LAPORAN KASUS SKIZOFRENIA PARANOID

View previous topic View next topic Go down

LAPORAN KASUS SKIZOFRENIA PARANOID

Post by sigit nurawalin on Sun Apr 19, 2015 2:16 pm

BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. T
Usia : 41 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke : 5 dari 5 bersaudara
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Suku : Bengkulu
Status : Menikah
Pekerjaan : Tidak bekerja
Alamat : xxxxxxxxxxxxxxxxxx Bengkulu
Tanggal Pemeriksaan : 04/4/2015 pukul 15.00 WIB

II. Riwayat Psikiatri
A. Keluhan Utama
Mudah marah dan sulit tidur sejak + 1 bulan yang lalu
B. Riwayat Gangguan Sekarang
AUTOANAMNESIS
• Perempuan 41 tahun, merupakan anak kelima dari lima bersaudara dan sudah menikah. Pasien baru keluar dari RSKJ Soeprapto tanggal 17 Februari 2015. Selama 1 bulan terakhir ini pasien mengeluh mudah marah dan sulit tidur. Pasien mudah marah saat tersinggung, pasien menganggap orang lain itu selalu mengancam atau mengejek dirinya. Pasien mudah tersinggung dengan siapa saja tetapi pasien paling sering ribut dengan kakaknya. Menurut pasien kakaknya sudah tidak waras sering mengancam dirinya, sering mau memukul dirinya, jadi sering terjadi keributan di rumah pasien. Kakak pasien selalu pulang malam dan jarang tidur di rumah, setiap kakak pasien tidur di luar pasien merasa aman dan tenang. Selain kakak pasien, pasien juga marah dengan kakak sepupu ipar pasien yang menurut pasien sering marah, dan yang sering membawa pasien untuk berobat ke rumah sakit jiwa. Kakak sepupu ipar pasien tinggal di sebelah rumahnya dan sering lewat mondar-mandir dan melihat ke rumah pasien dengan pandangan sinis. Pasien merasa kakak sepupu pasien ingin membawanya ke rumah sakit jiwa lagi. Pasien merasa dirinya sakit tetapi sudah mau sembuh karena sudah dirawat lama di rumah sakit jiwa. Setiap keluar rumah pasien juga merasa sering dilihat oleh orang-orang seperti pandangan jijik melihat dirinya karena dirinya baru keluar dari rumah sakit jiwa. Sehingga kalau ditegur pasien akan marah karena mereka seperti mengolok-olok dirinya.
•              Tidur pasien juga tidak nyenyak dan sering terbangun pada malam hari karena diganggu oleh bisikan- bisikan. Bisikan tersebut sering di dengar pasien, bisikan tersebut seperti suara orang yang dia kenal kadang seperti suara kakaknya, kadang seperti suara tetangganya tetapi dia tidak melihat ada orang di sekelilingnya. Bisikan itu kadang menyuruh pasien untuk melakukan sesuatu, setiap di suruh pasien kadang menuruti apa yang di suruh oleh bisikan tersebut, seperti pasien disuruh melempar rumah tetangga karena tetanga tersebut sedang membicarakan dirinya, kadang pasien disuruh untuk telanjang dan keluar rumah. Kadang bisikan tersebut mengejek dirinya, kadang mengancam dirinya bahwa dirinya akan masuk neraka jika tidak menuruti apa yang disuruh bisikan tersebut. Kadang bisikan tersebut mengajak pasien untuk mengobrol.  Menurut pasien saat disuruh oleh bisikan itu dia tidak merasa sadar lagi dan secara spontan melakukan apa yang disuruh oleh bisikan tersebut. Bisikan tersebut sering terdengar apalagi dalam 2 minggu terakhir ini, bisikan tersebut bisa terdengar kapan saja dan dimana saja. Selain mengganggu tidur bisikan tersebut sering mengganggu saat pasien ingin melakukan pekerjaan rumah, sehingga kadang pasien malas untuk membersihkan rumah pasien dan pasien hanya duduk saja di dalam rumah atau duduk di teras rumah pasien.
•           Pasien juga mengeluh dalam 1 bulan ini pasien sudah tidak mau minum obat karena menurut pasien dia sudah tidak sakit lagi dan tidak butuh obat. Pasien mengaku sudah 2 minggu benar-benar tidak minum obat.  
•          Pertama kali keluhan mudah marah pasien ini dimulai saat pasien kelas 2 SMA, pada saat itu pasien merasa mudah marah, membakar bajunya sendiri dan sering memukul keluarganya karena menurut pasien ada suara-suara yang menyuruhnya untuk melakukan hal tersebut. Suara-suara tersebut seriing muncul dan suara-suara tersebut mirip dengan suara-suara keluarga nya kadang kakaknya, kadang ayahnya. Kemudian pasien hanya dibawa ke orang pintar dan pasien putus sekolah. Pasien mengaku dirinya sembuh saat itu dan menjalani kehidupan normal.
•         Pada tahun 2005 keluhan pasien kembali muncul saat ayah pasien meninggal karena jatuh dari tangga. Pasien kembali sering marah, mengamuk, dan melempar orang lain. Pasien juga sering pergi keluar rumah dan lama kembali.  
•         Pasien mengaku sudah sering keluar masuk rumah sakit jiwa dan setiap kali di rawat pasien pasti lama kadang sampai setahun lebih setiap kali di rawat. Sesudah dirawat pasien merasa baikan dan merasa tidak butuh obat dan akhirnya kambuh lagi.  
HETEROANAMNESIS
Diperoleh dari saudara sepupu  pasien, Ny. R, berusia 66 tahun, bekerja sebagai ibu rumah tangga yang merupakan tetangga pasien dan yang paling sering mengurus pasien ketika di tinggal oleh ayahnya. Ny. R mengatakan bahwa pasien memang sering marah-marah dan keluyuran keluar rumah. Dan pasien kadang sering melempari orang lain jika menegur pasien ataupun kadang tanpa sebab. Pasien sering bicara sendiri dan sering tertawa sendiri di rumahnya. Pasien tidak tidur semalaman dan sering keluar rumah sendiri, jika di tegur pasien marah dan sering mengamuk. Pasien juga sering curiga dengan orang termasuk suaminya ataupun dirinya jika berkunjung ke rumah pasien. Kadang-kadang suami Ny. R sering melewati rumah pasien untuk melihat keadaan pasien apakah pasien kadang kambuh atau tidak. Setelah mengetahui pasien sudah kambuh sepupu pasien ini menghubungi kakak pasien yang pertama agar dibawa ke rumah sakit jiwa untuk diobati.
Pasien pertama kali terkena gejala seperti ini ketika pasien di kelas 2 SMA, ketika itu pasien tiba-tiba saja sering marah-marah dan mudah tersinggung. Pasien sering berbicara sendiri, tertawa sendiri dan sering keluyuran. Kadang-kadang pasien telanjang saat keluyuran ke luar rumah atau duduk di depan rumah. Dan jika di tegur pasien marah-marah dan mengamuk. Pasien kemudian hanya diobati dengan pengobatan alternatif dan tidak dibawa ke rumah sakit jiwa. Kemudian pasien sembuh tetapi pasien menjadi lebih pemurung dan jarang mengobrol dengan keluarganya lagi.
Pasien pertama kali dirawat di rumah sakit jiwa itu pada tahun 2005 karena keluhan pasien muncul kembali, saat itu ayah pasien meninggal karena jatuh dari tangga. Pasien dirawat lebih dari satu tahun. Kemudian pasien sering keluar masuk rumah sakit jiwa dengan keluhan yang sama. Pasien kadang tidak mau minum obat karena merasa telah sembuh.
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien belum pernah ada gangguan psikiatri sebelumnya, pasien belum pernah berobat ke rumah sakit jiwa maupun ke psikiater.
2. Riwayat Gangguan Medik
- Pasien tidak ada riwayat gangguan medis, dan pasien belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.
- Tidak ada riwayat hipertensi, tidak ada riwayat diabetes mellitus dan riwayat sakit hipotiroid.
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol
Riwayat mengkonsumsi alkohol, rokok, dan narkoba tidak ada.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
a. Riwayat pranatal
Pasien lahir cukup bulan dengan persalinan normal ditolong dukun dirumah. Selama kehamilan dan kelahiran tidak ada masalah, ibu pasien sering mengontrol kehamilannnya dengan bidan di posyandu.
b. Riwayat masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi dan balita normal. Pasien minum ASI sejak 0 bulan sampai usia 2 tahun didampingi dengan makanan lunak karena saat itu ibu pasien  tidak sanggup membeli susu formula.
c. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan padan masa ini normal. Pasien berkembang menjadi anak yang biasa saja, setiap pulang ke rumah pasien selalu membantu ibunya di rumah dan jarang keluar rumah. Pasien merupakan anak yang pendiam, tidak banyak berbicara, jarang bermain keluar rumah, sehingga tidak memilik banyak teman.
d. Riwayat masa remaja
Pasien saat remaja tetap berkembang menjadi gadis yang pendiam. Pasien juga pemalu, sering merasa minder di sekolah karena pasien dari keluarga miskin. Pasien tidak memiliki teman dekat disekolah, pasien dalam bergaul memilih- milih teman dan tidak pernah pergi bermain keluar rumah dengan teman- teman sekolahnya. Sehari- hari pasien sering dirumah membantu ibunya mengurus rumah dan belajar. Pasien juga tidak mempunyai pacar atau teman laki-laki.
e. Riwayat dewasa muda
Saat SMA, pasien berhenti sekolah karena sakit dan menjalani hidupnya di rumah saja hanya membantu ibunya di rumah, jarang keluar rumah. Pasien tidak mempunyai teman, pasien sering mengurung diri di rumah karena malu bertemu dengan teman-temanya yang dulu sekolah bersama dengannya.
f. Riwayat pendidikan
Pasien sekolah SD, SMP, dan SMA tidak pernah mendapat juara di sekolahnya. Pasien berhenti sekolah karena sakit saat kelas 2 SMA dan tidak melanjutkan lagi.
g. Riwayat pekerjaan
Pasien tidak pernah bekerja, pasien hanya membantu ibunya di rumah dan mengurus adik-adiknya.
h. Riwayat pernikahan
Pasien sudah menikah tetapi belum memiliki anak. Pasien memaksa menikah karena ada yang suka dengannya, dan direstui oleh orang tua pasien. Kemudian pasien menikah secara sah. Tetapi saat orang tua pasien tahu kalau suami pasien merupakan orang yang tidak benar, sering mencuri, sering minum minuman keras, sering keluar malam dan malas bekerja. Akhirnya keluarga pasien menyuruh pasien untuk berpisah dengan suaminya. Dan akhirnya sampai sekarang pasien berpisah dengan suaminya tetapi belum bercerai.
i. Riwayat kehidupan beragama
Pasien beragama Islam dan mengaku beribadahnya kurang, pasien sering solat tetapi jarang 5 waktu.
j. Riwayat Psikoseksual
Pasien sudah menikah. Pasien belum mempunyai anak. Pasien tidak pernah pacaran sebelumnya dan tidak ada laki-laki yang dekat dengannya saat SMA ataupun setelah keluar dari SMA.
k. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan terlibat dalam masalah hukum
l. Aktivitas sosial
Pasien jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan tetangga. Pasien jarang keluar rumah, pasien tidak pernah mengobrol dan bercengkrama dengan tetangga. Pasien hanya tersenyum jika ada tetangga yang menegurnya saat ia menyapu teras rumah, tetapi tidak pernah mengobrol dengan tetangga atau teman disekitar rumah.
E. Riwayat Keluarga
Di keluarga pasien banyak keluarga yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. Ayah pasien sebelum meninggal juga sering marah-marah, berbicara sendiri, sering mengamuk dan sering tidak nyambung jika diajak ngobrol. Kakak ke dua pasien juga mengalami keluhan yang serupa sering menyendiri, berbicara sendiri, mudah tersinggung dan akhirnya meninggal karena sakit sebelumnya. Kakak ketiga pasien juga sering marah-marah dan melempar rumah tetangga, melempar orang  lain yang lewat sering berkelahi dengan pasien.


Genogram











Keterangan :

 Pasien

 Laki- laki

 Perempuan

 Keluarga pasien yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien

 Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien

 Menikah

 berpisah

 Sepupu pasien yang tinggal sebelah rumah pasien

 Meninggal

F. Situasi Kehidupan Sekarang
Pasien sekarang tinggal dengan kakak ketiga pasien dan ibu pasien yang sudah tua. Lingkungan tempat tinggal pasien terkesan kurang baik, pasien tinggal di daerah yang saling berdekatan rumahnya dengan tetangga, dan hubungan keluarga dengan tetangga pasien kurang baik. Rumah Sakit Umum berada kira-kira 1 kilometer dari rumah pasien. Saat ini pasien tidak bekerja dan setiap hari melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci, menyapu, memasak dan membersihkan rumah. Dalam biaya pengobatan pasien menggunakan BPJS, sehingga tidak dikenai biaya yang pasien dapatkan dari kakak pertamanya. Hubungan pasien dengan kakak-kakaknya kurang baik apalagi dengan kakak ketiganya yang mengalami keluhan yang sama pasien sering berkelahi dan sering ribut. Ibu pasien sekarang sudah linglung tidak bisa berbuat apa-apa sehingga kadang dipukuli oleh pasien.
G. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya dan Lingkungannya
Pasien menyangkal kalau dirinya sakit dan di antar ke RSKJ karena diantar oleh keluarganya dan kadang di antar oleh masyarakat sekitar. Pasien tidak menyukai Lingkungan tempat tinggal pasien karena menurut pasien orang-orang yang disana selalu membicarakan dan mengejek pasien dan selalu sinis dengan pasien.

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan di rumah pasien pada tanggal 04 April 2015, hasil pemeriksaan ini menggambarkan situasi keadaan pasien saat home visite.
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Perempuan berusia 41 tahun, paras sesuai umur dengan postur tubuh yang astenikus (kurus), kesan gizi pasien cukup. Rambut pasien pendek sebahu, kusut dan tidak dikuncir, dengan poni yang dipotong pendek tidak terlalu rapi. Muka pasien kusam seperti tidak mandi.  Pasien menggunakan baju dasterb bewarna putih kecoklatan seperti tidak dicuci. Kuku pasien tidak dipotong, tidak menggunakan kutex. Pasien tampak murung.

2. Kesadaran
Kompos mentis, secara kualitas berubah
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Keadaan pasien tenang. Pasien tidak memperlihatkan gerak-gerik yang tidak bertujuan, gerak berulang, maupun gerakan abnormal/involunter.
4. Pembicaraan
• Kuantitas : Pasien dapat menjawab pertanyaan dan dapat mengungkapkan isi hatinya dengan jelas.
• Kualitas : pasien menyambung jika ditanya, dan menjawab pertanyaan dengan spontan, pasien terkadang bercerita dengan spontan tetapi tiba- tiba pasien terdiam,volume bicara terkadang kuat tetapi kadang lemah, intonasi pasien berbicara agak lambat, pengucapan kata jelas dan pembicaraan dapat dimengerti.
• Tidak ada hendaya berbahasa.
5. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif, kontak mata tidak adekuat. Pasien sering kali menjawab pertanyaan tidak melihat kearah pemeriksa kadang pasien melihat kearah rumah tetangga pasien. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan baik, walaupun setiap menjawab pertanyaan pasien merespon agak lama dan seringkali saat ditanya terdiam
B. Keadaan Afektif
1. Mood : labil
2. Afek : menyempit
3. Keserasian : tidak serasi
C. Gangguan Persepsi
- Halusinasi auditorik ada  pasien mendengar suara- suara yang mengganggunya, menghina dan menyuruh pasien
D. Proses Pikir
1. Bentuk pikir : autistik atau non realistik
2. Arus pikir
a. Produktivitas : pasien dapat menjawab spontan saat diajukan pertanyaan, namun terkadang pasien saat ditanya tiba-tiba terdiam (blocking).
b. Kontinuitas : Koheren, mampu memberikan jawaban sesuai pertanyaan
c. Hendaya berbahasa : Tidak terdapat hendaya berbahasa
3. Isi pikiran : Waham curiga (+), pasien merasa bahwa orang-orang disekitarnya selalu mengejek dirinya karena dirinya selalu keluar masuk RSKJ. Waham kontrol (+), pasien merasa dirinya di kontrol oleh bisikan-bisikan yang menyuruhnya dan pasien secara refleks dan tidak sadar melakukan hal tersebut
E. Fungsi Intelektual / Kognitif
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
• Taraf pendidikan
Pasien lulusan SMP
• Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat siapa presiden Indonesia dan Gubernur Bengkulu
2. Daya konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien kurang, pasien tidak dapat mengurangkan angka 7 dikurang 100, pasien juga tidak bisa mengalikan angka seperti 4x5 atau 5x10, pasien mengatakan tidak bisa fokus merasa bahwa memorinya terganggu oleh suara-suara tersebut.
3. Orientasi
• Waktu : Baik, pasien mengetahui saat wawancara saat sore hari
• Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada dirumahnya, dan menjalani pengobatan di RSJ Bengkulu
• Orang : Baik, pasien mengetahui siapa saja saudaranya, siapa saja yang tinggal serumah dengannya, dan mengetahui sedang diwawancara oleh siapa.
• Situasi : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang konsultasi dan  wawancara.
4. Daya Ingat
• Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien masih dapat mengingat dimana pasien bersekolah SD
• Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat kapan dia menikah
• Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat makan apa tadi malam
• Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa  
• Akibat hendaya daya ingat pasien
Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien saat ini.
6. Kemampuan baca tulis: baik
7. Kemampuan visuospatial: baik
8. Berpikir abstrak: baik, pasien dapat menjelaskan persamaan apel dan jeruk
9. Kemampuan menolong diri sendiri : baik, pasien dapat melakukan perawatan diri sehari- hari secara mandiri seperti mandi, makan, minum, dan melakukan pekerjaan rumah sendiri. Tetapi kadang jika suara-suara tersebut sering menyuruh pasien untuk bermalas-malasan sehingga pasien sering bermalas-malasan.
F. Daya Nilai
Daya nilai sosial pasien baik. Uji daya nilai realitas pasien juga baik.
G. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien baik, selama wawancara dapat mengontrol emosinya dengan baik (tidak mengamuk atau menangis)
H. Tilikan
Tilikan derajat 2, karena pasien menyadari bahwa dirinya mengalami stres, tetapi pasien juga merasa bahwa dirinya tidak memiliki sakit dalam kejiwaannya, pasien hanya memerlukan pengobatan untuk dapat tidur dengan nyenyak tanpa diganggu oleh bisikan.



I. Taraf Dapat Dipercaya
Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup akurat, pasien berkata dengan jujur mengenai peristiwa yang terjadi, dan di cross check juga dengan keterangan dari ayah pasien yang menceritakan kejadian yang serupa.

IV. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Generalis
• KU : Tampak Sehat
• Sensorium : CM   (GCS: E4 V5 M6)
Vital Sign
• TD : 110/70 mmHg
• Nadi : 81 x/menit
• RR : 22 x/menit
• Suhu : 36,8 oC
b. Status Internus
Kepala Normocephali, rambut tidak mudah dicabut, pertumbuhan rambut merata, dan warna rambut hitam.
Mata Biasa, tidak sipit, Sklera ikterik -/-, conjungtiva palpbera anemis -/-, edema palpebra -/-
Hidung Pesek, deformitas (-), tidak ada sekret.
Telinga Biasa, tidak terlalu lebar, menggantung, deformitas (-), liang lapang, pengeluaran sekret (-).
Mulut bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal, tiroid tidak membesar




Thorax Tidak terdapat scar, simetris kiri dan kanan
Paru I Pernapasan Statis-Dinamis kiri = kanan.
P Tidak dilakukan
P Dalam batas normal
A Dalam batas normal
Jantung I iktus kordis tidak  terlihat
P Tidak dilakukan
P Tidak dilakukan
A Bunyi jantung normal
Abdomen I Datar, tampak benjolan (-)
A Bising usus (+)
P Timpani (+) di seluruh regio abdomen
P Nyeri tekan di reg epigastrium
Ektrimitas Superior, inferior, dekstra, sinistra dalam batas normal
V. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT
- pada pasien belum dilakukan pemeriksaan penunjang
- disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap
VI. FORMULASI DIAGNOSIS
 Perempuan 41 tahun, sudah menikah tetapi berpisah dengan suaminya, tidak bekerja, tinggal dirumah dengan ibunya dan kakak no 3 nya
 Penampilan rambut kusut, baju lusuh dan tampak kotor, muka kusam tampak seperti tidak terawat
 Riwayat stressor : meninggalnya ayah pasien
 Pasien kooperatif, kontak mata inadekuat, pembicaraan pasien koheren dan terdapat blocking
 Mood pasien labil, afek pasien menyempit dan tidak serasi
 Terdapat halusinasi auditorik, waham curiga dan waham kendali
 Keluhan pertama kali muncul saat pasien berusi 16 tahun dan sudah berlangsung selama + 25 tahun.
 Gangguan pada aktivitas sosial
VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I
F 20.0 Skizofrenia tipe Paranoid
Z 91.1 Ketidak patuhan minum obat
Aksis II
Tidak ada diagnosis
Aksis III
Tidak ada diagnosis
Aksis IV
Masalah dukungan keluarga, masalah dengan lingkungan
Aksis V
GAF scale 60 – 51
VII. PROGNOSIS
1. Faktor yang memberikan pengaruh baik:
◦ Adanya faktor pencetus: meninggalnya ayah pasien, tuntutan ekonomi
◦ Adanya gejala positif yaitu adanya halusinasi dan waham
2. Faktor yang memberikan pengaruh buruk:
◦ Gangguan terjadi saat usia muda
◦ Gangguan sudah terjadi selama 25 tahun
◦ Pasien memang dikenal sebagai anak yang pendiam dan tidak memilik banyak teman
◦ Keluarga tidak mendukung kepatuhan minum obat pasien
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah dubia ad malam


Sehingga kesimpulan prognosis pada pasien berdasarkan wawancara diatas sebagai berikut :
Quo Ad Vitam : dubia ad bonam
Quo Ad Functionam : dubia ad malam
Quo Ad Sanationam : Dubia Ad malam
VIII. Terapi
• Psikofarmaka
o Risperidone tablet 2 x 2 mg
o Trihexylphenidil talet 2 x 2 mg, kapan perlu
• Psikoterapi & Edukasi
Psikoterapi yang diberikan pasien adalah psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan terapi kognitif-perilaku.
- Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens (pertahanan) pasien terhadap stres.
- Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien terhadap penyakitnya serta mengembangkan kemampuannya untuk menunjang penyembuhan dirinya. Selain itu juga meningkatkan pengetahuan keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien. Peningkatan pengetahuan dilakukan dengan edukasi baik terhadap pasien maupun keluarga.
- Psikoterapi rekonstruktif bertujuan untuk dicapainya tilikan akan konflik-konflik nirsadar dengan usaha untuk mecapai perubahan struktur luas kepribadian.
- Edukasi
o Menyarankan kepada keluarga untuk pentingnya dukungan kepada pasien, jangan membatasi aktivitas pasien secara wajar, ajak pasien bergembira, kurangi hal-hal yang dapat meningkatkan stresor.
o Berdiskusi terhadap pentingnya pasien untuk teratur minum obat dan kontrol selain itu kembali menyibukan diri seperti aktivitas dulu, kembali melakukan hal-hal yang menyenangkan, jangan menyimpan emosi, bila mungkin bisa kontrol ke psikiater.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 SKIZOFRENIA
2.1.1 Definisi
Skizofrenia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.1
2.1.2 Fase atau Perjalanan Penyakit
Perjalanan penyakit skizofrenia sangat bervariasi pada tiap-tiap individu. Perjalanan klinis skizofrenia berlangsung secara perlahan-lahan, meliputi beberapa fase yang dimulai dari prodromal, fase aktif dan keadaan residual.1
1. Fase Prodomal
- Berlangsung antara 6 bulan sampai 1 tahun
- Gangguan dapat berupa Self care, gangguan dalam akademik, gangguan dalam pekerjaan, gangguan fungsi sosial, gangguan pikiran dan persepsi.
2. Fase Aktif
- Berlangsung kurang lebih 1 bulan.
- Gangguan dapat berupa gejala psikotik ; Halusinasi, delusi, disorganisasi proses berfikir, gangguan bicara, gangguan perilaku, disertai kelainan neurokimiawi.
3. Fase Residual
- Mengalami minimal 2 gejala
- Gangguan afek dan gangguan peran, serangan biasanya berulang.
2.1.3 Etiologi
Sampai saat ini penyebab dari gangguan skizofrenia masih belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab skizofrenia, antara lain :
a. Faktor Genetik
Faktor keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur.1
Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang disebut quantitative trait loci. Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin disebabkan oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-tempat yang berbeda di seluruh kromosom. Hal ini juga menjelaskan mengapa terdapat gradasi tingkat keparahan pada orang-orang yang mengalami gangguan skizofrenia (dari ringan sampai berat) dan mengapa risiko untuk mengalami skizofrenia semakin tinggi dengan semakin banyaknya jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini.2
b. Faktor Biokimia
Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang disebut neurotransmiter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas neurotransmiter dopamin yang berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap dopamin. Neuron dopaminergik di dalam jalur tersebut berjalan dari badan selnya di otak tengah ke neuron dopaminoseptif di sistem limbik dan korteks serebral. Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas dopamin yang berlebihan saja tidak cukup untuk skizofrenia. Beberapa neurotransmiter lain seperti serotonin dan norepinefrin juga memainkan peranan penting dalam terjadinya skizofrenia.2
c. Model Diatesis-Stress/Psikososial
Satu model untuk intergrasi faktor biologis, faktor psikososial dan lingkungan adalah model diathesis-stress. Model ini menggambarkan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diathesis) yang bila dikenai pengaruh lingkungan yang menimbulkan stres sehingga muncul gejala skizofrenia. Pada kerentanan terhadap stress yang paling umum dapat didapatkan secara biologis atau lingkungan atau keduanya. Komponen lingkungan dapat berupa biologis (contohnya: infeksi) maupun psikologis (contoh situasi keluarga yang penuh ketegangan atau kematian teman dekat). Dasar biologis untuk suatu kerentanan dibentuk lebih lanjut oleh pengaruh genetik, penyalahgunaan zat, stress psikologis, dan trauma.1
d. Neurologikal
Menurut konsep neurobiologikal gangguan jiwa sangat berkaitan dengan abnormalitas sruktur dari otak atau aktivitas berlebihan di lokasi spesifik yang dapat menyebabkan atau berkontribusi dalam gangguan jiwa. Sebagai contoh masalah komunikasi adalah salah satu bagian dari disfungsi secara luas. Hal ini juga diketahui bahwa hubungan antara nukleus yang mengontrol kognitif, perilaku, dan emosi terutama terlibat dalam gangguan psikiatri. Serebral korteks, merupakan daerah di otak yang sangat penting dalam membuat keputusan dan berfikir tingkat tinggi, seperti pemikiran abstrak.1
Sistem limbik, yang terlibat dalam mengatur perilaku emosional, memori, dan pembelajaran.3
a. Ganglia basal : mengkoordinasi gerakan.
b. Hipotalamus : meregulasi hormon di tubuh sepeti kebutuhan makan, minum dan seks.
c. Locus ceruleus : membuat sel saraf dapat meregulasi tidur dan terlibat dalam perilaku dan mood.
d. Substantia nigra : sel yang memproduksi dopamin dan terlibat dalam mengontrol pergerakkan yang kompleks, berfikir dan respon emosi.

2.1.4 Psikopatologi
Penelitian mutakhir menyebutkan bahwa perubahan-perubahan pada neurotransmiter dan resptor di sel-sel saraf otak (neuron) dan interaksi zat neurokimia dopamin dan serotonin, ternyata mempengaruhi alam pikir, perasaan, dan perilaku yang menjelma dalam bentuk gejala-gejala positif dan negatif skizofrenia.3


Gejala negatif Gejala positive
Alogia Halusinasi
Afek datar Delusi
avolition – apatis Tingkah laku aneh
anhedonia – asociality Gangguan berfikir positif formal
Gangguan attensi
Selain perubahan-perubahan yang sifatnya neurokimiawi di atas, dalam penelitian dengan menggunakan CT Scan otak, ternyata ditemukan pula perubahan pada anatomi otak pasien, terutama pada penderita kronis. Perubahannya ada pada pelebaran lateral ventrikel, atrofi korteks bagian depan, dan atrofi otak kecil (cerebellum).3
2.1.5 Klasifikasi
Subtipe skizofrenia menurut DSM-IV :
1. Tipe paranoid (F 20.0)
DSM IV menyebutkan bahwa tipe paranoid ditandai oleh keasikan (preokupasi) pada satu atau lebih waham atau halusinasi dengar yang sering dan tidak ada perilaku spesifik lain yang mengarahkan pada tipe terdisorganisasi atau katatonik. Secara klasik, skizofrenia tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya waham kejar atau waham kebesaran. Pasien skizofrenik paranoid biasanya berumur lebih tua dari pada pasien skizofrenik terdisorganisasi atau katatonik jika mereka mengalami episode pertama penyakitnya. Pasien yang sehat sampai akhir usia 20 atau 30 tahunan biasanya mencapai kehidupan sosial yang dapat membantu mereka melewati penyakitnya. Selain itu, kekuatan ego pasien paranoid cenderung lebih besar dari pasien katatonik dan terdisorganisasi. Pasien skizofrenik paranoid menunjukkan regresi yang lambat dari kemampuan mentalnya, respon emosional dan perilakunya dibandingkan tipe lain pada pasien skizofrenik.1
Pasien skizofrenik paranoid tipikalnya adalah tegang, pencuriga, berhati-hati dan tak ramah. Mereka juga dapat bersikap bermusuhan atau agresif. Pasien skizofrenik paranoid kadang-kadang dapat menempatkan diri mereka sendiri secara adekuat di dalam situasi sosial. Kecerdasan mereka tidak terpengaruhi oleh kecenderungan psikosis mereka dan tetap berfungsi secara baik.1
2. Tipe Hebefrenik atau Disirganisasi (F 20.1)
Tipe disorganisasi sebelumnya dinamakan hebrefenik ditandai oleh regresi yang nyata ke perilaku primitif, perilaku yang tidak dapat dihambat dan tidak teratur, serta tidak adanya gejala yang memenuhi kriteria untuk tipe katatonik. Onset biasanya terjadi awal, sebelum usia 25 tahun. Pasien terdisorganisasi biasanya aktif tetapi dengan cara yang tidak bertujuan dan tidak konstruktif. Gangguan pikiran mereka adalah hal yang paling menonjol dan kontaknya buruk terhadap kenyataan. Penampilan pribadinya dan perilaku sosialnya rusak. Respon emosionalnya sesuai dan mereka sering kali meledak tertawanya tanpa alasan. Wajah yang meringis dan menyeringai paling sering ditemukan pada tipe pasien ini, perilaku tersebut paling baik digambarkan sebagai kekanak-kanakan atau bodoh.1
3. Tipe Katatonik (F 20.3)
Ciri klasik dari tipe katatonik adalah gangguan nyata pada fungsi motorik yang mungkin berupa stupor, negativisme, rigiditas, kegembiraan atau posturing. Kadang-kadang pasien menunjukkan perubahan yang cepat antara kegembiraan dan stupor. Ciri penyerta adalah stereotipik, manerisme, dan fleksibilitas lilin. Mutisme adalah yang paling sering ditemukan. Selama stupor atau kegembiraan katatonik, pasien skizofrenik memerlukan pengawasan yang ketat untuk menghindari pasien melukai dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan medis mungkin diperlukan karena adanya malnutrisi, kelelahan, hiperpireksia atau cidera yang disebabkan oleh diri sendiri.1
4. Depresi Pasca-skizofrenia (F 20.4)4
Pedoman Diagnostik
a. Diagnosis harus ditegakkan hanya jika :
1) Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria umum skizofrenia) selama 12 bulan terakhir ini
2) Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi gambaran klinisnya), dan
3) Gejala-gejala depresif menonjol dan mengganggu, memenuhi paling sedikit kriteria untuk episode depresif dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu
b. Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia, diagnosis menjadi Episode Depresif. Bila gejala skizofrenia masih jelas dan menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai (F 20.0 – F 20.3).4
5. Tipe Residual (F 20.5)
Menurut DSM IV, tipe residual ditandai oleh bukti-bukti yang terus-menerus adanya gangguan skizofrenik, tanpa adanya kumpulan lengkap gejala aktif atau gejala yang cukup untuk memenuhi tipe lain skizofrenia. Penumpulan emosional, penarikan sosial, perilaku eksentrik, pikiran yang tidak logis dan asosiasi longgar ringan adalah gejala yang sering ditemukan pada tipe residual. Jika waham atau halusinasi ditemukan, maka hal tersebut tidak menonjol dan tidak disertai oleh afek yang kuat.1
6. Skizofrenia Simpleks (F. 20.6)4
a. Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari:
1. Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik.
2. Disertai dengan perubahan perilaku pribadi yang bermakna bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial
b. Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe skizofrenia lainnya.4
7. Tipe tidak tergolongkan (undifferentiated type)
Sering kali pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan kedalam salah satu tipe. DSM-IV mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak tergolongkan. Kriteria diagnosis DSM-IV untuk skizofrenia memerlukan onset gangguan, satu atau lebih bidang fungsi utama seperti pekerjaan, hubungan interpersonal atau perawatan diri sendiri.1
8. Tipe I dan tipe II
Ditahun 1980 T.J.Crown mengajukan suatu klasifikasi pasien skizofrenik ke dalam tipe I dan tipe II. Perbedaan klinis dari kedua tipe tersebut telah secara bermakna mempengaruhi penelitian psikiatrik. Gejala negatif yang timbul yaitu afek datar atau tumpul, kemiskinan pembicaraan atau isi pembicaraan, penghambatan (blocking), penampilan yang buruk, tidak adanya motivasi, anhedonia, penarikan sosial, defek kognitif dan defisit perhatian. Gejala positif adalah asosiasi longgar, halusinasi, perilaku aneh dan bertambah banyaknya pembicaraan. Pasien tipe I cenderung memiliki sebagian besar gejala positif, struktur otak yang normal pada CT, dan respons yang relatif baik terhadap pengobatan. Pada pasien tipe II cenderung memiliki sebagian besar gejala negatif, kelainan struktural otak pada pemeriksaan CT dan respon yang buruk terhadap pengobatan.1
9. Sub tipe Lain
Nama dari beberapa sub tipe lain tersebut adalah menjelaskan katanya sendiri (self-explanatory) sebagai contoh: onset akhir (late-onset), masa anak-anak dan proses. Skizofrenia onset akhir bisanya didefinisikan sebagai skizofrenia yang mempunyai onset setelah usia 45 tahun. Skizofrenia dengan onset yang terjadi pada masa anak-anak (childhood schizophrenia). Skizofrenia proses yang berarti skizofrenia dengan perjalanan yang menimbulkan kecacatan dan keruntuhan.1
2.1.6 Diagnosis
DSM IV mempunyai kriteria diagnosis resmi dari American Psychiatric Association untuk skizofrenia: 1
Kriteria Diagnostik Skizofrenia
A. Gejala karakteristik: Dua atau lebih berikut,masing-masing ditemukan untuk bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika pengobatan berhasil):
(1) Waham
(2) Halusinasi
(3) Bicara disorganisasi (misalnya, sering menyimpang atau inkoheren)
(4) Perilaku disorganisasi atau katatonik yang jelas
(5) Gejala negatif, yaitu afk datar, alogia atau tidak ada kemauan (avolition)
Catatan : hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah bizzare (kacau) atau halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus mengomentari perilaku atau pikiran pasien atau dua atau lebih suara yang saling bercakap-cakap satu sama  lainnya.
B. Disfungsi sosial/pekerjaan: Untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan, satu atau lebih fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan interpersonal atau perawatan diri adalah jelas  di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau jika onset pada masa anak-anak atau remaja, kegagalan untuk mencapai tingkat pencapaian interpersonal, akademik atau pekerjaan yang diharapkan)
C. Durasi: tanda gangguan terus-menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan. Periode 6 bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau kurang jika pengobatan berhasil) yang memenuhi kriteria A (yaitu gejala fase aktif) dan mungkin termasuk periode gejala prodomal atau residual. Selama periode prodomal atau residual tanda gangguan mungkin hanya gejala negatif saja atau dua atau lebih gejala yang dituliskan dalam kriteria A dalam bentuk yang lebih lemah (misalnya, keyakinan yang aneh, pengalaman atau persepsi yang tidak lazim)
D. Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gangguan mood. Gangguan skizoafektif dan gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena: (1) tidak ada episode depresif berat, manik atau campuran yang telah terjadi bersama-sama dengan gejala fase aktif atau (2) jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya adalah relatif  singkat  dibandingkan durasi periode aktif dan residual.
E. Penyingkiran zat/kondisi medis umum: gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalah gunakan) atau suatu kondisi medis umum
F. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif. Jika terdapat adanya riwayat gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasif lainnya, diagnosis tambahan skizofrenia dibuat hanya jika waham atau halusinasi yang menonjol juga ditemukan untuk sekurangnya satu bulan (atau kurang jika diobati secara berhasil).
Klasifikasi perjalanan penyakit longitudinal (dapat diterapkan hanya setelah sekurangnya 1 tahun sejak onset awal gejala fase aktif);
• Episodik dengan gejala residual antar episode (episode didefinisikan oleh timbulnya kembali gejala psikotik yang menonjol), juga sebutkan jika dengan gejala negatif yang menonjol
• Episode tanpa gejala residual antar episodik
• Episode tunggal  dalam remisi parsial, juga dengan gejala negatif yang menonjol
• Episode tunggal dalam remisi penuh
• Pola lain atau tidak ditentukan
2.1.7 Penatalaksanaan
Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan kemungkinan lebih besar penderita menuju ke kemunduran mental.

2.2.7.1 Farmakoterapi5
Indikasi pemberian obat antipsikotik pada skizofrenia adalah untuk mengendalikan gejala aktif dan mencegah kekambuhan. Obat antipsikotik mencakup dua kelas utama: antagonis reseptor dopamin, dan antagonis serotonin-dopamin.
a. Antagonis Reseptor Dopamin
Antagonis reseptor dopamin efektif dalam penanganan skizofrenia, terutama terhadap gejala positif. Obat-obatan ini memiliki dua kekurangan utama. Pertama, hanya presentase kecil pasien  yang cukup terbantu untuk dapat memulihkan fungsi mental normal secara bermakna. Kedua, antagonis reseptor dopamin dikaitkan dengan efek samping yang mengganggu dan serius. Efek yang paling sering mengganggu adalah akatisia adan gejala lir-parkinsonism berupa rigiditas dan tremor. Efek potensial serius mencakup diskinesia tarda dan sindrom neuroleptik maligna.5
b. Antagonis Serotonin-Dopamin (SDA)
SDA menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang minimal atau tidak ada, berinteraksi dengan subtipe reseptor dopamin yang berbeda di banding antipsikotik standar, dan mempengaruhi baik reseptor serotonin maupun glutamat. Obat ini juga menghasilkan efek samping neurologis dan endokrinologis yang lebih sedikit serta lebih efektif dalam menangani gejala negatif skizofrenia. Obat yang juga disebut sebagai obat antipsikotik atipikal ini tampaknya efektif untuk pasien skizofrenia dalam kisaran yang lebih luas dibanding agen antipsikotik antagonis reseptor dopamin yang tipikal. Golongan ini setidaknya sama efektifnya dengan haloperidol untuk gejala positif skizofrenia, secara unik efektif untuk gejala negatif, dan lebih sedikit, bila ada, menyebabkan gejala ekstrapiramidal. Beberapa SDA yang telah disetujui di antaranya adalah klozapin, risperidon, olanzapin, sertindol, kuetiapin, dan ziprasidon. Obat-obat ini tampaknya akan menggantikan antagonis reseptor dopamin, sebagai obat lini pertama untuk penanganan skizofrenia.5
Pada kasus sukar disembuhkan, klozapin digunakan sebagai agen antipsikotik, pada subtipe manik, kombinasi untuk menstabilkan mood ditambah penggunaan antipsikotik. Pada banyak pengobatan, kombinasi ini digunakan mengobati keadaan skizofrenia.
Kategori obat: Antipsikotik – memperbaiki psikosis dan kelakuan agresif.5
Nama Obat
Haloperidol (Haldol) Digunakan untuk manajemen psikosis, saraf motorik dan suara pada anak dan orang dewasa. Mekanisme tidak secara jelas ditentukan, tetapi merupakan competively blocking postsynaptic dopamine (D2) reseptor dalam sistem mesolimbik dopaminergik, dengan meningkatnya pergantian dopamin untuk efek penenang. Dengan terapi subkronik, depolarisasi dan D2 postsinaptik dapat memblokir aksi antipsikotik.
Risperidone (Risperdal) Monoaminergik selektif mengikat reseptor D2 dopamin selama 20 menit, afinitasnya lebih rendah dibandingkan reseptor 5-HT2. Juga mengikat reseptor alfa1-adrenergik dengan afinitas lebih rendah dari H1-histaminergik dan reseptor alpha2-adrenergik. Memperbaiki gejala negatif pada psikosis dan menurunkan kejadian pada efek ekstrpiramidal.
Olanzapine (Zyprexa) Antipsikotik atipikal dengan profil farmakologis yang melintasi sistem reseptor (seperti serotonin, dopamin, kolinergik, muskarinik, alpha adrenergik, histamin). Efek antipsikotik berupa perlawanan terhadap dopamin dan reseptor serotonin tipe-2. Diindikasikan untuk pengobatan psikosis dan gangguan bipolar.
Clozapine (Clozaril) Memblokir aktifitas reseptor D2 dan D1, tetapi memiliki efek dalam menghambat nonadrenolitik, antikolinergik, antihistamin secara signifikan, tepatnya antiserotonin. Resiko terbatasnya penggunaan agranulositosis pada pasien nonresponsif atau agen neuroleptik klasik tidak ditoleransi.
Quetiapine (Seroquel) Antipsikotik terbaru untuk penyembuhan jangka panjang. Mampu melawan efek dopamine dan serotonin. Perbaikan lebih awal antipsikotik termasuk efek antikolinergik dan kurangnya distonia, parkinsonism, dan tardif diskinesia.
Aripiprazole (Abilify) Memperbaiki gejala positif dan negatif skizofrenia. Mekanisme kerjanya belum diketahui, tetapi hipotesisnya berbeda dari antipsikotik lainnya. Aripiprazole menimbulkan  parsial dopamin (D2) dan serotonin (5HT1A) agonis, dan antagonis serotonin (5HT2A).

Nama Obat Sediaan Dosis Anjuran
Haloperidol (Haldol) Tab. 2 – 5 mg 5 – 15 mg/hari
Risperidone (Risperdal) Tab. 1 – 2 – 3 mg 2 – 6 mg/hari
Olanzapine (Zyprexa) Tab. 5 – 10 mg 10 – 20 mg/hari
Clozapine (Clozaril) Tab. 25 – 100 mg 25 – 100 mg/hari
Quetiapine (Seroquel) Tab. 25 – 100 mg
200 mg 50 – 400 mg/hari
Aripiprazole (Abilify) Tab. 10 – 15 mg 10– 15 mg/hari
2.2.7.2 Terapi Psikososial
c. Terapi perilaku
Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan  sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi  diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku  adaptif  adalah  didorong dengan pujian atau hadiah  yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa dan pas jalan di rumah sakit.1
d. Terapi berorientasi keluarga
Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia sering kali  dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluarga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga  yang singkat namun intensif  (setiap  hari). Setelah periode pemulangan  segera, topik penting  yang dibahas didalam terapi keluarga  adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali, anggota  keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang  terkena  skizofrenia  untuk melakukan  aktivitas  teratur  terlalu  cepat.
Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan  tentang sifat skizofrenia dan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya. Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia  tanpa menjadi  terlalu mengecilkan  hati.1


e. Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin  terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau  tilikan,  atau  suportif. Terapi  kelompok  efektif  dalam menurunkan isolasi  sosial,  meningkatkan rasa persatuan, dan  meningkatkan  tes  realitas  bagi  pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.1
f. Psikoterapi individual
Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien  non-psikotik.  Pengamatan  yang  cermat dari  jauh  dan  rahasia,  perintah  sederhana,  kesabaran,  ketulusan  hati,  dan  kepekaan  terhadap kaidah  sosial  adalah  lebih  disukai  daripada  informalitas  yang  prematur  dan  penggunaan  nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.1
g. Perawatan di Rumah Sakit
Indikasi  utama  perawatan  rumah  sakit  adalah  untuk  tujuan  diagnostik,  menstabilkan medikasi,  keamanan  pasien  karena  gagasan  bunuh  diri  atau  membunuh,  prilaku  yang  sangat kacau termasuk ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Perawatan di rumah  sakit menurunkan  stres  pada  pasien  dan membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya perawatan rumah  sakit tergantung dari keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas  pengobatan rawat jalan. Rencana pengobatan di rumah sakit harus  memiliki orientasi praktis ke arah masalah kehidupan, perawatan  diri,  kualitas hidup, pekerjaan, dan hubungan sosial. Perawatan  di  rumah  sakit  harus diarahkan untuk  mengikat pasien  dengan  fasilitas  perawatan  termasuk  keluarga  pasien. Pusat  perawatan  dan  kunjungan keluarga pasien kadang membantu pasien dalam memperbaiki kualitas hidup.1
BAB III
PEMBAHASAN

Dari hasil wawancara, tidak ditemukan kelainan fisik yang berhubungan dengan gejala-gejala psikiatrik yang dialami pasien, seperti riwayat trauma atau gangguan otak.  Dengan demikian, diagnosis banding gangguan mental organik (F0) dapat disingkirkan.
Selain itu, tidak ditemukan riwayat konsumsi alkohol,merokok dan zat psikoafektif. Dengan demikian, diagnosis banding gangguan mental akibat penggunaan zat (F1) dapat disingkirkan.
Melalui hasil wawancara, ditemukan adanya gangguan psikotik yang muncul pertama kali saat pasien berusia 16 tahun yaitu sejak 25 tahun yang lalu, yaitu adanya halusinasi auditorik dan waham yang menetap selama lebih dari 1 bulan. Juga tidak terdapat perilaku katatonik seperti stupor, mutisme, negativisme, dan perilaku rigiditas selama lebih dari 1 bulan, dimana terjadi penurunan fungsi sosial dan okupasi yang sebelumnya normal dan semua gejala diatas yang terjadi lebih dari 6 bulan. Selain memenuhi kriteria gejala skizofrenia, juga terdapat adanya halusinasi auditorik yang mengancam pasien, memberi perintah, dan ada waham dikendalikan.5
Pada pasien ini skizofrenia tipe paranoid karena menunjukkan gejala-gejala paranoid dan tampilan yang tidak terurus dan berlangsung lebih dari 2 minggu. Pada pasien ini tampak juga pasien tidak mau minum obat lagi karena merasa sudah sembuh. Dan tidak tampak gejala afektif, gejala katatonik yang menonjol1
Pada pasien ini diberikan risperidon tablet yaitu antipsikotik atipikal yang memiliki efek sedasi dan efek ekstrapiramidal yang kecil. Obat ini mempunyai afinitas tinggi terhadap reseptor serotonin (5HT2) dan aktivitas menengah terhadap reseptor dopamin (D2), α1 dan α2 adrenergik, serta histamin. Dengan demikian obat ini efektif baik untuk gejala positif (waham, halusinasi), maupun gejala negatif (upaya pasien yang menarik diri dari lingkungan). Risperidon dimetabolisme di hati dan diekskresi di urin. Dengan demikian perlu diadakan pengawan terhadap fungsi hati. Secara umum risperidon ditoleransi dengan baik. Efek samping sedasi, otonomik, dan ekstrapiramidal sangat minimal dibandingkan obat antipsikosis tipikal. Dosis anjurannya adalah 2-6 mg/hari. Pada pasien ini diberikan dosis 2x3 mg/hari karena pada dosis yang lebih rendah 2x2 mg pasien tidak merasakan manfaatnya.5
Tablet trihexyphenidyl diberikan jika efek ekstrapiramidal muncul. Gejala tersebut seperti distonia akut, akatisia dan sindrom parkinsonisme (tremor,bradikinesia,rigiditas). Obat ini tergolong obat antikolinergik sehingga efek terhadap gejala ektrapiramidal.Pada pasien ini sudah tepat untuk pengobatan gejala psikotiknya dengan diberikan antipsikotik untuk menghilangkan gejala positif dan negatif yang ada pada pasien.
























DAFTAR PUSTAKA

1. Buchanan RW, Carpenter WT. Concept of Schizophrenia. In: Sadock BJ, Sadock VA, eds. Kaplan & Sadock`s Comprehensive Textbook of Psychiatry. 8th ed. Philadhelpia: Lippincott Williams & Wilkins, 2005.p.1329.
2. Durland VM, and Barlow DH. 2007. Essentials of Abnormal Psychology. 3rd edition Pacific Grove, CA: Wadsworth
3. Iyus Yosep. Faktor Penyebab dan Proses Terjadinya Gangguan Jiwa. Available at : http://resources.unpad.ac.id/unpad
4. Maslim R. (editor). 2002. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari  PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya
5. Maslim R. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya
6. Sadock BJ, Kaplan HI, Grebb JA. 2003. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri Klinis Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.

sigit nurawalin

Posts : 11
Reputation : 0
Join date : 2015-04-02

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum