GANGGUAN DEPRESI BERULANG

View previous topic View next topic Go down

GANGGUAN DEPRESI BERULANG

Post by Widyahl on Tue Jun 21, 2016 3:31 pm

BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. Rb
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 26 tahun
Anak ke : 2 dari 4 bersaudara
Status Perkawinan : Belum Menikah
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Warga Negara : Indonesia
Suku Bangsa : Serawai
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Jl. Sadang III kota Bengkulu
No. RM : 041068
Tanggal Pemeriksaan : 12 April 2016

IDENTITAS AYAH
Nama : Tn. Rbsn
Umur : 57 Tahun
Alamat : Jl. Sadang III kota Bengkulu
Pekerjaan : PNS
Agama : Islam
Suku : Serawai
Pendidikan : SMA




II. RIWAYAT PSIKIATRI
A. Keluhan Utama
Sering mengoceh sendirian, mondar mandir, marah-marah, sering melamun dan sulit tidur ± sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit.

B. Riwayat gangguan sekarang
Autoanamnesis
Sejak ± 2 minggu yang lalu pasien mengeluhkan mulai sulit tidur, tidak nafsu makan, dan sering marah-marah. Awalnya pasien sulit tidur dikarenakan memikirkan motornya yang hilang. Pasien kehilangan motor yang dilarikan oleh temannya sendiri sekitar 2 bulan yang lalu. Sejak saat itu juga pasien mulai mudah emosi sehingga sering marah-marah dengan orang yang berada di sekeliling pasien. Namun pasien mengaku walaupun sering marah tidak pernah memukul ataupun membanting barang yang ada di rumah. Pasien juga sejak satu minggu ini mengaku sering sekali mealmun dan mengingat lagi masalah kehilangan motor tersebut sehingga pasien ngoceh-ngoceh sendiri, mondar mandir dirumah dan marah-marah. Pasien sadar bahwa dia sering mengoceh-ngoceh sendiri. Selain itu, pasien juga mengaku bahwa beberapa hari ini sudah malas-malasan untuk bekerja. Karena pasien merasa kurang enak badan dan menurut pasien ditempat kerjanya tersebut pasien sering dibeda-bedakan dengan temannya yang lain. Saat ini pasien lebih suka berada dirumah daripada berkumpul dengan teman-temannya. Saat pemeriksaan pasien sering sibuk sendiri merapikan dan membersihkan meja pemeriksaan.

Heteroanamnesis (dengan ibu kandung pasien)
Ibu pasien membenarkan apa yang dikatakan oleh anaknya tersebut. Menurut ibu pasien semuanya berawal saat pasien kehilangan motornya 2 bulan yang lalu. Sejak kehilangan motor tersebut anaknya sering sekali marah-marah. Namun kondisinya semakin memburuk sejak dua minggu yang lalu, selain suka marah-marah, seminggu ini paasien sering sekali mondar mandir di dalam rumah sambil ngoceh-ngoceh sendiri. Menurut ibu pasien, yang diocehkan oleh pasien adalah tentang motornya yang hilang. Sebelumnya menurut ibu pasien, pasien adalah anak yang sangat sabar dan rajin bekerja. Namun beberapa hari ini anaknya sudah sangat malas untuk bekerja. Saat ditanyakan alasannya kenapa malas bekerja, anaknya menjawab bahwa dia perlakukan berbeda dengan teman-temannya oleh atasannya. Pasien tidak diajak untuk pelatihan menjadi satpam padahal menurut ibu korban pasien tidak diajak tersebut dikarenakan pasien sudah mengikuti pelatihan. Ibu pasien juga menceritakan bahwa sebelumnya anaknya pernah mengalami keluhan yang sama sekitar 4 tahun yang lalu saat anaknya terkena kasus dan masuk penjara. Namun tidak sempat berobat karena masih dipenjara. Menurut ibu korban juga semenjak anaknya masuk ke dalam penjara banyak sekali perubahan pada anaknya tersebut. Dan sejak saat dipenjara itulah anaknya mulai mengenal obat-obatan, alkohol dan ganja. Menurut ibu pasien, pasein sangat suka kebersihan, tidak suka melihat tempat berantakan dan sering mencuci tangan.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien sudah pernah mengalami gejala yang serupa sekitar 4 tahun yang lalu, namun tidak dibawa berobat karena saat itu pasien sedang menjalani massa tahanan.
2. Riwayat Gangguan Medik
Pasien memiliki riwayat trauma kepala, sekitar ± 3 bulan yang lalu kepala pasien mengalami benturan sehingga terjadi perdarahan. Namun tidak dibawa berobat ke dokter, selain itu juga pasien pernah mengalami kecelakaan dan benturan pada kepala saat masih TK dan dirawat di rumah sakit.
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol
Riwayat mengkonsumsi alkohol, dekstrometorphan, dan ganja sekitar 2 tahun yang lalu. Pasien merupakan perokok aktif sejak 10 tahun yang lalu, pasien bisa merokok sebanyak satu bungkus sehari.



D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat Pranatal dan Perinatal
i. Pasien merupakan anak yang diharapkan, buah pernikahan dari ayah dan ibunya. Tidak ada niat ingin digugurkan.
ii. Riwayat Kehamilan Ibu: Ibu rajin memeriksakan kandungan ke Bidan. Ibu tidak pernah mengonsumsi obat-obatan selain vitamin yang diberikan oleh bidan. Ibu tidak pernah mengonsumsi alkohol dan merokok selama kehamilan.
iii. Riwayat Persalinan: Usia gestasi 38 minggu, lahir spontan, langsung menangis, BBL:3500g, PBL: 46cm
2. Riwayat Masa Kanak Awal ( Usia 0-3 tahun)
Pasien tumbuh dan berkembang seperti anak normal, mendapat imunisasi sesuai jadwal posyandu. Pasien minum ASI sejak lahir.
3. Riwayat masa kanak pertengahan (usia 4-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa kanak-kanak normal dan sama seperti anak-anak lainnya. Pada usia 5 tahun saat TK pasien mengalami kecelakaan, sehingga kepala pasien terbentur dan mengalami luka. Saat itu pasien mengalami muntah-muntah dan dirawat di rumah sakit.
4. Riwayat Masa Remaja
Saat masa sekolah pasien memiliki banyak teman. Namun menurut ibu korban, prestasi akademik pasien memang kurang. Pasien pernah tidak lulus ujian nasional saat SMP dan mengikuti paket untuk lulus SMP. Setelah lulus SMP pasien melanjutkan sekolah ke STM, saat sudah mendekati ujian nasional pasien mendapatkan masalah sehingga harus ditahan di Lembaga Permasyaraktan. Menurut keterangan ayah pasien, pasien merupakan orang yang baik dan jujur.
5. Riwayat Pendidikan
Pasien sudah bersekolah sejak usia 6 tahun. Pasien pernah tidak lulus ujian nasional namun tidak pernah tinggal kelas. Pasien merupakan anak yang rajin dan tidak nakal di sekolah.
6. Riwayat Kehidupan Beragama
Pasien beragama Islam dan rajin beribadah.
7. Riwayat Psikoseksual
Pasien mengaku tidak pernah berhubungan seksual dan belum memiliki pacar.
8. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien pernah masuk penjara dan ditahan selama 1,5 tahun. Namun menurut keterangan pasien dan keluarga, hal tersebut terjadi karena pasien dijebak oleh temannya. Saat itu pasien sedang berkumpul dikossan temannya, namun ada salah seorang temannya membawa perempuan, sehingga mereka dituntut atas pencabulan.
E. Riwayat Kehidupan Keluarga
Di keluarga pasien tidak terdapat keluarga yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. Hubungan antar anggota keluarga baik.
Genogram








Keterangan :

 Pasien

 Laki- laki

 Perempuan

 Meninggal

 Tinggal dirumah


F. Riwayat Kehidupan Sekarang
Pasien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Pasien tinggal dengan ayah, ibu dan adik-adiknya. Saat ini pasien bekerja sebagai satpam di bandara, pasien pernah menjadi satpam di RSKJ selama 3 tahun. Pasien bekerja selama 12 jam sehari. Pasien memiliki banyak teman dan menurut keluarganya pasien merupakan orang yang pandai bergaul. Lingkungan tempat tinggal terkesan cukup baik. Pasien tinggal di daerah yang cukup padat penduduk dan berdekatan dengan tetangga. Hubungan pasien dengan keluarga dan tetangga dikenal cukup baik.

G. Persepsi Pasien tentang Diri dan Kehidupannya
Pasien mengaku senang tinggal bersama keluarganya. Menurut pasien teman-teman pasien enak diajak bergaul. Pasien juga sangat senang dengan pekerjaannya.

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 12 April 2016, hasil pemeriksaan ini menggambarkan situasi keadaan pasien saat dilakukan pemeriksaan di ruang Poli RSKJ.
A. Deskripsi Umum :
1. Penampilan umum :
Pasien datang dibawa oleh ibu dan kakak sepupu pasien, pasien seorang laki-laki dengan perawakan sesuai usia, memakai baju satpam berwarna hitam, celana dasar hitam, tampak tenang, cukup kooperatif, kontak mata inadekuat.
2. Kesadaran : Komposmentis kualitas berubah
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor : Aktivitas psikomotor cukup baik, pasien cenderung melihat ibu pasien atau menunduk kebawah ketika pasien diberi pertanyaan, dan pasien sibuk merapikan barang-barang yang ada di atas meja pemeriksaan dan pasien cenderung tidak bisa diam.
4. Pembicaraan :
• Kuantitas: Pasien dapat menjawab pertanyaan pemeriksa namun jawaban pasien sangat panjang dan bertubi-tubi.
• Kualitas: pasien dapat menjawab pertanyaan jika ditanya dan menjawab pertanyaan dengan spontan, Pasien sering bercerita dengan spontan mengenai keadaan dirinya saat ini dan cerita hidupnya. Intonasi berbicara pasien cukup jelas. Pembicaraan cukup dapat dimengerti
5. Sikap terhadap pemeriksa : Cukup kooperatif, namun pasien tidak dapat mempertahankan kontak mata dan jarang melihat ke pemeriksa.

B. Keadaan Afektif (mood), Perasaan, dan Empati
1. Mood : Hipotimia
2. Afek : Menyempit

C. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi : Tidak ditemukan
2. Ilusi : Tidak ditemukan
3. Depersonalisasi : Tidak ditemukan
4. Derealisasi : TIdak ditemukan
5. Gangguan somatosensorik pada reaksi konversi : Tidak ditemukan
6. Gangguan psikofisiologik : Tidak ditemukan

D. Proses Berfikir
1. Bentuk pikir : Realistik
2. Arus pikir : logorea, pasien berbicara sangat cepat, tidak terkontrol dan terkadang tidak nyambung
3. Isi pikiran : sering curiga, pasien sering sekali merasa tidak percaya dan curiga kepada orang lain terutama teman-teman kantornya.
Obsesi terhadap kebersihan
Fantasi, mengingat motornya yang hilang

E. Fungsi Intelektual
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum, dan kecerdasan
• Taraf pendidikan
Pasien lulusan Sekolah Menengah Atas
• Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat siapa gubernur Bengkulu, dan Presiden Republik Indonesia
2. Orientasi (waktu, tempat, dan orang) :
a. Waktu : Baik, pasien mengetahui waktu wawancara dilakukan yaitu pagi hari.
b. Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada dipoli RSKJ Bengkulu.
c. Orang : Baik, pasien mengetahui nama ayah, ibu pasien. Selain itu pasien juga mengetahui dirinya diwawancarai oleh siapa.
d. Situasi : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang konsultasi dan wawancara.
3. Daya ingat
a. Panjang : Baik, pasien dapat mengingat nama sekolahnya saat SD
b. Sedang : Baik, pasien dapat mengingat kejadian 1 bulan yang lalu
c. Pendek : Baik, pasien dapat mengingat apa aktivitas yang dilakukannya kemarin malam.
d. Segera : Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa dengan baik.
4. Daya konsentrasi dan perhatian :
Konsentrasi pasien baik, pasien dapat menjawab dengan cepat 7*9 dan menghitung 171-29-28.
5. Kemampuan baca tulis: baik
6. Kemampuan visuospasial: baik
7. Bakat kreatif : pasien suka bernyanyi
8. Kemampuan menolong diri sendiri : Pasien dapat menolong diri sendiri, pasien dapat melakukan perawatan diri sehari- hari secara mandiri seperti mandi, makan dan minum, membersihkan kosan.

F. Pengendalian impuls
Pengendalian impuls pasien kurang baik, selama wawancara pasien kurang dapat mengontrol emosinya dengan baik dan tampak selama pemeriksaan dilakukan pasien menceritakan kondisinya dengan emosi yang berlebihan.
G. Daya nilai dan Uji Daya Nilai
Daya nilai dan uji daya nilai pasien baik.
H. Tilikan
Tilikan derajat IV, pasien menyadari bahwa dirinya sedang mengalami gangguan karena masalah yang dihadapinya namun tidak mengetahui penyebabn sakitnya.
H. Taraf Dapat Dipercaya
Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup akurat, pasien berkata dengan jujur mengenai peristiwa yang terjadi, dan di cross check juga dengan keterangan dari ibu pasien yang menceritakan kejadian yang serupa.

IV. PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS GENERALIS
KU : Baik
Sensorium : Compos mentis (GCS: E4 M6 V5)
Vital Sign
TD : 110/80 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 37,3 oC

B. STATUS INTERNUS
Kepala Normosefali, deformitas tidak ada.
Mata Edema palpebra tidak ada, sklera ikterik -/-, konjungtiva palpebra anemis -/-, exoftalmus -/-
Hidung Simetris, deformitas (-), deviasi (-), tidak ada sekret.
Telinga Simetris, bentuk dalam batas normal, menggantung, deformitas (-), sekret (-), nyeri tekan tragus mastoid tidak ada
Mulut Bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal, tiroid tidak membesar, KGB tidak teraba
Thorax Tidak terdapat skar, terdapat tatoo, spider naevi (-), simetris kiri dan kanan
Paru I: Pernapasan statis-dinamis kiri = kanan.
P: Stemfremitus simetris kiri dan kanan
P: Sonor disemua lapang paru
A: Suara napas vesikuler normal (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
Jantung I: Iktus kordis tidak terlihat
P: Iktus kordis tidak teraba
P: Tidak dilakukan
A: Bunyi jantung I dan II normal, gallop (-), murmur (-)
Abdomen I: Datar, tampak benjolan (-)
A: Bising usus (+)
P: Timpani (+) di seluruh regio abdomen
P: Nyeri tekan (-)
Ektremitas Superior, inferior, dekstra, sinistra dalam batas normal



C. STATUS NEUROLOGI
N I – XII : Tidak ada kelainan
Gejala rangsang meningeal : Tidak ada
Gejala TIK meningkat : Tidak ada
Refleks Fisiologis : Normal
Refleks patologis : Tidak ada
V. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT
Belum diperlukan pemeriksaan penunjang pada pasien saat ini
VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
1. Laki-laki berusia 26 tahun, belum menikah.
2. Penampilan bersih dan cukup rapi, perawatan diri baik
3. Pasien mempunyai keluhan suka ngoceh-ngoceh sendiri, mondar-mandir dan sulit tidur sejak 2 minggu terakhir
4. ±4 tahun yang lalu pasien juga pernah mengalami keluhan yang sama
5. Pasien kehilangan motor ± dua bulan yang lalu
6. Pasien memiliki riwayat penggunaan ganja, dekstrometorphan 2 tahun yang lalu, riwayat minum alkohol sebulan yang lalu dan pasien merupakan perokok berat
7. Pasien pernah menjalani hukuman tahanan selama 1,5 tahun
8. 3 bulan yang lalu pasien terbentur dipintu mobil dan kepalanya berdarah.
9. Pasien merupakan seorang security di Bandara Fatmawati Bengkulu
10. Pasien kooperatif, kontak mata inadekuat. Mood pasien hipotimia dengan afek menyempit.
11. Terdapat bentuk pikir non realistik, arus pikir logorea,inkoheren, & isi pikir: sering curiga

VII. FORMULASI DIAGNOSIS
• Aksis I
• Pasien pernah mengalami keluhan yang sama saat tersandung kasus dan menjadi tahanan
• Pada anamnesis didapatkan bahwa pasien pernah menggunakan zat psikoaktif (NAPZA), riwayat mengonsumsi alkohol sehingga pasien menderita gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif.
• Pasien ini tidak terdapat gangguan atau kelainan fisik yang menyebabkan disfungsi otak sehingga pada pasien ini disingkirkan Gangguan Mental Organik
• Aksis II
Berdasarkan uraian diatas dan berdasarkan data yang didapat bahwa pasien tidak memiliki mengalami retardasi mental atau gangguan kepribadian.
• Aksis III
Pada pemerikasaan fisik tidak ditemukan adanya kelainan. Pada pasien ini aksis III tidak ada diagnostik.
• Aksis IV
• Masalah berkaitan dengan kehilangan motor
• Masalah ditempat kerja
• Aksis V
• GAF Scale 60-51: gejala sedang (moderate), disabilitas sedang
VIII. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
1. Aksis I
F.33.1 Gangguan Depresi Berulang, Episode Kini Sedang
dd. F. 25 Skizoafektif
2. Aksis II
Ciri Kepribadian Dependen
3. Aksis III
Tidak ada diagnosis
4. Aksis IV
Masalah kehilangan motor
5. Aksis V
GAF scale 60 – 51
IX. PROGNOSIS
1. Faktor yang memberikan pengaruh baik:
• Indikator psikososial: mempunyai teman akrab selama masa remaja, fungsi keluarga stabil dan beberapa tahun sebelum sakit secara umum fungsi sosial baik.
• Tidak ada komorbiditas dengan gangguan psikiatri lainnya.
2. Faktor yang memberikan pengaruh buruk:
• Adanya gangguan depresi berulang
• Memungkinkan
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah dubia ad bonam. Sehingga kesimpulan prognosis pada pasien berdasarkan wawancara diatas
sebagai berikut :
• Quo Ad Vitam : dubia ad bonam
• Quo Ad Functionam : dubia ad bonam
• Quo Ad Sanationam : dubia ad bonam

VIII. Terapi
• Farmakoterapi
 Fluoxetine 1 x 10 mg
 Risperidone 2 x 2 mg
• Psikoterapi & Edukasi
Psikoterapi yang diberikan pasien adalah psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan terapi kognitif-perilaku.
 Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens (pertahanan) pasien terhadap stres.
 Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien terhadap penyakitnya serta mengembangkan kemampuannya untuk menunjang penyembuhan dirinya. Selain itu juga meningkatkan pengetahuan keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien. Peningkatan pengetahuan dilakukan dengan edukasi baik terhadap pasien maupun keluarga.
 Psikoterapi rekonstruktif bertujuan untuk dicapainya tilikan akan konflik-konflik nirsadar dengan usaha untuk mecapai perubahan struktur luas kepribadian.
 Edukasi
- Menyarankan kepada keluarga untuk pentingnya dukungan kepada pasien, jangan membatasi aktivitas pasien secara wajar, ajak pasien bergembira, kurangi hal-hal yang dapat meningkatkan stresor.
- Berdiskusi terhadap pentingnya pasien untuk teratur minum obat dan kontrol selain itu kembali menyibukkan diri seperti aktivitas dulu seperti ibu rumah tangga lainnya, kembali melakukan hal-hal yang menyenangkan, jangan menyimpan emosi, bila mungkin bisa kontrol ke psikiater.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Depresi
2.1.1 Definisi
Depresi adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode depresif, gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan depresif unipolar serta bipolar (Ingram dkk, 1993).
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan dkk, 1992).
Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek kehidupannya (Ingram dkk, 1993).

2.1.2 Epidemiologi
Gangguan depresi berat, paling sering terjadi, dengan prevalensi seumur hidup sekitar 15 persen. Perempuan dapat mencapai 25%. Sekitar 10% perawatan primer dan 15% dirawat di rumah sakit. Pada anak sekolah didapatkan prevalensi sekitar 2%. Pada usia remaja didapatkan prevalensi 5% dari komunitas memiliki gangguan depresif berat (Ismail dkk, 2010).

1. Jenis Kelamin
Perempuan 2x lipat lebih besar disbanding laki-laki. Diduga adanya perbedaan hormon, pengaruh melahirkan, perbedaan stresor psikososial antara laki-laki dan perempuan, dan model perilaku yang dipelajari tentang ketidakberdayaan (Ismail dkk, 2010).
Pada pengamatan yang hampir universal, terdapat prevalensi gangguan depresif berat yang dua kali lebih besar ada wanita dibandingkan dengan laki-laki (Kaplan, 2010). Pada penelitian lain disebutkan bahwa wanita 2 hingga 3 kali lebih rentan terkena depresi dibandingkan laki-laki (Akhtar, 2007). Walaupun alasan adanya perbedaan tersebut tidak diketahui, alasan untuk perbedaan tersebut didalilkan sebagai keterlibatan dari perbedaan hormonal, efek kelahiran, perbedaan stressor psikososial dan model perilaku keputusasaan yang dipelajari (Kaplan, 2010).
Pada penelitian yang dilakukan NIMH (2002) ditemukan bahwa prevalensi yang tinggi pada wanita dibandingkan pria kemungkinan dikarenakan adanya ketidakseimbangan regulasi hormon yang langsung mempengaruhi substansi otak yang mengatur emosi dan mood contohnya dapat dilihat pada situasi PMS (Pre Menstrual Syndrome). Untuk wanita yang telah menikah, depresi dapat diperparah dengan masalah keluarga dan pekerjaan, merawat anak dan orangtua lanjut usia, kekerasan dalam rumah tangga dan kemiskinan.

2. Usia
Rata-rata usia sekitar 40 tahun-an. Hampir 50% onset diantara usia 20-50 tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul pada masa anak atau lanjut usia. Data terkini menunjukkan gangguan depresi berat diusia kurang dari 20 tahun. Mungkin berhubungan dengan meningkatnya pengguna alkohol dan penyalahgunaan zat dalam kelompok usia tersebut (Ismail dkk, 2010).
Pada umumnya, rata-rata usia onset untuk gangguan depresif berat adalah kira-kira 40 tahun, dimana 50% dari semua pasien mempunyai onset antara usia 20 dan 50 tahun. Gangguan depresif berat juga memiliki onset selama masa anak-anak atau pada lanjut usia. Beberapa data epidemiologis menyatakan bahwa insidensi gangguan depresif berat mungkin meningkat pada orang-orang yang berusia kurang dari 20 tahun (Kaplan, 2010). Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Akhtar (2007) didapatkan bahwa tingkat prevalensi tertinggi terjadi pada kelompok usia 20-24 tahun (14,3%) dan yang terendah pada kelompok usia >75 tahun (4,3%), sementara data yang didapatkan dari NIMH (2002) menyebutkan bahwa tingkat depresi terbanyak ditemukan pada kelompok usia >18 tahun (10%).

3. Status Perkawinan
Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan interpersonal yang erat atau pada mereka yang bercerai atau berpisah. Wanita yang tidak menikah memiliki kecenderungan lebih rendah untuk menderita depresi dibandingkan dengan wanita yang menikah namun hal ini berbanding terbalik untuk laki-laki (Ismail dkk, 2010).
Pada umumnya, gangguan depresif berat terjadi paling sering pada orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat, pasangan yang bercerai atau berpisah (Kaplan, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Akhtar (2007) memperlihatkan bahwa prevalensi tertinggi dari depresi didapatkan pada pasangan yang bercerai atau berpisah.

4. Faktor Sosioekonomi dan Budaya
Tidak ditemukan korelasi antara status sosioekonomi dan gangguan depresi berat. Depresi lebih sering terjadi di daerah pedesaan dibanding daerah perkotaan (Ismail dkk, 2010).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Academy on An Aging Society (2000) didapatkan data bahwa pada kelompok responden dengan pendapatan rendah ditemukan tingkat depresi yang cukup tinggi yaitu sebesar 51%. Pada penelitian Akhtar (2007) ditemukan tingkat depresi terendah pada kelompok pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar (9,1%) dan sebaliknya tingkat depresi yang tertinggi ditemukan pada responden dengan kelompok pendidikan yang lebih tinggi sebesar (13,4%). Walaupun hasil ini dapat menjadi indikasi adanya perbedaan tingkat depresi pada tingkat pendidikan, namun hal tersebut tidak memiliki korelasi positif dengan terjadinya gangguan depresif (Kaplan, 2010).
2.1.3 Etiologi
Etiologi depresi terdiri dari:
1. Faktor genetik
Dari penelitian keluarga didapatkan gangguan depresi mayor dan gangguan bipolar terkait erat dengan hubungan saudara; juga pada anak kembar, suatu bukti adanya kerentanan biologik, pada genetik keluarga tersebut.
Data genetik dengan kuat menyatakan bahwa suatu faktor penting di dalam perkembangan gangguan mood adalah genetika. Tetapi, pola penurunan genetika adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks. Bukan saja tidak mungkin untuk menyingkirkan efek psikososial, tetapi faktor non genetik kemungkinan memainkan peranan kausatif dalam perkembangan gangguan mood pada sekurangnya beberapa orang. Penelitian keluarga menemukan bahwa sanak saudara derajat pertama dari penderita gangguan depresif berat berkemungkinan 2 sampai 3 kali lebih besar daripada sanak saudara derajat pertama (Kaplan, 2010; Tomb, 2004).

2. Faktor Biokmia
Sejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di dalam metabolit amin biogenik yang mencakup neurotransmitter norepinefrin, serotonin dan dopamine (Gambar 2.1.4.1). Dalam penelitian lain juga disebutkan bahwa selain faktor neurotransmitter yang telah disebutkan di atas, ada beberapa penyebab lain yang dapat mencetuskan timbulnya depresi yaitu neurotransmitter asam amino khususnya GABA (Gamma-Aminobutyric Acid) dan peptida neuroaktif, regulasi neurendokrin dan neuroanatomis (Kaplan, 2010).
Pada regulasi neuroendokrin, gangguan mood dapat disebabkan terutama oleh adanya kelainan pada sumbu adrenal, tiroid dan hormon pertumbuhan. Selain itu kelainan lain yang telah digambarkan pada pasien dengan gangguan mood adalah penurunan sekresi nocturnal melantonin, penurunan pelepasan prolaktin terhadap pemberian tryptophan, penurunan kadar dasar FSH (Follicle Stimullating Hormon) dan LH (Luteinizing Hormon), dan penurunan kadar testosteron pada laki-laki (Trisdale, 2003).

Ada dua hipotesis terjadinya depresi secara biokimia, yaitu:
a. Hipotesis Katekolamin
Beberapa penyakit depresi berhubungan dengan defisiensi katekolamin pada reseptor otak. Reserpin yang menekan amina otak diketahui kadang-kadang menimbulkan depresi lambat (Ingram dkk, 1993).
Disamping itu, MHPG (Metabolit primer noradrenalin otak) menurun dalam urin pasien depresi sewaktu mereka mengalami episode depresi dan meningkat di saat mereka gembira (Ingram dkk, 1993).

b. Hipotesis Indolamin
Hipotesis indolamin membuat pernyataan serupa untuk 5-hidroxitriptamin (5 HT). metabolit utamnya asam 5-hidroksi indolasetat (5HIAA) menurun dalam LCS pasien depresi, dan 5 HIAA rendah pada otak pasien yang bunuh diri. L-Triptofan, yang mempunyai efek antidepresi meningkatkan 5HT otak (Ingram dkk, 1993).

3. Faktor Hormon
Kelainan depresi mayor dihubungkan dengan hipersekresi kortisol dan kegagalan menekan sekresi kortisol sesudah pemberian dexametason. Pasien depresi resisten terhadap penekanan dexametason dan hasil abnormal ini didapatkan pada sekitar 50% pasien, terutama pada pasien dengan depresi bipolar, waham dan ada riwayat penyakit ini dalam keluarga (Ingram dkk, 1993).
Wanita dua kali lebih sering dihubungkan dengan pruerperium atau menopause. Bunuh diri dan saat masuk rumah sakit biasanya sebelum menstruasi. Selama penyakit afektif berlangsung sering timbul amenore. Hal ini menggambarkan bahwa gangguan endokrin mungkin merupakan faktor penting dalam menentukan etiologi (Ingram dkk, 1993).

4. Faktor Kepribadian Premorbid
Personalitas siklotimik menjadi sasaran gangguan afek ringan selama hidupnya, keadaan ini tidak berhubungan dengan penyebab eksterna. Kepribadian depresi ditunjukkan dengan perilaku murung, pesimis dan kurang bersemangat. Personalitas hipomania berperilaku lebih riang, energetik dan lebih ramah dari rata-rata (Ismail dkk, 2010).
Mereka dengan rasa percaya diri rendah, senantiasa melihat dirinya dan dunia luar dengan penilaian pesimistik. Jika mereka mengalami stres besar, mereka cenderung akan mengalami depresi. Para psikolog menyatakan bahwa mereka yang mengalami gangguan depresif mempunyai riwayat pembelajaran depresi dalam pertumbuhan perkembangan dirinya. Mereka belajar seperti model yang mereka tiru dalam keluarga, ketika menghadapi masalah psikologik maka respon mereka meniru perasaan, pikiran dan perilaku gangguan depresif. Orang belajar dengan proses adaptif dan maladaptif ketika menghadapi stres kehidupan dalam kehidupannya di keluarga, sekolah, sosial dan lingkungan kerjanya. Faktor lingkungan mempengaruhi perkembangan psikologik dan usaha seseorang mengatasi masalah. Faktor pembelajaran sosial juga menerangkan kepada kita mengapa masalah psikologik kejadiannya lebih sering muncul pada anggota keluarga dari generasi ke generasi. Jika anak dibesarkan dalam suasana pesimistik, dimana dorongan untuk keberhasilan jarang atau tidak biasa, maka anak itu akan tumbuh dan berkembang dengan kerentanan tinggi terhadap gangguan depresif (Ismail dkk, 2010).
5. Faktor Lingkungan
Enam bulan sebelum depresi, pasien depresi mengalami lebih banyak peristiwa dalam hidupnya. Mereka merasa kejadian ini tidak memuaskan dan mereka keluar dari lingkungan social. 80% serangan pertama depresi didahului oleh stress, tetapi angka ini akan jatuh menjadi hanya 50% pada serangan berikutnya. Pasien depresi diketahui juga lebih sering pada anak yang kehilangan orang tua di masa kanak-kanak dibandingkan dengan populasi lainnya (Ingram dkk, 1993).
Menurut Freud, kehilangan obyek cinta, seperti orang yang dicintai, pekerjaan tempatnya berdedikasi, hubungan relasi, harta, sakit terminal, sakit kronis dan krisis dalam keluarga merupakan pemicu episode gangguan depresif. Seringkali kombinasi faktor biologik, psikologik dan lingkungan merupakan campuran yang membuat gangguan depresif muncul (Ismail dkk, 2010).
Satu pengamatan klinis yang telah lama direplikasi adalah bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada episode selanjutnya (Kaplan, 2010; Slotten, 2004). Satu teori yang diajukan untuk menjelaskan pengamatan tersebut adalah bahwa stress yang menyertai episode pertama menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama. Perubahan yang bertahan lama tersebut dapat meyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberi sinyal intraneuronal. Hasil akhir dari perubahan tersebut akan menyebabkan seseorang berada pada resiko yang lebih tinggi untuk menderita episode gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya stresor external (Kaplan, 2010).

2.1.4 Perjalanan penyakit
Menurut Kaplan dan Ismail, sebelum episode pertama teridentifikasi, sekitar 50% gangguan depresi berat memperlihatkan gejala depresi yang bermakna. Gejala depresi yang teridentifikasi dini dan dapat teratasi lebih awal dapat mencegah berkembangnya gejala tersebut menjadi episode depresi penuh. Pada pasien dengan gangguan depresi berat, meskipun gejala mungkin telah ada, umumnya belum menunjukkan suatu premorbid gangguan kepribadian. Sekitar 50% pasien dengan episode depresi pertama terjadi sebelum usia 40 tahun biasanya dihubungkan dengan tidak adanya riwayat gangguan mood dalam keluarga, gangguan kepribadian antisocial dan penyalahgunaan alkohol.
Episode depresi yang tidak ditangani akan berlangsung 6 – 13 bulan. Kebanyakan penanganan episode depresi sekitar 3 bulan. Namun karena merujuk kepada prosedur baku penatalaksaan gangguan depresi maka penatalaksanaan setidaknya dilakukan selama 6 bulan agar tidak mudah kambuh (Kaplan, 2010).

2.1.5 Gejala
Episode depresi. Mood terdepresi, kehilangan minat dan berkurangnya energy adalah gejala utama dari depresi. Pasien mungkin mengatakan perasaannya sedih, tidak mempunyai harapan, dicampakkan, atau tidak berharga. Emosi pada mood depresi kualitasnya berbeda dengan emosi duka cita atau kesedihan yang normal (Ingram dkk, 1993).
Pasien dalam keadaan mood terdepresi memperlihatkan kehilangan energi dan minat, merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, berpikir mati atau bunuh diri. Tanda dan gejala lain termasuk perubahan dalam tingkat aktivitas, kemampuan kognitif, bicara dan fungsi vegetative (termasuk tidur, aktivitas seksual dan ritme biologik yang lain). Gangguan ini hampir selalu menghasilkan hendaya interpersonal, sosial dan fungsi pekerjaan (Ismail dkk, 2010).
Adapun gambaran klinik dari pasien depresi ini antara lain (Ingram dkk, 1993):
1. Adanya gejala psikologis berupa penurunan vitalitas umum, yang mungkin dinyatakan pasien sebagai suatu kehilangan dan sedih. Biasanya dia menarik diri dari kehidupan sosialnya. Segala sesuatu kelihatannya tanpa harapan, selalu murung, ansietas mungkin ada atau pasien mungkin mencoba untuk menyembunyikan keluhannya (depresi senyum).
2. Variasi diurnal, dimana semua gejala cenderung memburuk pada dini hari dan membaik di siang hari.
3. Bunuh diri, dapat menjadi tanda awal penyakit. Kemungkinan bunuh diri sulit diduga sebelumnya, tetapi selalu harus diperhitungkan. Pikiran bunuh diri seharusnya selalu ditanyakan dan jika ada harus dianggap serius. Penderita depresi jarang membunuh keluarganya, tetapi kalau terjadi biasanya karena dia merasa harus menyelamatkan keluarganya dari kehidupan yang sengsara.
4. Retardasi atau perlambatan berpikir biasa ditemukan dan dicerminkan dalam pembicaraan serta pergerakannya. Ada kemiskinan pikiran dan kesulitan berkonsentrasi. Pada kasus lain agitasi mungkin menjadi gejala dominan, disertai dengan adanya kegelisahan motorik yang nyata.
5. Perasaan bersalah sering ditemukan disertai mengomeli diri sendiri dan turunnya penilaian diri. Dalam kasus berat, bisa timbul waham dimana penyakit yang dideritanya merupakan suatu hukuman untuk dosanya di masa lampau, baik itu dosa yang dikhayalkannya maupun kesalahan yang memang benar-benar pernah ia lakukan. Pasien juga bisa merasa bahwa dia dipandang rendah dan dituduh bejad oleh orang lain. Kemungkinan ada keasyikan sendiri, hipokondriasis dan waham hipokondria. Mungkin juga ada waham kemiskinan atau waham nihilistik.
6. Halusinasi jarang ditemukan, tetapi dapat timbul pada kasus berat.
7. Depersonalisasi dan derealisasi tidak jarang terjadi. Pasien menyatakan bahwa dia kehilangan perasaan dan mempunyai sensasi asing. Dia merasa tidak nyata dan baginya benda-benda terlihat tidak nyata.
8. Pikiran dan tindakan berisi perasaan bersalah atau menyalahkan diri sendiri mungkin ditemukan.
9. Insomnia sering ditemukan. Gejala khasnya pasien mula-mula bangun dini hari, kemudian semakin lama semakin pagi dan bahkan akhirnya dapat menjadi insomnia total.
10. Anoreksia, konstipasi, gangguan pencernaan, penurunan berat badan, amenore dan kehilangan libido biasa ditemukan. Mungkin terjadi kelelahan dan letargi, atau tanda autonom ansietas.

Menurut Kaplan dan Ismail, pikiran untuk melakukan bunuh diri dapat timbul pada sekitar dua pertiga pasien depresi, dan 10-15% melakukan bunuh diri. Mereka yang dirawat dirumah sakit dengan percobaan bunuh diri dan ide bunuh diri mempunyai umur hidup lebih panjang disbanding yang tidak dirawat. Beberapa pasien depresi terkadang tidak menyadari ia mengalami depresi dan tidak mengeluh tentang gangguan mood meskipun mereka menarik diri dari keluarga, teman dan aktifitas yang sebelumnya menarik bagi dirinya. Hampir semua pasien depresi (97%) mengeluh tentang penurunan energi dimana mereka mengalami kesulitan menyelesikan tugas, mengalami kendala disekolah dan pekerjaan, dan menurunnya motivasi untuk terlibat dalam kegiatan baru. Sekitar 80% pasien mengeluh masalah tidur, khusunya terjaga dini hari (terminal insomnia) dan sering terbangun dimalam hari karena memikirkan masalh yang dihadapi. Kebanyakan pasien menunjukkan peningkatan atau penurunan nafsu makan, demikian pula dengan bertambah dan menurunnya berat badan serta mengalami tidur lebih lama dari yang biasa.

2.1.7 Diagnosis
Tabel 1. Kriteria diagnostik gangguan depresi berat menurut DSM-IV-TR
A. Pasien mengalami gangguan mood terdepresi (contoh: sedih atau perasaan kosong) atau kehilangan minat atau kesenangan sepanjang waktu selama 2 minggu atau lebih ditambah 4 atau lebih gejala-gejala berikut ini:
- Tidur: insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
- Minat: menurunnya minat atau kesenangan hampir pada semua kegiatan hampir sepanjang waktu
- Rasa bersalah: perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak sesuai atau rasa tidak berharga hampir sepanjang waktu
- Energi: kehilangan energi atau letih hampir sepanjang waktu
- Konsentrasi: menurunnya kemampuan untuk berpikir/ konsentrasi; sulit membuat keputusan hampir sepanjang waktu
- Selera makan: menurun atau meningkat
- Psikomotor: agitasi atau retardasi
- Bunuh diri: pikiran berulang tentang mati/ ingin bunuh diri.
B. Gejalanya tidak memenuhi untuk kriteria episode campuran (episode
depresi berat dan episode manik).
C. Gejalanya menimbulkan penderitaan bermakna secara klinik atau
hendaya sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
D. Gejalanya bukanlah merupakan efek fisiologi langsung dari zat
(contoh: penyalahgunaan obat atau medikasi) atau kondisi medik
umum (hipotiroidisme).
E. Gejalanya tidaklah lebih baik dibandingkan dengan berkabung, misalnya
setelah kehilangan seseorang yang dicintai, gejala menetap lebih dari
dua bulan atau ditandai hendaya fungsi yang jelas, preokupasi rasa
ketidakbahagian yang abnormal, ide bunuh diri, gejala psikotik atau
retardasi mental.

Konsep gangguan jiwa yang terdapat dalam PPDGJ III ini merujuk kepada DSM-IV dan konsep disability berasal dari The ICD-10 Classification of Mental and Behavioral Disorders. Menurut PPDGJ (2003), gangguan afektif berupa depresi dapat terbagi menjadi episode depresif dan episode depresif berulang, dimana episode depresif sendiri terbagi menjadi episode depresif ringan, sedang, dan berat. Sedangkan untuk episode berulang terbagi menjadi episode berulang episode kini ringan, episode kini sedang, episode kini berat tanpa gejala psikotik, episode kini berat dengan gejala psikotik dan episode kini dalam remisi.

2.1.8 Prognosis
Gangguan mood cenderung memiliki perjalanan penyakit yang panjang dan pasien cenderung mengalami kekambuhan. Episode depresif yang tidak diobati berlangsung 6 sampai 13 bulan, sementara sebagian besar episode yang diobati berlangsung kira-kira 3 bulan. Menghentikan antidepresan sebelum 3 bulan hampir selalu menyebabkan kembalinya gejala (Kaplan, 2010).
Pasien yang dirawat di rumah sakit untuk episode pertama gangguan depresif berat memiliki kemungkinan 50% untuk pulih dalam tahun pertama. Banyak penelitian telah berusaha untuk mengidentifikasi indikator prognostik yang baik dan buruk di dalam perjalanan gangguan depresif berat. Episode ringan, tidak adanya gejala psikotik, fungsi keluarga yang stabil, tidak adanya gangguan kepribadian, tinggal dalam waktu singkat di rumah sakit dalam waktu yang singkat, dan tidak lebih dari satu kali perawatan di rumah sakit adalah indikator prognostik yang baik. Prognosis buruk dapat meningkat oleh adanya penyerta gangguan distimik, penyalahgunaan alkohol dan zat lain, gejala gangguan kecemasan, dan riwayat lebih dari satu episode sebelumnya. (Kaplan, 2010).

Terapi
Terapi pasien dengan gangguan mood harus ditujukan pada beberapa tujuan. Pertama, keamanan pasien harus terjamin. Kedua, evaluasi diagnostik lengkap pada pasien harus dilakukan. Ketiga, rencana terapi yang ditujukan tidak hanya pada gejala saat itu tetapi kesejahteraan pasien dimasa mendatang juga harus dimulai. Walaupun terapi saat ini yang menekankan pada farmakoterapi dan psikoterapi ditujukan pada pasien secara individual, peristiwa hidup yang penuh tekanan juga dikaitakn dengan meningkatnya angka kekambuhan pada pasien dengan gangguan mood. Dengan demikian, terapi harus menurunkan jumlah dan keparahan stressor didalam kehidupan pasien.
1. Rawat inap
Indikasi yang jelas untuk rawat inap adalah kebutuhan prosedur diagnosis, risiko bunuh diri atau membunuh dan kemampuan pasien yang menurun drastic untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal. Riwayat gejala yang berkembang cepat serta rusaknya sistem dukungan pasien yang biasa juga merupakan indikasi rawat inap.
2. Terapi psikososial
Sebagian besar studi menunjukkan kombinasi psikoterapi dan farmakoterapi adalah terapi yang paling efektif untuk gangguan depresi berat. Tiga jenis psikoterapi jangka pendek yaitu:
a. Terapi kognitif
Sejumlah studi menunjukkan bahwa terapi kognitif efektif dalam penatalaksanaan gangguan depresi berat dan sebagian besar studi menunjukkan bahwa terapi ini setara efektivitasnya dengan farmakoterapi. Terapi kognitif dikembangkan dengan Aaron Beck dan memfokuskan pada distorsi kognitif yang diperkirakan ada pada gangguan depresi berat. Distorsi tersebut mencakup perhatian selektif terhadap aspek negatif keadaan dan kesimpulan patologis yang tidak realistis mengenai konsekuensi. Contohnya apati dan kurang tenaga adalah pengharapan pasien mengenai kegagalan disemua area. Tujuan terapi ini adalah untuk meringankan episode depresif dan mencegah kekambuhan dengan membantu pasien mengidentifikasi dan menguji kognisi begatif; mengembangkan cara berpikir alternative, fleksibel dan positif serta melatih respons perilaku dan kognitif baru.
b. Terapi interpersonal
Terapi ini dikembangkan oleh Gerald Klerman yang memfokuskan pada satu atau dua masalah interpersonal pasien saat ini. Terapi ini didasarkan pada dua asumsi. Pertama, masalah interpersonal saat ini cenderung memiliki akar pada hubungan yang mengalami disfungsi sejak awal. Kedua, masalah interpersonal saat ini cenderung terlibat didalam mencetuskan atau melanjutkan gejala depresif saat ini.
Program terapi ini biasanya terdiri dari atas 12 sampai 16 sesi dan ditandai dengan pendekatan terapeutik yang aktif. Fenomena intrapsikik seperti mekanisme defense dan konflik internal, tidak diselesaikan. Perilaku khas seperti tidak asertif, keterampilan sosial terganggu dan pikiran terdistorsi dapat diselesaikan tetapi hanya dalam konteks pengertiannya terhadap hubungan interpersonal
c. Terapi perilaku
Terapi perilaku didasarkan pada hipotesis bahwa pola perilaku maladaptif mengakibatkan seseorang menerima sedikit umpan balik positif dan mungkin sekaligus penolakan dari masyarakat. Pemusatan perhatian pada perilaku maladaptif didalam terapi diharapkan pasien dapat belajar berfungsi di dalam dunia sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh dorongan positif.
3. Farmakoterapi
Antidepresan merupakan terapi gangguan depresif berat yang efektif dan spesifik. Penggunaan farmakoterapi spesifik diperkirakan dapat melipat-gandakan kemungkinan bahwa pasien dengan gangguan depresi berat akan pulih. Meskipun demikian masalah tetap ada dalam terapi gangguan depresi berat seperti: sejumlah pasien tidak memberikan respon terhadap terapi pertama; semua antidepresan yang saat ini tersedia membutuhkan 3 sampai 4 minggu hingga memberikan pengaruh terapeutik yang bermakna, walaupun obat tersebut dapat mulai menunjukkan pengaruhnya lebih dini dan relatif sampai saat ini semua antidepresan yang tersedia bersifat toksik bila overdosis serta memiliki efek samping.
SSRI seperti fluoxetine, paroksetin (Paxil), dan sertralin (Zoloft), juga bupropion, venlafaksin (Efexxor), nefazodon, dan mirtazapin (Remeron). Efek samping dari antidepresan adalah dapat mengakibatkan kematian jika dikonsumsu overdosis. Trisiklik dan tetrasiklik adalah antidepresan yang paling mematikan. Efek samping lainnya adalah dapat menyebabkan hipotensi.
Kesalahan klinis yang sering terjadi adalah penggunaan dosis yang terlalu rendah dalam jangka waktu singkat. Kecuali terjadi efek samping, dosis antidepresan harus dinaikkan sampai kadar maksimum yang direkomendasi atau dipertahankan kadar tersebut setidaknya selama 4 atau 5 minggu sebelum percobaan obat dapat dinggap tidak berhasil. Terapi antidepresan harus dipertahankan setidaknya 6 bulan atau selama episode sebelumnya, bergantung mana yang lebih lama. Terapi profilaksis perlu dipertimbangkan jika melibatkan gagasan bunuh diri yang bermakna atau gangguan fungsi psikosial.
Alternatif terapi obat lainnya adalah elektrokonvulsif dan fototerapi. Terapi elektokonvulsif biasa digunakan ketika pasien tidak memberikan respons terhadap farmakoterapi atau tidak dapat mentoleransi farmakoterapi.














BAB III
PEMBAHASAN

Dari hasil pemeriksaan pada pasien Tn. Rb ditemukan adanya gejala-gejala seperti gangguan mood terdepresi (sedih) disertai dengan kehilangan minat selama sekitar 2 minggu. Selain itu juga terdapat gangguan tidur, merasa tidak bertenaga atau letih, sering mondar-mandir. Pasien juga memiliki emosi yang tinggi, semua gejala tersebut muncul setelah pasien kehilangan motornya. Menurut ibu pasien, pasien juga pernah mengalami gejala yang sama aat pasien mendapatkan masalah yang cukup berat sehingga harus masuk penjara. Semua gejala yang ditemukan tersebut menyebabkan pasien saat ini memiliki gangguan dalam fungsi sosial. Sehingga dari semua hasil pemeriksaan tersebut pada pasien dapat ditegakkan diagnosis gangguan atau episode depresif berulang berdasarkan kriteria DSM-IV-TR.
Diagnosis banding seperti skizofrenia dapat disingkirkan jika merujuk pada kriteria masing-masing penyakit tersebut. Kriteria DSM-IV-TR untuk skizofrenia berlangsung paling sedikit enam bulan; penurunan fungsi yang bermakna dalam bidang pekerjaan, hubungan interpersonal dan fungsi kehidupan pribadi; pernah menglami gejala psikotik aktif dalam bentuk khas selama periode tersebut; dan tidak ditemui gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan mood mayor, autism atau gangguan organik. Pada kasus ini, kejadian berlangsung kurang dari enam bulan dengan tidak ditemukannya penurunan fungsi yang cukup bermakna, tidak pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas dan juga disertai dengan gangguan mood mayor. Sehingga diagnosis banding skizofrenia dapat disingkirkan.
Pada pasien ini diberikan terapi berupa antidepresan yaitu fluoxetine. Fluoxetine merupakan merupakan golongan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors). Fluoxetine memiliki mekanisme kerja mempengaruhi kimiawi pada otak yang mungkin menjadi tidak seimbang sehingga dapat menyebabkan gejala depresi, panik, cemas atau obsesif-kompulsif. Fluoxetine digunakan untuk menmgobati gangguan depresif mayor, bulimia nervosa, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panic dan gangguan disforik premenstruasi. Fluoxetine ini biasa digunakan bersamaan dengan obat lain seperti olanzapine yang merupakan antipsikotik atipikal. Kombinasi ini biasa digunakan untuk depresi akibat gangguan bipolar (depresi manik) atau depresi yang telah diberi dua obat lainnya namun tidak berhasil mengatasi gejala.
Pada pasien ini juga diberikan terapi berupa antipsikotik atipikal berupa risperidone, antidepresan yaitu fluoxetine dan juga obat anti-kolinergik yaitu trihexyphenidil. Obat antipsikotik atipikal ini mempunyai afinitas tinggi terhadap reseptor serotonin (5HT2) dan aktivitas menengah terhadap reseptor dopamin (D2), α1 dan α2 adrenergik, serta histamin. Dengan demikian obat ini efektif baik untuk gejala positif (waham, halusinasi), maupun gejala negatif (upaya pasien yang menarik diri dari lingkungan). Risperidon dimetabolisme di hati dan diekskresi di urin. Dengan demikian perlu dilakukan pengawasan terhadap fungsi hati. Secara umum risperidon ditoleransi dengan baik. Efek samping sedasi, otonomik, dan ekstrapiramidal sangat minimal dibandingkan obat antipsikosis tipikal. Dosis anjurannya adalah 2-6 mg/hari. Pada pasien ini diberikan dosis 2x2 mg/hari sebagai initial dose.

Widyahl

Posts : 2
Reputation : 0
Join date : 2016-03-14

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum