Laporan Kasus : Gangguan Psikotik Akut Lir. Skizofrenia

View previous topic View next topic Go down

Laporan Kasus : Gangguan Psikotik Akut Lir. Skizofrenia

Post by Luqman Hadi on Sat Feb 20, 2016 9:02 pm

BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. M
Usia : 26 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke : 2 dari 5 bersaudara
Agama : Islam
Pendidikan : S1
Suku : Rejang
Status : Belum Menikah
Pekerjaan : Kepala Cabang GO
Alamat : Jl. xxxxxxxxxxxxxxxx Bengkulu
No RM : xxxxxxxxxxxxxx
Tanggal Pemeriksaan : 25/1/2016 pukul 10.20 WIB

II. Riwayat Psikiatri
A. Keluhan Utama
Banyak bicara sejak + 1 minggu yang lalu

B. Riwayat Gangguan Sekarang
ANAMNESIS (Allo dan Auto)
Pasien Perempuan berusia 26 tahun, merupakan anak kedua dari lima bersaudara dan belum menikah. Pasien baru, berobat ke poli pada tanggal 25 Januari 2016, dengan keluhan banyak bicara dan bicara kacau sejak + 1 minggu yang lalu. Selama 1 minggu terakhir ini pasien banyak bicara, pembicaraan yang disampaikan adalah keyakinan bahwa tuhan hanya satu, pasien terus menerus menekankan hal itu, pasien juga terus menerus meminta maaf kepada keluarga dan tuhan atas segala kesalahan yang pernah dilakukannya, pasien merasa selama ini suka mengumbar aib orang lain, padahal menurutnya aib tidak boleh diumbar kepada siapapun. Topik pembicaraan pasien sangat mudah berpindah-pindah, setiap pembicaraaan yang dibicarakan akan berakhir dengan pembahasan tuhan itu satu, dan meminta maaf kepada tuhan. Menurut kakak, pasien mulai bicara kacau setelah diminta oleh pimpinan GO pusat untuk menjadi pembicara di acara pusat GO di Jakarta, pasien merasa dirinya belum mencapai target yang diinginkan dan merasa belum pantas untuk berbicara di Nasional.
Pasien mengaku otaknya penuh akan pikiran, ia memikirkan tentang kekasihnya yang berada di Curup, menurut pasien, kekasihnya merupakan orang yang kurang rajin beribadah. Pasien terus menerus memikirkan bagaimana caranya agar kekasihnya itu bisa rajin sholat dan zikir. Pasien merasa rindu dan kangen ingin berjumpa dengan kekasihnya. Akhir-akhir ini pasien dapat melihat, mendengar dan merasakan kekasihnya. Kekasihnya selalu berbisik padanya agar tidak menyebarkan aib orang lain dan percaya bahwa tuhan hanya satu. Pasien merasa kekasihnya kerap kali muncul saat pasien sendiri di kamar dan mengajak pasien untuk berhubungan badan, pasien menerima tawaran kekasihnya dan berhubungan badan, pasien merasakan hal itu nyata dan menikmatinya. Saat dilakukan wawancara, pasien mengatakan melihat pemeriksa seperti melihat kekasihnya yang ia rindukan.
Pasien juga merasa dirumahnya terpasang banyak cctv, cctv itu untuk merekam kehidupan sehari-harinya, menurutnya orang yang merekamnya itu untuk melihat bagaimana pasien sehari-hari, bagaimana pasien menghadapi masalah sehari-hari. Rekaman itu nantinya akan diputar saat pertemuan nasional dan dibahas. Pasien tidak merasa terganggu ataupun takut karena adanya cctv itu, pasien merasa bangga karena sikap dan perilakunya dapat diketahui orang banyak dan ditiru.
Saat ini pasien mengisi aktivitasnya dengan menonton tv,  saat menonton tv dirumah pasien  kerap kali merasa bahwa apa yang ditampilkan di tv merupakan cerita tentang kehidupan pasien, semua orang yang ada di sinetron yang ditontonnya sedang memerankan kisah hidup dirinya dengan kekasihnya. Pasien merasa senang karena orang yang menonton tv itu akan tahu bagaimana kisah percintaan dia dengan kekasihnya.
10 hari yang lalu pasien didiagnosa mengalami demam berdarah grade II, dan dirawat di RS Curup, pasien dirawat 3 hari dan diijinkan pulang oleh dokter karena kondisi yang telah membaik, namun pasien merasa kondisinya belum optimal dan sudah diminta pulang oleh dokter. Kondisi pasien saat ini baik, pasien datang dengan membawa hasil laboratorium dengan interpretasi hasil dalam batas normal.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya

1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien belum pernah ada gangguan psikiatri sebelumnya, pasien belum pernah berobat ke rumah sakit jiwa maupun ke psikiater.

2. Riwayat Gangguan Medik
- 10 hari yang lalu pasien dirawat di rumah sakit selama 3 hari karena demam berdarah grade II dan telah dinyatakan sembuh dan boleh pulang.
- Tidak ada riwayat trauma, hipertensi, diabetes mellitus dan riwayat sakit hipertiroid.

3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol
Pasien tidak pernah mengkonsumsi alkohol ataupun menggunakan zat psikoaktif.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi

a. Riwayat pranatal
Pasien lahir cukup bulan dengan persalinan normal ditolong bidan dirumah. Selama kehamilan dan kelahiran tidak ada masalah, ibu pasien sering mengontrol kehamilannnya dengan bidan di posyandu.

b. Riwayat masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi dan balita normal. Pasien minum ASI sejak 0 bulan sampai usia 1 tahun didampingi dengan susu formula. Saat bayi hingga balita pasien diasuh oleh ibu dan ayahnya.

c. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan padan masa ini normal. Pasien berkembang menjadi anak yang pintar, sering menang ikut lomba menggambar dan lomba cerdas cermat saat SD. Pasien merupakan anak yang ceria, tidak banyak berbicara, agak jarang bermain keluar rumah, menurut pasien, ia memiliki banyak teman karena mudah bergaul.

d. Riwayat masa remaja
Pasien saat remaja berkembang menjadi gadis yang mudah bergaul dan pintar. Pasien cenderung pemalu, sering merasa minder karena pasien bersekolah di SMA favorit, sehingga pasien giat belajar karena pasien akan merasa percaya diri jika ia lebih dari orang lain, terutama dalam hal prestasi di sekolah.  Pasien memiliki banyak teman dekat disekolah, pasien dalam bergaul tidak memilih- milih teman dan jarang pergi bermain keluar rumah dengan teman- teman sekolahnya. Sehari- hari pasien sering dirumah belajar, membaca novel dan buku bioagrafi serta membantu pekerjaan rumah. Pasien juga belum mempunyai pacar walaupun banyak memiliki teman laki-laki, pasien lebih nyaman menganggap teman laki-lakinya sebagai seorang kawan.

e. Riwayat dewasa muda
Setelah tamat SMA, pasien melanjutkan kuliah di UNIB. Pasien disana memiliki banyak teman dan menjadi salah satu mahasiswi yang  pintar dikampusnya. Pasien mengatakan bahwa disana saingannya berat, pasien juga merasa ada beberapa teman sekelasnya yang iri terhadap prestasi dirinya dikampus. Pasien juga hanya dekat dengan beberapa orang saja yang dianggap pasien baik dan tidak iri terhadap dirinya. Saat dikampus ada laki-laki yang suka kepada pasien, tapi pasien menolak untuk pacaran karena ingin fokus kuliah dan mengejar cita-citanya.

f. Riwayat pendidikan
Pasien sekolah SD, SMP, dan SMA di sekolah favorit dan selalu mendapat juara di sekolahnya. Pasien merupakan sarjana S1 jurusan MIPA di Universitas Bengkulu. Pasien tamat dengan nilai yang sangat memuaskan.

g. Riwayat pekerjaan
Pasien setelah tamat kuliah di UNIB Pasien ke Kepayang dan bekerja di GO, karena prestasi dan kinerja yang cemerlang, pasien diangkat menjadi ketua cabang GO Kepayang sejak 5 bulan yang lalu. Cabang GO dibawah kepemimpinannya mengalami kemajuan yang baik, sehingga beberapa hari yang lalu pasien diminta menjadi salah satu nara sumber pelatihan nasional GO di Jakarta.

h. Riwayat pernikahan
Pasien belum menikah dan belum memiliki anak

i. Riwayat kehidupan beragama
Pasien beragama Islam dan mengaku beribadahnya kurang, pasien sering solat tetapi jarang 5 waktu.

j. Riwayat Psikoseksual
Pasien belum pernah menikah. Pasien saat ini sedang berpacaran dengan kekasihnya, pasien mengaku ini merupakan cinta pertamanya. Saat kuliah ada teman laki-laki pasien yang naksir dan ingin mengajak pasien pacaran, tetapi pasien menolak dengan alasan pasien ingin fokus pada kuliah dan mengejar cita- cita. Saat kuliah juga ada teman sekelas yang ia taksir, tetapi tidak pasien ungkapkan, namun pasien bersikap biasa saja dan tidak merasa sedih.

k. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan terlibat dalam masalah hukum

l. Aktivitas sosial
Pasien suka bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan tetangga. Pasien  keluar rumah untuk bekerja. Pasien merasa dirinya sangat interaktif dengan siswa dan bawahannya, pasien sering meluangkan waktu untuk mendengar keluh kesah bawahannya.
E. Riwayat Keluarga
Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. Pasien merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Pasien memiliki kakak perempuan dan 3 orang adik, adik pertamanya laki-laki dan kedua adik lainnya perempuan. Kakaknya sudah menikah, bekerja sebagai PNS dan telah memiliki seorang anak perempuan, kini kakanya tinggal dirumah yang berbeda dengan pasien. Adik laki-laki pasien sudah tidak sekolah dan membuka mebeul di rumah, adiknya memiliki usaha meubeul dan pasien tidak keberatan dengan hal itu. Kedua adik pasien yang lain masih bersekolah, yang satu masih SMA dan yang satu masih SMP. Kedua orang tua pasien masih ada dan sehat, pasien sayang kepada keluarganya dan tidak memiliki masalah dengan keluarganya. Pasien semenjak sakit tinggal bersama orang tua dan ketiga adiknya. Sebelum sakit, pasien tinggal sendiri di Kepayang di sebuah rumah kontrakkan.







Genogram


Keterangan :

 Pasien

 Laki- laki

 Perempuan

 Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien

 Menikah

 Meninggal
                               
F. Situasi Kehidupan Sekarang
Semenjak sakit, pasien tinggal dengan orang tua dan ketiga adiknya dirumah ayahnya di Panorama. Sebelumnya pasien tinggal sendiri di rumah kontrakannya di Kepayang. Lingkungan tempat tinggal pasien terkesan baik, pasien tinggal di daerah perumahan yang saling berdekatan rumahnya dengan tetangga, dan hubungan keluarga dengan tetangga pasien baik. Rumah Sakit Umum berada kira-kira 5 kilometer dari rumah pasien. Saat ini pasien tidak bekerja karena sakit dan setiap hari hanya tidur dan menonton tv, pasien mau makan ketika disuruh dan membersihkan diri saat disuruh. Dalam biaya pengobatan pasien masih umum dan belum menggunakan BPJS. Hubungan pasien dengan ketiga adik dan orang tua nya cukup baik. Keluarga  pasien cukup terbuka dan mendukung kesembuhan pasien dengan berkomitmen untuk mengingatkan pasien untuk rutin minum obat dan control ke Rumah Sakit khusus Jiwa bila obat habis.

G. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya dan Lingkungannya
Pasien sadar bahwa dirinya sakit dan perlu pengobatan sehingga ia pergi ke Poli RSKJ untuk meminta obat penenang supaya bisa tenang dan tidur dengan nyenyak. Pasien berobat atas kemauan sendiri dan berkomitmen minum obat sesuai anjuran dokter dan bila obat habis pasien ingin kontrol secara suka rela. Pasien merasa lingkungannya baik terhadap dirinya, pasien tidak memiliki rasa curiga atau takut terhadap lingkungannya, jika diijinkan oleh orang tuanya, pasien ingin bersosialisasi dengan lingkungannya.

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan di rumah pasien pada tanggal 8 Februari 2016, hasil pemeriksaan ini menggambarkan situasi keadaan pasien saat home visit.

A. Deskripsi Umum

1. Penampilan
Perempuan berusia 26 tahun, paras sesuai umur dengan postur tubuh yang atletikus, kesan gizi pasien cukup. Rambut pasien agak panjang. Pasien tidak memakai lisptik. Pasien menggunakan baju bewarna merah dan celana pendek biru dongker. Kuku pasien bersih dipotong, tidak menggunakan kutex. Pasien tampak tenang.

2. Kesadaran
Kompos mentis, secara kualitas berubah

3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Keadaan pasien tenang. Pasien tidak memperlihatkan gerak-gerik yang tidak bertujuan, gerak berulang, maupun gerakan abnormal/involunter.

4. Pembicaraan
• Kuantitas : Pasien dapat menjawab pertanyaan dan dapat mengungkapkan isi hatinya dengan jelas.
• Kualitas : pasien menyambung jika ditanya, dan menjawab pertanyaan dengan spontan.
• Tidak ada hendaya berbahasa, pasien fasih berbahasa inggris.

5. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif, kontak mata tidak adekuat. Pasien sering kali menjawab pertanyaan tidak melihat kearah pemeriksa. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan baik, walaupun setiap menjawab pertanyaan pasien sering berpindah topik pembicaraan dan berakhir dengan pembahasan Tuhan itu satu dan meminta maaf.

B. Keadaan Afektif
1. Mood : Hipotimia
2. Afek : Menyempit
3. Keserasian : tidak serasi

C. Gangguan Persepsi
- Halusinasi auditorik :ada
- Halusinasi visual : ada
- Halusinasi taktil : ada
- Ilusi : ada

D. Proses Pikir
1. Bentuk pikir : non-realistik
2. Arus pikir
a. Produktivitas : Flight of ideas.
b. Kontinuitas : Koheren
c. Hendaya berbahasa : Tidak terdapat hendaya berbahasa
3. Isi pikiran : Waham Kebesaran (+), Waham Keagamaan (+)
Thought broadcasting (+)

E. Fungsi Intelektual / Kognitif

1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
• Taraf pendidikan
Pasien lulusan S1 jurusan MIPA.
• Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat siapa presiden Indonesia dan nama Gubernur Bengkulu.

2. Daya konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi dan perhatian  pasien baik, pasien dapat mengurangkan angka 7 dari angka 100 secara terus menerus hingga diminta berhenti oleh pemeriksa. Pasien juga bisa mengeja secara terbalik  kata SEKOLAH.

3. Orientasi
• Waktu : Baik, pasien mengetahui saat wawancara saat malam hari
• Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada dirumahnya, dan menjalani pengobatan di RSKJ Bengkulu
• Orang : Baik, pasien mengetahui siapa saja saudaranya, siapa saja yang tinggal serumah dengannya, dan mengetahui sedang diwawancara oleh siapa.
• Situasi : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang konsultasi dan  wawancara.

4. Daya Ingat
• Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien masih dapat mengingat dimana pasien bersekolah SD
• Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat kapan ia ditunjuk selaku ketua cabang GO
• Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat makan apa tadi pagi
• Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa
• Akibat hendaya daya ingat pasien
Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien saat ini.

6. Kemampuan baca tulis: baik
7. Kemampuan visuospatial: baik
8. Berpikir abstrak: baik, pasien dapat menjelaskan persamaan apel dan pir
9. Kemampuan menolong diri sendiri : baik, pasien dapat melakukan perawatan diri sehari- hari secara mandiri seperti mandi, makan, minum, dan melakukan pekerjaan rumah sendiri walaupun dengan arahan.

F. Daya Nilai
Daya nilai sosial pasien baik. Uji daya nilai realitas pasien juga baik.

G. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien baik, selama wawancara dapat mengontrol emosinya dengan baik (tidak mengamuk atau menangis)
H. Tilikan
Tilikan derajat 4, karena pasien menyadari bahwa dirinya sakit, dan butuh bantuan, namun pasien tidak mengetahui penyebab dari sakitnya itu.

I. Taraf Dapat Dipercaya
Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup akurat, pasien berkata dengan jujur mengenai peristiwa yang terjadi, dan di cross check juga dengan keterangan dari keluarga pasien yang menceritakan kejadian yang serupa.

IV. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Generalis
• KU : Tampak Sehat
• Sensorium : CM   (GCS: E4 V5 M6)
Vital Sign
• TD : 120/70 mmHg
• Nadi : 72 x/menit
• RR : 20 x/menit
• Suhu : 36,8 oC

b. Status Internus
Kepala Normocephali, rambut tidak mudah dicabut, pertumbuhan rambut merata, dan warna rambut hitam-putih.
Mata Sklera ikterik -/-, conjungtiva palpbera anemis -/-, edema palpebra -/-
Hidung deformitas (-), tidak ada sekret.
Telinga deformitas (-), liang lapang, pengeluaran sekret (-).
Mulut bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal

Thorax Tidak terdapat scar, simetris kiri dan kanan
Paru I Pernapasan Statis-Dinamis kiri = kanan.
P Tidak dilakukan
P Dalam batas normal
A Dalam batas normal
Jantung I iktus kordis tidak  terlihat
P Tidak dilakukan
P Tidak dilakukan
A Bunyi jantung normal
Abdomen I Datar, tampak benjolan (-)
A Bising usus (+) Normal
P Timpani (+) di seluruh regio abdomen
P Nyeri tekan (-)
Ektrimitas Pitting edema (-/-) pada ekstrimitas, akral teraba hangat, ptekie (-/-)

c. Status Neurologis
i. Saraf kranial : dalam batas normal
ii. Saraf motorik : dalam batas normal
iii. Sensibilitas : dalam batas normal
iv. Refleks patologis : tidak ada
v. Rangsang meningeal : tidak ada

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT
- pada pasien belum dilakukan pemeriksaan penunjang
- disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah rutin.
VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
 Perempuan 25 tahun, belum menikah, tidak bekerja, tinggal dirumah berdua dengan orang tua dan adik
 Penampilan rapih, perawatan diri pasien baik
 Riwayat stressor : Menjadi pembicara Nasional, Kekasih yang tidak taat beribadah dan berjarak jauh.
 Riwayat kondisi medis : post BDB Grade II 10 hari yang lalu
 Pasien kooperatif, kontak mata inadekuat, pembicaraan pasien koheren
 Mood pasien hipotimia, afek pasien menyempit
 Terdapat halusinasi auditori, visual, dan taktil
 Waham kebesaran, waham keagamaan, Tough Broadcasting
 Belum ada riwayat keluhan yang sama sebelumnya.
 Gangguan pada aktivitas sosial.

VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I
F 23.2 Gangguan Psikotik Lir-Skizofrenia Akut
Aksis II
Tidak ada
Aksis III
A. 90 Demam Berdarah Dengue (riwayat 10 hari yang lalu)
Aksis IV
Tuntutan pekerjaan
Masalah hubungan dengan kekasih
Aksis V
GAF scale 60 – 51

VII. PROGNOSIS
1. Faktor yang memberikan pengaruh baik:
◦ Stresor pencetus yang berat
◦ Onset gejala mendadak
◦ Sedikit penumpulan afektif
◦ Tidak ada saudara yang skizofrenik
2. Faktor yang memberikan pengaruh buruk:
◦ Gangguan terjadi saat usia muda
◦ Tidak menikah
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah dubia ad bonam
Sehingga kesimpulan prognosis pada pasien berdasarkan wawancara diatas sebagai berikut :
Quo Ad Vitam : Dubia Ad bonam
Quo Ad Functionam : Dubia Ad bonam
Quo Ad Sanationam : Dubia Ad bonam
VIII. Terapi
• Psikofarmaka
o Olanzapin tablet 1 x 5 mg
• Psikoterapi & Edukasi
Psikoterapi yang diberikan pasien adalah psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan terapi kognitif-perilaku.
- Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens (pertahanan) pasien terhadap stres. Hal ini dilakukan mengingat toleransi (kemampuan) pasien mengahadapi stres (tekanan, kecewa, frustasi) rendah.
- Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk meningkatkan insight (pengetahuan pasien) terhadap penyakitnya serta mengembangkan kemampuannya untuk menunjang penyembuhan dirinya. Selain itu juga meningkatkan pengetahuan keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien. Peningkatan pengetahuan dilakukan dengan edukasi baik terhadap pasien maupun keluarga.
- Psikoterapi rekonstruktif bertujuan untuk dicapainya tilikan akan konflik-konflik nirsadar dengan usaha untuk mecapai perubahan struktur luas kepribadian.
Edukasi
o Menyarankan kepada keluarga untuk pentingnya dukungan kepada pasien, jangan membatasi aktivitas pasien secara wajar, ajak pasien bergembira, kurangi hal-hal yang dapat meningkatkan stresor.
o Berdiskusi terhadap pentingnya pasien untuk teratur minum obat dan kontrol selain itu kembali menyibukan diri seperti aktivitas dulu, kembali melakukan hal-hal yang menyenangkan, jangan menyimpan emosi, bila mungkin bisa kontrol ke psikiater.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV) mengombinasikan dua konsep diagnostik menjadi diagnosis gangguan psikotik akut (brief psychotic disorder). Pertama, gangguan berlangsung singkat, didefinisikan di dalam DSM-IV sebagai kurang dari satu bulan tetapi sekurangnya satu hari; gejala mungkin memenuhi atau tidak memenuhi kriteria diagnosis untuk skizofrenia. Kedua, gangguan mungkin berkembang sebagai respons terhadap stressor psikososial yang parah atau kelompok stressor. Pengelompokan bersama kedua konsep tersebut di dalam DSM-IV sebagai gangguan psikotik akut adalah dengan mengingat kesulitan praktis dalam membedakan konsep-konsep tersebut di dalam praktik klinis (Sasmanto, 2010).
Pada umumnya, gangguan psikotik akut belum dipelajari dengan baik di psikiatri  Amerika. Sekurangnya sebagian masalah di Amerika Serikat adalah seringnya perubahan kriteria diagnostic yang terjadi selama lebih dari 15 tahun terakhir. Diagnosis telah diterima lebih baik dan dipelajari lebih lengkap di Skandinavia dan masyarakat Eropa Barat lainnya daripada di Amerika Serikat. Pasien dengan gangguan yang mirip dengan gangguan psikotik akut sebelumnya telah diklasifikasikan sebagai menderita psikosis reaktif, histerikal, stress, dan psikogenik (Sasmanto, 2010).
Psikosis reaktif sering kali digunakan sebagai sinonim untuk skizofrenia berprognosis baik; diagnosis DSM-IV gangguan psikotik akut tidak berarti menyatakan hubungan dengan skizofrenia. Di tahun 1913 karl Jasper menggambarkan sejumlah ciri penting untuk diagnosis psikosis reaktif, termasuk adanya stressor traumatis berat yang dapat diidentifikasi, hubungan temporal yang erat antara stresor dan perkembangan psikosis dan perjalanan episode psikotik yang ringan. Di samping itu, isi psikosis sering kali mencerminkan sifat pengalaman traumatis, dan perkembangan psikosis dihipotesiskan sebagai memuaskan tujuan pasien, sering kali suatu tipe pelepasan diri dari suatu kondisi traumatis(Sadock & Sadock, 2007).


A. Epidemiologi
Beberapa penelitian telah dilakukan tentang epidemiologi diagnosis psikosis reaktif singkat DSM edisi ketiga yang direvisi (DSM-III-R), dan belum ada yang dilakukan dengan menggunakan kriteria DSM-IV. Dengan demikian, perkiraan yang dapat dipercaya tentang insidensi, prevalensi, rasio, jenis kelamin, dan usia onset rata-rata untuk gangguan yang tidak terdapat. Pada umumnya gangguan ini dianggap jarang, seperti yang dinyatakan oleh satu penelitian tentang perekrutan militer dimana insidensi psikosis reaktif singkat DSM-III-R diperkirakan adalah 1,4 per 100.000 yang direkrut. Dengan memasukkan episode psikotik akut yang tidak disertai dengan faktor pencetus yang jelas di dalam DSM-IV mungkin lebih tinggi daripada angka tersebut. Hal lain yang menimbulkan kesan pada klinisi adalah bahwa gangguan adalah lebih sering pada pasien muda daripada pasien lanjut usia, walaupun beberapa kasus melaporkan adanya riwayat kasus yang memang mengenai orang lanjut usia (Sasmanto, 2010).
Beberapa klinisi menyatakan bahwa gangguan mungkin paling sering ditemukan pada pasien dari kelas sosioekonomi rendah dan pada pasien dengan gangguan kepribadian yang telah ada sebelumya (paling sering adalah gangguan kepribadian histrionic, narsistik, paranoid, skizotipal, dan ambang). Orang yang pernah mengalami bencana yang berat atau yang mengalami perubahan cultural yang besar (sebagai contoh, imigran) mungkin juga berada dalam risiko untuk menderita gangguan setelah stressor psikososial selanjutnya. Tetapi, kesan klinis tersebut belum dibuktikan benar di dalam penelitian klinis yang terkontrol baik (Sasmanto, 2010).

B. Etiologi
Di dalam DSM-III-R faktor psikososial bermakna dianggap menyebabkan psikosis reaktif singkat, tetapi criteria tersebut telah dihilangkan dari DSM-IV. Perubahan dalam DSM-IV menempatkan diagnosis gangguan psikotik akut di dalam kategori yang sama dengan banyak diagnosis psikiatrik utama lainnya yang penyebabnya tidak diketahui dan diagnosis kemungkinan termasuk kelompok gangguan yang heterogen.
Pasien dengan gangguan psikotik akut yang pernah memiliki gangguan kepribadian mungkin memiliki kerentanan biologis atau psikologis kearah perkembangan gejala psikotik. Walaupun pasien dengan gangguan psikotik akut sebagai suatu kelompok mungkin tidak memiliki peninggian insidensi skizofrenia di dalam keluarganya, beberapa data menyatakan bahwa adanya suatu peninggian insidensi gangguan mood. Perumusan psikodinamika telah menyadari adanya mekanisme menghadapi  (coping mechanism) yang tidak adekuat dan kemungkinan adanya tujuan sekunder pada pasien dengan gejala psikotik. Seperti pada teori biologis tentang gangguan, teori psikologis belum disahkan oleh penelitian klinis yang terkontrol cermat. Teori psikodinamika tambahan menyatakan bahwa gejala psikotik adalah suatu pertahanan terhadap fantasi yang dilarang, pemenuhan harapan yang tidak tercapai, atau suatu pelepasan dari situasi psikososial tertentu (Panksepp, 2004).

C. Diagnosis
DSM-IV memiliki rangkaian diagnosis untuk gangguan psikotik, didasarkan terutama atas lama gejala. Untuk gejala psikotik yang berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan dan yang tidak disertai dengan suatu gangguan mood, gangguan berhubungan dengan zat, atau suatu gangguan psikotik karena kondisi medis umum, diagnosis gangguan psikotik akut kemungkinan merupakan diagnosis yang tepat. Untuk gejala psikotik yang berlangsung lebih dari satu hari diagnosis sesuai yang harus dipertimbangkan adalah gangguan delusional (jika waham merupakan gejala psikotik utama), gangguan skizofreniform (jika gejala berlangsung kurang dari enam bulan), dan skizofrenia (jika gejala telah berlangsung lebih dari enam bulan).
Jadi gangguan psikotik akut diklasifikasikan di dalam DSM-IV sebagai suatu gangguan psikotik  dengan durasi singkat. Kriteria diagnostik menentukan adanya sekurangnya satu gejala yang jelas psikotik yang berlangsung selama satu hari sampai satu bulan. DSM-IV memungkinkan lebih lanjut penentuan dua ciri: (1) adanya atau tidak adanya satu atau lebih stressor yang jelas dan (2) suatu onset pascapersalinan (postpartum)(American Psychiatric Association, 2000).
Seperti pada pasien psikiatrik akut, riwayat yang diperlukan untuk membuat diagnosis mungkin tidak dapat diperoleh hanya dari pasien. Walaupun adanya gejala psikotik mungkin jelas, informasi tentang gejala prodormal, episode suatu gangguan mood sebelumnya,dan riwayat ingesti zat psikotomimetik yang belum lama mungkin tidak dapat diperoleh dari wawancara klinis saja. Di samping itu, klinisi mungkin tidak mampu memperoleh informasi yang akurat tentang ada atau tidaknya stressor pencetus. Informasi tersebut paling baik dan paling akurat didapatkan dari seorang sanak saudara atau seorang teman. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Psikotik akut (American Psychiatric Association, 2000)
- Adanya satu(atau lebih) gejala berikut:
 waham
 halusinasi
 bicara terdisorganisasi (misalnya, sering menyimpang atau inkoherensi)
 perilaku terdisorganisasi jelas atau
- Lama suatu episode gangguan adalah sekurangnya 1 hari tetapi kurang dari 1 bulan, akhirnya kembali penuh kepada tingkat fungsi pramorbid.
- Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh suatu gangguan mood dengan ciri psikotik, gangguan skizoafektif, atau skizofrenia dan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau kondisi medis umum.
Sebutkan jika:
- Dengan stressor nyata (psikosis reaktif singkat): jika gejala terjadi segera setelah dan tampak sebagai respons dari suatu kejadian yang sendirian atau bersama-sama, akan menimbulkan stress yang cukup besar bagi hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang tersebut.
- Tanpa stressor nyata: jika gejala psikotik tidak terjadi segera setelah, atau tampaknya bukan sebagai respons terhadap kejadian yang sendirian atau bersama-sama, akan menimbulkan stress yang besar bagi hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang tersebut.
- Dengan onset pascapersalinan: jika onset dalam waktu 4 minggu setelah persalinan.
Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi ke III 1993 (PPDGJ-III), pedoman diagnostic untuk gangguan psikotik akut yaitu (Maslim, 2003)
- Menggunakan urutan diagnosis yang mencerminkan urutan prioritas yang diberikan untuk cirri-ciri utama terpilih dari gangguan ini. Urutan prioritas yang dipakai adalah:
 Onset yang akut (dalam masa 2 minggu atau kurang = jangka waktu gejala-gejala psikotik menjadi nyata dan mengganggu sedikitnya beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, tidak termasuk periode prodormal yang gejalanya sering tidak jelas) sebagai cirri khas yang menentukan seluruh kelompok;
 Adanya sindrom yang khas (berupa “polimorfik”= beraneka ragam dan berubah cepat, atau “schizophrenia-like”= gejala skizofrenik yang khas);
 Adanya stress akut yang berkaitan (tidak selalu ada, sehingga dispesifikasi dengan karakter ke 5; .x0=Tanpa penyerta stress akut; .x1=Dengan penyerta stress akut). Kesulitan atau problem yang berkepanjangan tidak boleh dimasukkan sebagai sumber stress dalam konteks ini;
 Tanpa diketahui berapa lama gangguan akan berlangsung;
- Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi criteria episode manic atau episode depresif, walaupun perubahan emosional dan gejala-gejala afektif individual dapat menonjol dari waktu ke waktu.
- Tidak ada penyebab organic, seperti trauma kapitis, delirium, atau demensia. Tidak merupakan intoksikasi akibat penggunaan alcohol atau obat-obatan.

D. Gambaran Klinis
Gejala gangguan psikotik akut selalu termasuk sekurangnya satu gejala psikosis utama, biasanya dengan onset yang tiba-tiba, tetapi tidak selalu memasukkan keseluruhan pola gejala yang ditemukan pada skizofrenia. Beberapa klinisi telah mengamati bahwa gejala afektif, konfulsi, dan gangguan pemusatan perhatian mungkin lebih sering ditemukan pada gangguan psikotik akut daripada gangguan psikotik kronis. Gejala karakteristik untuk gangguan psikotik akut adalah perubahan emosional, pakaian atau perilaku yang aneh, berteriak-teriak atau diam membisu, dan gangguan daya ingat untuk peristiwa yang belum lama terjadi. Beberapa gejala tersebut ditemukan pada gangguan yang mengarahkan diagnosis delirium dan jelas memerlukan pemeriksaan organic yang lengkap, walaupun hasilnya mungkin negative (Sadock & Sadock, 2007).
Literatur Skandinavia dan Eropa membedakan beberapa pola gejala karakteristik yang terlihat pada gangguan psikotik akut, walaupun pola gejala tidak berlaku tepat untuk tepi Samudra Atlantik tersebut. Pola gejala adalah reaksi paranoid akut, konfusi reaktif, eksitasi reaktif, dan depresi reaktif. Beberapa data menyatakan bahwa, di Amerika Serikat, paranoia sering merupakan gejala yang menonjol dalam gangguan ini. Pada psikiatri Prancis, bouffee delirante adalah sama dengan gangguan psikotik akut (Sadock & Sadock, 2007).

E. Stresor Pencetus
Contoh yang paling jelas dari stressor pencetus adalah peristiwa kehidupan yang besar yang dapat menyebabkan kemarahan emosional yang bermakna pada tiap orang. Peristiwa tersebut adalah kematian anggota keluarga dekat dan kecelakaan kendaraan yang berat. Beberapa klinisi berpendapat bahwa keparahan peristiwa harus dipertimbangkan di dalam hubungan dengan kehidupan pasien. Walaupun pandangan tersebut adalah beralasan, tetapi mungkin memperluas definisi stressor pencetus dengan memasukkan peristiwa yang tidak berhubungan dengan episode psikotik. Klinisi lain berpendapat bahwa stressor mungkin merupakan urutan peristiwa yang menimbulkan stress sedang, bukannya peristiwa tunggal yang menimbulkan stress dengan jelas. Tetapi, penjumlahan derajat stress yang disebabkan oleh urutan peristiwa memerlukan suatu derajat pertimbangan klinis yang hampir tidak mungkin (Sadock & Sadock, 2007).
Seorang pelajar perempuan berusia 17 tahun dibawa ke ruang gawat darurat oleh ibunya yang merasa cemas, yang tidak mengerti perilaku anak perempuannya. Dua hari sebelumnya ayah pasien telah dimakamkan. Ayahnya meninggal tiba-tiba akibat infark miokardium pada awal minggu. Pasien telah menjadi sangat teragitasi di pemakaman, berteriak-teriak tanpa terkendali dan perlu dipegangi oleh sanak saudaranya. Ia tidak dapat dihibur di rumah, duduk membatu di sudut rumah, dan berbicara tentang hantu yang datang untuk mengambil nyawanya. Sebelum kematian ayahnya, ia merupakan “remaja yang tipikal, popular, dan pelajar yang sangat baik tetapi agak rentan terhadap reaksi yang berlebihan (overreacting).” Tidak terdapat riwayat psikiatrik sebelumnya (Sasmanto, 2010).
Diskusi. Duka cita merupakan reaksi yang diharapkan terhadap hilangnya seseorang yang dicintai. Tetapi, reaksi anak perempuan tersebut bukan hanya lebih parah dari yang diharapkan (sangat teragitasi, berteriak-teriak tak terkendali) tetapi juga memiliki gejala psikotik (keyakinan bahwa hantu telah datang untuk mengambil nyawanya). Onset tiba-tiba episode psikotik yang jelas segera setelah stressor psikososial yang nyata, tanpa adanya tanda prodormal skizofrenia atau gangguan kepribadian skizotipal yang mendahului onset gangguan, menyatakan diagnosis Aksis I adalah gangguan psikotik akut, dengan stressor yang berat. Biasanya, gejala psikotik berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan. Diagnosis dapat dibuat sebelum periode waktu satu bulan- yaitu lama maksimal gejala yang sesuai dengan diagnosis-selesai, tetapi harus diterima sebagai sementara. Dalam kasus ini diharapkan bahwa gejala akan menghilang dan pasien akan kembali ke tingkat fungsi biasanya yang baik. Jika gejala menetap lebih dari satu bulan, diagnosis berubah menjadi gangguan psikotik lainnya, seperti gangguan skizofreniform (Sasmanto, 2010).

F. Diagnosis Banding
Klinisi tidak boleh menganggap bahwa diagnosis yang tepat untuk pasien yang psikotik akut adalah gangguan psikotik akut, bahkan jika faktor psikososial pencetus yang jelas ditemukan. Faktor tersebut dapat semata-mata terjadi bersama-sama. Diagnosis lain yang dipertimbangkan di dalam diagnosis banding adalah gangguan buatan (factitious disorder) dengan tanda dan gejala psikologis yang menonjol, berpura-pura (malingering), gangguan psikotik karena kondisi medis umum, dan gangguan psikotik akibat zat. Seorang pasien mungkin tidak mau mengakui penggunaan zat gelap, dengan demikian membuat pemeriksaan intoksikasi zat atau putus zat sulit tanpa menggunakan tes laboratorium. Pasien dengan epilepsi atau delirium dapat juga datang dengan gejala psikotik yang dengan ditemukan pada gangguan psikotik akut. Gangguan psikiatrik tambahan yang harus dipertimbangkan di dalam diagnosis banding adalah gangguan identitas disosiatif dan episode psikotik yang disertai dengan gangguan kepribadian ambang dan skizotipal (Panksepp, 2004; Sadock & Sadock, 2007)
.
G. Perjalananan Penyakit dan Prognosis
Menurut definisinya, perjalanan penyakit gangguan psikotik akut adalah kurang dari satu bulan. Namun demikian, perkembangan gangguan psikiatrik bermakna tertentu dapat menyatakan suatu kerentanan mental pada pasien. Sejumlah pasien dengan persentasi yang tidak diketahui pertama kali diklasifikasikan menderita gangguan psikotik akut selanjutnya menunjukkan sindroma psikiatrik kronis seperti skizofrenia dan gangguan mood. Tetapi, pada umumnya pasien dengan gangguan psikotik akut memiliki prognosis yang baik, dan penelitian di Eropa telah menyatakan bahwa 50 sampai 80 persen dari semua pasien tidak memiliki masalah psikiatrik berat lebih lanjut (Sadock & Sadock, 2007).
Lamanya gejala akut dan residual sering kali hanya beberapa hari. Kadang-kadang, gejala depresif mengikuti resolusi gejala psikotik. Bunuh diri adalah suatu keprihatinan pada fase psikotik maupun fase depresif pascapsikotik. Sejumlah indikator telah dihubungkan dengan prognosis yang baik. Pasien dengan ciri-ciri tersebut kecil kemungkinannya untuk menderita episode selanjutnya dan kecil kemungkinannya kemudian akan menderita skizofrenia atau suatu gangguan mood.
Ciri prognosis yang baik untuk gangguan psikotik akut (Sadock & Sadock, 2007):
- Penyesuaian pramorbid yang baik
- Sedikit trait schizoid pramorbid
- Stresor pencetus yang berat
- Onset gejala mendadak
- Gejala afektif
- Konfusi selama psikosis
- Sedikit penumpulan afektif
- Gejala singkat
- Tidak ada saudara yang skizofrenik

H. Terapi
- Perawatan di Rumah Sakit
Jika seorang pasien psikotik secara akut, perawatan singkat di rumah sakit mungkin diperlukan untuk pemeriksaan dan perlindungan pasien. Pemeriksaan pasien membutuhkan monitoring ketat terhadap gejala dan pemeriksaan tingkat bahaya pasien terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Di samping itu, lingkungan rumah sakit yang tenang dan terstruktur dapat membantu pasien memperoleh kembali rasa realitasnya. Sambil klinisi menunggu lingkungan dan obat menunjukkan efeknya, pengurungan, pengikatan fisik, atau monitoring berhadap-hadapan dengan pasien mungkin diperlukan (Sadock & Sadock, 2007).
- Farmakoterapi
Dua kelas utama obat yang harus dipertimbangkan di dalam pengobatan gangguan psikotik akut adalah obat antipsikotik antagonis reseptor dopamine dan benzodiazepin. Jika dipilih suatu antipsikotik, suatu antipsikotik potensi tinggi, sebagai contoh haloperidol (Haldol), biasanya digunakan. Khususnya pada pasien yang berada dalam resiko tinggi untuk mengalami efek samping ekstrapiramidal (sebagai contoh, orang muda), suatu obat antikolinergik kemungkinan harus diberikan bersama-sama dengan antipsikotik sebagai profilaksis terhadap gejala gangguan pergerakan akibat medikasi. Selain itu, benzodiazepine memiliki sedikit kegunaan atau tanpa kegunaan dalam pengobatan jangka panjang gangguan psikotik, obat dapat efektif untuk jangka singkat dan disertai dengan efek samping yang lebih jarang daripada antipsikotik. Pada kasus yang jarang benzodizepin disertai dengan peningkatan agitasi, dan pada kasus yang lebih jarang lagi, dengan kejang putus obat (withdrawl seizure), yang biasanya hanya terjadi pada penggunaan dosis tinggi yang terus-menerus. Penggunaan obat lain dalam terapi gangguan psikotik akut, walaupun dilaporkan di dalam laporan kasus, belum didukung oleh penelitian skala besar. Tetapi, medikasi hipnotik sering kali berguna selama satu sampai dua minggu pertama setelah resolusi episode psikotik. Pemakaian jangka panjang medikasi harus dihindari dalam pengobatan gangguan ini. Jika medikasi pemeliharaan diperlukan, klinisi harus mempertimbangkan ulang diagnosis (Sadock & Sadock, 2007).
- Psikoterapi
Walaupun perawatan di rumah sakit dan farmakoterapi merupakan kemungkinan untuk mengendalikan situasi jangka pendek, bagian yang sulit dari terapi adalah integrasi psikologis pengalaman (dan kemungkinan trauma pencetus, jika ada) ke dalam kehidupan pasien dan keluarganya. Psikoterapi individual, keluarga dan kelompok mungkin diindikasikan. Diskusi tentang stressor, episode psikotik, dan perkembangan strategi untuk mengatasinya adalah topik utama bagi terapi tersebut. Masalah yang berhubungan adalah membantu pasien mengatasi kehilangan harga diri dan kepercayaan (Sadock & Sadock, 2007).





















BAB III
PEMBAHASAN

Dari hasil wawancara, tidak ditemukan kelainan fisik yang berhubungan dengan gejala-gejala psikiatrik yang dialami pasien, seperti riwayat trauma atau gangguan otak, namun pada pasien didapatkan adanya riwayat DBD grade II 10 hari yang lalu, pasien sempat dirawat selama 3 hari.  Dengan demikian, diagnosis banding gangguan mental organik (F0) dapat dipertimbangkan, diagnosis banding pada pasien ini F06.0 Halusinasi Organik.
Tidak ditemukan riwayat konsumsi alkohol,merokok dan penggunaan zat psikoaktif. Dengan demikian, diagnosis banding gangguan mental akibat penggunaan zat (F1) dapat disingkirkan.
Melalui hasil wawancara, ditemukan adanya gangguan psikotik yang muncul pertama kali 1 minggu yang lalu, keluhan ini telah menyebabkan pasien tidak dapat melanjutkan pekerjaan, terdapat stress akut berupa tekanan untuk menjadi pembicara nasional dan masalah dengan pasangannya. Gejala psikotik yang muncul berupa adanya thought broadcasting, waham agama, waham kebesaran, halusinasi auditorik, halusinasi visual, dan halusinasi taktil,  maka dari itu diagnosis F 23.2 gangguan psikotik lir-skizofrenia akut dapat ditegakkan.
Penatalaksanaan yang diberikan pada penderita ini adalah dengan farmakoterapi dan nonfarmakoterapi. Farmakoterapi yang diberikan pada penderita ini adalah olanzapin tablet yaitu antipsikotik atipikal yang aman dan efektif untuk gejala skizofrenia baik gejala positif maupun negatif dengan profil efek samping yang aman. Dapat diberikan dalam dosis tunggal dimulai dari 10 mg. Profil efek samping meliputi peningkatan berat badan, somnolence, hipotensi ortostatik, dan konstipasi.kemungkinan terjadinya efek samping ekstrapiramidal dan kejang sangat kecil. Sejauh ini belum ada efek hematologik yang muncul.. Penatalaksanaan nonfarmakoterapi dengan psikoterapi yang tujuan utamanya adalah untuk mengendalikan situasi jangka pendek yang merupakan bagian sulit dari terapi adalah integrasi psikologis pengalaman, dalam hal ini adalah konflik antara penderita dengan majikan dan rekan-rekan kerjanya. Penderita diajak dalam diskusi mengenai stressor, episode psikotik, dan perkembangan strategi untuk mengatasinya adalah topik utama bagi terapi tersebut.
Prognosis penderita ini adalah dubia ad bonam. Hal ini disandarkan pada terjadinya sedikit penumpulan afektif, onset gejala mendadak, tidak ada saudara yang skizofrenik, dan adanya stresor pencetus yang berat.


DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (4th ed.). New York: American Psychiatric Association.
Maslim, R. (2003). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III . Jakarta: Bagian Ilmu Kedoteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.
Panksepp, J. (2004). Textbook of Biological Psychiatry (1st ed.). New York: Wiley-Liss.
Sadock, B. J., & Sadock, V. A. (2007). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry (10th ed.). New York: Lippincott Williams & Wilkins.
Sasmanto, S. (2010). Gangguan Psikotik Singkat. Pontianak.

Luqman Hadi

Posts : 8
Reputation : 0
Join date : 2016-02-20

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum