KECANDUAN INTERNET PADA GANGGUAN KECEMASAN DENGAN COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY (CBT)

View previous topic View next topic Go down

KECANDUAN INTERNET PADA GANGGUAN KECEMASAN DENGAN COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY (CBT)

Post by Marlia Novelia Safitri on Mon Apr 25, 2016 12:42 am

KECANDUAN INTERNET PADA GANGGUAN KECEMASAN DENGAN
COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY (CBT)




BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan internet dari zaman ke zaman semakin pesat, segala kebutuhan informasi yang dibutuhkan bisa didapatkan melalui searching internet. Keragaman informasi inilah yang menjadikan seseorang bertahan lama untuk didepan komputer, informasi yang didapatkan bisa berupa pekerjaan, pendidikan, hobi, bisnis, dan lain-lain sesuai kebutuhan yang diinginkan. Keragaman dan kemudahan yang ditawarkan internet membuat semakin meningkat penggunaannya, peningkatan dari penggunaan internet yang sangat intensif menimbulkan berbagai berbagai permasalahan yang berupa kecanduan internet (internet addiction) (Helly, 2008).
Addiction berkaitan dengan ketergantungan seseorang terhadap substance atau zat yang merugikan tubuh. Menurut Davis kecanduan sebagai ketergantungan secara psikologis antara seseorang dengan suatu stimulus yang biasanya tidak selalu berupa suatu benda atau zat. Kecanduan internet dapat menyebabkan gangguan kecemasan merupakan perasaan cemas atau khawatir yang tidak realistik terhadap dua atau lebih hal yang dipersepsikan sebagai ancaman, perasaan menyebabkan individu tidak mampu istirahat dengan tenang yang berdampak pada gangguan dalam sosial, akademik, keuangan, psikologis, dan bekerja (Kaplan, 2010).
Gangguan kecemasan memiliki beberapa katagori salah satunya berupa gangguan panik dan gangguan cemas menyeluruh. Gangguan panik ditandai dengan adanya serangan panik yang tidak diduga dan spontan terdiri atas periode rasa takut yang intens yang hati-hati dan bervariasi dari sejumlah serangan selama satu tahun. Gangguan Cemas menyeluruh merupakan kondisi gangguan yang ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan dan tidak rasional bahkan terkadang tidak realistik terhadap berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dialami hampir sepanjang hari, berlangsung sekurangnya selama 6 bulan (Maslim, 2001; Kaplan, 2010).
Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat kecanduan internet dengan gangguan kecemasan terhadap terapi perilaku kognitif untuk mengontrol dalam penggunaan internet terhadap pasien dengan gangguan kecemasan yang memberikan langkah demi langkah untuk menghentikan perilaku internet kompulsif dan mengubah persepsi mengenai internet (Helly, 2008).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gangguan Panik
2.1.1 Definisi
Gangguan kecemasan merupakan keadaan skiatri yang paling sering ditemukan di Amerika Serikat dan diseluruh dunia. Studi menunnjukkan bahwa gangguan ini meningkatkan morbiditas, penggunaan pelayanan kesehatan, dan hendaya fungsional. Pemahaman nueroanatomi dan biologi molekular kecemasan menjanjikan pengertian baru mengenai etiologi dan terapi yang lebih spesifik dimasa mendatang (Kaplan, 2010). Gangguan panik atau Panic Disorder (PD) ditandai dengan adanya serangan panik yang tidak diduga dan spontan terdiri atas periode rasa takut yang intens yang hati-hati dan bervariasi dari sejumlah serangan selama satu tahun (Sylvia, 2013).

2.1.2 Epidemiologi
Studi epidemiologi melaporkan angka prevalensi seumur hidup 1,5 sampai 5 % untuk gangguan panik dan 3 sampai 5,6 % untuk serangan panik. Sebagai contohnya, satu penelitian terakhir pada lebih dari 1.600 orang dewasa yang dipilih secara acak di Texas menemukan bahwa angka prevalensi seumur hidup adalah 3,8 % untuk gangguan panik, 5,6 % untuk serangan panik, dan 2,2% untuk serangan panik dengan gejala yang terbatas yang tidak memenuhi kriteria diagnostik. Gangguan panik pada perempuan 2/3 dari laki-laki. Pada umumnya terjadi pada usia dewasa muda, sekitar 25 tahun, tetapi bisa terjadi pada usia berapa pun, termasuk anak-anak dan remaja (Kaplan, 2010; Sylvia, 2013).
Jenis Kelamin wanita 2-3 kali lebih sering terkena dari pada laki-laki, walaupun kurangnya diagnosis gangguan panik pada laki-laki mungkin berperan dalam distribusi yang tidak sama tersebut. Perbedaan antara kelompok Hispanik, kulit putih non-Hispanik, dan kulit hitam adalah sangat kecil. Faktor sosial satu-satunya yang dikenali berperan dalam perkembangan gangguan panik adalah riwayat perceraian atau perpisahan yang belum lama. Gangguan paling sering berkembang pada dewasa muda usia rata-rata timbulnya adalah kira-kira 25 tahun, tetapi baik gangguan panik maupun agorafobia dapat berkembang pada setiapusia. Sebagai contohnya. gangguan panik telah dilaporkan terjadi pada anak-anak dan remaja serta kemungkinan kurang diagnosis pada mereka (Kaplan, 2010; Sylvia, 2013).

2.1.3 Etiologi
a. Faktor biologis
Gajala gangguan panik terkait dengan abnormalitas biologis dalam struktur dan fungsi otak, sebagian besar penelitian dilakukan diarea dengan penggunaan stimulan biologis untuk mencetuskan serangan panik pada pasien dengan gangguan panik. Beberapa hipotesis menyebutkan adanya keterlibatan disregulasi sistem saraf perifer dan pusat dalam patofisiologi gangguan panik. Sistem saraf otonom pada sejumlah pasien dengan gangguan panik dilaporkan menunjukkan peningkatan tonus saraf simpatis, beradaptasi lambat terhadap stimulus berulang, dan berespon berlebihan terhadap stimulus sedang.studi status neuroendokrin menunjukkan beberapa abnormalitas, walaupun beberapa studi tidak menghasilkan temuan yang tidak konsisten (Kaplan, 2010).
Sistem neurotransmiter utama yang terlibat adalah norepinefrin, serotonin, dan asam ɣ-aminobutirat (GABA). Disfungsi serotonergik cukup terlihat pada gangguan panik dan berbagai studi dengan obat campuran agonis- antagonis serotonin menunjukkan peningkatan angka ansietas. Respon tersebut dapat disebabkan oleh hipersensitivitas serotonin pascasinaps pada gangguan panik. Terdapat bukti preklinis bahwa melemahnya transmisi inhibisi lokal GABAnergik di amigdala basolateral, otak tengah, dan hipotalamus dapat mencetuskan respon fisologis mirip ansietas. Keseluruhan data biologis mengarahkan pada suatu fokus di batang otak (terutama neuron nonadrenergik) pada locus cereleus dan neuron serotonergik pada raphe nucleus media), sistem limbik (bertanggung jawab dalam pembentukan ansietas antisipatorik), dan korteks prafrontal (bertanggung jawab dalam pembentukan pengindaran fobik). Neurotransmiter yang terlibat yang terlibat diantaranya nonadrenergik juga menarik banyak perhatian, terutama reseptor α2-prasinaps yang memegang peran yang signifikan. Reseptor ini diidentifikasi melalui percobaan farmakologis dengan agonis reseptor α2-klonidin (catapres) dan antagonis reseptor α2-yohimbin yang merangsangletupan pada locus sereleus dan menimbulkan tingkat aktivitas mirip panik yang tinggi pada pasien dengan gangguan panik (Kaplan, 2010).
b. Faktor Genetik
Bahwa gangguan ini memiliki komponen genetika yang jelas. Angka prevalensi tinggi pada anak dengan orang tua yang menderita gangguan panik. Berbagai penelitian telah menemukan adanya peningkatan resiko gangguan panik sebesar 4-8 kali lipat pada sanak saudara derajat pertama pasien dengan gangguan panik dibandingkan dengan sanak saudara derajat pertama dari pasien dengan gangguan psikiatrik lainnya. Demikian juga pada kembar monozigot (Kaplan, 2010)
c. Faktor Psikososial
Baik teori kognitif perilaku dan psikoanalitik telah dikembangkan untuk menjelaskan patogenesis gangguan panik dan agoraphobia. Teori kognitif perilaku menyatakan bahwakecemasan adalah suatu respon yang dipelajari baik dari perilaku modeling orang tua ataumelalui proses pembiasan klasik (kaplan, 2010).
Teori psikoanalitik memandang serangan panik sebagai akibat dari pertahanan yang tidak berhasil dalam melawan impuls yang menyebabkan kecemasan. Apa yang sebelumnyamerupakan suatu sinyal kecemasan ringan menjadi suatu perasaan ketakutan yang melanda,lengkap dengan gejala somatik.
Peneliti menyatakan bahwa penyebab serangan panic kemungkinan melibatkan arti bawah sadar peristiwa yang menegangkan dan bahwa patogenesis serangan panik mungkin berhubungan dengan faktor neurofisiologis yang dipicu oleh reaksi psikologis (Kaplan, 2010).

2.1.4 Gejala
Serangan panik adalah periode kecemasan atau ketakutan yang kuat dan relative singkat dan disertai gejala somatik. Suatu serangan panik secara tiba-tiba meneurut Kaplan, 2010 akan menyebabkan minimal 4 dari gejala-gejala somatik berikut:
a. Palpitasi jantung berdebar; atau denyut jantung meningkat.
b. Berkeringat.
c. Gemetar.
d. Rasa nafas pendek atau nafas tercekik.
e. Rasa tersedak.
f. Nyeri atau tidak nyaman didada.
g. Mual atau gangguan abdomen.
h. Rasa pusing, tidak stabil, kepala terasa ringan, atau pingsan.
i. Derealisasi (rasa tidak nyata) atau depersonalisasi (lepas dari diri sendiri).
j. Rasa takut kehilangan kendali atau menjadi gangguan jiwa.
k. Rasa takut mati.
l. Parastesi (kebas atau rasa kesemutan).
m. Menggigil atau rona merah diwajah.
Serangan panik pertama seringkali sama sekali spontan,walaupun serangan panik kadang-kadang terjadi setelah luapan kegembiraan, kelelahan fisik,aktivitas seksual, atau trauma emosional sedang. DSM-IV menekankan bahwa sekurangnya serangan pertama harus tidak diperkirakan (tidak memiliki tanda) untuk memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan panic. Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10 menit (Kaplan, 2010).

2.1.5 Diagnosis
Kriteria diagnostic untuk Gangguan Panik dari DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (Kaplan, 2010) bahwa suatu periode tertentu adanya rasa takut atau tidak nyaman, di mana empat (atau lebih) gejala berikut ini terjadi secara tiba-tiba dan mencapai puncaknya dalam 10 menit
a. Palpitasi, jantung berdebar kuat, atau kecepatan jantung bertambah cepat.
b. Berkeringat.
c. Gemetar atau berguncang.
d. Rasa nafas sesak atau tertahan.
e. Perasaan tercekik.
f. Nyeri dada atau perasaan tidak nyaman.
g. Mual atau gangguan perut.
h. Perasaan pusing, bergoyang, melayang, atau pingsang.
i. Derealisasi (perasaan tidak realitas) atau depersonalisasi (bukan merasa diri sendiri).
j. Ketakutan kehilangan kendali atau menjadi gangguan jiwa.
k. Rasa takut mati.
l. Parestesia (mati rasa atau sensasi geli)
m. Menggigil atau perasaan panas.

Konsep diagnosis gangguan jiwa yang terdapat dalam PPDGJ III dalam buku karangan Malim (2001) dengan kode F.41.0 adalah sebagai berikut :
a. Gangguan panik baru ditegakkan sebagai diagnosis utama bila tidak dietemukan adanya gangguan anxietas fobik (F.40.-)
b. Untuk diagnosis pasti, harus ditemukan adanya beberapa kali serangan anxietas berat (Severe attack of autonomic anxiety) dalam masa kira-kira satu bulan :
1) Pada keadaan-keadaan dimana sebenarnya secara objektif tidak ada bahaya
2) Tidak terbatas pada situasi yang telah diketahui atau dapat diduga sebelumnya (unpredictable situations)
3) Denga keadaan yang relatif bebas dari gejala-gejala anxietas pada periode diantara serangan-serangan panik (meskipun demikian umumnya dapat terjadi juga “anxietas antisipatorik” yaitu anxietas yang terjadi setelah membayangkan suatu yang mengkhatirkan akan terjadi.

2.1.6 Prognosis
Gangguan panik biasanya memiliki onsetnya selama masa remaja akhir atau masa dewasa awal, walaupun onset selama masa anak-anak, remaja awal, dan usia pertengahan dapat terjadi. Biasanya kronik dan bervariasi tiap individu. Frekuensi dan kepasrahan serangan panik mungkin berfluktuasi. Serangan panik dapat terjadi beberapa kali sehari atau kurang dari satu kali dalam sebulan. Penelitian follow up jangka panjang gangguan panik sulit diinterpretasikan. Namun demikian kira-kira 30-40% pasien tampaknya bebas dari gejala follow up jangka panjang, kira-kira 50% memiliki gejala yang cukup ringan yang tidak mempengaruhi kehidupannya secara bermakna dan kira-kira 10-2 % terus memiliki gejala yang bermakna. Depresi dapat mempersulit gambaran gejala pada kira-kira 40-80% dari semua pasien.Pasien dengan fungsi premorbid yang baik dan lama gejala singkat cenderung memiliki prognosis yang baik (Kaplan, 2010).

2.1.7 Psikoterapi
1) Terapi lekasasi, diberikan hampir semua individu yang mengalami gangguan panik, kecuali yang bersangkutan menolak. Terapi ini bermanfaat meredakan secara relatif cepat serangan panik dan menenangkan individu, namun dapat dicapai bagi yang telah berlatih setiap hari. Prinsipnya adalah melatih pernafasan (manarik nafas dalam dan lambat, lalu mengeluarkannya dengan lambat pula), mengendurkan seluruh otot tubuh dan mensugesti pikiran ke arah konstruktif atau yang diinginkan akan dicapai. Dalam proses terapi dokter akan membimbing individu melakukan ini secara perlahan-lahan, biasanya berlangsung 20-30 menit atau lebih lama lagi. Setelah itu individu diminta untuk melakukannya sendiri di rumah setiap hari, sehingga bila sernagan panik muncul kembali, tubuh sudah siap untuk relaksasi (Sylvia, 2013).
2) Terapi kognitif perilaku
Individu diajak untuk bersama-sama melakukan resrukturisasi kognitif, yaitu membentuk kembali pola perilaku dan pikiran yang irasional dan menggantinya dengan yang lebih rasional. Terapi biasanya berlangsung 30-45 menit. Individu kemudian diberi pekerjaan rumah yang harus dibuat tiap hari, membuat daftar pengalaman harian dalam menyikapi berbagai peristiwa yang dialamai misal yang menegecewakan atau yang menyedihkan. Pekerjaan rumah akan dibahas pada kunjungan konsultasi berikutnya. Biasanya terapi memerlukan 10-15 kali pertemuan bisa kurang namun dapat pula lebih tergantung kondisi individu yang mengalaminya (Sylvia, 2013).
3) Psikoterapi dinamik
Individu diajak untuk lebih memahami diri dan kepribadiannya, bukan sekedar menghilangkan gejala saja. Pada psikoterapi ini individu lebih banyak berbicara, sedangkan dokter lebih banyak mendengar, kecuali pada individu benar-benar pendiam, maka dokter yang lebih aktif. Terapi ini memerlukan waktu panjang dapat berbulan-bulan bahkan bertahun. Hal ini memerlukan kerjasama yang baik antara dokter serta kesabaran kedua belah pihak (Sylvia, 2013).

2.2. Gangguan Cemas Menyeluruh
2.2.1 Definisi
Gangguan Cemas menyeluruh atau disebut Generalized Anxiety Disorder (GAD) merupakan kondisi gangguan yang ditandai dengan kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan dan tidak rasional bahkan terkadang tidak realistik terhadap berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dialami hampir sepanjang hari, berlangsung sekurangnya selama 6 bulan (kaplan, 2010). Kecemasan yang dirasakan sulit untuk dikendalikan dan berhubungan dengan gejala-gejalan somatik seperti ketegangan otot, iritabilitas, kesulitan tidur, dan kegelisahan sehingga mneyebabkan penderitaan yang jelas dan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial dan pekerjaan (Sylvia, 2013).

2.2.2 Epidemiologi
Gangguan kecemasan menyeluruh adalah suatu keadaan yang lazim, perkiraan yang masuk akal untuk prevalensi 1 berkisar tahun antara 3 dan 8%. Rasio perempuan banding laki-laki pada gangguan ini sekitar 2:1 tetapi rasio perempuan banding laki-laki yang dirawat inap di rumah sakit untuk gangguan ini sekitar 1:. Prevalensi seumur hidupnya adalah 45% (Kaplan, 2010). Angka prevalensi gangguan cemas menyeluruh 3-8% dan rasio perempuan dan laki-laki sekitar 2:1. Pasien gannguan cemas menyeluruh sering memiliki komorbiditas dengan gangguan mental lainnya seperti gangguan panik, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres pasca trauma, dan gangguan depresi berat (Sylvia, 2013).

2.2.3 Etiologi
a. Teori Biologi
Area otak yang diduga terlibat pada timbulnya GAD adalah lobus oksipitalis yang memepunyai reseptor benzodiazepin tertinggi di otak. Basal ganglia, sistem limbik dan korteks frontal juga dihoptesiskan terlibat pada etiologi timbulnya GAD. Pada pasien GAD juga ditemukan sistem serotonergik yang banormal. Neurotransmitter yang berkaitan dengan GAD adalah GABA, serotonin, norepinefrin, glutamat, dan kolesistokinin. Pemeriksaan PET (Positron Emission Tomography) pada pasien GAD ditemukan penurunan metabolisme di ganglia basal dan massa putih otak (Kaplan, 2010; Sylvia, 2013).
b. Teori Genetik
Sebuah studi didapatkan hubungan genetik pasien GAD dan gangguan Depresi Mayor pada wanita. Sekitar 25% dari keluarga tingkat pertama penderita GAD juga mengalami gangguan yang sama. Sedangkan penelitian pada pasangan kembar didaptkan angka 50% pada kembar monozigotik dan 15% pada kembar dizigotik (Kaplan, 2010; Sylvia, 2013).
c. Teori psikoanalitik
Menghipotesiskan bahwa anxietas adalah gejala dari konflik bawah sadar yang tidak terselesaikan. Pada tingkat yang paling primitif anxietas dihubungkan dengan perpisahan dengan objek cinta. Pada tingkat yang lebih matang lagi anxietas dihubungkan dengan kehilangan cinta dari objek yang penting. Anxietas kastrasi berhubungan dengan dengan fase oedipal sedangkan anxietas superego merupakan ketakutan seseorang untuk menegecewakan nilai dan pandangannya sendiri (merupakan anxietas yang paling matang) (Kaplan, 2010; Sylvia, 2013).
d. Teori Kognitif Perilaku
Penderita GAD berespon secara salah dan tidak tepat terhadap ancaman, disebabkan oleh perhatian yang selektif terhadap hal-hal negtif pada lingkungan, adanya distorsi pada pemprosesan informasi dan pandangan yang sangat negatif terhadap kemampuan diri untuk mengahadapi ancaman (Kaplan, 2010; Sylvia, 2013).

2.2.4 Gejala
Gejala utama GAD adalah anxietas, ketegangan motorik, hiperaktivitas otonom, dan kewaspadaan secara kognitif. Kecemasan bersifat berlebihan dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan pasien. Ketegangan mtorik bermanifestasi bergetar, kelelahan, dan sakit kepala. Hiperaktivitas autonomtimbul dalam bentuk pernafasan yang pendek, berkeringat, palpitasi dan sertai gejala saluran pencernaan. Terdapat juga kewaspadaan kognitif dalam bentuk iritabilitas.Pasien GAD biasanya datang ke dokter umum dengan keluhansomatik, atau datang ke dokter spesialis karena gejala spesifik seperti diare kronik. Pasien biasanya memperlihatkan perilaku mencari perhatian(seeking behavior). Beberapa mendapat diagnosis GAD dan terapi yang adekuat dan beberapa lainnya meminta konsultasi medik tambahan untuk masalah mereka (Sylvia, 2013)

2.2.5 Diagnosis
Kriteria Diagnostik Gangguan cemas menyeluruh menurut DSM IV-TR dalam buku karangan Sylvia 2010 dan Kaplan 2010, adalah sebagai berikut :
a. Kecemasan atau kekhwatiran yang berlebihan yang timbul hampir setiap hari, sepanjang hari, terjadi selama sekurangnya 6 bulan, tentang sejumlah aktivitas atau kejadian (seperti pekerjaan atau aktivitas sekolah).
b. Penderita merasa sulit mengendalikan kekhawtirannya.
c. Kecemasan dan kekhatiran disertai tiga atau lebih dari enam gejala berikut ini (dengan sekurangnya beberapa gejala lebih banyak terjadi dibandingkan tidak terjadi selama 6 bulan terakhir).
1) Kegelisahan.
2) Merasa mudah lelah.
3) Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong.
4) Iritabilitas.
5) Ketegangan otot.
6) Gangguan tidur (sulit tertidur atau tetap tidur, atau tidur gelisah dan tidak memuaskan).
d. Fokus kecemasan dan kekhawatiran tidak terbatas pada gangguan aksis 1.
e. Kecemasan, kekhawatiran, atau gejala fisik menyebabkan penderitaan yang bemakna secara klinis atau gangguan pada fungsi sosial, pekerjaan dan fungsi penting lain.
f. Gangguan yang terjadi adalah bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya penggunaan zat, medikasi) atau kondisi medis umum (misal hipettiroidisme)

Konsep diagnosis gangguan jiwa yang terdapat di PPDGJ III dalam buku karangan Maslim dengan kode F.41.1 adalah sebagai berikut :
a. Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus tertentu saja (sifatnya “free floating” atau “mengambang”).
b. Gajala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut :
1) Kecemasan (khawatir akan nasib buruk), merasa seperti di ujung tanduk, sulit berkonsentrasi, dsb).
2) Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai).
3) Overaktivitas otonomik ( kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb).
c. Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk ditengankan (reassurance) serta keluhan-keluhan somatik berulang yang menonjol.
d. Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara ( untuk beberapa hari), khususnya depersi, tidak membatalkan diagnosis utama gangguan anxitas menyuluruh, selama hal tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari episode depresif (F.32.-), gangguan anxietas fobik (F40.-), gangguan panik (F41.0), atau gangguan obsesif-kompulsif (F.42.-).




2.2.6 Prognosis
Gangguan cemas menyeluruh merupkan suatu keadaan kronis yang mungkin berlangsung seumur hudup. Sebanyak 25% penderita akhirnya mengalami gangguan panik juga mengalami gangguan depresi mayor (Sylvia, 2010).
Awitan usia sulit dirinci sebagian besar pasien dengan gangguan ini melaporkan bahwa mereka telah cepas sepanjang yang mereka ingat. Pasien biasanya datang untuk mendapatkan perhatian klinisi pada usia 20 an walaupun kontak pertama dengan klinisi dapat terjadi pada usia berapapun. Hanya 1/3 pasien yang memiliki gangguan kecemasan menyeluruh mencari terapi skiatri. Banyak pasien datang ke dokter umum spesialis penyakit dalam, spesialis jantung, spesialis paru, atau spesialis gastroenterologi, mencari terapi untuk komponen somatik gangguan mereka. Karena tingginya insiden adanya gangguan jiwa komorbit pada pasien dengan gangguan kecemasan menyeluruh, perjalanan klinis dan prognosis gangguan ini sulit diprediksi. Meskipun demikian, sejumlah data menunjukkan bahwa peristiwa hidup terkait dengan awitan gangguan kecemasan menyeluruh. Terdapatnya beberapa peristiwa hidup yang negatif sangat meningkatkan kemungkinan gangguan tersebut untuk timbul dengan definisi, gangguan kecemasan menyeluruh adalah suatu keadaan kronis yang mengkin akan menetap seumur hidup (Kaplan, 2010).

2.2.7 Psikoterapi
Pendekatan kognitif mengajak pasien secara langsung mengenali distorsi kognitif dan pendekatan perilaku, mengenali gejala somatik secara langsung. Teknik utama yang digunakan pada pendekatan behavioral adalah relaksasi dan biofeedback (Sylvia, 2013).

2.3. Kecanduan Internet
Kecanduan internet atau internet addiction digunakan untuk menunjukkan suatu keadaan dimana seseorang mengalami ketergantungan. Pada prinsipnya kecanduan berkaitan dengan ketergantungan seseorang terhadap substance atau zat yang merugikan tubuh (substance abuse). Kecanduan internet mengacu pada penggunaan internet yang bermasalah, termasuk berbagai aspek dari teknologi internet yang berkaitan, seperti World Wide Web. Perlu dicatat bahwa kecanduan internet belum tercantum dalam buku pegangan profesional kesehatan mental yaitu Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, edisi keempat (2001) yang dikenal DSM-IV.
Salah satu gejala atau (Sympton) kecanduan internet adalah pengguanaan waktu yang berlebihan untuk penggunaan internet. Seseorang akan mengalami kesulitan dalam mengurangi akses terhadap internet bahkan jika ia diancam sanksi mendapa nilai yang buruk disekolah atau dikeluarkan dari pekerjaannya. Perkembangan teknologi dari zaman ke zaman semakin canggih hal ini terlihat dari munculnya beberapa alat komunikasi dan teknologi yang mempermudah seseorang dalam melakukan berbagai kegiatan. Salah satu teknologi saat ini yang sangat berkembang adalah teknologi internet. Internet merupakan salah satu teknologi penting yang digunakan sebagai alat pengirim data, mengirim pesan dan berbagai manfaat lainnya.
Penggunaan internet yang dikembangkan oleh Young (1999) berdasarkan jenis aktivitas yang dilakukan membagi kecanduan internet ke dalam lima katagori, yaitu sebagai berikut :
1. Cyber sexual addiction yaitu seseorang yang melakukan penelusuran dalam situs-situs porno atau Cyber sex secara kompulsif.
2. Cyber‐relationship addiction, seseorang yang hanyut dalam pertemanan melalui dunia cyber.
3. Net compulsion, yaitu seseorang yang terobsesi pada situs-situs perdagangan (cyber shopping atau day tradding) atau perjudian (cyber casino).
4. Information overload, yaitu seseorang yang menelusuri situs-situs informasi secara kompulsif.
5. Computer addiction, yaitu sesorang yang terobsesi pada permainan-permainan online (online games) seperti misalnya Doom, Myst, Counter Strike, Ragnarok dan lain sebagainya.
Kalsifikasi perilaku kecanduan internet berdasarkan penulisan Santoso 2013 adalah sebagai berikut :
1. Salience adalah menunjukkan dominasi aktivitas bermain permainan internet dalam pikiran dan tingkah laku.
a. Cognitive salience adalah dominasi aktivitas bermain permainan internet pada level pikiran.
b. Behavioral salience adaah dominasi aktivitas bermain permainan internet pada level tingkah laku.
2. Euphoria adalah mendapatkan kesenangan dalam aktivitas bermain permainan internet.
3. Conflict adalah pertentangan yang muncul antara orang yang kecanduan dengan orang-orang yang ada disekitarnya (external conflict) dan juga dengan dirinya sendiri (internal conflict) tentang tingkat dari tingkah laku yang berlebihan.
a. Intrarpesonal conflict (eksternal) : konflik yang terjadi dengan orang-orang yang ada disekitarnya.
b. Interpersonal conflik (internal) : konflik yang terjadi dalam dirinya sendiri.
Seseorang yang disebut kecanduan internet haruslah menunjukkan perilaku tertentu, menurut Young (1996 dan 1999) menyebutkan beberapa kriteria berdasar pada kriteria‐kriteria kecanduan berjudi (pathological gambling), yang digunakan untuk membedakan antara orang yang kecanduan pada internet dan yang tidak sampai kecanduan, kriteria tersebut yaitu sebagai berikut :
1. Merasa keasyikan dengan internet.
2. Butuh waktu tambahan dalam mencapai kepuasan sewaktu menggunakan internet.
3. Kurang mampu mengontrol, mengurangi, atau menghentikan penggunaan internet.
4. Merasa gelisah, murung, depresi, atau cepat marah ketika berusaha mengurangi atau menghentikan penggunaan internet.
5. Mengakses internet lebih lama dari yang diharapkan.
6. Kehilangan orang‐orang terdekat, pekerjaan, kesempatan pendidikan atau karier gara-gara pemggunaan internet.
7. Membohongi keluarga, terapis, atau orang-orang terdekat untuk menyembunyikan keterlibatan lebih jauh dengan internet.
8. Menggunakan internet sebagai jalan keluar mengatasi masalah atau menghilangkan perasaan seperti keadaan tidak berdaya, rasa bersalah, kegelisahan, atau depresi.
Gejala-gejala internet menurut Young, Freitag dan Weaver (2002) menyatakan adalah sebagai berikut :
1. Keasyikan dengan internet dan selalu memikirkan selagi off-line (internet preoccupation).
2. Menambah waktu online.
3. Tidak mampu untuk mengontrol penggunaan internet.
4. Lekas marah dan gelisah bila tidak sedang online.
5. Menggunakan internet sebagai pelarian dari masalah.
6. Membohongi keluarga atau teman mengenai jumlah waktu yang digunakan untuk online.
7. Kehilangan teman, pekerjaan, ataupun kesempatan pendidikan dan karir karena karena penggunaan internet.
8. Terus menggunakan internet walaupun dana untuk online menipis.
9. Depresi, kemurungan, kegelisahan, dan kecemasan meningkat jika tidak menggunakan internet.
10. Mengalami gangguan tidur atau perubahan pola tidur akibat penggunaan internet.
11. Merasa bersalah dan penyesalan akibat penggunaan internet.
Menurut Babington dalam jurnal Helly 2008 menggolongkan terdapat gejala-gejala yang nampak pada orang yang kecanduan internet menjadi dua golongan adalah sebagai berikut :
1. Gejala‐gejala fisik yang terdiri dari :
a. Berkurangnya perhatian terhadap kebutuhan‐kebutuhan pribadi dan kesehatan.
b. Masalah pada neuromuscular akibat penggunaan komputer yang berlebihan.
c. Penyakit‐penyakit lain akibat penggunaan komputer yang berlebihan.
Termasuk dalam kriteria ini adalah gangguan atau berkurangnya waktu tidur, berubahnya pola makan, sulit berkonsentrasi, gangguan pada mata dan tulang belakang, dan agitasi psikomotorik (cybershake)
2. Gejala‐gejala psikologis dan sosial yang terdiri dari :
a. Penggunaan komputer secara kompulsif dan kelewatan dalam hal waktu penggunaannya.
b. Mengalami euforia saat sedang online.
c. Ketidakmampuan untuk mengontrol perilaku-perilaku seperti tidak dapat berhenti atau mematikan komputer bila sudah online.
d. Walupun mencoba untuk berhenti tapi selalu saja kembali melakukannya
e. Menyangkal bahwa dirinya sudah kecanduan walaupun gejalanya sudah jelas.
f. Menarik diri dari lingkungan sosial, dikarenakan merasa cemas dan depresi bila jauh dari komputer dalam jangka waktu tertentu.
g. Mendapat masalah dengan keluarga, pekerjaan, dan teman-teman
h. Mengulang-ulang aktivitas dengan komputer dalam rangka melepaskan diri dari masalah atau kecanduan yang lain.
Menurut Beard dan Wolf dalam jurnal Helly 2008 untuk menggunakan delapan kriterium diagnostik kecanduan internet. Lima kriteria pertama harus ada sebagai dasar penegakkan diagnosis kecanduan internet. Sedangkan salah satu dari tiga kreiteria lain harus ada. Lima kriterium yang harus ada terdiri dari :
1. Preokupasi terhadap internet (pikiran dikuasai oleh aktivitas internet yang dilakukan sebelumnya dan mengantisipasi sesi penggunaan internet berikutnya).
2. Kebutuhan untuk menggunakan internet dengan alokasi waktu yang terus bertambah demi untuk mengejar kepuasan.
3. Telah mencoba dan gagal untuk mengendalikan, mengurangi, atau berhenti untuk menggunakan internet.
4. Tidak tenang, moody, depresi, atau mudah teriritasi ketika harus menghentikan aktivitas berinternet.
5. Aktivitas online melebihi waktu yang direncanakan.
Salah satu dari kriterium tambahan yang harus dapat dideteksi terdiri dari :
1. Mengalami masalah atau mempunyai risiko kehilangan hubungan pribadi, kehilangan pekerjaan, kehilangan kesempatan pendidikan, atau kehilangan karir.
2. Berbohong kepada anggota keluarganya, terapis, atau pihak lain dalam rangka menutupi aktivitas berinternetnya.
3. Menggunakan internet sebagai jalan keluar mengatasi masalah atau menghilangkan perasaan seperti keadaan tidak berdaya, rasa bersalah, kegelisahan atau depresi.









2.4. Pengobatan Gangguan Kecemasan
Tabel 2.1 Obat Obat Gangguan Kecemasan



2.5. Terapi Perilaku Kognitif
Terapi kognitif perilaku atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengontrol dalam penggunaan internet terhadap pasien dengan gangguan kecemasan yang memberikan langkah demi langkah untuk menghentikan perilaku internet kompulsif dan mengubah persepsi mengenai internet. Terapi ini menolong dalam mempelajari cara-cara lebih baik untuk mengatasi emosi yang tidak nyaman khususnya kecemasan. Didalam jurnal Veruska (2016) kognitif perilaku merupakan metode yang berguna dan efektif dalam menangani pasien dengan gangguan kecemasan.
CBT adalah perawatan yang lazim dan didasarkan pada premis bahwa pikiran mengendalikan perasaan. Pasien diajar untuk memantau pikiran-pikiran dan mngidentifikasi mana yang memicu perasaan dan tindakan kecanduan, sementara mereka belajar keterampilan menanggulangi kecanduan tersebut serta cara-cara untuk mencegah kambuh (relapse). CBT biasanya memerlukan 3 bulan perawatan atau sekitar 12 kali pertemuan dalam satu kali seminggu.
Kecanduan internet yang dikembangkan Davis dalam sebuah model kognitif perilaku dalam jurnal Omer (2009) adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1 Perilaku Kognitif Terhadap Kecanduan Internet Menurut Davis
Menurut Davis penggunaan internet patologis menggambarkan penggunaan internet yang berlebihan dibagi menjadi dua adalah penggunan Patologis internet khusus dan Umum dalam penggunaannya sebagai berikut :
1. Penggunaan Internet Patologi Khusus
a. Kecanduan terhadap fungsi spesifik pada internet terdapat banyak fungsinya
b. Melibatkan online seksual materi/jasa, layanan lelang online, perdagangan saham online, dan perjudian online.
c. Asumsi sebagai hasil dari dikembangkan psikopatologi.
d. Hal ini terus tanpa adanya internet karena konten yang spesifik.
e. Penggunaan internet untuk pecandu tidak lain adalah ekspresi terhadap berbagai rangsangan.
2. Penggunaan Internet Patologi Umum
a. Melibatkan penggunaan umum dan berbagai tujuan dari internet
b. Berkaitan dengan aspek sosial terhadap internet
c. Muncul terutama sebagai akibat dari kurangnya dukungan sosial dari keluarga atau teman-teman, atau isolasi sosial
d. Melibatkan hobi seperti chatting online dan e-mail tanpa tujuan yang pasti
e. Kontak sosial dan dukungan yang terjadi akibat online terdapat keinginan yang kuat untuk tetap dalam kehidupan sosial
f. Kecanduan internet secara intens menggunakan internet untuk menunda tanggung jawab mereka
g. Tidak ada cara untuk mengekspresikan kegelisahan dimana internet adalah sambungan dari individu dengan dunia luar

2.5.1 Penyebab Distal
Berdarakan jurnal Omer tahun 2008 penggunaan internet patologi Distal menegaskan bahwa psikopatologi merupakan penyebab distal dari gejala PIU, bahwa psikopatologi 'pasti diperlukan' untuk gejala PIU. Perlu dicatat bahwa psikopatologi yang mendasari saja tidak mengakibatkan gejala PIU, tapi mungkin menjadi penyebab diperlukan dalam etiologi. Stressor dalam model ini adalah pengenalan internet atau beberapa teknologi baru di internet. Pertemuan pertama ditemuan pornografi di internet, pertama kali e-chatting, pertama kali belanja di internet atau online trading di bursa. Paparan teknologi tersebut merupakan penyebab distal dari gejala PIU. Insiden yang tejadi dari penggunaan internet dan teknologi yang terkait adalah pengalaman positif yang dicapai oleh individu dari peristiwa. Dengan kata lain, jika respon terhadap fungsi baru internet adalah positif, hal ini memperkuat kelangsungan aktivitas. Seseorang sampai menemukan teknologi baru untuk memiliki respon fisiologis yang sama. Menurut prinsip-prinsip pengkondisian, setiap stimulus yang berhubungan dengan pendingin stimulus menghasilkan reaksi yang sama melalui penguatan sekunder. Misalnya, rangsangan seperti suara komputer menghubungkan ke internet, sensasi menyentuh saat mengetik pada keyboard dan aroma ruangan dapat menghasilkan kepuasan yang sama melalui tanggapan AC. Bala bantuan sekunder adalah faktor-faktor yang membantu mengembangkan dan mempertahankan isyarat situasional yang memperkuat terjadinya gejala PIU (Davis 2001).

2.5.2 Penyebab Proksimal
Berdarakan jurnal Omer tahun 2008 komponen yang paling mendasar dari PIU adalah kognisi ruminative nonfungsional diri, berhubungan dengan pemikiran seseorang dengan cara mengulang masalah dalam penggunaan internet daripada mengarahkan atau perhatiannya ke acara lain dalam dirinya. Usaha seseorang yang terus menerus untuk memahami mengapa menggunakan internet dengan cara yang berlebihan melibatkan pikiran dan perilaku seperti membaca tentang PIU atau berbicara dengan teman-teman tentang penggunaan berlebihan dari internet. Penundaan terhadap pemecahan masalah perilaku interpersonal dan menyebabkan penarikan yang kuat terhadap kenangan terkait internet. Seseorang mencegah perilaku yang efektif seperti mengambil tindakan untuk melaksanakan rencana. Dengan cara ini, Menyebabkan lingkaran setan dalam PIU dengan yang diperparah. Orang-orang ini memiliki titik negatif pandang tentang diri mereka sendiri dan menggunakan internet untuk mendapatkan tanggapan positif dari orang lain tanpa mengambil risiko. Mereka biasanya memiliki 'berlebihan generalisasi' dan 'tidak semua' jenis pola pikir tentang diri mereka sendiri dan dunia luar. Mereka cenderung memiliki pikiran-pikiran otomatis tentang diri mereka sendiri seperti 'saya baik hanya di internet, “saya tidak berguna ketika saya tidak berada di internet, tapi saya orang penting dalam penggunaan internet” dan “saya akan gagal ketika saya tidak menggunakan internet” dan tentang dunia luar seperti : “tempat merupakan satu-satunya di mana saya dihormati adalah internet”', “ tidak ada yang suka saya ketika saya tidak berada di internet”, “internethanya teman saya” dan “orang-orang memperlakukan saya buruk di luar lingkungan internet” (Davis 2001). Pecandu lebih cenderung ke arah kecemasan, pendapat pemuda bahwa menghindari konsekuensi nyata dan dirasakan sebagai masalah juga memberikan kontribusi untuk penggunaan internet secara kompulsif. Berdasarkan konsep PIU diusulkan oleh model Davis, Caplan telah membuat penelitian tentang mahasiswa menggunakan 'Generalized Problematic Internet Scale hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang dengan harga diri yang rendah sendirian, mereka lebih suka untuk membangun hubungan sosial melalui internet bukan komunikasi tatap muka dan ini memainkan peran dalam etiologi, perkembangan dan hasil dari penggunaan internet patologis yang luas.

Yazeer (2012) merangkum komponen-komponen perilaku dan motivasi dari perawatan kecanduan internet menurut Young sebagai berikut :
Tabel 2.1 Komponen-komponen perilaku dan motivasional dari CBT (Young)
Strategi Pemulihan Tujuan
Akuilah apa yang telah hilang Mengenali masalah
Bawalah kartu-kartu pengingat Mengenali masalah
Dengarlah suara-suara penyangkalan Mengenali masalah
Tinjaulah waktu online Pengamatan diri
Akuilah dorongan akan kecanduan Pengamatan diri
Pelarian, obat bius dari internet Pengamatan diri
Gunakan teknik manajemen waktu manajemen waktu
Ambillah langkah nyata untuk menaggualangi masalah Pengembangan aktivitas off-line
Hadapi kesepian Pengembangan aktivitas off-line
Carilah dukungan dalam dunia nyata Pengembangan aktivitas off-line
Pertimbangkan manfaat dari pemulihan (recovery benefits) Pencegahan relapse (kambuh)
Tips-tips untuk perjalanan menuju pemulihan Pencegahan relapse (kambuh)



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Kecanduan sebagai ketergantungan secara psikologis antara seseorang dengan suatu stimulus yang biasanya tidak selalu berupa suatu benda atau zat. Kecanduan internet dapat menyebabkan gangguan kecemasan merupakan perasaan cemas atau khawatir yang tidak realistik terhadap dua atau lebih hal yang dipersepsikan sebagai ancaman, perasaan menyebabkan individu tidak mampu istirahat dengan tenang yang berdampak pada gangguan dalam sosial, akademik, keuangan, psikologis, dan bekerja (Kaplan, 2010).
2. Gangguan kecemasan memiliki beberapa katagori salah satunya berupa gangguan panik dan gangguan cemas menyeluruh.
3. Pengobatan terhadap gangguan kecemasan diperlukan pengobatan secara farmakologi dan Terapai prilaku kognitif
4. Terapi prilaku kognitif adalah perawatan yang lazim dan didasarkan pada premis bahwa pikiran mengendalikan perasaan. Pasien diajar untuk memantau pikiran-pikiran dan mngidentifikasi mana yang memicu perasaan dan tindakan kecanduan, sementara mereka belajar keterampilan menanggulangi kecanduan tersebut serta cara-cara untuk mencegah kambuh (relapse).

3.2 Saran
1. Dari kesimpulan diatas, perlu kiranya dipertimbangkan untuk menerapkan terapi perilaku kognitif slaian pengobatan secara farmakologi terhadap kecanduan internet dengan gangguan kecemasan di RSKJ Soeprapto Bengkulu, untuk memantau pikiran-pikiran dan mengidentifikasi mana yang memicu perasaan dan tindakan kecanduan, sementara belajar keterampilan menanggulangi kecanduan tersebut serta cara-cara untuk mencegah kambuh (relapse).

DAFTAR PUSTAKA
Kaplan and Saddock. Comprehensive Textbook Of Psychiatry. 7th Ed. Lippincott Wiliams And Wilkins. Philadelphia, 2010.

Maslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkasan PPDGJ-III “Gangguan Depresi”. PT Nuh Jaya. Jakarta, 2001.

Based on Practice Guideline for the Treatment of Patients With Panic Disorder, Second Edition, originally published in January 2009. A guide-line watch, summarizing significant developments in the scientificliterature since publication of this guideline, may be available at http://www.psychiatryonline.com/pracGuide/pracGuideTopic_9.aspx.

Omer Senormanci, Ramazan Konkan, & Mehmet Zihni Sungur, “Internet Addiction and its Cognitive Behavioral Therapy,” InTech [artikel on-line]; diambil dari http://cdn.intechopen.com/pdfs/31830/InTech-Internet_addiction_and_its_cognitive_behavioral_therapy.pdf ; Internet; diakses April 2016.

Yazeer Khazaal, Constantina Xirossavidou, Riaz Khan, Yves Edel, Fadi Zebouni, Daniele Zullino, “Cognitive Behavioral Treatments for Internet Addiction,” The Open Addiction Journal, Vol. 5 (2012, Suppl. 1:M5): 30-35

Sylvia, Gitayanti. Buku Ajar psikiatri edisi kedua. FKUI. Jakarta. 2013.

Santosa. Perilaku kecanduan permainan internet dan faktor penyebabnya pada siswa kelas viii di smp negeri 1 jatisrono kabupaten wonogiri (studi kasus pada siswa kelas viii di smp negeri 1 jatisrono kabupaten wonogiri). Universitas Negeri Semarang. 2013 (Skripsi)






Marlia Novelia Safitri

Posts : 2
Reputation : 0
Join date : 2016-03-18

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum