DEPRESI PADA IBU HAMIL

View previous topic View next topic Go down

DEPRESI PADA IBU HAMIL

Post by Fatullah Distra Sudirman on Fri May 20, 2016 11:09 pm

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG
Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat. Berawal dari stres yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh ke fase depresi. Penyakit ini kerap diabaikan karena dianggap bisa hilang sendiri tanpa pengobatan. Padahal, depresi yang tidak diterapi dengan baik bisa berakhir dengan bunuh diri.1
Depresi juga terjadi wanita hamil dengan angka prevalensi 12-15%.2 Faktor risiko terkuat untuk depresi selama kehamilan adalah riwayat depresi. Faktor risiko lain termasuk riwayat keluarga depresi atau gangguan bipolar, masa penganiayaan, ibu tunggal, memiliki lebih dari tiga anak, merokok, pendapatan rendah, usia yang lebih muda dari 20 tahun, dukungan sosial tidak cukup.3,4
Obat antidepressan memiliki banyak efek samping terutama digunakan pada ibu hamil karena sangat rentan terjadi kelainan kongenital pada anak. Jadi, berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan terdapat efek samping obat antidepresan pada ibu hamil terutama pada janin sehingga terjadi kelainan kongeinital terutama kelainan jantung kongenital. 2,3










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 DEFINISI
Depresi adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode depresif, gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan depresif unipolar serta bipolar.1,5,6
Depresi terdapat gangguan penyesuaian diri (gangguan dalam perkembangan emosi jangka pendek atau masalah-masalah perilaku, dimana dalam kasus ini, perasaan sedih yang mendalam dan perasaan kehilangan harapan atau merasa sia-sia, sebagai reaksi terhadap stressor) dengan kondisi mood yang menurun. 1,5,6
Depresi selama kehamilan merupakan gangguan mood yang sama seperti halnya pada depresi yang terjadi pada orang awam secara umum, dimana pada kejadian depresi akan terjadi perubahan kimiawi pada otak. Depresi juga dapat dikarenakan adanya perubahan hormon yang berdampak mempengaruhi mood Ibu sehingga Ibu merasa kesal, jenuh atau sedih. Selain itu, gangguan tidur yang kerap terjadi menjelang proses kelahiran juga mempengaruhi.2,3

II.2 EPIDEMIOLOGI
Gangguan depresi berat, paling sering terjadi, dengan prevalensi seumur hidup sekitar 15 persen. Perempuan dapat mencapai 25%. Sekitar 10% perawatan primer dan 15% dirawat di rumah sakit. Depresi terjadi pada 10 hingga 15 % ibu hamil. Pada anak sekolah didapatkan prevalensi sekitar 2%. Pada usia remaja didapatkan prevalensi 5% dari komunitas memiliki gangguan depresif berat.2,3




II.3 ETIOLOGI
1. Faktor genetik
Penelitian pada keluarga didapatkan gangguan depresi mayor dan gangguan bipolar terkait erat dengan hubungan saudara; juga pada anak kembar, suatu bukti adanya kerentanan biologik, pada genetik keluarga tersebut.7
Data genetik dengan kuat menyatakan bahwa suatu faktor penting di dalam perkembangan gangguan mood adalah genetika. Tetapi, pola penurunan genetika adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks. Bukan saja tidak mungkin untuk menyingkirkan efek psikososial, tetapi faktor non genetik kemungkinan memainkan peranan kausatif dalam perkembangan gangguan mood pada sekurangnya beberapa orang. Penelitian keluarga menemukan bahwa sanak saudara derajat pertama dari penderita gangguan depresif berat berkemungkinan 2 sampai 3 kali lebih besar daripada sanak saudara derajat pertama.7

2. Faktor Biokmia
Sejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di dalam metabolit amin biogenik yang mencakup neurotransmitter norepinefrin, serotonin dan dopamine. Penelitian lain juga disebutkan bahwa selain faktor neurotransmitter yang telah disebutkan di atas, ada beberapa penyebab lain yang dapat mencetuskan timbulnya depresi yaitu neurotransmitter asam amino khususnya GABA (Gamma-Aminobutyric Acid) dan peptida neuroaktif, regulasi neurendokrin dan neuroanatomis. 7
Regulasi neuroendokrin, gangguan mood dapat disebabkan terutama oleh adanya kelainan pada sumbu adrenal, tiroid dan hormon pertumbuhan. Selain itu kelainan lain yang telah digambarkan pada pasien dengan gangguan mood adalah penurunan sekresi nocturnal melantonin, penurunan pelepasan prolaktin terhadap pemberian tryptophan, penurunan kadar dasar FSH (Follicle Stimullating Hormon) dan LH (Luteinizing Hormon), dan penurunan kadar testosteron pada laki-laki. 7
Ada dua hipotesis terjadinya depresi secara biokimia, yaitu:
a. Hipotesis Katekolamin
Beberapa penyakit depresi berhubungan dengan defisiensi katekolamin pada reseptor otak. Reserpin yang menekan amina otak diketahui kadang-kadang menimbulkan depresi lambat. 7
Disamping itu, MHPG (Metabolit primer noradrenalin otak) menurun dalam urin pasien depresi sewaktu mereka mengalami episode depresi dan meningkat di saat mereka gembira.
b. Hipotesis Indolamin
Hipotesis indolamin membuat pernyataan serupa untuk 5-hidroxitriptamin (5 HT). metabolit utamnya asam 5-hidroksi indolasetat (5HIAA) menurun dalam LCS pasien depresi, dan 5 HIAA rendah pada otak pasien yang bunuh diri. L-Triptofan, yang mempunyai efek antidepresi meningkatkan 5HT otak. 7

3. Faktor Hormon
Kelainan depresi mayor dihubungkan dengan hipersekresi kortisol dan kegagalan menekan sekresi kortisol sesudah pemberian dexametason. Pasien depresi resisten terhadap penekanan dexametason dan hasil abnormal ini didapatkan pada sekitar 50% pasien, terutama pada pasien dengan depresi bipolar, waham dan ada riwayat penyakit ini dalam keluarga. 7
Wanita dua kali lebih sering dihubungkan dengan pruerperium atau menopause. Bunuh diri dan saat masuk rumah sakit biasanya sebelum menstruasi. Selama penyakit afektif berlangsung sering timbul amenore. Hal ini menggambarkan bahwa gangguan endokrin mungkin merupakan faktor penting dalam menentukan etiologi. 7

4. Faktor Kepribadian Premorbid
Personalitas siklotimik menjadi sasaran gangguan afek ringan selama hidupnya, keadaan ini tidak berhubungan dengan penyebab eksterna. Kepribadian depresi ditunjukkan dengan perilaku murung, pesimis dan kurang bersemangat. Personalitas hipomania berperilaku lebih riang, energetik dan lebih ramah dari rata-rata. 7
Mereka dengan rasa percaya diri rendah, senantiasa melihat dirinya dan dunia luar dengan penilaian pesimistik. Jika mereka mengalami stres besar, mereka cenderung akan mengalami depresi. Para psikolog menyatakan bahwa mereka yang mengalami gangguan depresif mempunyai riwayat pembelajaran depresi dalam pertumbuhan perkembangan dirinya. Mereka belajar seperti model yang mereka tiru dalam keluarga, ketika menghadapi masalah psikologik maka respon mereka meniru perasaan, pikiran dan perilaku gangguan depresif. Orang belajar dengan proses adaptif dan maladaptif ketika menghadapi stres kehidupan dalam kehidupannya di keluarga, sekolah, sosial dan lingkungan kerjanya7,8
5. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan mempengaruhi perkembangan psikologik dan usaha seseorang mengatasi masalah. Faktor pembelajaran sosial juga menerangkan kepada kita mengapa masalah psikologik kejadiannya lebih sering muncul pada anggota keluarga dari generasi ke generasi. Jika anak dibesarkan dalam suasana pesimistik, dimana dorongan untuk keberhasilan jarang atau tidak biasa, maka anak itu akan tumbuh dan berkembang dengan kerentanan tinggi terhadap gangguan depresif. Enam bulan sebelum depresi, pasien depresi mengalami lebih banyak peristiwa dalam hidupnya. Mereka merasa kejadian ini tidak memuaskan dan mereka keluar dari lingkungan social. 80% serangan pertama depresi didahului oleh stress, tetapi angka ini akan jatuh menjadi hanya 50% pada serangan berikutnya. Pasien depresi diketahui juga lebih sering pada anak yang kehilangan orang tua di masa kanak-kanak dibandingkan dengan populasi lainnya. 7,8
Menurut Freud, kehilangan obyek cinta, seperti orang yang dicintai, pekerjaan tempatnya berdedikasi, hubungan relasi, harta, sakit terminal, sakit kronis dan krisis dalam keluarga merupakan pemicu episode gangguan depresif. Seringkali kombinasi faktor biologik, psikologik dan lingkungan merupakan campuran yang membuat gangguan depresif muncul. 7
Satu pengamatan klinis yang telah lama direplikasi adalah bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada episode selanjutnya. Satu teori yang diajukan untuk menjelaskan pengamatan tersebut adalah bahwa stress yang menyertai episode pertama menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama. Perubahan yang bertahan lama tersebut dapat meyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberi sinyal intraneuronal. Hasil akhir dari perubahan tersebut akan menyebabkan seseorang berada pada resiko yang lebih tinggi untuk menderita episode gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya stresor external. 7,8

II.4 FAKTOR RESIKO
Faktor resiko untuk kejadian depresi pada masa kehamilan antara lain 5:
1. Riwayat gangguan depresi atau gangguan bipolar atau gangguan cemas sebelum kehamilan, baik pada riwayat pribadi maupun riwayat kesehatan mental keluarga
2. Ketakutan terhadap kelahiran bayi,
3. Kurangnya dukungan sosial,
4. Kehamilan yang tidak diinginkan,
5. Status ekonomi rendah,
6. Riwayat kekerasan dalam rumah tangga, termasuk hubungan pernikahan yang kurang harmonis (pada masa kehamilan ataupun pada masa kanak-kanak),
7. Wanita yang berperan sebagai orangtua tunggal,
8. Usia pada saat hamil kurang dari 20 tahun (usia remaja) atau usia pada saat hamil mendekati masa menopause,
9. Wanita perokok,
10. Wanita hamil yang memiliki lebih dari 3 orang anak,
11. Kejadian buruk yang menimpa wanita mendekati masa kehamilannya (kematian orang dekat).

II.1.5 MANIFESTASI KLINIK
A. Mood yang rendah.
Selama orang depresi memperlihatkan suasana perasaannya dengan mood yang rendah, pengalaman emosional yang buruk selama depresi berbeda secara kualitatif dengan orang yang mengalami kesedihan dalam batas normal atau rasa kehilangan yang dialami oleh orang pada umumnya. Beberapa menyampaikannya dengan menangis, atau merasa seperti ingin menangis, lainnya memperlihatkan respon emosional yang buruk.1,8
B. Minat.
Kehilangan minat pada aktivitas atau interaksi sosial yang biasanya ada merupakan salah satu tanda penting pada depresi. Anhedonia juga memperlihatkan sebagai pembedanya, dan tetap ada walaupun penderita tidak memperlihatkan mood yang turun. Kehilangan minat seksual, keinginan, atau fungsi juga umum terjadi, dimana dapat menyebabkan masalah dalam hubungan terdekat atau konflik rumah tangga.8


C. Tidur.
Kebanyakan pasien depresi mengalami kesulitan tidur. Hal yang klasik adalah terbangun dari tidur pada pagi buta dan tidak dapat tidur lagi (terminal insomnia), tetapi tidur dengan kelelahan dan frekuensi terbangun pada tengah malam (insomnia pertengahan) juga umum terjadi. Kesulitan tertidur pada malam hari (insomnia awal atau permulaan) biasanya terlihat saat cemas menyertai. Tetapi, hipersomnia atau tidur yang berlebihan juga bisa menjadi gejala yang umum terjadi pada pasien depresi.1,8
D. Tenaga.
Kelelahan adalah keluhan yang sering disampaikan pada depresi, seperti sulit untuk memulai suatu pekerjaan. Kelelahan dapat bersifat mental atau fisik, dan bisa berhubungan dengan kurangnya tidur dan nafsu makan, pada kasus yang berat, aktivitas rutin seperti kebersihan sehari-hari atau makan kemungkinan terganggu. Pada bentuk yang ekstrem dari kelelahan adalah kelumpuhan yang dibuat, dimana pasien menggambarkan bahwa tubuhnya yang membuat hal ini atau mereka seperti berjalan di air.1
E. Rasa bersalah.
Perasaan tidak berguna dan merasa bersalah dapat menjadi hal yang umum dipikirkan oleh pasien yang dalam episode depresi. Pasien depresi sering salah menginterpretasikan kejadian sehari-hari dan mengambil tanggung jawab kejadian negative diluar kemampuan mereka, ini dapat menjadi suatu porsi delusi. Rasa cemas yang berlebihan dapat menyertai dan rasa bersalah yang muncul kembali.1,8
F. Konsentrasi.
Kesulitan dalam berkonsentrasi dan mengambil keputusan adalah hal yang sering dialami oleh pasien depresi. Keluhan tentang daya ingat biasanya menyebabkan permasalahan pada perhatian. Pada pasien lanjut usia, keluhan kognitif bisa salah didiagnosis sebagai dementia onset dini.1,8
G. Nafsu makan/berat badan.
Kehilangan nafsu makan, rasa, dan nikmat dalam makan akan menyebabkan kehilangan berat badan yang signifikan dan beberapa pasien harus memaksa dirinya sendiri untuk makan. Bagaimanapun, pasien lainnya harus mendapatkan karbohidrat dan glukosa ketika depresi, atau perlakuan sendiri dalam mendapatkan kenyamanan dalam makan. Tetapi, berkurangnya aktifitas dan olahraga akan menyebabkan peningkatan berat badan dan sindrom metabolic. Perubahan berat badan juga dapat berdampak pada gambaran diri dan harga diri.1
H. Aktivitas psikomotor.
Perubahan psikomotor, dimana terjadi perubahan pada fungsi motorik tanpa adanya kelainan pada tes secara objektif, sering terlihat pada depresi. Kemunduran psikomotor meliputi sebuah perlambatan (melambatnya gerakan badan, buruknya ekspresi wajah, respon pembicaraan yang lama) dimana pada keadaan yang ekstrem dapat menjadi mutisme atau katatonik. Kecemasan juga dapat bersamaan dengan agitasi psikomotorik (berbicara cepat, sangat berenergi, tidak dapat duduk diam).1,8
I. Bunuh diri.
Beberapa ide bunuh diri, dimulai dari pemikiran bahwa dengan bunuh diri diharapkan semuanya akan selesai bersamaan dengan rencana bunuh diri tersebut, terjadi pada 2/3 orang dengan depresi. Walaupun ide bunuh diri merupakan hal yang serius, pasien depresi sering kekurangan tenaga dan motivasi untuk melaksanakan bunuh diri. Tetapi, bunuh diri merupakan hal yang menjadi pusat perhatian karena 10-15% pasien yang dirawat inap adalah pasien yang matinya karena bunuh diri. Waktu resiko tinggi untuk terjadinya bunuh diri adalah saat awalan pengobatan, ketika tenaga dan motivasinya mulai berkembang baik selain gejala kognitif (keputusasaan), membuat pasien depresi mungkin bertindak seperti apa yang mereka pikirkan dan rencanakan untuk bunuh diri.8
J. Gejala lain
Kecemasan, dengan berbagai manifestasi klinis, adalah hal yang umum pada depresi. Mudah marah dan perubahan mood yang cepat, berlebihan dalam kemarahan dan kesedihan, dan frustasi juga mudah terganggu untuk hal kecil adalah yang sering terlihat. Variasi diurnal mood, dengan kekhawatiran pada pagi hari, dapat muncul. Depresi sering menyebabkan berkurangnya kepercayaan diri dan harga diri dengan pemikiran bahwa dirinya tidak berguna didukung dengan keputusasaan. Depresi juga berhubungan dengan peningkatan frekuensi sakit fisik, seperti sakit kepala, sakit punggung, dan kondisi nyeri kronis lainnya.1,8
K. Gejala pada orang tua
Gejala klinis depresi lanjut usia sedikit berbeda dengan usia yang lebih muda, sering hanya gangguan emosi berupa apatis, penarikan diri dari aktivitas sosial, dan gangguan kognitif seperti gangguan memori, gangguan konsentrasi serta fungsi kognitif yang memburuk.1,8
II.6 DIAGNOSIS
DSM-IV-TR, membagi depresi menjadi tiga bagian besar : gangguan depresi mayor/ major depressive disorder (MDD), distimia, dan depresi yang tidak terklasifikasikan.1,7
MDD memiliki karakteristik dengan adanya satu atau lebih episode depresi mayor. kriteria diagnosis menunjukkan beberapa gejala yang harus ada pada waktu yang sering, sekurang-kurangnya dalam 2 minggu, walaupun durasinya terkadang lebih lama dari waktu yang terlihat. Gejala yang muncul juga harus memperlihatkan perubahan fungsi yang signifikan. Akhirnya, bereavement dan beberapa penyebab gejala depresi harus dapat disingkirkan. 1,7
A. Episode depresi berdasarkan ICD-10
1. Kriteria Umum1,7
a. Episode depresi harus bertahan setidaknya 2 minggu
b. Tidak ada hypomanic atau manik gejala cukup untuk memenuhi kriteria untuk episode hypomanic atau manik pada setiap saat dalam kehidupan individu
c. Tidak disebabkan penggunaan zat psikoaktif atau gangguan mental organik
2. Gejala Utama1,7
a. Perasaan depresi untuk tingkat yang pasti tidak normal bagi individu, hadir untuk hampir sepanjang hari dan hampir setiap hari, sebagian besar tidak responsif terhadap keadaan, dan bertahan selama minimal 2 minggu
b. Kehilangan minat atau kesenangan dalam aktivitas yang biasanya menyenangkan
c. Penurunan energi atau kelelahan meningkat
3. Gejala Lainnya1,7
a. Kehilangan percaya diri atau harga diri
b. Tidak masuk akal perasaan diri atau rasa bersalah yang berlebihan dan tidak tepat
c. Berpikiran tentang kematian atau bunuh diri, atau perilaku bunuh diri
d. Keluhan atau bukti kemampuan berkurang untuk berpikir atau berkonsentrasi, seperti keraguan atau kebimbangan
e. Pandangan masa depan yang suram dan pesimis
f. Gangguan tidur
g. Perubahan nafsu makan (penurunan atau kenaikan) dengan perubahan berat badan yang sesuai.

B. Pedoman diagnosis menurut PPDGJ-III.
1. Pedoman diagnostik pada depresi dibagi menjadi7 :
a. Semua gejala utama depresi :
1. afek depresif
2. kehilangan minat dan kegembiraan
3. berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah.
b. Gejala lainnya:
1. konsentrasi dan perhatian berkurang
2. harga diri dan kepercayaan diri berkurang
3. gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
4. pandangan masa depan yang suram dan pesimis
5. gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
6. tidur terganggu
7. nafsu makan berkurang

Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu dari 2 minggu. 1,7
A. Episode depresif ringan menurut PPDGJ III
1. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama depresi seperti tersebut di atas
2. Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya
3. Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
4. Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya.
B. Episode depresif sedang menurut PPDGJ III
1. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dan 3 gejala utama
2. Ditambah sekurang-kurangnya 3 atau 4 dari gejala lainnya
3. Lamanya seluruh episode berlangsung minimum 2 minggu
4. Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan rumah tangga.

C. Episode Depresif Berat dengan Tanpa Gejala Psikotik menurut PPDGJ III :
1. Semua 3 gejala utama depresi harus ada
2. Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat
3. Bila ada gejala penting (misalnya retardasi psikomotor) yang menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresi berat masih dapat dibenarkan.
4. Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
D. Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik menurut PPDGJ III :
Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut No. 3 di atas (F.32.2) tersebut di atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresi.
Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau alfatorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.
II.7 SCREENING
Wanita hamil harus discreening untuk mengetahui adanya depresi pada masa kehamilan. Waktu untuk melakukan screening ini selama masa kehamilan adalah:
1. Pre-konsepsi: pada masa ini harus digali informasi mengenai riwayat kesehatan mental dan pengobatan gangguan menta personal dan keluarga .
2. Pregnancy (selama masa kehamilan): ketika kunjungan pertama pemeriksaan antenatal
3. Postpartum: selama masa kunjungan postnatal pada minggu ke 4 atau ke 6 dan bulan ke 3 atau ke 4 postpartum.
Alat screening depresi yang dapat digunakan selama masa kehamilan dan postpartum adalah:
1. Skala Depresi Postnatal Edinburg (Edinburg Postnatal Depression Scale): telah tervalidasi untuk digunakan pada masa kehamilan maupun masa postpartum Skala Depresi Postanatal Edinburg (Edinburgh Postnatal Depression Scale/EPDS) diperkenalkan pertama kali pada tahun 1987 pada publikasi British Journal of Psychiatry. Pada Alat screening ini terdapat 10 pertanyaan dan wanita yang hamil yang mendapat skor 10 atau di atas 10 dicurigai sangat besar mengalami gangguan depresi dan bila skor di atas 13 maka diasumsikan bahwa wanita tersebut telah
mengalami depresi (sensitivitas 0,50 dan spesifisitas 0,90). Kuisioner ini menilai tanda dari gejala depresi yang berhubungan dengan gangguan mood, bukan menilai gejala fisik yang muncul akibat dari gangguan depresi yang juga dapat muncul pada
wanita hamil yang tidak mengalami depresi.8 (Lampiran 1)
2. Patient Health Questionnaire 9 (PHQ 9.)8 (Lampiran 2)
3. Screening Depresi selama Kehamilan (Screening for Depression during Pregnancy) oleh National Institute for Health and Clinical Excellence.8 (Lampiran 3)

II.8 KOMPLIKASI
Efek dari depresi terhadap kehamilan dan janin kemungkinan akibat secara langsung dari subtract neurobiologis depresi seperti glukokortikoid yang melewati sawar plasenta, atau janin dapat dipengaruhi secara tidak langsung oleh depresi melalui mekanisme neuroendokrin yang dimodulasi oleh depresi. Efek tidak langsung ini diperkirakan berhubungan dengan hiperaktivitas dari aksis putuitari-adrenal (pituitary-adrenal axis), yang menginduksi hipersekresi faktor pelepasan kortikotropin (corticotropin-releasing factor) oleh plasenta yang dapat meningkatkan kontraktilitas miometrium, sehingga dapat berujung pada persalinan preterm atau kematian janin/keguguran. Depresi juga dapat menyebabkan terjadinya pelepasan hormon vasoaktif yang dapat memicu kejadian hipertensi dalam kehamilan, sehingga dapat berujung kepada kejadian pre-eklampsia. Depresi juga dapat menyebabkan dampak tidak langsung terhadap janin melalui perilaku kesehatan yang buruk oleh wanita hamil, seperti pola makan yang buruk dan peningkatan berat badan selama kehamilan yang tidak adekuat, pola tidur yang buruk atau terganggu, penggunaan obat-obat yang dijual bebas secara berlebihan atau konsumsi alkohol, rokok, serta kafein yang berlebihan. Terhadap janin, selain keguguran atau persalinan preterm, kejadian depresi juga dapat menyebabkan berat lahir rendah pada bayi, gangguan pertumbuhan janin (pertumbuhan badan dan kepala)/intrauterine growth retardation (IUGR), serta dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang pada anak.6 Pada kesehatan mental wanita hamil, depresi dapat menyebabkan gejala vegetatif, keinginan untuk melukai diri, keinginan bunuh diri, atau bahkan dapat menyebabkan kejadian psikosis pada ibu. Kejadian depresi pada kehamilan ini juga diperkirakan merupakan penyebab utama dari kejadi depresi postpartum.5,8

II.9 TATALAKSANA
Tatalaksana dari depresi dalam kehamilan terdiri dari modalitas nonfarmakologis dan modalitas farmakologis.
1. Modalitas Nonfarmakologis
a. Psikoterapi Interpersonal dan Terapi Kognitif Studi menunjukkan bahwa penggunaan psikoterapi interpersonal merupakan pilihan yang efektif dalam mentalaksanai kejadian depresi pada masa kehamilan dan merupakan pilihan yang baik bagi pasien yang ingin menghindaripenggunaan antidepresan atau pada mereka yang sering mengalami kekambuhan depresi akibat penggunaan antidepresan yang tidak adekuat. 5 Terapi perilaku kognitif bertujuan untuk mengubah sikap dan perilaku yang berkontribusi terhadap kejadian depresi. Psikoterapi interpersonal bertujuan untuk meningkatkan nilai faktor-faktor interpersonal, seperti kurangnya keterampilan sosial, yang berkontribusi terhadap kejadian depresi. Kedua terapi perilaku kognitif dan psikoterapi interpersonal diberikan dalam kurun waktu 6 sampai 12 minggu yang terdiri dari 1-jam sesi setiap kali pertemuan, telah terbukti efektif dalam mengobati depresi.5
b. Terapi elektrokonvulsif (Electroconvulsive Teraphy) Terapi elektrokonvulsif dilakukan apabila ditemukan kasus depresi yang berat atau depresi dikaitkan dengan kemunculan gejala psikotik. Dari penelitian ditemukan bahwa kejadian efek samping dari penggunaan elektrokonvulsi pada pengobatan depresi pada masa kehamilan ini sangat kecil, efek samping berupa kelahiran prematur ataupun kejadian ketuban pecah dini muncul dalam proporsi yang sangat rendah. Pemantauan yang adekuat diperlukan untuk meminimalkan resiko yang mungkin ditimbulkan dari penggunaan terapi elektrokonvulsif ini.5

2. Modalitas Farmakologis
Antidepresan terutama digunakan untuk mengobati depresi, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan ansietas menyeluruh, gangguan panik, gangguan fobik dan pada kasus tertentu, enuresis nokturnal (antidepresn trisiklik) dan bulimia nervosa (fluoxetine). 9,10
Pengaruh antidepressan pada neurotransmitter biogenik amin memiliki mekanisme yang berbeda pada setiap golongan antidepressan. Terapi jangka panjang dengan obat-obat tersebut telah membuktikan pengurangan reuptake norepinephrine atau serotonin atau keduanya, penurunan jumlah reseptor beta pascasinaptik, dan berkurangnya pembentukan cAMP. 9,10
Angka kejadian malformasi kongenital adalah sekitar 1-3%, dimana waktu potensial yang paling besar untuk terjadi proses teratogenik akibat penggunaan obat antidepresan ini muncul pada 12 minggu pertama dari masa kehamilan, karena hampir sebagian besar proses organogenesis terjadi pada periode waktu ini.5,9
Jika gejala depresi pada ibu hamildisertai dengan gejala psikotik maka dapatdiberikan beberapa pilihan terapi ; Prochlorperazine (RR 0,69), chlorpromazine (RR 0,97),olanzapine (RR 1,29). Tiga obat tersebut merupakan pilihan obat yang paling aman digunakan pada ibu dengan depresi yang disertai gejala psikotik.11


Tabel 1. Profil keamaanan penggunaan obat antidepresan2,3,5











BAB III
PENUTUP

III.1 KESIMPULAN
1. Depresi gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode depresif, gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan depresif unipolar serta bipolar.
2. Depresi selama kehamilan merupakan gangguan mood yang sama seperti halnya pada depresi yang terjadi pada orang awam secara umum, dimana pada kejadian depresi akan terjadi perubahan kimiawi pada otak. Depresi juga dapat dikarenakan adanya perubahan hormon yang berdampak mempengaruhi mood Ibu sehingga Ibu merasa kesal, jenuh atau sedih. Selain itu, gangguan tidur yang kerap terjadi menjelang proses kelahiran juga mempengaruhidengan epidemiologi 12-15%.
3. Penyebab depresi ; faktor genetik, biokimia, hormon, kepribadian premorbid, dan lingkungan
4. Psikoterapi Interpersonal dan Terapi Kognitif Studi menunjukkan bahwa penggunaan psikoterapi interpersonal merupakan pilihan yang efektif dalam mentalaksanai kejadian depresi pada masa kehamilan dan merupakan pilihan yang baik bagi pasien.
5. Obat yang paling aman yang digunakan selama masa kehamilan adalah obat golongan trisiklik.

III.2 SARAN
Perlu diteliti lebih lanjut bagaimana mekanisme obat antidepresan dapat menyebabkan kelainan jantung bawaan pada janin.


DAFTAR PUSTAKA

1. W. Lam R, Mok H. Depression Oxford Psychiatry Library. Lunbeck Institutes. 2000. p. 1-57.
2. Huybrechts, KF dkk. 2014. Antidepressant Use in Pregnancy and the Risk of Cardiac Defects. USA. The new england journal of medicine. http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMoa1312828
3. Dietz PM, Williams SB, Callaghan WM, Bachman DJ, Whitlock EP, Hornbrook MC. Clinically identified maternal depression before, during, and after pregnancies ending in live births. Am J Psychiatry 2007;164:1515-20.
4. Yonkers KA, Wisner KL, Stewart DE, et al. The management of depression during pregnancy: a report from the American Psychiatric Association and the American College of Obstetricians and Gynecologists. Gen Hosp Psychiatry 2009; 31:403-13.
5. Stewart DE. Depression during Pregnancy. N Engl J Med. 2011, October ; 365:1605-11.
6. Sadock, Benjamin James,et al. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition Lippincott Williams & Wilkins. 2007. p. 1-89.
7. Maj M, Sartorius N. Depressive Disorder Second Edition. Evidence and experience in psychiatry. 2002. p. 8-12.
8. Hendrick V. Prevalence, Clinical Course, and Management of Depression During Pregnancy in Current Clinical Practice: Psychiatric Disorders in Pregnancy and the Postpartum: Principles and Treatment. Totowa, NJ: Humana Press, 2008. pp. 13-39.
9. Hollister LE. Obat antidepresan. Dalam: Farmakologi dasar dan klinik. Katzung BG. Edisi ke-enam.1998. Jakarta: EGC. hal. 467-77.
10. Gunawan SG, Setabudy R, Nafrialdi, dan Elysabeth. Farmakologi dan terapi. Edisi ke-lima. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. 2007. hal. 171-7
11. Sorensen M.J et al. Risk of Fetal Death after Treatment with Antipsychotic Medications during Pregnancy. Denmark: Plos One. 2015.

Fatullah Distra Sudirman

Posts : 1
Reputation : 0
Join date : 2016-03-16

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum