Gangguan mental dan Perilaku akibat penggunaan zat Halusinogenika

View previous topic View next topic Go down

Gangguan mental dan Perilaku akibat penggunaan zat Halusinogenika

Post by Lia Andini SN on Wed Jan 20, 2016 2:53 pm

Laporan Kasus
Gangguan mental dan Perilaku akibat penggunaan zat Halusinogenika

DISUSUN OLEH:
Lia Andini Sulistianingrum, S.Ked
H1AP009026
PEMBIMBING:
dr. Andri Sudjatmoko, Sp. KJ

KEPANITERAAN  KLINIK KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI BENGKULU – RSJ SOEPRAPTO BENGKULU
2015

BAB I
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An.xxxxxxxxxxxxxxxxx
Usia : 14 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Anak ke : 3 dari 3 bersaudara
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Suku : Bengkulu
Status : Belum menikah
Pekerjaan : Siswa
Alamat : jln: xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx kota Bengkulu.
Tanggal Pemeriksaan : 11 – 12 - 2015

II. Riwayat Psikiatri
A. Keluhan Utama
Suka menyendiri dan tertawa sendiri sejak ??????
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Autoanamnesis:
Pasien masuk ke poli RSKJ Soeprapto baru baru pertama kalinya pada tanggal 11 mei 2015 diantar oleh ayah pasien. Pasien terlihat sering melamun sendiri dan tertawa sendiri sejak 2 bulan SMRS. Pasien juga mudah marah-marah dan mengamuk barang-barang yang ada di rumah saat pasien dilarang bermain dengan teman-temannya oleh orang tua pasien. Karena orang tua pasien takut melihat pasien seperti itu maka pasien dibawa ke poli RSKJ Soeprapto Bengkulu.
Pasien mengaku mendengar suara-suara bisikan yang mengajaknya mengobrol, seperti temannya hingga pasien sering tersenyum dan tertawa menyeringai. Padahal menurut ayah pasien, pasien sedang tidak ada temannya.
Pasien merasa sangat susah tidur dan apabila pasien sudah tidur sering terbangun karena suara bisikan yang mengganggu pasien. Karena itu pasien tidak ada kemauan dan malas untuk pergi sekolah, dan kadang hanya mengurung diri di dalam kamar.
Menurut ayah pasien gejala seperti ini terjadi setelah pasien ketahuan sering menghirup lem aica aibon bersama-sama temannya sepulang sekolah sejak ± 1 tahun. Pasien menghirup sebanyak 1 x sehari kemudian 2 sampai 3 kali sehari, namun sudah 1 minggu ini pasien tidak melakukannya lagi. Pasien hampir tiap hari menggunakan menghirup lem ini bersama teman-temannya sepulang sekolah. Menurut ayah pasien, pasien sering bolos sekolah tapi tidak tau pergi kemana. Menurut ayah pasien Sudah hamper 2 bulan ini pasien tidak lagi sekolah, pasien juga terihat seperti anak idiot dan pemalas. Padahal dahulu pasien selalu mendapat rangking dikelas. pasien sudah sering dimarahi agar tidak bermain bersama temannya lagi tapi pasien malah marah marah dan mengamuk.
Saat dilakukan home visite pasien terlihat tenang, pasien masih sulit diajak bicara seperti anak kebingungan dan lama menjawab pertanyaan. Pasien masih dapat menulis namun tulisannya sulit dibaca. Pasien diberi soal tambahan matematika ia menjawab dengan lambat dan hasilnya juga salah.

Heteroanamnesis
Diperoleh dari ibu pasien, seorang ibu rumah tangga, merupakan anggota keluarga terdekat pasien yang serumah dengannya. Pasien dibawa oleh ayahnya ke RSKJ karena  pasien terlihat sering melamun sendiri dan tertawa sendiri sejak 2 bulan SMRS. Menurut ibu pasien memiliki banyak 4 orang teman yang merupakan teman akrab pasien disekolah maupun dirumah. Awalnya keluarga tidak tau kalau pasien sering pergi bermain untuk ngelem, Namun teman pasien mengatakan bahwa pasien sering tidak masuk sekolah, pasien jadi sering mudah marah dan mengamuk bila disuruh dirumah saja tidak bermain atau membantu orang tua. Saat ini pasien terlihat sering menyendiri, pendiam dan bersikap aneh dari biasanya, tertawa sendiri, ngomong sendiri seperti orang gangguan jiwa. Dahulu pasien merupakan anak yang pintar dan selalu juara kelas. Sekarang pasien menjadi anak yang pemalas dan mudah marah marah.

Riwayat Gangguan Sebelumnya
 Riwayat Gangguan Psikiatri
   Pasien belum pernah ada gangguan psikiatri sebelumnya, pasien belum pernah berobat
   ke rumah sakit jiwa maupun ke psikiater.

 Riwayat Gangguan Medik
Pasien tidak memiliki riwayat gangguan medis sebelumnya dan pasien belum pernah di rawat di rumah sakit sebelumnya, hanya saja pasien sering mengeluh sakit kepala namun sembuh dengan pemberian obat warung.
 Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol
Riwayat mengkonsumsi alkohol, rokok, dan narkoba disangkal.
Riwayat mengkonsumsi dengan cara mencium lem aibon (+)

C. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat prenatal
Pasien merupakan anak yang diinginkan, saat hamil ibu pasien tidak pernah mengalami sakit dan tidak ada rencana untuk menggugurkan kandungannya. Pasien lahir secara normal ditolong oleh bidan, saat lahir langsung menangis, berat badan saat lahir 3000 gr.
2. Riwayat masa kanak-kanakawal (0-3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi dan balita normal. Pasien minum ASI sejak lahir hingga usia 12 bulan, kemudian diteruskan dengan susu formula.
3. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini normal. Pasien berkembang menjadi anak seperti seumurannya. Pasien merupakan anak yang periang dan memiliki banyak teman. Disekolah pasien sering mendapatkan rangking. Pasien tidak pernah tinggal kelas dan menamatkan sekolah dasar dengan tepat waktu.

4. Riwayat masa remaja
Setelah tamat SD pasien melanjutkan sekolah SMP. Sebelumnya saat dikelas pasien merupakan anak yang pintar dan selalu mendapat rangking. namun saat ini pasien tidak lagi sekolah setelah mengaami gejala- gejala seperti diatas. Pasien sering bolos sekolah, dan berkumpul dengan teman-temannya untuk ngelem. Saat ini pasien lebih sering sendiri dan menjadi anak yang pemalas.
5. Riwayat dewasa muda
-
6. Riwayat pendidikan
Saat ini pasien duduk dikelas 2 SMP, selama masa sekolah pasien  tidak pernah tinggal kelas, pasien  merupakan siswa yang cukup berprestasi, pasien sering mendapatkan peringkat 10 besar di kelasnya. Namun saat ini pasien tidak lagi sekolah setelah mengalami geja-gejala seperti diatas.
7. Riwayat pekerjaan
Saat ini pasien tidak bekerja.
8. Riwayat pernikahan
Pasien belum menikah.
9. Riwayat kehidupan beragama
Pasien beragama Islam mengaku beribadahnya kurang, pasien tidak pernah solat 5 waktu.
10. Riwayat Psikoseksual
Pasien belum menikah.
11. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan terlibat dalam masalah hukum.
12. Aktivitas sosial
Menurut ibu dahulu pasien merupakan anak yang periang mudah bergaul dengan lingkungan sekitar dan tetangga. Pasien memiliki interaksi sosial yang baik dengan teman tetangga di lingkungan tempat tinggalnya. Pasien sering mengobrol dan bermain dengan tetangga yang seusia dengannya. Namun sejak lebih kurang 2 bulan ini pasien cenderung meneyendiri, terlihat seperti  anak idiot
D. Riwayat Keluarga
Di keluarga pasien tidak terdapat keluarga yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. Hubungan pasien dengan keluarga inti seperti ayah, ibu, kakak adik dan keluarga besarnya baik.

Genogram








Keterangan :

                               Laki-laki

 Pasien Laki- laki

 Perempuan

 Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien

 Menikah











E. Situasi Kehidupan Sekarang
Pasien sekarang tinggal dengan ibu, ayah, dan kakak. Lingkungan tempat tinggal terkesan cukup baik. Pasien tinggal di daerah yang cukup padat penduduk dan berdekatan dengan tetangga. Hubungan pasien dengan keluarga dan tetangga dikenal cukup baik. Pasien mengatakan bahwa tidak ada masalah atau hal-hal yang membebani pikirannya. Keadaan ekonomi kelas menengah kebawah. Ayah pasien bekerja sebagai kuli bangunan dan ibu jualan sayur.

F. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya dan Lingkungannya
Pasien menyadari kalau dirinya sedang sakit dan butuh pengobatan. Pasien mengetahui kalau menghisap lem itu berbahaya tetapi karena diajak oleh teman akhirnya pasien ingin terus ngelem. Pasien ingin berhenti ngelem dan ingin berobat agar sembuh dari keluhannya dan kembali sekolah

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 11 Desember 2015, hasil pemeriksaan ini menggambarkan situasi keadaan pasien saat dilakukan pemeriksaan di poli RSKJ Bengkulu.
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Seorang laki-laki paras wajah sesuai usia dengan postur tubuh yang astenikus, Pasien mengenakan baju kaos coklat dan celana pendek berbahan katun, dengan rambut. warna kulit sawo matang, rambut potong pendek berwarna hitam, kuku panjang dan kotor , tampak tenang, kebersihan kurang.
2. Kesadaran
Compos mentis, secara kualitas berubah.
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Pasien tampak hipoaktif dalam bergerak dan pendiam, terkadang pasien tertawa ngikik sendiri. Pasien tidak terrlihat gerak-gerik yang tidak bertujuan, gerakan berulang, / gerakan abnormal/involunter.


4. Pembicaraan
Kualitas: pasien tidak dapat menjawab pertanyaan dengan segera jika ditanya dan menjawab pertanyaan dengan sangat lambat, Intonasi berbicara pasien cukup jelas dengan nada suara yang rendah.
5. Sikap terhadap pemeriksa
   Pasien kurang kooperatif, kontak mata in adekuat. Pasien sulit menjawab pertanyaan tampak kebingungan dan  memiringkan kepalanya sambil tertawa ngikik.
B. Keadaan Afektif
1. Mood : Hipotimia
2. Afek : Tumpul
C. Gangguan Persepsi
Halusinasi auditorik (+): pasien mendengan bisikan-bisikan seperti  teman-temannya yang mengajak ngobrol sehingga pasien sering tertawa sendiri.
D. Proses Pikir
1. Bentuk pikir : non realistik
2. Arus piker:  inkoheren
3. Isi pikiran : kemiskinan isi piker, pikiran yang hanya menghasilkan sedkit informasi dikarenakan ketidakjelasan berbicara.
E. Fungsi Intelektual / Kognitif
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
• Taraf pendidikan
Pasien saat ini duduk di bangku SMP
• Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat ibukota Negara Indonesia dan Presiden Indonesia.
2. Daya konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien kurang baik, pasien tidak dapat menghitung dengan benar angka-angka yang diberikan pemeriksa seperti 15+20 dan 10+15.



3. Orientasi
• Waktu :Baik, pasien mengetahui waktu wawancara dilakukan yaitu pagi hari.
• Tempat :Baik, pasien mengetahui dia sedang berada dipoli RSKJ Bengkulu.
• Orang : Baik, pasien mengetahui nama ayah, ibu pasien. Selain itu pasien juga mengetahui dirinya diwawancarai oleh siapa.
• Situasi : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang konsultasi dan  wawancara.
4. Daya Ingat
• Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien masih dapat mengingat dimana pasien dulu menempuh pendidikan sekolah dasar.
• Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat cerita pasien saat sekolah dasar
• Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat menging apa aktivitas yang dilakukannya kemarin malam.
• Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa.
6. Kemampuan baca tulis: menurun
7. Berpikir abstrak: baik, pasien dapat menjelaskan persamaan jeruk dan apel.
8. Kemampuan menolong diri sendiri : kurang baik, pasien dapat melakukan perawatan diri sehari - hari namun dengan  disuruh seperti mandi, makan dan minum.

F. Daya Nilai
Daya nilai sosial pasien kurang baik.
G. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien kurang baik, selama wawancara pasien emosi stabil  kurang  kooperatif selama pemeriksaan dilakukan.
H. Tilikan
Tilikan derajat 5, karena pasien menyadari bahwa dirinya sedang mengalami gangguan yang menyebabkan pasien bertingkah aneh, dan hal ini dikarenakan penyalahgunaan lem aibon yang dikonsumsinya namun pasien tidak menerapkan untuk menghindari prilaku praktisnya.
I. Taraf Dapat Dipercaya
Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup akurat, pasien berkata dengan jujur mengenai peristiwa yang terjadi, dan di cross check juga dengan keterangan dari ibu pasien yang menceritakan kejadian yang serupa.

IV. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Generalis
• KU : Tampak Sehat
• Sensorium : Compos mentis, secara kualitas berubah
Vital Sign
• TD : 110/70 mmHg
• Nadi : 86 x/menit
• RR : 22 x/menit
• Suhu : 36,0oC
b. Status Internus
Kepala Normosefali, deformitas tidak ada.
Mata Edema palpebra tidak ada,sklera ikterik -/-, konjungtiva palpebra anemis -/-
Hidung Simetris, deformitas (-), deviasi (-), tidak ada sekret.
Telinga Simetris,bentuk dalam batas normal, menggantung, deformitas
(-),sekret (-), nyeri tekan tragus  mastoid tidak ada
Mulut Bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal, tiroid tidak membesar
Thorax Tidak terdapat skar, spider naevi (-), simetris kiri dan kanan
Paru I: Pernapasan statis-dinamis kiri = kanan.
P: Stemfremitus simetris kiri dan kanan
P: Sonor disemua lapang paru
A: Suara nafas vesikuler normal (+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
Jantung I: Iktus kordis tidak  terlihat
P: Iktus kordis tidak teraba
P: Tidak dilakukan
A: Bunyi jantung I dan II normal, gallop (-), murmur (-)
Abdomen I: Datar, tampak benjolan (-)
A: Bising usus (+)
P: Timpani (+) di seluruh regio abdomen
P: Nyeri tekan (-)
Ektremitas Superior, inferior, dekstra, sinistra dalam batas normal

Status Neurologis
i. Saraf kranial : dalam batas normal
ii. Saraf motorik : dalam batas normal
iii. Sensibilitas : dalam batas normal
iv. Susunan saraf vegetatif : dalam batas normal
v. Fungsi luhur : dalam batas normal


VI. FORMULASI DIAGNOSIS
1. Laki-laki usia 14 tahun
2. Penampilan kurang rapi dengan baju kaos lengan pendek dan celana pendek dan rambut yang pendek
3. Pasien sering melamun dan tertawa sendiri
4. Pasien marah jika tidak diizinkan untuk bermain dengan temantemannya
5. Pasien memiliki riwayat menghisap lem aibon
6. Pasien kurang kooperatif, kontak mata in adekuat, pembicaraan pasien lambat. Mood pasien tampak hipotimia, afek tumpul.
7. Pada pasien terdapat halusinasi auditorik, pasien sering mendengan bisikan bisikan seperti temannya dan tertawa sendiri.
8. Kemampuan intelektual pasien menurun.

VII. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
• Aksis I
• F 16 Gangguan mental dan Perilaku akibat penggunaan Halusinogenika
• Z 63    Masalah hubungan dengan teman-teman

• Aksis II
Obsesi kompulsi (terhadap zat halusinogenika)
• Aksis III
Tidak ada diagnosis
• Aksis IV
Maslah lingkungan ( ajakan teman temannya)
• Aksis V
GAF scale 60 – 51 (gejala sedang/moderate, disabilitas sedang)

VIII. PROGNOSIS
Prognosis Ke Arah Baik
 Pasien ada keinginan diri untuk sembuh
 Keluarga mendukung pasien untuk sembuh.
 Pasienmasihmemiliki keinginan untuk  bekerja
 Pasien ingin berhenti menggunakan zat




Prognosis pasien secara menyeluruh adalah bonam. Sehinggakesimpulan prognosis pada pasienberdasarkanwawancaradiatas
sebagaiberikut :
• Quo Ad Vitam : bonam
• Quo Ad Functionam : bonam
• Quo Ad Sanationam : bonam

IX. Terapi
• Farmakoterapi
o Risperidone  2 x 1 mg

• Psikoterapi & Edukasi
o Menyarankan untuk mencari kesibukan dan interaksi sosial dengan orang lain dengan tujuan untuk mengatasi kambuhnya gejala
o Memberikan dukungan dan meyakinkan kembali kemampuan pasien bahwa ia sanggup untuk menghadapi masalah yang sedang di alami.
o Memberikan pemahaman pentingnya teratur dan patuh minum obat untuk memperkecil peluang kekambuhan
o Memberikan motivasi pada pasien agar tidak menggunakan obat-obatan dan alkohol
o Edukasi pada keluarga agar lebih memperhatikan pergaulan anaknya dan memantau anaknya dalam pergaulan sehari-hari
o Edukasi keluarga untuk memperhatikan pengobatan pasien, memantau pasien minum obat.

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT
- Pemeriksaan laboratorium
b. Pemeriksaan fungsi hati
- Pemeriksaan radiologi
a. Foto thorax

II. Pembahasan
Dari hasil wawancara, tidak ditemukan kelainan fisik yang berhubungan dengan gejala-gejala psikiatrik yang dialami pasien, seperti riwayat trauma atau gangguan otak. Dengan demikian, diagnosis banding gangguan mental organik (F0) dapat disingkirkan.
Selain itu, ditemukan riwayat penggunaan zat LSD seperti pada lem yang dikonsumsi dengan cara dihirup pasien. Dengan demikian, gangguan mental akibat penggunaan zat (F1) perlu dipikirkan. Pada pasien didapatkan kondisi peralihan yang timbul akibat zat adiktif sehingga terjadi gangguan kesadaran,gangguan persepsi,afek atau perilaku. Intensitas intoksikasi berkurang dengan berlalunya waktu dan pada akhirnya efeknya menghilang setelah tidak terjadi penggunaan zat lagi. Jadi pada kasus ini pasien dapat didiagnosis F 16  yaitu Gangguan mental dan Perilaku akibat penggunaan zat halusinogenik.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Gangguan penggunaan zat

Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/ Obat berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.
Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja, tapi sudah sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Dari data yang ada, penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 15–24 tahun. Tampaknya generasi muda adalah sasaran strategis perdagangan gelap NAPZA. Oleh karena itu kita semua perlu mewaspadai bahaya dan pengaruhnya terhadap ancaman kelangsungan pembinaan generasi muda.

I.2 Jenis napza yang sering disalahgunakan

1. NARKOTIKA (Menurut Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika).
NARKOTIKA : adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
NARKOTIKA dibedakan kedalam golongan-golongan :
Narkotika Golongan I :
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan, (Contoh : heroin/putauw, kokain, ganja).
Narkotika Golongan II :
Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan (Contoh : morfin, petidin)
Narkotika Golongan III :
Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan (Contoh : kodein)

I.3 PSIKOTROPIKA (Menurut Undang-undang RI No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika). Yang dimaksud dengan:
Psikotropika  adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
• PSIKOTROPIKA GOLONGAN I :
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. (Contoh: ekstasi, shabu, LSD)
• PSIKOTROPIKA GOLONGAN II :
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.         (Contoh amfetamin, metilfenidat atau ritalin)
• PSIKOTROPIKA GOLONGAN III :
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan (Contoh : pentobarbital, Flunitrazepam)
• .PSIKOTROPIKA GOLONGAN IV :
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh : diazepam, bromazepam, Fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam, seperti pil BK, pil Koplo, Rohip, Dum, MG).
- Halusinogenika : Iysergic acid dyethylamide (LSD), mushroom.

3. ZAT ADIKTIF LAIN
Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
• Minuman berakohol
- Golongan A : kadar etanol 1-5%, (Bir)
- Golongan B : kadar etanol 5-20%, (Berbagai jenis minuman anggur)
- Golongan C : kadar etanol 20-45 %, (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House,
Johny Walker, Kamput.)
• Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalah gunakan, antara lain : Lem, thinner, penghapus cat kuku, bensin.
• Tembakau : Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di
masyarakat. Pada upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang lebih berbahaya. Bahan/ obat/zat yang disalahgunakan dapat juga diklasifikasikan sebagai berikut

I.4  Penyalahgunaan zat adiktif lem aibon
Lem Aibon adalah lem serbaguna, untuk merekatkan berbagai alat atau barang. Lem ini berguna untuk merekatkan barang dari bahan kulit binatang (tas, sepatu), plastik, kayu, kertas, aluminium, karet, tembaga, besi dan lain-lain. Jenis lem ini sering disalahgunakan biasanya oleh anak-anak jalanan untuk membuat mereka mabuk karena lem ini termasuk kategori zat adiktif yang berbahaya.
Inhalen adalah dimana seseorang menghirup uap dari zat pelarut (thinner cat), uap lem, atau zat lainnya yang dapat membuat mabuk. Inhalen sendiri adalah senyawa organik berupa gas pelarut yang mudah menguap. Senyawa ini biasa ditemukan dalam zat – zat yang mudah ditemukan anak–anak dan remaja seperti lem aica aibon, pelarut cat, tip-ex, bensin, pernis, aseton, dan sebagainya. Dengan harga yang cukup murah dan dijual secara bebas, maka produk yang mengandung inhalen menjadi semacam narkotika yang mudah didapatkan.

Zat yang terdapat dalam lem aibon adalah Lysergic Acid Diethyilamide (LSD). Lysergic acid diethylamide (LSD) adalah halusinogen yang paling terkenal yang disarikan dari jamur kering (dikenal sebagai ergot) yang tumbuh pada rumput gandum. LSD adalah cairan tawar, yang tidak berwarna dan tidak berbau yang sering diserap ke dalam zat yang cocok seperti kertas pengisap dan gula blok, atau dapat dipadukan dalam tablet, kapsul atau kadang-kadang gula-gula. Bentuk LSD yang paling popular adalah kertas pengisap yang terbagi menjadi persegi dan dipakai dengan cara ditelan.
Lysergic Acid Diethyilamide (LSD) mempengaruhi sejumlah besar reseptor pasangan protein-G termasuk semua reseptor dopamine.ikatan LSD pada sebagian besar subtype reseptor serotonin kecuali 5-HT3 dan 5 HT4. Efeknya dapat mulai dalam satu jam setelah memakai dosis bertambah antara 2-8 jam dan berangsur hilang secara perlahan-lahan setelah kurang lebih 12 jam. Penggunaan LSD efeknya dapat menjadi nikmat yang luar biasa, sangat tenang dan mendorong perasaan nyaman. Sering kali ada perubahan pada persepsi, pada penglihatan, suara, penciuman, perasaan dan tempat. Efek negatif LSD dapat termasuk hilangnya kendali emosi, disorientasi, depresi, kepeningan, perasaan panik yang akut dan perasaan tak terkalahkan, yang dapat mengakibatkan pengguna menempatkan diri dalam bahaya fisik.
Pengguna jangka panjang dapat mengakibatkan sorot balik pada efek halusinogenik, yang dapat terjadi berhari-hari, berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan setelah memakai LSD. Tidak ada bukti atau adanya ketergantungan fisik dan tidak ada gejala putus zat yang telah diamati bahkan setelah dipakai secara berkesinambungan. namun, ketergantungan kejiwaan dapat terjadi. Efek LSD normalnya 6-12 jam setelah menggunakan, tergantung pada dosis, toleransi, berat badan dan umur. Keberadaan LSD tidak lebih lama keberadaannya daripada obat-obat dengan level signifikan di dalam darah.

I.5 TERAPI DAN REHABILITASI
Terapi dan Rehabilitasi ketergantungan NAPZA tergantung kepada teori dan filosofi yang mendasarinya. Dalam nomenklatur kedokteran ketergantungan NAPZA adalah suatu jenis penyakit atay dusease entity yang dalan International classification of diseases and health related problems-tenth revision 1992 (ICD-10) yang dikeluarkan oleh WHO digolongkan dalam Mental and behavioral disorders due to psychoactive subsstance use. Ketergantungan NAPZA secara klinis memberikan gambaran yang berbeda-beda dan tergantung banyak faktor,antara lain :
- Jumlah dan jenis NAPZA yang digunakan
- Keparahan (severrity) gangguan dan sejauh mana level fungsi keperibadian terganggu
- Kondisi psiikiatri dan medis umum
- Konteks sosial dan lingkungan pasien dimana dia tinggal dan diharapkan kesembuhannya
Sebelum dilakukan intervensi medis, terlebih dahulu harus dilakukan assessment terhadap pasien dan kemudian baru menentukan apa yang menjadi sasaran dari terapi yang akan dijalankan
Tatalaksana Terapi dan Rehabilitasi NAPZA terdiri dari :
- Outpatient (rawat jala)
- Inpatient (rawat inap)
- Residency (Panti/Pusat Rehabilitasi)

• TUJUAN TERAPI DAN REHABILITASI
1. Abstinensia atau menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA.
    Tujuan ini tergolong sangat ideal,namun banyak orang tidak mampu atau mempunyai motivasi untuk mencapai tujuan ini, terutama kalau ia baru menggunakan NAPZA pada fase-fase awal. Pasien tersebut dapat ditolong dengan meminimasi efek-efek yang langsung atau tidak langsung dari NAPZA. Sebagian pasien memang telah abstinesia terhadap salah satu NAPZA tetapi kemudian beralih untuk menggunakan jenis NAPZA yang lain.
2. Pengurangan frekuensi dan keparahan relaps
Sasaran utamanya adalah pencegahan relaps Bila pasien pernah menggunakan satu kali saja setelah “clean” maka ia disebut “slip”. Bila ia menyadari kekeliruannya,dan ia memang telah dobekali ketrampilan untuk mencegah pengulangan penggunaan kembali, pasien akan tetap mencoba bertahan untuk selalu abstinensia. Pelatihan relapse prevention programe, Program terapi kognitif, Opiate antagonist maintenance therapy dengan naltreson merupakan beberapa alternatif untuk mencegah relaps.
3. Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial. Dalam kelompok ini,abstinensia bukan merupakan sasaran utama. Terapi rumatan (maintence) metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran terapi golongan ini.










































DAFTAR PUSTAKA

1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Concise Textbook of Clinical Psychiatry. 3rd Edition. 2008. USA Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, Wolters Kluwer Business.P 200-18.
2. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi Kedua. 2009. Surabaya: Airlangga University Press.
3. Maslim, Rusdi. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. 2007. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Unika Atmajaya.
4. Referensi : Willis S. (2009). Penyalahgunaan zat adiktif lem aibon oleh anak jalanan di kota makasar. Jurnal. 2(3): 201-29

Lia Andini SN

Posts : 6
Reputation : 0
Join date : 2016-01-09

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum