F65.0 Fetishisme

View previous topic View next topic Go down

F65.0 Fetishisme

Post by Siti Zhahara on Wed May 27, 2015 4:44 pm

BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. WA
Usia : 36 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Anak ke : 5 dari 9 bersaudara
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Suku : Serawai
Status : Belum Menikah
Pekerjaan : Buruh Pabrik
Alamat : Jl. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Kota Bengkulu
No RM : xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Tanggal Pemeriksaan : 05/5/2015 pukul 11.00 WIB

II. IDENTITAS KAKAK KANDUNG PASIEN
Nama : Tn. R
Usia : 40 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Anak ke : 4 dari 9 bersaudara
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Suku : Serawai
Status : Menikah
Pekerjaan : Supir
Alamat : Jl. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Bengkulu

III. Riwayat Psikiatri
Riwayat psikiatri diperoleh dari heteroanamnesis dengan Tn. R (kakak kandung pasien) dan autoanamnesis, yang dilakukan di ruang visum ruang Rajawali I. Kebenaran anamnesis dapat dipercaya.

A. Keluhan Utama
Os datang diantar oleh keluarga dan polisi karena mencuri pakaian dalam wanita.

B. Riwayat Gangguan Sekarang
AUTOANAMNESIS
Pasien seorang laki-laki berusia 36 tahun, merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara dan belum menikah. Pekerjaan pasien sebagai buruh pabrik, namun sekarang pasien sudah tidak bekerja. Pasien berpenampilan cukup rapih, saat ditanya pasien sadar sepenuhnya dan tahu bahwa dirinya berada di Rumah Sakit Jiwa.
Pasien datang ke RSKJ diantar oleh polisi dan keluarganya karena satu hari SMRS pasien ditahan di kantor polisi atas tuduhan mencuri pakaian dalam wanita. Satu hari SMRS, pasien mengatakan bahwa sekitar pukul 04.00 WIB (subuh hari), pasien masuk ke kontrakkan Nn F yang berada tepat di depan kontrakkan pasien. Pasien mengaku kenal dengan Nn F karena Nn F adalah tetangganya sendiri. Pasien menyangkal jika memiliki rasa/naksir terhadap Nn F. Pasien mengatakan bahwa didalam dirinya terdapat dorongan atau keinginan untuk mengambil pakaian dalam Nn F. Pasien tidak mengetahui alasan dirinya mengambil pakaian dalam tersebut. Pasien menyangkal jika adanya bisikan-bisikan atau pikiran-pikiran dari luar yang mempengaruhi nya untuk mengambil pakaian dalam tersebut. Pasien juga menyangkal adanya keinginan untuk menyetubuhi Nn F. Pasien masuk ke kontrakkan Nn F dengan cara mengangkat jendela ke atas sambil ditarik keluar. Lalu pasien melangkah masuk ke dalam kontrakkan. Akan tetapi, karena jendela tersebut cukup sempit, pasien hanya bisa memasukkan satu kaki saja. Pasien mengatakan bahwa ada celana dalam Nn F tergeletak di lantai, dan pasien mengambil celana dalam tersebut, lalu tiba-tiba Nn F terbangun dan berteriak kemudian pasien langsung berlari keluar dari kamar. Pasien berlari pulang ke kontrakkannya, namun saat berlari, tangan pasien sempat tergores kawat-kawat yang ada di sana. Siang harinya pasien mendatangi rumah paman pasien yang tidak jauh disana untuk bertandang, namun paman pasien sudah mendapatkan laporan dari warga dan polisi mengenai kejadian yang telah pasien lakukan. Pasien pun mengaku, lalu di bawa oleh polisi dan pamannya ke kantor polisi, dan pasien sempat ditahan di kantor polisi selama satu malam. Pasien mengatakan bahwa baru pertama kali melakukan tindakan masuk ke rumah orang lain tanpa izin.  
Pasien mengaku bahwa telah melakukan tindakan pencurian pakaian dalam wanita sejak 3 bulan yang lalu. Awalnya pasien hanya merasa iseng untuk mengambil pakaian dalam tersebut, namun lama kelamaan menjadi semakin sering. Pasien mengataan bahwa pasien hanya mengambil pakaian dalam yang sedang dijemur. Pasien mengatakan dapat mengambil pakaian dalam tersebut hingga 3 kali dalam seminggu. Pakaian dalam yang diambil, sebagian besar milik tetangga di sekitar lingkungan tempat tinggal pasien dan sisanya milik mantan dan juga pacar pasien. Pasien mengaku bahwa pakaian dalam tersebut sering pasien letakkan di tempat tidur pasien dan kadang dipeluk atau di sentuhkan ke tubuh pasien. Pasien mengaku bahwa dengan begitu pasien dapat membayangkan dan berfantasi sedang melakukan hubungan intim dengan pacarnya, dan pasien mengatakan puas dengan melakukan hal tersebut. Pasien mengaku sering melakukan hal tersebut pada malam hari sebelum tidur. Namun pasien menyangkal melakukan hal tersebut setiap malam dan menyangkal jika memakai pakaian dalam tersebut.
Pasien mengatakan bahwa selama ini memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan tetangganya. Pasien tidak pernah menganggu orang lain, marah-marah, mengamuk, keluyuran atau melukai orang lain. Pasien juga merasa bahwa keluarga dan tetangganya baik pada dirinya. Pasien mengaku tidak mengalami kesulitan untuk tidur, makan, mandi maupun melakukan aktivitas sehari-hari. Pasien juga mengatakan belum pernah ke RSKJ ataupun ke RS lain untuk alasan apapun.
Pasien mengatakan bahwa karena kejadian ini, pasien merasa menyesal dan tidak ingin mengulanginya lagi. Pasien merasa sedih dan malu karena telah mengecewakan keluarganya, khususnya paman pasien karena sejak kecil pasien sering tinggal dan sampai saat ini pasien juga sering bekerja bersama paman. Pasien mengatakan ingin berobat agar dirinya tidak melakukan hal-hal tersebut lagi dan ingin kembali bekerja untuk mencari uang.
HETEROANAMNESIS
Diperoleh dari kakak kandung pasien, Tn. R, berusia 40 tahun, bekerja sebagai supir, yang tinggal serumah dengan pasien dari pasien lahir hingga pasien pindah dan keluar dari rumah (tahun 2012). Tn. R mengatakan bahwa dirinya mengetahui pasien tersangkut masalah pencurian dan tindakan percobaan pemerkosaan dari paman nya yang tinggal tidak jauh dari kontrakkan pasien. Menurut cerita dari paman pasien, kejadian tersebut berlangsung pada subuh hari. Saat itu pasien berniat ingin mengambil pakaian dalam Nn F yang merupakan tetangga depan kontrakkan pasien. Sebelum masuk ke kontrakkan Nn F, pasien melepaskan semua pakaiannya diteras depan kontrakkan Nn F. Setelah itu, dalam kondisi tanpa busana atau telanjang, pasien masuk ke kontrakkan Nn F dengan cara merusak jendela, lalu masuk kedalam dan mencari celana dalam pasien. Setelah mendapatkan celana dalam tersebut, pasien lalu mengibaskan celana dalam tersebut ke wajah Nn F. Nn F tiba-tiba terbangun dan berteriak minta tolong, lalu os langsung berlari keluar. Setelah berlari, pasien baru teringat bahwa dirinya dalam kondisi tanpa busana dan berlari kembali ke teras kontrakkan Nn F untuk mengambil pakaiannya. Saat kembali ke kontrakkan Nn F, pasien terkejut melihat warga sudah berkumpul disana dan warga pun mengenali muka pasien dan melakukan pengejaran. Pasien lalu berlari dan bersembunyi di semak-semak sekitar kontrakkannya dan warga tidak menemukannya. Warga kemudian melaporkan kejadian ini kepada polisi dan memberitahu paman pasien yang tinggal tidak jauh dari kontrakkan pasien. Kemudian, polisi bersama dengan paman pasien dan juga warga mencoba kembali mencari pasien, namun tidak menemukannya. Pada siang  harinya sekitar pukul 10.00 WIB, paman pasien ingin mencoba mencari pasien lagi. Namun, saat paman pasien membuka garasi untuk mengeluarkan motornya, paman pasien melihat bahwa pasien bersembunyi dibalik garasinya. Kemudian paman pasien membawa pasien ke dalam rumah dan bertanya mengenai kejadian yang pasien lakukan. Menurut paman pasien, pasien mengakui bahwa ia memang melakukan hal tersebut karena alasan iseng dan pasien tidak memiliki niat ingin menyetubuhi Nn F. Pasien lalu dibawa oleh pamannya ke kantor polisi.
Kakak pasien mengatakan bahwa seluruh keluarga terkejut mengenai kabar tersebut karena selama ini pasien tidak pernah menunjukkan kondisi ataupun tingkah laku yang aneh. Kakak pasien mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui alasan yang pasti mengenai tindakan yang dilakukan pasien, karena saat kakak pasien bertanya pada pasien, pasien hanya berkata iseng dan kemudian diam. Kakak dan keluarga pasien juga tidak mengetahui bahwa kegiatan pasien mencuri pakaian dalam wanita sudah dilakukan sejak 3 bulan terakhir. Kakak pasien mengatakan bahwa saat kontrakkan pasien dibuka, tampak pakaian dalam yang selama ini dicuri oleh pasien di letakkan rapi di dalam lemari, sebagian lagi di pakaikan ke boneka dan juga di letakkan di atas motor dan kasur pasien. Kakak pasien juga mengatakan bahwa tidak tampak perbedaan sikap dan sifat pasien belakangan ini, sehingga keluarga tidak menyangka bahwa pasien melakukan tindakan tersebut.
Riwayat marah-marah, mengamuk, mengganggu orang lain, berburuk sangaka kepada orang lain maupun melukai orang lain disangkal oleh kakak pasien. Menurut kakak pasien, pasien memang pribadi pendiam, namun tak pernah tampak jika pasien berbicara, mengoceh atau keluyuran sendiri.  Kakak pasien juga mengatakan bahwa pasien dapat melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, makan ataupun bekerja seperti biasa dan mandiri. Kakak pasien pun mengatakan bahwa sudah sekitar 3 tahun pasien mulai pindah keluar dari rumah karena pasien ingin mandiri. Riwayat mendengar bisikan-bisikan ataupun melihat bayangan-bayangan tidak diketahui oleh kakak pasien.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien belum pernah ada gangguan psikiatri sebelumnya, pasien belum pernah berobat ke rumah sakit jiwa maupun ke psikiater.

2. Riwayat Gangguan Medik
- Pasien tidak ada riwayat gangguan medis, dan pasien belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.
- Tidak ada riwayat hipertensi dan tidak ada riwayat diabetes mellitus.

3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif/Alkohol
Riwayat mengkonsumsi alkohol dan narkoba disangkal.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi
a. Riwayat pranatal
Pasien lahir cukup bulan dengan persalinan normal ditolong bidan dirumah. Selama kehamilan dan kelahiran tidak ada masalah, ibu pasien tidak pernah mengontrol kehamilannnya.



b. Riwayat masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi dan balita normal. Pasien minum ASI sejak 0 bulan sampai usia 1 tahun, setelahnya tidak minum ASI ataupun susu formula. Saat bayi hingga balita pasien diasuh oleh ibu pasien.

c. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini normal dan sama seperti anak-anak lainnya. Pasien menempuh pendidikan SD, dan selama sekolah pasien mengaku tidak mampu belajar dengan baik sehingga sempat tidak naik kelas. Namun, akhirnya pasien bisa menyelesaikan pendidikan SD nya. Pasien merupakan anak yang pendiam, tidak banyak berbicara, jarang bermain keluar rumah, sehingga tidak memilik banyak teman.

d. Riwayat masa remaja
Pasien melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, akan tetapi selama sekolah pasien mengaku tidak mampu belajar, sehingga sering ketinggalan dibandingkan teman-temannya. Akhirnya pasien berhenti sekolah. Pasien saat remaja tetap berkembang menjadi laki-laki yang pendiam dan sering merasa minder karena pasien merasa dirinya bodoh sehingga pasien tidak bergaul dan tidak memiliki banyak teman.

e. Riwayat dewasa muda
Setelah berhenti dari sekolah, pasien bekerja serabutan untuk mendapatkan uang. Pasien pernah bekerja sebagai kuli bangunan, petani, maupun membantu pekerjaan sanak saudaranya. Pasien juga mengaku kadang ikut membantu orangtuanya membersihkan rumahnya. Pasien mulai bergaul dan mulai memiliki beberapa teman, namun pasien tetap menjadi orang yang pendiam dan lebih suka menyendiri dalam melakukan kegiatan apapun.
f. Riwayat pendidikan
Pasien hanya bisa menyelesaikan pendidikan SD, dan berhenti sekolah saat pendidikan SMP.

g. Riwayat pekerjaan
Pasien tidak memiliki pekerjaan yang tetap, sehingga pasien juga tidak mempunyai penghasian tetap. Sekitar 1 tahun terakhir, pasien mengaku bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Kota Bengkulu dan memiliki penghasilan yang cukup. Namun, pasien mengatakan bahwa sekarang pasien sudah berhenti bekerja.

h. Riwayat pernikahan
Pasien mengaku belum pernah menikah dan belum ingin menikah dengan alasan belum memiliki penghasilan yang cukup.

i. Riwayat kehidupan beragama
Pasien beragama Islam dan mengaku beribadah kurang, pasien jarang melaksanakan sholat.

j. Riwayat Psikoseksual
Pasien mengaku pernah pacaran sebanyak 3 kali. Pacar pertama saat umur pasien sekitar 17 tahun, bernama Nn. D. Pasien mengaku bahwa kenal dengan pacarnya tersebut karena tinggal di satu daerah/desa yang sama. Pasien mengaku senang dengan pacar pertamanya karena pacarnya cantik. Pasien menyangkal adanya kontak fisik dengan pacar pertamanya. Pasien putus karena pasien pindah ke Kota. Pasien merasa tidak kecewa hubungannya berakhir.
Pacar kedua pasien sekitar 7 tahun yang lalu, bernama Nn. W. Pasien berkenalan melalui radio, kemudian bertemu dan menjalin hubungan. Pacar kedua pasien masih bersekolah di SMEA. Pasien menjalin hubungan selama 2 tahun hingga pacarnya tamat sekolah. Selama pacaran, pasien sering memberi uang jajan dan meminjamkan motor pasien untuk pacarnya. Selama pacaran, pasien mengaku melakukan kontak fisik dengan pacarnya hanya sebatas pegangan tangan, tidak pernah melakukan tindakan lebih jauh. Os megaku telah bertunangan dengan pacar keduanya, dan kedua orangtua mereka telah menyetujui hubungan mereka. Namun, hubungan pasien berakhir saat pasien pergi keluar kota sekitar 1 tahun untuk bekerja dan saat kembali ke kota, pasien mengetahui dan mendapati bahwa pacarnya telah menikah dengan orang lain. Pasien tampak sangat kecewa terhadap pacar keduanya, akan tetapi pasien tidak trauma ataupun takut menjalin hubungan kembali.
Pacar ketiga pasien bernama Nn. S dan pasien mengaku sampai sekarang masih berhubungan dengan pacar ketiganya. Pasien berkenalan dengan pacar ketiganya di sebuah toko karena dia bekerja di toko itu. Pasien mengatakan bahwa pacar ketiganya cantik dan baik, dan pasien serius menjalani hubungan dengan pacarnya. Pasien mengaku kontak fisik dengan pacarnya hanya sebatas pegangan tangan, dan tidak pernah melakukan yang lebih jauh. Menurut pasien, pacarnya mengetahui bahwa dirinya sedang berada di RSJ. Pasien mengaku pernah bercerita kepada pacarnya bahwa pasien menggunakan kain pemberian pacarnya tersebut sebagai teman tidurnya untuk melepas rindu dan berfantasi bahwa pasien sedang melakukan hubungan seksual dengan pacarnya. Pasien mengatakan bahwa pacarnya hanya tertawa mendengar cerita pasien dan tidak marah. Pasien mengaku bahwa hubungannya masih berlangsung dengan baik.

k. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan terlibat dalam masalah hukum.


l. Aktivitas sosial
Pasien jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan tetangga. Pasien jarang keluar rumah, pasien tidak pernah mengobrol dan bercengkrama dengan tetangga. Jika ada sesuatu hal atau masalah, pasien hanya memendam dan menyimpannya sendiri. Namun setelah dinasehati dan ditegur oleh pamannya, pasien mulai bersosialisasi dengan tetangga. Pasien dikenal sebagai orang yang pendiam, tidak banyak ulah, baik dan gemar membantu tetangga serta sanak saudara. Pasien sering meminjamkan uang dengan tetangga dan keluarga, pasien juga membayarkan kredit motor adiknya, akan tetapi pasien tidak pernah mengeluh, marah ataupun menagih uang yang dipinjamkannya.
Pasien juga mengatakan bahwa tidak ada keluarga maupun tetangganya yang berniat jahat pada dirinya.

E. Riwayat Keluarga
Di keluarga pasien, adik pasien memiliki riwayat dirawat di RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu karena alasan sering berbicara sendiri dan marah-marah. Adik pasien sekarang tinggal di rumahnya bersama dengan suami dan teratur berobat jalan di Poli RSKJ Soeprapto hingga sekarang. Pasien merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara. Pasien memiliki 1 adik perempuan dan 3 orang adik laki-laki. Kakak dan adik pasien sudah menikah dan tinggal dirumah yang terpisah dengan pasien. Ayah dan ibu pasien tinggal dirumah lama dan hubungan pasien dengan keluarganya cukup baik.





Genogram










Keterangan :

 Pasien

 Laki- laki

 Perempuan

 Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien

 Menikah

 Gangguan Jiwa

 Meninggal Dunia
           



                   
F. Situasi Kehidupan Sekarang
Selama 3 tahun terakhir pasien mengaku sudah tidak tinggal serumah dengan orangtuanya. Pasien mengontrak di bedengan di belakang Perumdam di dekat rumah pamannya. Pasien mengaku alasan pasien keluar rumah karena pasien ingin belajar hidup mandiri. Sebelumnya pasien tinggal berdelapan dengan ayah, ibu, kakak, ipar, adik dan keponakan-keponakannya. Lingkungan tempat tinggal pasien sekarang terkesan baik, pasien tinggal di daerah perumnas yang saling berdekatan rumahnya dengan tetangga, dan hubungan pasien dengan tetangga pasien baik. Bedengan pasien terdiri dari 1 ruangan berukuran 7x6m2 yang berfungsi sebagai kamar dan dapur serta 1 kamar mandi. Rumah Sakit Umum berada kira-kira 4 kilometer dari kontrakkan pasien. Setiap hari pasien melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci, menyapu, memasak dan membersihkan rumah. Saat ini kontrakkan pasien dalam keadaan kosong. Dalam biaya pengobatan pasien masih umum dan belum menggunakan BPJS. Semua pengurusan biaya pasien di urus oleh paman dan kakak pasien. Keluarga pasien mendukung untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan jika diperlukan agar pasien bisa sadar dan kembali seperti beraktivitas seperti biasa.
Saat ini pasien dirawat di ruang visum di Rajawali II RSKJ Provinsi Bengkulu sejak 7 hari yang lalu. Pasien mengatakan bahwa keluarga pasien sesekali datang untuk melihat pasien dan membawakan makanan dan pakaian bersih untuk pasien. Pasien merasa tidak tahan di rawat karena merasa kesepian dan tidak nyaman seperti dikontrakkannya. Pasien ingin segera pulang agar bisa kembali bekerja seperti sebelumnya.

G. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya dan Lingkungannya
Pasien sadar bahwa dirinya sakit dan banyak melakukan kesalahan dan perlu pengobatan, tetapi pasien mangaku tidak tahu kenapa pasien bisa sakit. Pasien ingin sembuh dan ingin kembali ke kontrakkannya, ingin bekerja kembali dan tidak ingin mengecewakan keluarga khususnya paman pasien lagi. Pasien merasa sedih karena telah melakukan kesalahan dan tidak ingin mengulanginya lagi. Pasien mengaku tidak pernah mendengar bisikan ataupun suara-suara maupun bayangan yang mengganggu dirinya. Pasien juga menyangkal memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

IV. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan di ruang visum ruang Rajawali II pada tanggal 5 Mei 2015, hasil pemeriksaan ini menggambarkan situasi keadaan pasien saat office visit.

A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Laki-laki berusia 36 tahun, paras sesuai umur dengan postur tubuh yang atletikus dan kesan gizi pasien cukup. Rambut pasien pendek dan kurang rapih. Tampak kumis dan jenggot yang yang sudah dicukur pada wajah pasien. Pasien tidak menggunakan baju dan menggunakan celana pendek berwarna merah. Kuku pasien tampak kurang bersih dan belum dipotong. Tampak beberapa luka lecet di daerah tangan pasien. Pasien tampak tenang dan diam.

2. Kesadaran
Kompos mentis, secara kualitas baik.

3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Keadaan pasien tenang. Pasien tidak memperlihatkan gerak-gerik yang tidak bertujuan, gerak berulang, maupun gerakan abnormal/involunter.

4. Pembicaraan
Kuantitas: Pasien berbicara seperlunya dan kesan tidak banyak bicara
Kualitas: pasien menyambung jika ditanya, dan menjawab pertanyaan dengan spontan, pasien terkadang bercerita dengan spontan tetapi tiba- tiba pasien terdiam dan menunjukan ekspresi seperti ingin menangis, volume bicara lemah, intonasi pasien berbicara agak lambat, pengucapan kata jelas dan pembicaraan dapat dimengerti.
Tidak ada hendaya berbahasa, pasien berbicara Bahasa Indonesia dan kadang bahasa Bengkulu.

5. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif, kontak mata tidak adekuat. Pasien sering kali menjawab pertanyaan tidak melihat kearah pemeriksa. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan baik, walaupun setiap menjawab pertanyaan pasien merespon agak lama dan seringkali saat ditanya terdiam, tampak menunjukkan ekspresi sedih ingin menangis kemudian melanjutkan bicara.

B. Keadaan Afektif
1. Mood : Labil
2. Afek : Labil

C. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi tidak ada
2. Ilusi tidak ada
3. Depersonalisasi tidak ada
4. Derealisasi tidak ada

D. Proses Pikir
1. Bentuk pikir: bloking
2. Arus pikir
a. Produktivitas: pasien dapat menjawab spontan saat diajukan pertanyaan, namun terkadang pasien saat ditanya tiba-tiba terdiam (blocking) dan tidak melanjutkan pembicaraannya, sehingga pemeriksa bertanya kembali, kemudian setelah itu pasien melanjutkan kembali pembicaraannya.
b. Kontinuitas: Koheren, mampu memberikan jawaban sesuai pertanyaan.
c. Hendaya berbahasa: Tidak terdapat hendaya berbahasa

3. Isi pikiran: Waham tidak ada.

E. Fungsi Intelektual/Kognitif
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
a. Taraf pendidikan
Pasien tamat SD
b. Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat siapa presiden Indonesia.

2. Daya konsentrasi
Konsentrasi pasien baik, pasien dapat mengikuti wawancara dengan baik dari awal sampai dengan selesai. Pasien dapat menjawab pertanyaan pengurangan maupun penjumlahan angka, misalnya 136.000 ditambah 85.000, kemudian dikurangi 76.000, lalu dikurangi 50.000, lalu dikurangi 95.000.

3. Orientasi
a. Waktu : Baik, pasien mengetahui saat wawancara saat pagi hari
b. Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada di RSKJ Bengkulu
c. Orang : Baik, pasien mengetahui siapa saja saudaranya dan mengetahui sedang diwawancara oleh siapa.


4. Daya Ingat
a. Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien masih dapat mengingat dimana pasien bersekolah SD.
b. Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat kapan pasien mulai bekerja
c. Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat makan apa tadi malam
d. Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa dan dapat mengulang 6 angka yang disebutkan oleh pemeriksa
e. Akibat hendaya daya ingat pasien
Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien saat ini.

5. Kemampuan baca tulis: baik

6. Kemampuan visuospatial: baik

7. Berpikir abstrak: baik, pasien dapat menjelaskan persamaan apel dan pir

8. Kemampuan menolong diri sendiri: baik, pasien dapat melakukan perawatan diri sehari-hari secara mandiri seperti mandi, makan, dan minum.

F. Daya Nilai
Daya nilai sosial pasien baik. Uji daya nilai realitas pasien juga baik.

G. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien baik, selama wawancara dapat mengontrol emosinya dengan baik (tidak mengamuk atau menangis).

H. Tilikan
Tilikan derajat 4, karena pasien menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan sehingga berbuat kesalahan dan pasien ingin berobat agar sembuh, tetapi pasien tidak tahu yang menjadi penyebab dari gangguannya.

I. Taraf Dapat Dipercaya
Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup akurat, pasien berkata dengan jujur mengenai peristiwa yang terjadi, dan di cross check juga dengan keterangan dari kakak pasien yang menceritakan kejadian yang hampir serupa.

V. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
KU : Tampak Sehat
Sensorium : CM   (GCS: E4 V5 M6)
TD : 120/70 mmHg
Nadi : 72 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,8 oC

B. Status Internus
Kepala Normocephali, pertumbuhan rambut merata, dan warna rambut hitam
Mata Sklera ikterik -/-, conjungtiva palpbera anemis -/-, edema palpebra -/-
Hidung deformitas (-), tidak ada sekret
Telinga deformitas (-)
Mulut bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal

Thorax Tidak terdapat scar, simetris kiri dan kanan
Paru I Tidak dilakukan
P Tidak dilakukan
P Tidak dilakukan
A Dalam batas normal
Jantung I Tidak dilakukan
P Tidak dilakukan
P Tidak dilakukan
A Bunyi jantung normal
Abdomen I Datar, benjolan (-)
A Bising usus (+)
P Tidak dilakukan
P Tidak dilakukan
Ektrimitas Pitting edema (-/-) pada ekstrimitas, akral teraba hangat, tampak VE di digiti II manus dextra dan telapak manus dextra.

C. Status Neurologis
1. Saraf kranial : dalam batas normal
2. Saraf motorik : dalam batas normal
3. Sensibilitas : dalam batas normal
4. Susunan saraf vegetatif : dalam batas normal
5. Fungsi luhur : dalam batas normal

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT
- pada pasien belum dilakukan pemeriksaan penunjang



VII. FORMULASI DIAGNOSIS
- Laki-laki 36 tahun, belum menikah, tidak bekerja, tinggal sendiri di rumah kontrakkan
- Penampilan cukup rapih, perawatan diri pasien baik
- Riwayat stressor: tidak memiliki pekerjaan dan kegagalan menjalin hubungan
- Pasien kooperatif, kontak mata inadekuat, pembicaraan pasien koheren dan terdapat blocking
- Mood pasien labil, afek labil
- Pasien lebih sering menyendiri dalam melakukan kegiatan apapun

VIII. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I : F65.0 Fetishisme + Z56.7 Masalah Pekerjaan + Z81
Riwayat keluarga dengan gangguan jiwa + Masalah  
Hukum
 DD/ F65.1 Transvestisme Fetishistik
        F32.0 Episode Depresif Ringan
Aksis II : F71 Retardasi Mental Sedang
Aksis III : Vulnus laceratum digiti II manus dextra dan telapak
 manus dextra
Aksis IV : Ekonomi, pekerjaan dan hukum
Aksis V : GAF scale 60 – 51

IX. PROGNOSIS
1. Faktor yang memberikan pengaruh baik:
- Faktor pencetus jelas yaitu: ada riwayat kegagalan dalam menjalin hubungan dengan perempuan
- Tidak ada riwayat penggunaan zat psikoaktif
- Pasien kooperatif, intelegensi baik dan memiliki keinginan untuk sembuh
- Support keluarga yang baik terhadap kesembuhan pasien

2. Faktor yang memberikan pengaruh buruk:
- Pasien merupakan pribadi yang tertutup
- Belum menikah dan belum memiliki pekerjaan tetap
Sehingga kesimpulan prognosis pada pasien berdasarkan wawancara diatas sebagai berikut :
Quo Ad Vitam : Ad bonam
Quo Ad Functionam : Ad bonam
Quo Ad Sanationam : Ad malam
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah dubia ad bonam

X. TERAPI
1. Psikofarmaka
a. Fluoxetin tab 2x20 mg p.o

2. Psikoterapi
Psikoterapi yang diberikan adalah psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan rekonstruktif.
- Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens (pertahanan) pasien terhadap stres. Hal ini dilakukan mengingat toleransi (kemampuan) pasien mengahadapi stres (tekanan, kecewa, frustasi) rendah. Perlu diadakannya terapi untuk meningkatkan kemampuan pengendalian diri dan menghadapi masalah.
- Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk meningkatkan insight (pengetahuan pasien) terhadap penyakitnya serta mengubah perilaku dengan meniadakan kebiasaan tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan. Selain itu juga meningkatkan pengetahuan keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien. Peningkatan pengetahuan dilakukan dengan edukasi baik terhadap pasien maupun keluarga.
- Psikoterapi rekonstruktif bertujuan agar pasien menjadi mengerti dan sadar akan peristiwa sehari-hari yang menyebabkan ia melakukan impulsnya. Pasien dapat mengikuti kegiatan keagamaan di masjid atau kegiatan dilingkungan RT untuk bisa lebih berinteraksi dengan lingkungan sosial sehingga ia dapat memperoleh kembali kepercayaan dirinya.

3. Modifikasi Lingkungan
- Membantu pasien menemukan bakatnya, seperti pada pasien ini gemar berkebun
- Memberikan penghargaan seperti uang atau berekreasi atau berhak menjual dan memiliki hasil kebun jika pasien dapat memelihara dan memanen hasil kebunnya dengan baik
- Kegiatan seperti ini dapat dilakukan di lingkungan tempat tinggal pasien maupun di lingkup keluarga pasien.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL/PARAFILIA
A. Definisi
Parafilia berasal dari bahasa Yunani, para yang berarti lebih dan philia yang berarti teman atau bersenang-senang. Parafilia merupakan ekspresi abnormal seksualitas atau penyimpangan seksual, yakni stimulasi seksual atau tindakan yang menyimpang dari kebiasaan seksual normal, namun bagi beberapa orang, tindakan menyimpang ini penting untuk mendapatkan rangsangan seksual dan orgasme.1,2 Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM), penyimpangan seksual adalah dorongan seksual secara berulang-ulang, mendesak atau perilaku yang melibatkan: 1) objek bukan manusia, 2) menimbulkan penderitaan dan nyeri pada seseorang atau pasangannya atau 3) anak-anak atau orang-orang yang tidak mengingnkannya.2
Istilah parafilia pertama kali diperkenalkan oleh Wilhelm Stekel dalam bukunya yang berjudul Sexual Aberrations pada tahun 1925. Pemakaian istilah tersebut belum terlalu dikenal hingga tahun 1950-an dan ketika DSM pada tahun1980-an menggunakan istilah tersebut, barulah istilah tersebut mulai banyak digunakan.2

B. Epidemiologi
Diantara kasus-kasus parafilia yang telah diidentifikasi secara legal, pedofilia adalah yang lazim ditemukan. Sekitar 10-20% anak pernah mengalami kekerasan seksual pada usia 18 tahun. Insidensi kasus parafilia di dunia sulit ditentukan.1,3
Seperti yang biasanya didefinisikan, parafilia tampak sebagian besar merupakan keadaan pada laki-laki. Lebih dari 50% parafilia memiliki awitan sebelum usia 18 tahun, memuncak pada usia antara 15 hingga 25 tahun dan menurun secara bertahap.1,3 Pasien dengan parafilia sering memiliki tiga hingga lima parafilia, baik terjadi bersamaan atau pada waktu yang berbeda dalam kehidupannya.1

C. Etiologi
1. Faktor psikoanalitik
Berdasarkan teori psikoanalitis, ada beberapa kemungkinan faktor yang bekontribusi penyebab parafilia. Freund dkk mengataan bahwa beberapa orang dengan parafilia mungkin mengalami gangguan pada fase pacaran (courtship phase). Normalnya, fase pacaran merupakan fase dimana pria dan wanita menjadi bersama untuk tujuan perkawinan. Hal ini biasanya muncul pada masa remaja dengan atau tanpa disertai hubungan intim pada fase awal perkembangan seksual.3 Fase pacaran terdiri dari 4 fase, yakni 1) fase mencari (pencarian pasangan yang sesuai), 2) fase interaksi sebelum bersentuhan (berbicara, main mata dengan pasangan), 3) fase interaksi sentuhan (kontak fisik yang terjadi dengan pasangan, seperti menyentuh, memeluk, berpegangan tangan), dan 4) fase genital (seperti berhubungan intim).3 Sebagian besar parafilia berhubungan dengan gangguan pada 3 fase pertama.3

2. Faktor perilaku
Teori lain mengkaitkan timbulnya parafilia dengan pengalaman dini yang mengkondisikan atau mensosialisasikan anak melakukan tindakan parafiliak.1 Penyiksaan seksual sebagai anak dapat menjadi predisposisi seseorang untuk menerima penyiksaan seksual berkelanjutan sebagai orang dewasa, atau sebaliknya, untuk menjadi penyiksa orang lain. Mengalami penyiksaan saat masih kecil yang bukan hanya penyiksaan seksual, seperti pemukulan atau mempermalukan secara verbal dapat membentuk dasar parafilia.1 Awitan tindakan parafiliak dapat terjadi akibat orang meniru perilaku mereka berdasarkan perilaku orang lain yang melakukan tindakan parafiliak, meniru perilaku seksual yang digambarkan media atau mengingat kembali peristiwa yang memberatkan secara emosional di masa lalu.1

3. Faktor biologis
Beberapa studi mengidentifikasi temuan organik abnormal pada orang dengan parafilia.1 Diantara pasien yang dirujuk ke pusat medis besar, yang memiliki temuan organik positif mencakup 74% pasien dengan kadar hormon abnormal, 27% dengan tanda neurologis yang ringan atau berat, 24% dengan kelainan kromosom, 9% dengan kejang, 9% dengan dileksia, 4% dengan EEG abnormal, 4% dengan gangguan jiwa berat dan 4% dengan cacat mental.1

D. Diagnosis dan Gambaran Klinis
Didalam DSM-IV-TR, kriteria diagnostik parafilia mencakup adanya khayalan patognomonik dan dorongan yang intens untuk melakukan khayalan tersebut atau perluasan perilakunya.1 Khayalan ini yang dapat membuat pasien menderita, mengandung materi seksual yang tidak biasa, yang relatif terfiksasi dan hanya menunjukkan variasi ringan. Aktivitas seksual dibuat menjadi ritual atau stereotipik dan menggunakan objek yang lebih rendah, berkurang atau tidak manusiawi.1

F65.0 Fetishisme
Fetisisme adalah keadaan seseorang yang mencari rangsangan dan pemuasaan seksual dengan memakai sebuah benda.4 Pada fetisisme, fokus seksual adalah pada objek (seperti sepatu, celana dalam, sarung tangan, stoking) yang secara intim terkait dengan tubuh manusia.1,3,4 Gangguan ini hampir hanya ditemukan pada laki-laki.1 Individu ini mampu ereksi dan bahkan ejakulasi walau tidak disentuh sedikitpun selama benda yang menjadi pemicu hasrat muncul dihadapannya.2


Pedoman Diagnostik menurut PPDGJ-III
- Mengandalkan pada beberapa benda mati sebagai rangsangan untuk membangkitkan keinginan seksual dan memberikan kepuasan seksual. Kebanyakan benda tersebut (objek fetish) adalah ekstensi dari tubuh manusia, seperti pakaian dan sepatu.
- Diagnosis ditegakkan apabila objek fetish benar-benar merupakan sumber yang utama dari rangsangan seksual atau penting sekali untuk respons seksual yang memuaskan.
- Fantasi fetisistik adalah lazim, tidak menjadi suatu gangguan kecuali apabila menjurus kepada suatu ritual yang begitu memaksa dan tidak semestinya sampai mengganggu hubungan seksual dan menyebabkan penderitaan bagi individu.
- Fetishisme terbatas hampir pada pria saja

Pedoman Diagnostik menurut DSM V
- Orang ini mengalami dorongan seksual yang sering dan berulang, baik dari penggunaan benda mati, atau dari bagian tubuh non genital; berlangsung selama minimal 6 bulan.
- Pengalaman pasien tertekan dalam kehidupan sosial, pekerjaan atau bidang-bidang penting lainnya akibat dari fantasi, dorongan seksual atau perilaku.
- Objek fetis tidak terbatas pada barang pakaian wanita yang digunakan pada pakaian banci (transvetic fetishisme) atau perangkat yang dirancang untuk tujuan stimulasi genital (misalnya vibrator).

F65.1 Transvestisme Fetishistik
Transvestisme fetishistik digambarkan sebagai khayalan dan dorongan seksual untuk memakai pakaian dari jenis kelamin yang berlawanan sebagai cara perangsangan dan tambahan terhadap masturbasi atau hubungan seksual.1,4 Gangguan ini secara khas dimulai pada masa kanak atau remaja awal. Seiring berjalannya waktu, sejumlah laki-laki dengan gangguan ini ingin berpakaian dan hidup secara permanen sebagai perempuan. Yang lebih jarang, perempuan ingin berpakaian dan hidup menjadi laki-laki. Sebagian besar orang dengan gangguan ini adalah laki-laki heteroseksual yang telah menikah.3

Pedoman Diagnostik menurut PPDGJ-III
- Mengenakan pakaian dari lawan jenis dengan tujuan pokok untuk mencapai kepuasan seksual.
- Gangguan ini harus dibedakan dari fetishisme (F65.0) dimana pakaian sebagai objek fetish bukan hanya sekedar dipakai, tetapi juga untuk menciptakan penampilan seorang dari lawan jenis kelaminnya. Biasanya lebih dari satu jenis barang yang dipakai dan seringkali suatu perlengkapan yang menyeluruh, termasuk rambut palsu dan tata rias wajah.
- Transvestisme fetishistik dibedakan dari transvestisme transsexual oleh adanya hubungan yang jelas dengan bangkitnya gairah seksual dan keinginan/hasrat yang kuat untuk melepaskan baju tersebut apabila orgasme sudah terjadi dan rangsangan seksual menurun.
- Adanya riwayat transvestisme fetishistik biasanya dilaporkan sebagai suatu fase awal oleh para penderita transseksualisme dan kemungkinan merupakan suatu stadium dalam perkembangan transseksualisme.

Pedoman Diagnostik menurut DSM V
- Orang ini mengalami dorongan seksual yang sering dan berulang dari penggunaan pakaian lawan jenis; gejala berlangsung minimal 6 bulan.
- Fantasi, dorongan seksual dan perilaku menyebabkan penderitaan atau hendaya sosial, pekerjaan atau bidang-bidang penting lainnya.




F65.2 Ekshibisionisme
Ekshibisionisme adalah dorongan berulang untuk menunjukkan alat kelamin pada orang asing atau pada orang yang tidak menyangkanya.1,3,4 Pada hampir 100% kasus, orang dengan gangguan ini adalah laki-laki yang menunjukkan diri mereka pada perempuan.1,3 Kegairahan seksual terjadi pada saat antisipasi pada pertunjukkan tersebut, dan orgasme didapatkan melalui masturbasi selama atau setelah peristiwa.1 Onset gangguan ini biasanya muncul sebelum usia 18 tahun, tetapi dapat muncul kemudian.3

Pedoman Diagnostik menurut PPDGJ-III
- Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk memamerkan alat kelamin kepada asing (biasanya lawan jenis kelamin) atau kepada orang banyak di tempat umum, tanpa ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab.
- Ekshibisionisme hampir sama sekali terbatas pada laki-laki heteroseksual yang memamerkan pada wanita, remaja atau dewasa, biasanya menghadap mereka dalam jarak yang aman ditempat umum. Apabila yang menyaksikan itu terkejut, takut atau terpesona, kegairahan penderita menjadi meningkat.
- Pada beberapa pennderita, ekshibisionisme merupakan satu-satunya penyaluran seksual, tetapi pada penderita lainnya kebiasaan ini dilanjutkan bersamaan dengan kehidupan seksual yang aktif dalam suatu jalinan hubungan yang berlangsung lama, walaupun demikian dorongan menjadi lebih kuat pada saat menghadapi konflik dalam hubungan tersebut.
- Kebanyakan penderita ekshibisionisme mendapatkan kesulitan dalam mengendalikan dorongan tersebut dan dorongan ini bersifat eg-alien (suatu benda asing bagi dirinya).



Pedoman Diagnostik menurut DSM V
- Orang ini mengalami dorongan seksual yang sering dan berulang yang berhubungan dengan menunjukkan alat kelamin kepada orang asing, yang berlangsung minimal selama 6 bulan.
- Orang ini mengalami tekanan dalam kehidupan sosial, pekerjaan  dan bidang-bidang penting lainnya akbiat dari fantasi, dorongan seksual atau perilaku pasien.

F65.3 Voyeurisme
Voyeurisme berasal dari bahasa Perancis, yakni vayeur yang artinya mengintip.2 Voyeurisme atau Skopofilia ialah keadaan seseorang yang harus mengamati tindakan seksual atau ketelanjangan (orang lain) untuk memperolah rangsangan dan pemuasan seksual.4 Setelah melakukan kegiatan mengintipnya, penderita tidak melakukan tindakan lebih lanjut terhadap korban yang diintip. Pelaku hanya mengintip dan melihat, tidak lebih.2 Onset gangguan ini biasanya pada usia 15 tahun dan dapat berlangsung lama.3

Pedoman Diagnostik menurut PPDGJ-III
- Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk melihat orang yang sedang berhubungan seksual atau berperilaku intim seperti sedang menanggalkan pakaian.
- Hal ini biasanya menjurus kepada rangsangan seksual dan masturbasi, yang dilakukan tanpa orang yang diintip menyadarinya.

Pedoman Diagnostik menurut DSM V
- Orang ini mengalami dorongan seksual yang sering dan berulang yang melibatkan tindakan mengamati orang yang sedang telajang, didalam proses membuka pakaian, atau sedang melakukan hubungan seksual, berlangsung selama minimal 6 bulan.
- Orang ini mengalami tekanan dalam kehidupan sosial, pekerjaan  dan bidang-bidang penting lainnya akibat dari fantasi, dorongan seksual atau perilaku pasien.
- Orang ini mengalami dorongan seksual atau perilaku seksual pada usia minimal 18 tahun.

F65.4 Pedofilia
Pedofilia melibatkan dorongan seksual yang intens dan berulang atau terangsang oleh anak yang berusia 13 tahun.1 Seorang pedofil dapat memakai anak dari sex yang sama atau berlainan sebagai objek seksualnya.2,4

Pedoman Diagnostik menurut PPDGJ-III
- Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra pubertas atau awal masa pubertas, baik laki-laki maupun perempuan.
- Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan.
- Preferensi tersebut harus berulang dan menetap.
- Termasuk: laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual dewasa, tetapi karena mengalami frustrasi yang kronis untuk mencapai hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaannya beralih kepada anak-anak sebagai pengganti.

Pedoman Diagnostik menurut DSM V
- Orang ini mengalami dorongan seksual yang sering dan berulang yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak prapubertas dan anak-anak (biasanya <13 tahun), berlangsung selama minimal 6 bulan.
- Orang tersebut telah melakukan dorongan seksual ini, atau khayalan seksual yang menimbulkan penderitaan yang nyata atau kesulitan interpersonal.
- Orang ini berusia minimal 16 tahun dan minimal 5 tahun lebih tua dari para korbannya. Individu yang berusia remaja akhir yang terlibat dalam hubungan seksual yang sedang berlangsung dengan anak berusia 12-13 tahun tidak termasuk kategori ini.

F65.5 Sadomasokisme
Seorang sadist mencapai rangsangan dan pemuasan seksual dengan menyakiti (secara fisik dan psikologik) objek seksualnya.4 Awitan sadisme seksual biasanya sebelum usia 18 tahun dan sebagian besar orang dengan kelainan ini adalah laki-laki.1 Sedangkan masokisme adalah orang yang mendapatkan kesenangan seksual dengan disiksa dan didominasi oleh perempuan.1 Sadomasokisme merupakan ekspresi seksual yang bisa dikatakan saling melengkapi.2

Pedoman Diagnostik menurut PPDGJ-III
- Preferensi terhadap aktivitas seksual yang melibatkan pengikatan atau menimbulkan rasa sakit atau penghinaan; (individu yang lebih suka untuk menjadi resipien dari perangsangan demikian disebut ‘masochism’, sebagai pelaku disebut ‘sadism’)
- Seringkali individu mendapatkan rangsangan seksual dari aktivitas sadistik maupun masokistik.
- Kategori ini hanya digunakan apabila aktivitas sadomasokistik merupakan sumber rangsangan yang penting untuk pemuasan seks.
- Harus dibedakan dari kebrutalan dalam hubungan seksual atau kemarahan yang tidak berhubungan dengan erotisme.

Pedoman Diagnostik menurut DSM V
Masokisme Seksual
- Orang ini mengalami dorongan seksual yang sering dan berulang yang melibatkan tindakan (sebenarnya, bukan pura-pura) dipermalukan, dipukuli, diikat atau dibuat menderita, berlangsung minimal 6 bulan.
- Dorongan seksual atau khayalan seksual menimbulkan penderitaan yang nyata atau hendaya fungsi sosial, pekerjaan atau bidang-bidang lain yang penting.

Sadisme Seksual
- Orang ini mengalami dorongan seksual yang sering dan berulang yang melibatkan tindakan (sebenarnya, bukan pura-pura) dengan penderitaan fisik atau psikologis (termasuk mempermalukan) korban secara seksual menarik bagi pasien, berlangsung minimal 6 bulan.
- Dorongan seksual atau khayalan seksual menimbulkan penderitaan yang nyata atau hendaya fungsi sosial, pekerjaan atau bidang-bidang lain yang penting, atau pasien melakukan dorongan seksual pada orang yang tidak menginginkannya.

Froteurisme
Suatu bentuk parafilia dimana seorang individu laki-laki mendapatkan kepuasan seksual dengan cara menggesekkan atau menggosokkan alat kelaminnya ke tubuh perempuan yang berpakaian lengkap di tempat publik atau umum.1,2

Pedoman Diagnostik menurut DSM V
- Orang ini mengalami dorongan seksual yang sering dan berulang yang melibatkan penyentuhan atau penggosokkan alat kelamin pada orang yang tidak menginginkannya, berlangsung selama minimal 6 bulan.
- Orang ini mengalami tekanan dalam kehidupan sosial, pekerjaan  dan bidang-bidang penting lainnya akibat dari fantasi, dorongan seksual atau perilaku pasien.




Parafilia yang Tidak Tergolongkan
Skatologia Telepon
Gangguan ini ditandai dengan telepon cabul dan melibatkan pasangan yang tidak menyangkanya.1,3 Tegangan dan rangsangan dimulai saat antisipasi telepon; penerima telepon mendengar saat penelepon (biasanya laki-laki) secara verbal menunjukkan preokupasinya atau merangsang penerima telepon untuk berbicara mengenai aktivitas sekualnya. Percakapan disertai dengan masturbasi yang sering diselesaikan setelah kontak dihentikan.1

Seks Internet
Orang juga menggunakan jaringan komputer interaktif kadang-kadang secara kompulsif, untuk mengirimkan pesan cabul melalui surat elektronik atau mengantarkan pesan seksual yang jelas serta gambar video.1 Bahaya aktivitas seksual on-line adalah bahwa pedofil dapat berkontak dengan anak-anak atau remaja yang ingin bertemu dengannya dan kemudian disiksa. Suatu perkiraan, sekitar 20% pengguna internet terlibat dalam beberapa bentuk aktivitas seksual on-line, termasuk menonton gambar pornografik.1

Nekrofilia
Nekrofilia adalah obsesi untuk memperoleh kesenangan seksual dari mayat. Sebagian besar orang dengan gangguan ini mendapatkan mayat dirumah duka tetapi beberapa diantaranya diketahui merampok kuburan bahkan membunuh untuk memuaskan dorongan seksualnya.1,3

Parsialisme
Orang dengan gangguan ini memusatkan aktivitas seksualnya pada satu bagian tubuh untuk menyingkirkan yang lain.1



Zoofilia
Pada zoofilia, hewan (yang dapat dilatih untuk berpartisipasi) khususnya dimasukkan ke dalam khayalan rangsangan atau aktivitas seksual, termasuk hubungan seksual, masturbasi dan kontak oral-genital.1,3

Koprofilia dan Klismafilia
Koprofilia adalah ketertarikan pada kesenangan seksual yang berkaitan dengan hasrat untuk buang air besar pada pasangannya, untuk diberaki, atau untuk memakan feses (koprofagia). Klismafilia adalah penggunaan enema sebagai bagian dari stimulasi seksual. Parafilia ini dikaitkan dengan fiksasi pada fase anal perkembangan psikoseksual.1,3

Urofilia
Urofilia adalah suatu bentuk erotisisme uretra, yakni minat di dalam kesenangan seksual yang disertai dengan hasrat untuk berkemih pada pasangan atau dikencingi.1,3

Masturbasi
Masturbasi adalah aktivitas normal yang lazim pada semua tahap kehidupan dari bayi hingga usia tua, tetapi pandangan ini tidak selalu diterima. Masturbasi dapat didefinisikan sebagai seseorang mendapatkan kesenangan seksual yang biasanya menghasilkan orgasme, oleh diri sendiri. Masturbasi menjadi abnormal ketika dijadikan satu-satunya aktivitas seksual yang dilakukan pada masa dewasa, jika dilakukan dengan frekuensi yang menunjukkan kompulsi atau disfungsi seksual, atau jika secara konsisten lebih dipilih daripada hubungan seks dengan pasangan.1

Hipoksifilia
Hipoksifilia adalah hasrat untuk memperoleh perubahan keadaan kesadaran akibat hipoksia saat mengalami orgasme.1,3

E. Diagnosis Banding
Beberapa parafilia dikaitkan dengan gangguan jiwa lain seperti skizofrenia. Penyakit otak juga dapat melepaskan impuls yang cabul.1

F. Prognosis
Prognosis yang buruk dikaitkan dengan awitan usia dini, frekuensi tindakan tinggi, tidak adanya rasa bersalah atau malu mengenai tindakannya, dan penyalahgunaan zat.1,3 Prognosis baik jika pasien memiliki riwayat hubungan seks disamping parafilia, intelegensi normal, hanya satu parafilia, dan jika mereka merujuk diri sendiri bukannya dirujuk oleh badan hukum.1,3

G. Terapi
Terdapat empat jenis intervensi psikiatrik yang digunakan untuk menterapi orang dengan parafilia, antara lain:
1. Kendali eksternal
Penjara merupakan salah satu mekanisme kendali eksternal, yang tidak berisi kandungan terapi. Jika hal ini terjadi di lingkungan keluarga atau kerja, kedali eksternal yang bisa dilakukan adalah memberitahu teman sebaya atau anggota keluarga lain mengenai masalah dn menasehati untuk menghilangkan kesempatan bagi pelaku untuk melakukan dorongannya.1

2. Terapi keadaan komorbid
Terapi obat yang mencakup obat antipsikotik atau antidepresan, diindikasikan untuk terapi skizofrenia atau gangguan depresif jika parafilia dikaitkan dengan gangguan ini. Antiandrogen (Depo-provera) dapat mengurangi dorongan perilaku seksual dengan menurunkan kadar testosteron serum sampai pada konsentrasi di bawah normal.1,3


3. Terapi perilaku kognitif
Terapi ini digunakan untuk mengubah pola parafilia yang dipelajari dan mnegubah perilaku untuk membuatnya dapat diterima secara sosial. Intervensinya mencakup pelatihan keterampilan sosial, edukasi seks, pembentukan ulang kognitif, dan pembentukan empati kepada korban.1,3

4. Psikoterapi dinamik
Pasien memiliki kesempatan mengerti dinamik serta peristiwa yang menyebabkan parafilia timbul. Secara khusus, mereka menjadi sadar akan peristiwa sehari-hari yang menyebabkan mereka melakukan impuls mereka. Terapi membantu merekamenghadapi stres kehidupan dengan lebih baik dan meningkatkan kapasitas untuk berhubungan dengan pasangan hidup. Psikoterapi juga memungkinkan pasien memperoleh kembali kepercayaan dirinya yang selanjutnya akan memungkinkan mereka mendekati pasangan dengan cara seksual yang lebih normal.1











BAB III
PEMBAHASAN
Dari hasil wawancara, tidak ditemukan kelainan fisik yang berhubungan dengan gejala-gejala psikiatrik yang dialami pasien, seperti riwayat trauma kepala atau gangguan otak.  Dengan demikian, diagnosis banding gangguan mental organik (F0) dapat disingkirkan. Selain itu, tidak ditemukan riwayat konsumsi alkohol, merokok dan zat psikoafektif. Dengan demikian, diagnosis banding gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat (F1) dapat disingkirkan.
Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan bahwa pasien mengambil pakaian dalam wanita (baik bra maupun celana dalam) sudah sekitar 3 bulan, dan dilakukan secara terus menerus. Pakaian dalam yang diambil tersebut digunakan pasien sebagai alat untuk merangsang hasrat seksual dirinya, dengan cara dipakaikan ke boneka, diletakkan di tempat tidur atau motor dan juga kadang hanya disentuhkan ke tubuhnya tetapi tidak dipakai langsung ke badan pasien. Pasien mengaku puas secara seksual jika melakukan hal tersebut. Pasien sering melakukan tindakan tersebut selama 3 bulan terakhir, sehingga terjadi penurunan fungsi sosial dan okupasi pada pasien. Gejala-gejala yang ditunjukkan pasien ini merupakan gejala penyimpangan aktivitas seksual atau parafilia. Jenis parafilia pada pasien ini adalah fetishisme, yakni pasien mendapatkan dorongan dan pemuasan seksual dengan menggunakan benda asing, dalam hal ini adalah pakaian dalam wanita (bra dan celana dalam), sehingga diagnosis fetishisme dapat ditegakkan.
Pada pasien ini diberikan terapi fluoxetin tab, yakni suatu obat antidepresan golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) yang memiliki efek samping sangat minimal, spektrum antidepresan luas dan gejala putus obat sangat minimal, serta dosis letal yang tinggi (>6000mg) sehingga relatif aman.6 Obat ini bekerja dengan cara menghambat pengambilan kembali serotonin, dan hanya sedikit afinitasnya terhadap reseptor alfa adrenergik maupun kolinergik.7 Obat ini berikatan dengan protein, dimetabolisme di hati dan diekskresikan melalui urin.7 Efek samping yang mungkin timbul adalah sakit kepala, mual, insomnia, anoreksia, dan juga diare. Dosis yang digunakan lebih tinggi dari dosis untuk depresi, dengan rentang antara 20 hingga 80 mg per hari.7


Berdasarkan anamnesis juga didapatkan bahwa pasien mengalami parafilia pada usia dewasa, tidak ada riwayat penggunaan zat, memiliki rasa bersalah dan malu mengenai tindakannya. Berdasarkan pemeriksaan didapatkan bahwa pasien kooperatif, intelegensi baik, memiliki satu jenis parafilia dan juga pasien memiliki keinginan untuk berubah dan tidak melakukan kembali tindakan tersebut. Dari hal-hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa pasien memiliki prognosis yang baik.






DAFTAR PUSTAKA

1. Sadock, Benjamin J. Sadock, Virginia A. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2. 2010. Jakarta:EGC. P.315-22.
2. Rowland, David L. Incrocci, Luca. Handbook of Sexual and Gender Identity Disorder. Terjemahan. Surabaya:Universitas Airlangga. P.66-73.
3. Brannon, Guy E. Bienenfeld, David. Dkk. Paraphilic Disorders. 2013. Emedicine Medscape.
4. Maramis, Willy F. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2005. Surabaya:Airlangga University Press. P.314-21.
5. Maslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. 2001. Jakarta:FK Unika Atmajaya. P. 112-4.
6. Maslim, Rusdi. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi Ketiga. 2007. Jakarta:FK Unika Atmajaya. P. 23-30.
7. Fluoxetine. 2013. Emedicine Medscape.













CASE REPORT

GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL
FETISHISME






Oleh :
Siti Zhahara
H1AP10006


Pembimbing :
dr. Andri Sudjatmoko, Sp.KJ



KEPANITERAAN KLINIK PSIKIATRI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
BENGKULU
2015
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………..... i
DAFTAR ISI …………………………………………………………….. ii
BAB I LAPORAN KASUS
I. Identitas Pasien ...........………………………………………….. 1
II. Identitas Keluarga…………………………………….................. 1
III. Riwayat Psikiatri..……………………………………………….. 2
IV. Pemeriksan Status Mental……………………………………….. 13
V. Pemeriksaan Fisik……………………………………………….. 17
VI. Pemeriksaan Diagnostik Lanjut……………………..........…….. 18
VII. Formulasi Diagnostik………………………………......……….. 19
VIII. Diagnosis Multiaksial…………………………………………... 19
IX. Prognosis……………………………………………............….. 19
X. Terapi……………………………………………….................... 20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi .………………………………………....…..................... 22
B. Epidemiologi……......………………………………………….. 22
C. Etiologi .......................................................................................... 23
D. Diagnosis dan Gambaran Klinis.................................................... .24
E. Diagnosis Banding.......................................................................... 34
F. Prognosis........................................................................................ 34
G. Terapi............................................................................................. 34

BAB III PEMBAHASAN 36

DAFTAR PUSTAKA 38

Siti Zhahara

Posts : 10
Reputation : 0
Join date : 2015-05-23

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum