasaknnya (nyeri kepala, kurang tidur, cemas, emosi, dll) akan dapat hilang karena bukan disebabkan oleh kelainan organik.
- Menjelaskan kepada pasien bahwa keluhan organik tersebut merupakan akibat dari isi pemikiran pasien yang tidak ada bukti medisnya.

- Dukungan dan kasih sayang keluarga
- Membangun kembali kepercayaan diri pasien, menjelaskan kepada pasien bahwa pasien memiliki semangat hidup dan keinginan kuat untu melihat anak pasien bahagia, menolak semua pikiran negatif.

- Menyarankan kepada keluarga untuk selalu memberikan dukungan  kepada pasien, jangan membatasi aktivitas positif yang disukai  pasien, ajak pasien bergembira, kurangi hal-hal yang dapat meningkatkan stresor. Berdiskusi terhadap pentingnya pasien untuk minum obat teratur dan kontrol lagi.










BAB IV
LAPORAN HOME VISIT

A. RIWAYAT GANGGUAN SEKARANG
Saat ini pasien kadang-kadang masih merasakan  tidak bersemangat, tidak bergairah melakukan aktifitas  namun sering gemetaran, jantung berdebar-debar, kecemasan tersebut sudah jauh berkurang dan nafsu makan sudahmulai membaik  semenjak pasien berobat ke RSKJ. Pasien sekarang sudah dapat mengatasi kecemasannya dengan tidur dan beristirahat. Pasien juga menjadi sering berolahraga untuk mengurangi keluhannya tersebut. Setelah selesai berolahraga pasien menjadi lebih gembira dan keluhan-keluhan seperti dada berdebar-debar, sakit kepala,badan terasa lemas juga berkurang. Pasien sekarang sudah merasa mengantuk saat jam 21.00 WIB.

B. IDENTIFIKASI KELUARGA PASIEN
Keluarga pasien merupakan keluarga inti yang harmonis, dimana suami dan anak-anak pasien sangat mendukung semua kegiatan pasien. Hubungan antar keluarga harmonis, saling mengasihi dan menyayangi. suami sehari-hari bekerja sebagai, suami pasien s PNS selalu mengingatkan pasien untuk beristirahat saat lelah mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak memikirkan hal-hal yang akan menggangu pikiran pasien.

C. KEADAAN SOSIAL EKONOMI
Keadaaan sosial ekonomi pasien cukup, pasien tinggal di rumah bersama suami dan kedua anaknya. Rumah pasien merupakan rumah milik sendiri, keadaan rumah bersih dan rapi, luas rumah kira-kira 10x20 m2, rumah berada di lingkungan yang baik, kegiatan sosial di sekitar rumah sekarang mulai aktif kembali diikuti oleh pasien. Pasien mengenal tetangga di sekitar rumah, hubungan pasien dengan tetangga baik.


D. SIKAP KELUARGA TERHADAP ANGGOTA KELUARGA YANG MENDERITA DEPRESI
Anak dan suami pasien mengetahui bahwa pasien pernah berobat ke RSJ untuk mengatasi kecemasannya. Suami pasien sangat mendukung kesembuhan pasien, dan akan mengingatkan pasien untuk minum obat secara teratur serta akan membantu pasien untuk menghilangkan kecemasannya.  

E. EDUKASI KEPADA KELUARGA
- Diberikan  informasi mengenai penyebab penyakit yang dialami pasien sehingga keluarga dapat membantu dalam proses pengobatan pasien yaitu dengan cara memberi motivasi kepada pasien untuk sembuh dan membantu menghilangkan kecemasan yang di alami pasien serta membantu mengontrol kepatuhan pasien minum obat.
- Menyarankan kepada keluarga untuk pentingnya dukungan kepada pasien, jangan membatasi aktivitas pasien secara wajar, ajak pasien bergembira, kurangi hal-hal yang dapat meningkatkan timbulnya kecemasan.

F. LAMPIRAN

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Ganguan depresi merupakan salah satu gangguan mood. Pasien dalam kondisi mood terdepresi memperlhatkan kehilangan energi dan minat, merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, berpikir mati atau bunuh diri. Tanda dan gejala lain termasuk perubahan dalam tingkat aktifitas, kemampuan kognitf, bicara, dan fungsi vegetative (termasuk tidur, aktifitas seksual, dan ritme biologic yang lain). Gangguan ini hampir selalu menghasilkan hendaya interpersonal, social dan fungsi pekerjaan.































DAFTAR PUSTAKA


1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Concise Textbook of Clinical Psychiatry. 3rd Edition. 2008. USA Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, Wolters Kluwer Business. P 200-18.
2. Sadock, Benjamin James,et al. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition Lippincott Williams & Wilkins. 2007. p. 1-89.
3. Ismail RI, Siste K. Gangguan Depresi. Dalam: Elvira SD, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. 2010. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. p 209-22.
4. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi Kedua. 2009. Surabaya: Airlangga University Press.
5. Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ-III. 2001. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.
6. Maslim, Rusdi. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. 2007. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Unika Atmajaya.
7. Setiabudy, Rianto. Farmakologi dan Terapi. Edisi kelima. 2007. Jakarta: Gaya Baru.
8. Anonim. Major Depressive Disorder. [online]. Update 0n 2015. Cited on [13 november 2015]: Available from : All About Depression.com

Selvi SulistiaNingsih

Posts : 6
Reputation : 0
Join date : 2015-11-26

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum