Faktor Risiko Relaps pada Skizofrenia

View previous topic View next topic Go down

Faktor Risiko Relaps pada Skizofrenia

Post by Siti Zhahara on Wed May 27, 2015 4:06 pm

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Skizofrenia merupakan gangguan psikiatri yang menimbulkan disabilitas cukup luas, mungkin dengan kausa yang heterogen, yang melibatkan gangguan proses pikir, emosi, persepsi dan tingkah laku.1,2
Skizofrenia merupakan gangguan psikiatri yang paling sering terjadi, hampir 1% penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka dan dapat mengenai orang dari semua kelas sosial.1,3 Prevalensi skizofrenia antara laki-laki dan wanita sama, akan tetapi berbeda dalam onset dan perjalanan penyakit, laki-laki mempunyai onset lebih awal daripada wanita. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah awal dan pertengahan 20-an; untuk wanita usia puncak adalah akhir usia 20-an.1,3
Prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia adalah 0,3-1% dan biasanya timbul pada usia sekitar 18-45 tahun.4 Diperkirakan sekitar 2 juta jiwa penduduk Indonesia menderita skizofrenia, dimana sekitar 99% pasien di RS Jiwa di Indonesia adalah penderita skizofrenia.4
Keluaran atau outcome penderita skizofrenia dapat menjadi remisi, pemulihan dan relaps.5 Insiden relaps penderita skizofrenia adalah tinggi, yaitu berkisar 60-75% setelah suatu episode psikotik jika tidak diterapi maupun jika tidak teratur minum obat.2 Dari 74% pasien skizofrenia relaps, 71% diantaranya memerlukan rehospitalisasi.2 Sekitar 40% pasien relaps mengalami remisi sempurna, 44% pasien relaps mengalami remisi sebagian dan hanya 8% pasien skizofrenia mengalami remisi sempurna.5
Relaps didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana apabila seorang pasien yang sudah pulih atau mengalami perbaikan kembali menunjukkan gejala sebelumnya.4 Setiap relaps yang terjadi berpotensi membahayakan bagi pasien dan keluarganya. Dalam keadaan seperti ini pasien mungkin akan dirawat inap kembali dan membutuhkan biaya yang tinggi.4
Walaupun antipsikotik konvensional dapat menurunkan gejala-gejala positif pada kebanyakan pasien setelah beberapa minggu, penghentian obat antipsikotik dapat menyebabkan kejadian relaps sekitar 80% pada pasien setelah 12 bulan.6 Terapi dengan menggunakan obat antipsikotik merupakan salah satu pertahanan paling penting dalam mencegah relaps, akan tetapi masih ada kemungkinan terjadinya relaps selama terapi pemeliharaan.5

I.2 Batasan Masalah
Referat ini membahas tentang faktor risiko terjadinya relaps pada skizofrenia.

I.3 Tujuan
Sebagai referensi untuk menambah sumber bacaan mengenai faktor risiko terjadinya relaps pada skizofrenia

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Skizofrenia
II.1.1 Definisi
Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa yang memiliki karakteristik khusus. Dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III, definisi skizofrenia dijelaskan sebagai deskripsi sindrom dengan variasi penyebab, yang ditandai dengan penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi serta oleh afek yang tumpul atau tidak wajar.7

II.1.2 Etiologi
Adapun teori-teori etiologi skizofrenia antara lain:
1. Model diatesis-stres
Teori ini menggabungkan antara faktor biologis, psikososial, dan lingkungan. Seseorang mungkin memiliki kerentanan spesifik (diatesis) yang bila diaktifkan oleh pengaruh yang penuh tekanan, memungkinkan timbulnya gejala skizofrenia.1

2. Neurobiologi
Dari faktor biologis dikenal suatu hipotesis dopamin yang menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh aktivitas dopaminergik yang berlebihan di bagian kortikal otak, dan berkaitan dengan gejala positif skizofrenia. Selain itu juga terdapat peningkatan neurotransmitter lainnya seperti serotonin, norepinefrin, GABA, glutamat.1,8 Selain itu pada penelitian lainnya mengindikasikan adanya peran patofisiologis area otak tertentu, termasuk sistem limbik, korteks frontal, serebelum, dan ganglia basalis. Keempat area ini saling berhubungan sehingga disfungsi satu area dapat melibatkan proses patologi primer ditempat lain. Pencitraan otak manusia hidup dan pemeriksaan neuropatologi jaringan otak posmortem menyatakan sistem limbik sebagai lokasi potensial proses patologi primer pada setidaknya beberapa bahkan mungkin sebagian besar pasien skizofrenia.
















Gambar 1. Area otak yang terlibat pada skizofrenia

3. Faktor genetik
Serangkaian studi genetik secara meyakinkan mengemukakan bahwa adanya komponen genetik dalam pewarisan sifat skizofrenia. Adapun prevalensi skizofrenia pada populasi umum yaitu 1%, pada saudara kandung bukan kembar pasien skizofrenia prevalensinya 8%, pada anak dengan salah satu orang tua penderita skizofrenia prevalensinya 12%, pada kembaran dizigotik pasien skizofrenia 12%, pada anak yang kedua orang tuanya menderita skizofrenia 40%, dan pada kembar monozigot pasien skizofrenia sebesar 50%.1,3
4. Faktor psikososial
a. Teori perkembangan
Ahli teori Sullivan dan Erikson mengemukakan bahwa kurangnya perhatian yang hangat dan penuh kasih sayang di tahun-tahun awal kehidupan berperan dalam menyebabkan kurangnya identitas diri, salah interpretasi terhadap realitas dan menarik diri dari hubungan sosial pada penderita skizofrenia.

b. Teori pembelajaran
Menurut para ahli teori pembelajaran, anak yang dikemudian hari menderita skizofrenia mempelajari reaksi dan cara berpikir irasional dengan cara meniru orang tua yang memiliki masalah emosional yang signifikan. Hubungan interpersonal yang buruk pada orang tua dengan skizofrenia muncul akibat model pembelajaran yang buruk selama masa kanak-kanak.1

c. Teori keluarga
Tidak ada bukti dengan kontrol yang baik yang mengidentifikasikan bahwa terdapat suatu pola keluarga khusus yang memainkan peran kausatif dalam timbulnya skizofrenia. Namun beberapa pasien skizofrenia memang berasal dari keluarga yang disfungsional.1

d. Teori sosial
Sejumlah teori menyatakan bahwa industrialisasi dan urbanisasi terlibat dalam penyebab skizofrenia. Walaupun beberapa data yang mendukung teori ini, stres tersebut kini dianggap memiliki efek utama terhadap waktu munculnya awitan dan keparahan penyakit.1

II.1.3 Diagnosis
Kriteria diagnosis PPDGJ-III
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas)7:
A. - Thought echo (isi fikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya, dan isi fikiran ulangan walaupun isinya sama namun kualitasnya berbeda); atau
- Thought insertion or withdrawal: Isi fikiran yang asing dari luar masuk kedalam fikirannya atau isi fikirnya di aambil oleh sesuatu dari luar; dan
- Thought broadcasting: isi fikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umumnya mengetahuinya.

B. - Delusion of control: waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of influence: waham tentang dirinya di pengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusional perception: Pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.

C. Halusinasi auditorik: suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilkau pasien, mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

D. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat tidak wajar dan sesuatu yang mustahil.


2. Atau paling sedikit 2 gejala di bawah ini yang harus ada secara jelas:
E. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja.
F. Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan yang berakibat inkoherensi atau neologisme.
G. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah.
H. Gejala-gejala negative seperti sikaap sangat apatis, bicaara yang jarang dan respons emosionaal yang menumpul dan tidak wajar biasanya penarikan diri dari pergaulan social dan menurunnya kinerja social, tetapi harus jelas tidak di sebabkaan karena depresi.
3. Adanya gejala khas tersebut diatas telah berlangsung dalam kurun waktu satu bulan atau lebih.

Kriteria diagnosis DSM-IV-TR
A. Gejala karakteristik: dua (atau lebih) poin berikut, masing-masing terjadi dalam porsi waktu yang signifikan selama periode 1 bulan (atau kurang bila telah berhasil diobati):
1) Waham
2) Halusinasi
3) Bicara kacau
4) Perilaku yang sangat kacau atau katatonik
5) Gejala negatif

B. Disfungsi sosial atau okupasional: selama suatu porsi waktu yang signifikan sejak awitan gangguan, terdapat satu atau lebih area fungsi utama seperti pekerjaan, hubungan interperonal, atau perawatan diri yang berada jauh di bawahtingkatan yang telah dicapai sebelum awitan.

C. Durasi: tanda kontinu gangguan berlangsung selama setidaknya 6 bulan. Periode 6 bulan ini harus mencakup setidaknya 1 bulan gejala yang memenuhi kriteria A, dan dapat mencakup periode gejala prodromal atau residual ini, tanda gangguan dapat bermanifestasi sebagai gejala negatif saja atau dua atau lebih gejala yang terdaftar dalam kriteria A yang muncul dalam bentuk yang lebih lemah.

D. Ekslusi gangguan mood dan skizoafektif: gangguan skizoafektif dan gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan baik karena 1) tidak ada episode depresif, manik atau campuran mayor yang terjadi bersamaan dengan gejala fase aktif maupun 2) jika episode mood terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya relatif singkat dibanding durasi periode aktif dan residual.

E. Ekslusi kondisi medis umum atau zat: gangguan tersebut tidak disebebkan efek fisiologis langsung suatu zat atau kondisi medis umum.

F. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif: jika terdapat riwayat gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasif lainnya, diagnosis tambahan skizofrenia hanya dibuat bila waham atau halusinasi yang prominen juga terdapat selama setidaknya satu bulan.

II.1.4 Klasifikasi
Subtipe skizofrenia antara lain:
1. Tipe paranoid (F20.0)
Tipe paranoid ditandai oleh keasikan (preokupasi) pada satu atau lebih waham atau halusinasi dengar yang sering dan tidak ada perilaku spesifik lain yang mengarahkan pada tipe terdisorganisasi atau katatonik. Secara klasik, skizofrenia tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya waham kejar atau waham kebesaran. Pasien skizofrenik paranoid biasanya berumur lebih tua dari pada pasien skizofrenik terdisorganisasi atau katatonik jika mereka mengalami episode pertama penyakitnya. Pasien yang sehat sampai akhir usia 20 atau 30 tahunan biasanya mencapai kehidupan sosial yang dapat membantu mereka melewati penyakitnya. Selain itu, kekuatan ego pasien paranoid cenderung lebih besar dari pasien katatonik dan terdisorganisasi. Pasien skizofrenik paranoid menunjukkan regresi yang lambat dari kemampuan mentalnya, respon emosional dan perilakunya dibandingkan tipe lain pada pasien skizofrenik.1
Pasien skizofrenik paranoid tipikalnya adalah tegang, pencuriga, berhati-hati dan tak ramah. Mereka juga dapat bersikap bermusuhan atau agresif. Pasien skizofrenik paranoid kadang-kadang dapat menempatkan diri mereka sendiri secara adekuat di dalam situasi sosial. Kecerdasan mereka tidak terpengaruhi oleh kecenderungan psikosis mereka dan tetap berfungsi secara baik.1

Kriteria diagnosis PPDGJ-III7
A. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
B. Sebagai tambahan:
- Halusinasi dan atau waham harus menonjol;
1) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit, mendengung atau bunyi tawa
2) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol
3) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan, dipengaruhi, atau passivity, dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas
C. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata atau tidak menonjol.

2. Tipe Hebefrenik atau Disorganisasi (F20.1)
Tipe disorganisasi sebelumnya dinamakan hebrefenik ditandai oleh regresi yang nyata ke perilaku primitif, perilaku yang tidak dapat dihambat dan tidak teratur, serta tidak adanya gejala yang memenuhi kriteria untuk tipe katatonik. Onset biasanya terjadi awal, sebelum usia 25 tahun. Pasien terdisorganisasi biasanya aktif tetapi dengan cara yang tidak bertujuan dan tidak konstruktif. Gangguan pikiran mereka adalah hal yang paling menonjol dan kontaknya buruk terhadap kenyataan. Penampilan pribadinya dan perilaku sosialnya rusak. Respon emosionalnya sesuai dan mereka sering kali meledak tertawanya tanpa alasan. Wajah yang meringis dan menyeringai paling sering ditemukan pada tipe pasien ini, perilaku tersebut paling baik digambarkan sebagai kekanak-kanakan atau bodoh.1

Kriteria diagnosis PPDGJ-III7
A. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
B. Diagnosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda
C. Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas: pemalu dan senang menyendiri, namun tidak harus demikian untuk menentukan diagnosis
D. Diperlukan pengamatan kontinu 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan:
- Perilaku yag tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta manerisme; ada kecenderungan untuk sellau meyendiri, dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan
- Afek pasien dangkal dan tidak wajar, sering disertai oleh cekikikan atau perasaaan puas diri, senyum sendiri atau sikap tinggi hati, tertawa menyeringai dan ungkapan kata yang diulang-ulang
- Proses pikir mengalami disorgansasi dan pembicaraan tak menentu seta inkoheren.
E. Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proes pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol.

3. Tipe Katatonik (F20.2)
Ciri klasik dari tipe katatonik adalah gangguan nyata pada fungsi motorik yang mungkin berupa stupor, negativisme, rigiditas, kegembiraan atau berpostur. Kadang-kadang pasien menunjukkan perubahan yang cepat antara kegembiraan dan stupor. Ciri penyerta adalah stereotipik, manerisme, dan fleksibilitas lilin. Mutisme adalah yang paling sering ditemukan. Selama stupor atau kegembiraan katatonik, pasien skizofrenik memerlukan pengawasan yang ketat untuk menghindari pasien melukai dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan medis mungkin diperlukan karena adanya malnutrisi, kelelahan, hiperpireksia atau cidera yang disebabkan oleh diri sendiri.1

Kriteria diagnosis PPDGJ-III7
A. Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia
B. Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya:
- Stupor atau mutisme
- Gaduh gelisah
- Menampilkan posisi tubuh tertentu
- Negativisme
- Rigiditas
- Fleksibilitas cerea, dan
- Gejala-gejala lain seperti automatisme perintah dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat
C. Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain.

4. Tipe tidak tergolongkan (undifferentiated type) (F20.3)
Sering kali pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan kedalam salah satu tipe. 1

Kriteria diagnosis PPDGJ-III7
A. Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia
B. Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau katatonik
C. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia.

5. Depresi Pasca-skizofrenia (F20.4)
Kriteria Diagnosis PPDGJ-III7
A. Diagnosis harus ditegakkan hanya jika :
- Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria umum skizofrenia) selama 12 bulan terakhir ini
- Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi gambaran klinisnya), dan
- Gejala-gejala depresif menonjol dan mengganggu, memenuhi paling sedikit kriteria untuk episode depresif dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu
B. Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia, diagnosis menjadi Episode Depresif. Bila gejala skizofrenia masih jelas dan menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai (F 20.0 – F 20.3).

6. Tipe Residual (F20.5)
Menurut DSM IV, tipe residual ditandai oleh bukti-bukti yang terus-menerus adanya gangguan skizofrenik, tanpa adanya kumpulan lengkap gejala aktif atau gejala yang cukup untuk memenuhi tipe lain skizofrenia. Penumpulan emosional, penarikan sosial, perilaku eksentrik, pikiran yang tidak logis dan asosiasi longgar ringan adalah gejala yang sering ditemukan pada tipe residual. Jika waham atau halusinasi ditemukan, maka hal tersebut tidak menonjol dan tidak disertai oleh afek yang kuat.1

Kriteria diagnosis PPDGJ-III7
A. Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus dipenuhi semua:
- Gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol
- Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia
- Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia
- Tidak terdapat dementia atau penyakit/gangguan otak organik lain, depresi kronis atau institusionalissasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut




7. Skizofrenia Simpleks (F20.6)
Gangguan ini ditandai dengan hilangnya hasrat dan ambisi secara perlahan dan bertahap. Pasien biasanya tidak menjadi sangat psikotik serta tidak mengalami halusinasi serta waham persisten. Gejala primernya adalah penarikan diri dari situasi sosial dan situasi terkait pekerjaan.1

Kriteria diagnosis PPDGJ-III7
A. Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari:
- Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik
- Disertai dengan perubahan perilaku pribadi yang bermakna bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial
B. Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe skizofrenia lainnya.

8. Skizofrenia Lainnya (F20.Cool
9. Skizofrenia YTT (F20.9)

II.1.5 Penatalaksanaan Skizofrenia
Tiga pengamatan dasar tentang skizofrenia yang memerlukan perhatian saat mempertimbangkan pengobatan gangguan. Pertama, terlepas dari penyebabnya, skizofrenia terjadi pada seseorang yang mempunyai sifat individual, keluarga dan sosial psikologis yang unik. Pendekatan pengobatan harus disusun sesuai bagaimana pasien tertentu telah terpengaruhi oleh gangguan dan bagaimana pasien tertentu akan tertolong oleh pengobatan. Kedua, kenyataan bahwa angka kesesuaian untuk skizofrenia pada kembar monozigot adalah 50 persen telah diperhitungkan oleh banyak peneliti untuk menyarankan bahwa faktor lingkungan spesifik telah berperan dalam perkembangan gangguan. Jadi, seperti agen farmakologis digunakan untuk menjawab ketidakseimbangan kimiawi yang diperkirakan, strategi nonfarmakologis harus menjawab masalah non biologis. Ketiga, skizofrenia adalah suatu gangguan yang kompleks, dan tiap pendekatan teraupetik tunggal jarang mencukupi untuk menjawab secara memuaskan gangguan yang memiliki berbagai segi.1

1. Perawatan di Rumah Sakit
Indikasi utama untuk perawatan di rumah sakit adalah untuk tujuan diagnostik, menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh dan perilaku yang sangat kacau atau tidak sesuai, termasuk ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian dan tempat berlindung. Tujuan utama perawatan di rumah sakit yang harus ditegakkan adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung masyarakat.1
Perawatan di rumah sakit menurunkan stress pada pasien dan membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya perawatan di rumah skit tergantung pada keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas pengobatan rawat jalan. Penelitian telah menunjukkan bahwa perawatan singkat di rumah sakit (empat sampai enam minggu) adalah sama efektifnya dengan perawatan jangka panjang di rumah sakit dan bahwa rumah sakit dengan pendekatan perilaku yang aktif adalah lebih efektif dari pada institusi yang biasanya dan komunitas terapeutik berorientasi tilikan.1
Rencana pengobatan di rumah sakit harus memiliki orientasi praktis ke arah masalah kehidupan, perawatan diri sendiri, kualitas hidup, pekerjaan, dan hubungan sosial. Perawatan dir rumah sakit hatus diarahkan unttuk mengikat pasien dengan fasilitas pascarawat, termasuk keluarganya1.

2. Terapi Biologi
Pemakaian terapi biologi yang menggunakan antipsikotik pada skizofrenia harus mengikuti lima prinsip utama yaitu:1
1) Klinisi harus secara cermat menentukan gejala sasaran yang akan diobati.
2) Suatu antipsikotik yang telah bekerja dengan baik di masa lalu pada pasien harus digunakan lagi. Jika tidak ada informasi tersebut, pemilihan antipsikotik biasanya didasarkan pada sifat efek samping. Data yang sekarang tersedia menyatakan bahwa risperidon, remoxipride, dan obat-obat yang mirip dengannya yang akan diperkenalkan di tahun-tahun mendatang mungkin menawarkan suatu sifat efek samping yang unggul dan kemungkinan kemanjuran yang unggul.
3) Lama minimal percobaan antipsikotik adalah empat sampai enam minggu pada dosis yang adekuat. Jika percobaan tidak berhasil, suatu antipsikotik, yang biasanya dari kelas lain, dapat dicoba. Tetapi, pengalaman yang tidak menyenangkan yang dirasakan pasien pada dosis pertama obat antipsikotik adalah berhubungan erat dengan respons buruk dan ketidakpatuhan di masa depan. Pengalaman negatif dapat termasuk perasaan negatif subjektif yang aneh, sedasi berlebihan, atau suatu reaksi distonik akut. Jika reaksi awal yang parah dan negatif ditemukan, klinisi dapat mempertimbangkan untuk mengganti obat menjadi obat antipsikotik yang berbeda dalam waktu kurang dari empat minggu.
4) Pada umumnya, penggunaan lebih dari satu medikasi antipsikotik pada satu waktu adalah jarang diindikasikan, walaupun beberapa dokter psikiatrik menggunakan thioridazine untuk mengobati insomnia pada pasien yang mendapatkan antipsikotik lain untuk pengobatan gejala skizofrenia. Pada pasien yang diikat pengobatan secara khusus, kombinasi antipsikotik dan obat lain sebagai contoh carbamazepine mungkin diindikasikan.
5) Pasien harus dipertahankan pada dosis efektif yang serendah mungkin yang diperlukan untuk mencapai pengendalian gejala selama episode psikotik.

Skizofrenia diobati dengan antipsikotika (AP). Obat ini dibagi dalam dua kelompok, berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu dopamine receptor antagonis (DRA) atau antipsikotika generasi 1 (APG-1) dan serotonin-dopamine antagonis (SDA) atau antipsikotika generasi II (APG-II).1

A. Antagonis Reseptor Dopamin
Antagonis reseptor dopamin efektif dalam penanganan skizofrenia, terutama terhadap gejala positif. Obat-obatan ini memiliki dua kekurangan utama. Pertama, hanya presentase kecil pasien yang cukup terbantu untuk dapat memulihkan fungsi mental normal secara bermakna. Kedua, antagonis reseptor dopamin dikaitkan dengan efek samping yang mengganggu dan serius. Efek yang paling sering mengganggu adalah akatisia adan gejala lir-parkinsonism berupa rigiditas dan tremor. Efek potensial serius mencakup diskinesia tarda dan sindrom neuroleptik maligna.1

B. Antagonis Serotonin-Dopamin (SDA)
SDA menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang minimal atau tidak ada, berinteraksi dengan subtipe reseptor dopamin yang berbeda di banding antipsikotik standar, dan mempengaruhi baik reseptor serotonin maupun glutamat. Obat ini juga menghasilkan efek samping neurologis dan endokrinologis yang lebih sedikit serta lebih efektif dalam menangani gejala negatif skizofrenia. Obat yang juga disebut sebagai obat antipsikotik atipikal ini tampaknya efektif untuk pasien skizofrenia dalam kisaran yang lebih luas dibanding agen antipsikotik antagonis reseptor dopamin yang tipikal. Golongan ini setidaknya sama efektifnya dengan haloperidol untuk gejala positif skizofrenia, secara unik efektif untuk gejala negatif, dan lebih sedikit, bila ada, menyebabkan gejala ekstrapiramidal. Beberapa SDA yang telah disetujui di antaranya adalah klozapin, risperidon, olanzapin, sertindol, kuetiapin, dan ziprasidon. Obat-obat ini tampaknya akan menggantikan antagonis reseptor dopamin, sebagai obat lini pertama untuk penanganan skizofrenia.1

Nama Obat
Haloperidol (Haldol) Digunakan untuk manajemen psikosis, saraf motorik dan suara pada anak dan orang dewasa. Mekanisme tidak secara jelas ditentukan, tetapi merupakan competively blocking postsynaptic dopamine (D2) reseptor dalam sistem mesolimbik dopaminergik, dengan meningkatnya pergantian dopamin untuk efek penenang. Dengan terapi subkronik, depolarisasi dan D2 postsinaptik dapat memblokir aksi antipsikotik.
Risperidone (Risperdal) Monoaminergik selektif mengikat reseptor D2 dopamin selama 20 menit, afinitasnya lebih rendah dibandingkan reseptor 5-HT2. Juga mengikat reseptor alfa1-adrenergik dengan afinitas lebih rendah dari H1-histaminergik dan reseptor alpha2-adrenergik. Memperbaiki gejala negatif pada psikosis dan menurunkan kejadian pada efek ekstrpiramidal.
Olanzapine (Zyprexa) Antipsikotik atipikal dengan profil farmakologis yang melintasi sistem reseptor (seperti serotonin, dopamin, kolinergik, muskarinik, alpha adrenergik, histamin). Efek antipsikotik berupa perlawanan terhadap dopamin dan reseptor serotonin tipe-2. Diindikasikan untuk pengobatan psikosis dan gangguan bipolar.
Clozapine (Clozaril) Memblokir aktifitas reseptor D2 dan D1, tetapi memiliki efek dalam menghambat nonadrenolitik, antikolinergik, antihistamin secara signifikan, tepatnya antiserotonin. Resiko terbatasnya penggunaan agranulositosis pada pasien nonresponsif atau agen neuroleptik klasik tidak ditoleransi.
Quetiapine (Seroquel) Antipsikotik terbaru untuk penyembuhan jangka panjang. Mampu melawan efek dopamine dan serotonin. Perbaikan lebih awal antipsikotik termasuk efek antikolinergik dan kurangnya distonia, parkinsonism, dan tardif diskinesia.
Aripiprazole (Abilify) Memperbaiki gejala positif dan negatif skizofrenia. Mekanisme kerjanya belum diketahui, tetapi hipotesisnya berbeda dari antipsikotik lainnya. Aripiprazole menimbulkan parsial dopamin (D2) dan serotonin (5HT1A) agonis, dan antagonis serotonin (5HT2A).



Nama Obat Sediaan Dosis Anjuran
Haloperidol (Haldol) Tab. 2 – 5 mg 5 – 15 mg/hari
Risperidone (Risperdal) Tab. 1 – 2 – 3 mg 2 – 6 mg/hari
Olanzapine (Zyprexa) Tab. 5 – 10 mg 10 – 20 mg/hari
Clozapine (Clozaril) Tab. 25 – 100 mg 25 – 100 mg/hari
Quetiapine (Seroquel) Tab. 25 – 100 mg
200 mg 50 – 400 mg/hari
Aripiprazole (Abilify) Tab. 10 – 15 mg 10– 15 mg/hari









3. Terapi Psikososial
A. Terapi Perilaku.
Rencana pengobatan untuk skizofrenia harus ditujukan pada kemampuan dan kekurangan pasien. Teknik perilaku menggunakan latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latuhan praktis dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah di dorong dengan pujian atau hadiah yang dapaat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan seperti hak istimewa dan pas jalan di rumah sakit. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladapatif atau menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat, dan postur tubuh yang aneh dapat diturunkan. 1
Latihan keterampilan perilaku (behavioral skills training) sering kali dinamakan terapi keterampilan sosial (social skills therapy), terlepas dari namanya, terapi dapat secara langsung membantu dan berguna bagi pasien dan merupakan tambahan alami bagi terapi farmakologis. Di samping gejala personal dari skizofrenia, beberapa gejala skizofrenia yang paling terlihat adalah menyangkut hubungan pasien dengan orang lain, termasuk kontak mata yang buruk, keterlambatan respons yang tidak lazim, ekspresi wajah yang aneh, tidak adanya spontanitas dalam situasi sosial, dan persepsi yang tidak akurat atau tidak adanya persepsi emosi terhadap orang lain. Perilaku tersebut secara spesifik dipusatkan di dalam latuhan keterampilan perilaku. Latihan keterampilan perilaku melihatkan penggunaan kaset video orang lain dan pasien, permainan simulasi (role playing) dalam terapi, dan pekerjaan rumah tentang keterampilan yang telah dilakukan. 1

B. Terapi berorientasi keluarga.
Berbagai terapi berorientasi keluarga cukup berguna dalam pengobatan skizofrenia. Karena pasien skizofrenia sering kali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluarga di mana pasien skizofrenia kembali sering kali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat tetapi intensif (setiap hari). Pusat dari terapi harus pada situasi segera dan harus termasuk mengidentifikasi dan menghindari situasi yang kemungkinan menimbulkan kesulitan. Jika masalah memang timbul pada pasien di dalam keluarga, pusat terapi harus pada pemecahan masalah secara cepat.

C. Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.1

D. Psikoterapi individual
Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien non-psikotik. Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.1


II.1.6 Prognosis
Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa selama periode 5 sampai 10 tahun setelah rawat inap psikiatrik yang pertama untuk skizofrenia, hanya sekitar 10 sampai 20% pasien yang dapat dideskripsikan memiliki hasil akhir yang baik. Lebih dari 50% pasien digambarkan memiliki hasil yang buruk dengan rawat inap berulang, eksaserbasi gejala, episode gangguan mood mayor, dan percobaan bunuh diri.1
Angka pemulihan yang dilaporkan berkisar dari 10 sampai 60%, dan taksiran yang masuk akal adalah bahwa 20 sampai 30% dari semua pasien skizofrenia mampu menjalani kehidupan yang kurang lebih normal. Sekitar 20 sampai 30% pasien terus mengalami gejala sedang, dan 40 sampa 60% pasien tetap mengalami hendaya secara signifikan akibat gangguan tersebut selama hidup mereka.1
Prognosis Baik Prognosis Buruk
Awitan lambat
Ada faktor presipitasi yang jelas
Awitan akut
Riwayat sosial, pekerjaan dan seksual pramorbid baik
Gejala gangguan mood
Menikah
Riwayat keluarga dengan gangguan mood
Sistem pendukung baik
Gejala positif Awitan muda
Tidak ada faktor presipitasi
Awitan insidius
Riwayat sosial, pekerjaan dan seksual pramorbid buruk
Perilaku autistik, menarik diri
Lajang, cerai, janda/duda
Riwayat keluarga dengan skizofrenia
Sistem pendukung buruk
Gejala negatif
Berulang kali relaps
Riwayat melakukan tindakan penyerangan
Tanda dan gejala neurologis
Tanpa remisi dalam 3 tahun

BAB III
PEMBAHASAN

III.1 SKIZOFRENIA RELAPS
Skizofrenia merupakan gangguan psikiatri yang menimbulkan disabilitas cukup luas, serta dicirikan oleh suatu siklus relaps dan remisi.2 Relaps dalam arti sempit dapat didefinisikan sebagai keadaan re-emergensi dari gejala psikotik yang berkaitan dengan gangguan dalam kehidupan dan fungsi sosial.5,8 Relaps juga dikategorikan menjadi dua tipe, yakni tipe I adalah muncul kembali gejala skizofren pada pasien yang sebelumnya sudah bebas dari gejala tersebut, dan tipe II adalah eksaserbasi dari gejala positif yang persisten.5
Insiden relaps pada pasien skizofrenia adalah tinggi, yaitu berkisar 60-75% setelah suatu episode psikotik jika tidak diterapi, dari 74% pasien yang relaps, 71% diantaranya memerlukan rehospitalisasi.2 Penelitian lain mendapatkan hasil bahwa prevalensi relaps pada pasien skizofrenia adalah 43,4%, dan studi di Afrika Selatan mendapatkan hasil 61,8%.9
Tidak ada kriteria umum yang dapat dianggap sebagai kriteria relaps. Relaps diartikan sebagai suatu keadaan dimana apabila seorang pasien skizofrenia yang telah menjalani rawat inap di rumah sakit jiwa dan diperbolehkan pulang kemudian kembali menunjukkan gejala-gejala sebelum dirawat inap.4 Setiap relaps yang terjadi berpotensi membahayakan bagi pasien dan keluarganya. Apabila relaps terjadi maka pasien harus kembali melakukan perawatan inap di rumah sakit jiwa (rehospitalisasi).4

III.1.1 Faktor Resiko Relaps
1. Faktor-Faktor Sehubungan dengan Pasien
Beberapa karakteristik demografi telah dihubungkan dengan kejadian relaps pada pasien skizofrenia. Penelitian Ratna dkk mendapatkan hasil bahwa sebagian besar pasien skizofrenia yang mengalami relaps adalah laki-laki (55,3%), berpendidikan menengah (53,2%), tidak bekerja (53,2%) dan belum menikah (70,2%).2 Hal ini sejalan dengan penelitian Zewdu dkk yang mendapatkan hasil bahwa sebagian besar pasien relaps adalah laki-laki (65%), tidak pernah menikah (64,5%), dan tidak bekerja (75%).9
Penelitian pun mengatakan bahwa faktor ketidakpatuhan minum obat merupakan faktor yang paling berpengaruh atau berhubungan dengan terjadinya relaps pada pasien skizofrenia.2,9,10 Risiko terjadinya relaps pada pasien yang tidak patuh minum obat sekitar 2,8 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang patuh minum obat.9 Penelitian lain menyebutkan bahwa 40% kejadian relaps pada pasien skizofrenia diakibatkan karena ketidakpatuhan minum obat.11
Beberapa alasan pasien menjadi tidak patuh dalam berobat antara lain adalah:
1) Efek samping obat
Sebagian besar pasien mengatakan alasan mereka tidak meminum obat secara teratur adalah karena efek samping obat yang timbul, yang dapat mengganggu kehidupan mereka.10,11

2) Lupa minum obat
Beberapa penelitian mendapatkan data bahwa alasan utama pasien tidak patuh berobat karena lupa untuk meminum obat. Penelitian lain mendapatkan hasil sekitar 7,8% pasien lupa untuk meminum obat.9

3) Merasa sudah sembuh
Alasan lain yang juga diungkapkan pasien tidak teratur minum obat adalah pasien sudah merasa sembuh. Hal ini didukung dengan fakta bahwa mereka sudah tidak mengalami gejala seperti sebelumnya, sehingga tidak meminum obat lagi.10

4) Kurangnya pengawasan
Beberapa pasien juga mengungkapkan bahwa kurangnya pengawasan yang mengingatkan mereka untuk meminum obat menjadi salah satu alasan ketidakpatuhan minum obat.10

5) Biaya
Beberapa pasien juga megeluhkan masalah biaya yang menjadi salah satu alasan ketidakpatuhan minum obat. Pasien mengatakan tidak mampu membeli obat, dan kadang jarak tempuh dan transportasi juga menjadi masalah.10

2. Faktor-Faktor Sehubungan dengan Pengobatan
Pasien yang tidak mengalami efek samping terhadap pengobatan kemungkinan lebih mau melanjutkan pengobatan. Robinson dkk melaporkan bahwa individu yang menghentikan pengobatan setelah episode pertama, meningkatkan risiko terjadinya relaps hingga 5 kali lipat, sehingga beberapa guidelines menyarankan pemberian antipsikosis jangka panjang secara kontinyu pada pasien skizofrenia.11 Namun penelitian lain mengatakan bahwa penghentian pengobatan antipsikosis direkomendasikan setelah episode pertama skizofrenia setelah 1-2 tahun, dan ada beberapa yang tidak merekomendasikan penghentian pengobatan.8

3. Faktor Lingkungan
Dukungan dan bantuan dari keluarga maupun lingkungan sekitar merupakan variabel penting dalam kepatuhan terhadap pengobatan. Pasien yang tinggal sendirian secara umum mempunyai angka kepatuhan yang rendah dan memiliki kesulitan dalam mengakses pusat layanan kesehatan dibandingkan mereka yang tinggal dalam lingkungan yang mendukung.10 Sebagai kemungkinan lain, sikap negatif dalam lingkungan sosial pasien terhadap pengobatan psikiatri atau terhadap pasien sendiri dapat mempengaruhi kepatuhan. Interaksi sosial yang penuh dengan stres dapat mengurangi kepatuhan yang biasanya terjadi bila pasien tinggal dengan orang lain. Sebagai contohnya adalah situasi emosional yang tinggi dan keluarga atau pihak lain yang tidak mau memperhatikan sikap positif pasien terhadap pengobatan.10,11
Berbagai macam stresor lingkungan juga berhubungan dengan relapsnya skizofrenia. Perhatian utama ditujukan bagi emosi yang diekspresikan (expressed emotion) dan risiko terjadinya relaps pada skizofrenia.11 Sebagai salah satu faktor, apa yang dimaksud dengan expressed emotion dalam hal ini, berupa kebiasaan mempertontonkan kritikan atau emosi yang berlebihan oleh keluarga atau orang yang mengawasi pasien.11 Pasien-pasien skizofrenia yang tinggal dalam lingkungan keluarga dengan expressed emotion yang kuat (highly expressed emotion) atau gaya afektif negatif secara signifikan lebih sering mengalami relaps dibandingkan dengan yang tinggal dalam lingkungan keluarga dengan expressed emotion yang rendah (low expressed emotion), atau gaya afektif yang normal.11 Studi-studi keluarga (family studies) menunjukkan bahwa pasien skizofrenik yang kembali ke lingkungan rumah dimana sering terjadi keadaan kritis, kekerasan atau emosi yang diekspresikan cenderung akan meningkatkan relaps.

4. Faktor-Faktor Sehubungan Dengan Dokter
Banyak faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya relaps pada pasien skizofrenia. Salah satu faktor terbanyak adalah penghentian pengobatan oleh klinisi.8 Alasan beberapa klinisi mempertimbangkan untuk melakukan penghentian pengobatan, berdasarkan 3 pertimbangan utama, yakni:
A. Adanya anggapan bahwa sebagian besar pasien (10-20%) tidak pernah mengalami kekambuhan setelah episode psikotik pertama dan karenanya tidak membutuhkan terapi pemeliharaan8
B. Terdapat efek samping dari obat antipsikotik yang cukup mengganggu pasien. Sebelum tersedianya antipsikotik generasi kedua, para klinisi prihatin pada risiko gangguan motorik (tardive dyskinesia). Akan tetapi setelah adanya antipsikotik generasi kedua yang memiliki efek gangguan motorik rendah, obat ini memiliki efek peningkatan BB, gangguan metabolik dan juga masih memiliki risiko TD.8
C. Klinisi mungkin memiliki kesulitan dalam meyakinkan pasien bahwa pengobatan terbatas diindikasikan setelah episode psikosis pertama, terutama mereka yang telah merespon baik terhadap terapi.8
Kejadian relaps sekitar 80% pada 12 bulan setelah penghentian obat, namun beberapa penelitian lain melaporkan bahwa sekitar 95% terjadinya relaps pada 24 bulan setelah penghentian pengobatan.8

III.1.2 Faktor Protektif dari Relaps
1. Dukungan Keluarga dan Teman
Keluarga merupakan faktor penting yang mempengaruhi kesehatan jiwa pasien. Jenis dukungan yang berikan kepada pasien adalah mengenai pengambilan obat-obatan, pengawasan, memantau asupan obat dan menemani pasien untuk pergi ke pelayanan kesehatan jiwa secara teratur, serta kebutuhan dasar kehidupan lainnya seperti pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan secara umum. Membantu keluarga untuk mempertahankan dan meningkatkan mendukung jaringan sosial merupakan hal yang berguna untuk mengurangi beban keluarga skizofrenia. Dukungan anggota keluarga merupakan elemen utama yang penting berkaitan dengan kesembuhan pasien. Dukungan keluarga cenderung mengurangi beban yang mengasuh pasien dalam merawat pasien dengan skizofrenia.10
2. Kepatuhan Minum Obat
Kepatuhan obat antipsikotik menjadi pelindung yang kuat dari kekambuhan. Ditemukan bahwa risiko kambuh secara substansial lebih rendah ketika pasien sedang mengikuti dengan terapi antipsikotik yang benar. Perbaikan gejala yang diakui oleh sebagian besar pasien sizofrenia telah menyebabkan peningkatan dalam sikap mereka terhadap obat-obatan. Selain itu, sikap subjektif pasien terhadap obat dikaitkan dengan kepatuhan pengobatan yang dipengaruhi oleh pemilihan jenis obat antipsikotik. Beberapa pasien melaporkan efek samping obat antipsikotik yang lebih sedikit efek dari yang lain, seperti obat antipsikotik yang atipikal lebih membuat pasien banyak yang patuh serta melanjutkan pengobatannya dibandingkan pemberian antipsikotik tipikal yang banyak memiliki efek samping yang menganggu aktivitas pasien.10

3. Agama
Agama menciptakan rasa memiliki dan memungkinkan pasien untuk menghadapi situasi sulit dan memberi mereka kekuatan untuk melanjutkan kehidupan dengan baik meskipun kondisi ada masalah pada kondisi kejiwaan mereka. Ada beberapa literatur menunjukkan bahwa agama dan spiritualitas dapat memberikan efek positif pasien dengan skizofrenia. Agama mendorong perbaikan bahkan bila gejala terus berlangsung, pasien dengan gangguan jiwa ini dapat dibantu untuk mencapai memuaskan, bermakna dan kehidupan tujuan. Dampak positif dari spiritualitas terhadap tingkat kepatuhan pengobatan dijelaskan oleh peningkatan kualitas hidup, dukungan sosial yang lebih baik, dan representasi yang lebih positif mengenai penyakitnya. Agama mempengaruhi diri dan dapat meningkatkan pemulihan dengan menanamkan harapan, tujuan, dan hal yang berarti dalam hidup yang dapat mempengaruhi kepatuhan terhadap pengobatan.10
4. Pekerjaan
Pada beberapa penelitian menemukan bahwa ketika pasien memiliki pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, mereka menjadi mandiri. Hal ini akan meningkatkan mereka harga diri dan membantu mereka merasa bahwa mereka dapat berkontribusi untuk keluarga atau masyarakat. Pentingnya memiliki pekerjaan telah dicerminkan dalam kebutuhan pasien untuk mencapai tujuan pribadi, harapan, dan aspirasi, dan sebagai komponen penting dari kesejahteraan. Hal ini diyakini dapat meningkatkan harga diri dan manajemen yang lebih baik serta pengurangan gejala termasuk gejala negatif, positif, dan depresi.10
Selain itu, memiliki pekerjaan cenderung untuk membuat pasien sibuk, sehingga pasien mencenderung tidak memikirkan penyakit jiwa mereka. Pekerjaan telah berulang kali terbukti memiliki peran penting dalam pemulihan pasien dari penyakit mental yang berat, khususnya skizofrenia. Pekerjaan tidak hanya menyediakan pendapatan, tetapi juga meningkatkan kegiatan dan interaksi sosial bagi penderita skizofrenia. Hal ini akan membuat keuntungan secara finansial, memberikan strategi mengatasi untuk gejala kejiwaan, dan akhirnya memfasilitasi proses pemulihan dari penyakit jiwa.10

5. Layanan Kesehatan Jiwa
Sebagian besar pasien dan keluarga banyak mengatakan bahawa pelayanan kesehatan jiwa telah banyak membantu, baik dari edukasi mengenai kesehatan jiwa dan pemberian obat-obatan. Mereka mengakui bahwa, jika layanan tersebut tidak tersedia kondisi pasien tidak akan mengalami perbaikan.10

6. Hubungan Terapetik Antara Pasien dan Care provider
Hubungan terapeutik yang dimaksud adalah bagaimana pasien bereaksi terhadap intervensi yang ditawarkan oleh psikater atau perawat. Hubungan ini mengacu pada kedekatan emosional antara dua individu dalam terapi. Hubungan telah terbukti memainkan penting peran dalam pengembangan kepercayaan. Ketika pasien menerima pelayanan yang baik, maka akan tumbuh rasa kepercayaan, rasa memiliki dan hubungan yang baik yang menjadi motivasi positif untuk pengobatan terutama dalam hal kepatuhan minum obat. Individu dengan penyakit jiwa sering mengalami periode keputusasaan yang berkaitan dengan gejala kejiwaan atau psikososial. Kehadiran seseorang care provider yang dapat memberikan harapan dan empati sehingga dapat membantu melalui masa-masa sulit. Beberapa penelitian menyarankan bahwa psikiater atau perawat kesehatan jiwa harus mendedikasikan waktu mereka untuk mendengarkan masalah mereka sehingga dapat meningkatkan kondisi pasien.10

7. Community Home Visit
Kunjungan rutin ke masyarakat dilakukan untuk memberikan psikoedukasi untuk manajemen pasien, kepatuhan dan efek samping obat. Program psikoedukasi dilakukan untuk mendidik keluarga tentang mengenai penyakit keluarga mereka dan kebutuhan untuk perawatan medis berkelanjutan. Kunjungan ke masyarakat telah terbukti membantu pasien mengatasi gejala dengan relaksasi, membantu pasien minum obat teratur, meningkatkan kemampuan perawatan diri pasien dan meningkatkan interaksi antara pasien dan keluarga. Psikoedukasi adalah edukasi yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan pemahaman mengenai penyakit dan pengobatan mereka. Peningkatan pengetahuan ini memungkinkan pasien dengan skizofrenia dapat lebih efektif untuk mengatasi penyakit mereka. Pasien yang memahami penyakit mereka, obat-obatan, dan harapan pengobatan secara konsisten menunjukkan kepatuhan yang lebih baik. Selain itu pentingnya edukasi kepada keluaga dengan individu yang memiliki gangguan jiwa mengenai pada faktor-faktor risiko penyakit jiwa sehingga dapat melindungi mereka yang belum menimbulkan gejala. Program psikoedukasi bagi pasien dan keluarga yang bertujuan mengatasi skizofrenia ini telah terbukti meningkatkan kepatuhan, mengurangi kejadian pelecehan, mengurangi kekambuhan, dan memperpendek perawatan di rumah sakit.10

III.1.3 Hubungan Relaps Dengan Prognosis
Bukti penelitian mengatakan bahwa durasi psikosis yang tidak diterapi dalam jangka waktu yang lama berhubungan dengan keluaran jangka panjang yang buruk.8 Literatur mengungkapkan beberapa hal, yakni:
A. Respon pengobatan lebih baik pada episode awal skizofrenia dibandingkan episode kronik skizofrenia yang berulang
B. Sekitar 80% pasien skizofrenia mengalami perburukan dari waktu ke waktu dan derajat perburukan ini berhubungan secara signifikan dengan jumlah relaps yang dialami pasien.8
Pasien-pasien yang akan mengalami relaps, saat menghentikan pengobatan antipsikotik secara perlahan akan kembali ke kondisi sebelumnya, dan belum begitu jelas apakah semua pasien akan mengalami hal yang sama, pada kenyataannya, akan kembali ke fungsi sebelum mereka menghentikan obat.8 Hal ini didukung dengan adanya hipotesis dopamin dan glutamat yang mendasari neurobiologi relaps pada pasien skizofrenia.8 Relaps berhubungan dengan hiperfungsi dari dopamin, ditandai dengan peningkatan sintesis dopamin presinaps, sehingga ketika pengobatan dihentikan, akan muncul kembali keadaan hiper-dopaminergik dan secara cepat akan muncul kembali gejala seperti sebelumnya.8



BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1. Kesimpulan
1. Penatalaksanan skizofrenia tidak hanya terfokus pada terapi obat-obatan tetapi juga terfokus pada terapi psikososial.
2. Skizofrenia diobati dengan antipsikotika generasi 1 (APG-1) dan antipsikotika generasi II (APG-II). Obat APG-I disebut juga antipsikotika konvensional atau tipikal sedangkan APG-II disebut juga antipsikotika baru atau atipikal.
3. Sebagian besar pasien skizofrenia mendapatkan manfaat dari pemakaian kombinasi pengobatan antipsikotik dan psikososial.
4. Beberapa terapi psikososial yang dapat dilakukan adalah terapi perilaku, terapi berorientasi keluarga, terapi kelompok.
5. Terapi psikososial mempengaruhi proses perbaikan dan peningkatan kualitas hidup pasien skizofrenia.
6. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya relaps pada pasien skizofrenia, diantaranya adalah faktor pasien, pengobatan, lingkungan dan dokter.

IV.2 Saran
Perlu adanya integrasi antara terapi biologis atau terapi obat-obatan dengan terapi psikososial secara cermat demi perbaikan, peningkatan kualitas hidup dan pencegahan relaps pada pasien skizofrenia.







DAFTAR PUSTAKA

1. Sadock, Benjamin J. Sadock, Virginia A. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2. 2010. Jakarta:EGC. P.147-168.
2. Dewi, Ratna. Marchira, Carla R. Riwayat Gangguan Jiwa pada Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di RSUP DR Sardjito Yogyakarta. Berita Kedokteran Masyarakat. 2009;25(4):176-9.
3. Frankenburg, Frances R. Dunayevich, Eduardo. Dkk. Schizophrenia. Emedicine Medscape. 2014.
4. Amelia, Diny R. Anwar, Zainul. Relaps pada Pasien Skizofrenia. JIPT. 2013;01(01):52-64.
5. Christy, Hui. Relapse in Schizophrenia. Medical Bulletin Hongkong. 2011;16(05):8-9.
6. Jarut Y M, Fatimawali, Weny I. 2013. Tinjauan penggunaan antipsikotik pada pengobatan skizofrenia di rumah sakit Prof. Dr. V.L Ratumbulysang Manado Periode Januari 2013 – Maret. 2013. Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi-Unsrat. 2(3);2302-2493.
7. Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III. 2003. Jakarta:Bagian Ilmu Kedoteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. P.46-57.
8. Emsley, Robin. Chiliza, Boginkosi. Asmal, Laila. Harvey, Brian H. The Nature of Relaps in Schizophrenia. BMC Psychiatry. 2013;13(50):1-8.
9. Weret, Zewdu S. Mukherjee, Roan. Prevalence of Relapse and Associated Factors in Patient with Schizophrenia at Amanuel Mental Specialized Hospital, Addis Ababa, Ethiopia: Institution Based Cross Sectional Study. IJIMS. 2014;2(1):184-192.
10. Sariah, Adellah E. Outwater, Anne H. Malima, Khadija IY. Risk and protective factors for relapse among Individuals with Schizophrenia: A Qualitative Study in Dar es Salaam, Tanzania. BMC Pshychiatry. 2014;14(240):1-12.
11. Rao, Sutajha. Management of Relapse in Schizophrenia. SFP;39(1):22-25.
REFERAT

FAKTOR RISIKO RELAPS PADA SKIZOFRENIA








Oleh :
Siti Zhahara, S. Ked
H1AP10006


Pembimbing :
dr. Andri Sudjatmoko, Sp.KJ



KEPANITERAAN KLINIK PSIKIATRI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FKIK UNIB-RSKJ SOEPRAPTO
BENGKULU
2015
PERNYATAAN PERSETUJUAN REFERAT

FAKTOR RISIKO RELAPS PADA SKIZOFRENIA


Disusun Oleh :
Siti Zhahara
H1AP10006



Disetujui Oleh :




Pembimbing




dr. Andri Sudjatmoko, Sp.KJ
NIP. 1959042219880311001







DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………..... i
HALAMAN PERNYATAAN .................................................................. ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………….. iii
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang ...........………………………………………….. 1
I.2 Batas Masalah ……………………………………….................. 2
I.3 Tujuan .................……………………………………………….. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Definisi .………………………………………....…..................... 3
II.2 Etiologi .......................................................................................... 3
II.3 Diagnosis ....................................................................................... 6
II.4 Klasifikasi........................................................................................ 8
II.5 Penatalaksanaan.............................................................................. 14
II.6 Prognosis......................................................................................... 23
BAB III PEMBAHASAN
III.1 Faktor Risiko Relaps………………………………....…............... 24
III.2 Faktor Protektif Relaps.................................................................... 28
III.3 Hubungan Realps dengan Prognosis............................................... 32
BAB IV PENUTUP
IV.1 Kesimpulan ................................................................................... 33
IV.2 Saran ............................................................................................. 33
DAFTAR PUSTAKA .…………………………………………………. 24

Siti Zhahara

Posts : 10
Reputation : 0
Join date : 2015-05-23

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum