Aktivitas Fisik Meningkatkan Kesehatan Fisik dan Kesehatan Mental

View previous topic View next topic Go down

Aktivitas Fisik Meningkatkan Kesehatan Fisik dan Kesehatan Mental

Post by Luqman Hadi on Sat Feb 20, 2016 8:37 pm

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Skizofrenia merupakan gangguan psikiatri yang menimbulkan disabilitas cukup luas, mungkin dengan kausa yang heterogen, yang melibatkan gangguan proses pikir, emosi, persepsi dan tingkah laku (Dewi & Marchira 2009).
Skizofrenia merupakan gangguan psikiatri yang paling sering terjadi, hampir 1% penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka dan dapat mengenai orang dari semua kelas sosial. Prevalensi skizofrenia antara laki-laki dan wanita sama, akan tetapi berbeda dalam onset dan perjalanan penyakit, laki-laki mempunyai onset lebih awal daripada wanita. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah awal dan pertengahan 20-an; untuk wanita usia puncak adalah akhir usia 20-an (Frankenburg & Dunayevich 2014; Sadock & Virginia 2010).
Prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia adalah 0,3-1% dan biasanya timbul pada usia sekitar 18-45 tahun. Diperkirakan sekitar 2 juta jiwa penduduk Indonesia menderita skizofrenia, dimana sekitar 99% pasien di RS Jiwa di Indonesia adalah penderita skizofrenia (Dewi & Marchira 2009).
Penelitian menunjukkan bahwa banyak pasien dengan skizofrenia tidak memenuhi kebutuhan minimal aktivitas fisik sesuai dengan rekomendasi aktivitas fisik harian(Vancampfort et al. 2012), hanya sekitar 30% pasien skizofrenia yang dapat diklasifikasikan memenuhi rekomendasi minimal aktivitas fisik harian. Padahal, aktivitas fisik telah terbukti dapat meningkatkan kesehatan mental dan fisik pada pasien skizofrenia, sehingga aktivitas fisik dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada pasien skizofrenia (Tw et al. 2013).
Aktivitas fisik selama 150 menit dalam satu minggu dengan intensitas aktivitas fisik yang sedang sudah dapat memberikan keuntungan baik mental maupun fisik bagi pasien skizofrenia, aktivitas fisik terutama mengurangi gejala depresi, kurangnya perawatan diri, dan kemampuan sosial pasien. Sudah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa aktivitas fisik pada pasien skizofrenia tidak memiliki kontraindikasi selama pasien tidak memiliki penyakit gangguan kardiovaskuler. Pemberian latihan aktivitas fisik dengan pemberian terapi psikofarmaka tidak memiliki komplikasi yang berarti (Clow & Edmunds 2014; Tw et al. 2013).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Skizofrenia
1.1. Definisi
Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa yang memiliki karakteristik khusus. Dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III, definisi skizofrenia dijelaskan sebagai deskripsi sindrom dengan variasi penyebab, yang ditandai dengan penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi serta oleh afek yang tumpul atau tidak wajar (Maslim 2003).

1.2. Etiologi
Sampai saat ini penyebab dari gangguan skizofrenia masih belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab skizofrenia, antara lain :
a. Faktor Genetik
Faktor keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur (Sadock & Sadock 2007).
Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang disebut quantitative trait loci. Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin disebabkan oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-tempat yang berbeda di seluruh kromosom. Hal ini juga menjelaskan mengapa terdapat gradasi tingkat keparahan pada orang-orang yang mengalami gangguan skizofrenia (dari ringan sampai berat) dan mengapa risiko untuk mengalami skizofrenia semakin tinggi dengan semakin banyaknya jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini (Durand & Barlow 2003).

b. Faktor Biokimia
Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang disebut neurotransmiter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas neurotransmiter dopamin yang berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap dopamin. Neuron dopaminergik di dalam jalur tersebut berjalan dari badan selnya di otak tengah ke neuron dopaminoseptif di sistem limbik dan korteks serebral. Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas dopamin yang berlebihan saja tidak cukup untuk skizofrenia. Beberapa neurotransmiter lain seperti serotonin dan norepinefrin juga memainkan peranan penting dalam terjadinya skizofrenia (Durand & Barlow 2003).

c. Model Diatesis-Stress/Psikososial
Satu model untuk intergrasi faktor biologis, faktor psikososial dan lingkungan adalah model diathesis-stress. Model ini menggambarkan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diathesis) yang bila dikenai pengaruh lingkungan yang menimbulkan stres sehingga muncul gejala skizofrenia. Pada kerentanan terhadap stress yang paling umum dapat didapatkan secara biologis atau lingkungan atau keduanya. Komponen lingkungan dapat berupa biologis (contohnya: infeksi) maupun psikologis (contoh situasi keluarga yang penuh ketegangan atau kematian teman dekat). Dasar biologis untuk suatu kerentanan dibentuk lebih lanjut oleh pengaruh genetik, penyalahgunaan zat, stress psikologis, dan trauma (Sadock & Sadock 2007).

d. Neurologikal
Menurut konsep neurobiologikal gangguan jiwa sangat berkaitan dengan abnormalitas sruktur dari otak atau aktivitas berlebihan di lokasi spesifik yang dapat menyebabkan atau berkontribusi dalam gangguan jiwa. Sebagai contoh masalah komunikasi adalah salah satu bagian dari disfungsi secara luas. Hal ini juga diketahui bahwa hubungan antara nukleus yang mengontrol kognitif, perilaku, dan emosi terutama terlibat dalam gangguan psikiatri. Serebral korteks, merupakan daerah di otak yang sangat penting dalam membuat keputusan dan berfikir tingkat tinggi, seperti pemikiran abstrak (Sadock & Sadock 2007).




Sistem limbik, yang terlibat dalam mengatur perilaku emosional, memori, dan pembelajaran (Durand & Barlow 2003).
a. Ganglia basal : mengkoordinasi gerakan.
b. Hipotalamus : meregulasi hormon di tubuh sepeti kebutuhan makan, minum dan seks.
c. Locus ceruleus : membuat sel saraf dapat meregulasi tidur dan terlibat dalam perilaku dan mood.
d. Substantia nigra : sel yang memproduksi dopamin dan terlibat dalam mengontrol pergerakkan yang kompleks, berfikir dan respon emosi.














Gambar 1. Area otak yang terlibat pada skizofrenia


Gambar 1. Area otak yang terlibat pada skizofrenia


1.3. Diagnosis
1.3.1. Kriteria diagnosis PPDGJ-III
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) (Maslim 2003):
A. -  Thought echo (isi fikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya, dan isi fikiran ulangan walaupun isinya sama namun kualitasnya berbeda); atau
- Thought insertion or withdrawal: Isi fikiran yang asing dari luar masuk kedalam fikirannya atau isi fikirnya di aambil oleh sesuatu dari luar; dan
-   Thought broadcasting: isi fikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umumnya mengetahuinya.

B. - Delusion of control: waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of influence: waham tentang dirinya di pengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusional perception: Pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.

C. Halusinasi auditorik: suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilkau pasien, mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

D. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat tidak wajar dan sesuatu yang mustahil.


2. Atau paling sedikit 2 gejala di bawah ini yang harus ada secara jelas:
E. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja.
F. Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan yang berakibat inkoherensi atau neologisme.
G. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah.
H. Gejala-gejala negative seperti sikaap sangat apatis, bicaara yang jarang dan respons emosionaal yang menumpul dan tidak wajar biasanya penarikan diri dari pergaulan social dan menurunnya kinerja social, tetapi harus jelas tidak di sebabkaan karena depresi.

3. Adanya gejala khas tersebut  diatas telah berlangsung dalam kurun waktu satu bulan atau lebih.

1.3.2. Kriteria diagnosis DSM-IV-TR
A. Gejala karakteristik: dua (atau lebih) poin berikut, masing-masing terjadi dalam porsi waktu yang signifikan selama periode 1 bulan (atau kurang bila telah berhasil diobati) (American Psychiatric Association 2000):
1) Waham
2) Halusinasi
3) Bicara kacau
4) Perilaku yang sangat kacau atau katatonik
5) Gejala negatif

B. Disfungsi sosial atau okupasional: selama suatu porsi waktu yang signifikan sejak awitan gangguan, terdapat satu atau lebih area fungsi utama seperti pekerjaan, hubungan interperonal, atau perawatan diri yang berada jauh di bawahtingkatan yang telah dicapai sebelum awitan.

C. Durasi: tanda kontinu gangguan berlangsung selama setidaknya 6 bulan. Periode 6 bulan ini harus mencakup setidaknya  1 bulan gejala yang memenuhi kriteria A, dan dapat mencakup periode gejala prodromal atau residual ini, tanda gangguan dapat bermanifestasi sebagai gejala negatif saja atau dua atau lebih gejala yang terdaftar dalam kriteria A yang muncul dalam bentuk yang lebih lemah.

D. Ekslusi gangguan mood dan skizoafektif: gangguan skizoafektif dan gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan baik karena 1) tidak ada episode depresif, manik atau campuran mayor yang terjadi bersamaan dengan gejala fase aktif maupun 2) jika episode mood terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya relatif singkat dibanding durasi periode aktif dan residual.

E. Ekslusi kondisi medis umum atau zat: gangguan tersebut tidak disebebkan efek fisiologis langsung suatu zat atau kondisi medis umum.

F. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif: jika terdapat riwayat gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasif lainnya, diagnosis tambahan skizofrenia hanya dibuat bila waham atau halusinasi yang prominen juga terdapat selama setidaknya satu bulan.

1.4. Tatalaksana
Tiga pengamatan dasar tentang skizofrenia yang memerlukan perhatian saat mempertimbangkan pengobatan gangguan (Sadock & Virginia 2010).

1. Perawatan di Rumah Sakit
Indikasi utama untuk perawatan di rumah sakit adalah untuk tujuan diagnostik, menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh dan perilaku yang sangat kacau atau tidak sesuai, termasuk ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian dan tempat berlindung. Tujuan utama perawatan di rumah sakit yang harus ditegakkan adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung masyarakat.1
Perawatan di rumah sakit menurunkan stress pada pasien dan membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya perawatan di rumah skit tergantung pada keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas pengobatan rawat jalan. Penelitian telah menunjukkan bahwa perawatan singkat di rumah sakit (empat sampai enam minggu) adalah sama efektifnya dengan perawatan jangka panjang di rumah sakit dan bahwa rumah sakit dengan pendekatan perilaku yang aktif adalah lebih efektif dari pada institusi yang biasanya dan komunitas terapeutik berorientasi tilikan (Sadock & Virginia 2010).
2. Terapi Biologi
Pemakaian terapi biologi yang menggunakan antipsikotik. Indikasi pemberian obat antipsikotik pada skizofrenia adalah untuk mengendalikan gejala aktif dan mencegah kekambuhan. Obat antipsikotik mencakup dua kelas utama: antagonis reseptor dopamin, dan antagonis serotonin-dopamin (American Psychiatric Association 2013).
a. Antagonis Reseptor Dopamin
Antagonis reseptor dopamin efektif dalam penanganan skizofrenia, terutama terhadap gejala positif. Obat-obatan ini memiliki dua kekurangan utama. Pertama, hanya presentase kecil pasien  yang cukup terbantu untuk dapat memulihkan fungsi mental normal secara bermakna. Kedua, antagonis reseptor dopamin dikaitkan dengan efek samping yang mengganggu dan serius. Efek yang paling sering mengganggu adalah akatisia adan gejala lir-parkinsonism berupa rigiditas dan tremor. Efek potensial serius mencakup diskinesia tarda dan sindrom neuroleptik maligna (American Psychiatric Association 2013).
b. Antagonis Serotonin-Dopamin (SDA)
SDA menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang minimal atau tidak ada, berinteraksi dengan subtipe reseptor dopamin yang berbeda di banding antipsikotik standar, dan mempengaruhi baik reseptor serotonin maupun glutamat. Obat ini juga menghasilkan efek samping neurologis dan endokrinologis yang lebih sedikit serta lebih efektif dalam menangani gejala negatif skizofrenia. Obat yang juga disebut sebagai obat antipsikotik atipikal ini tampaknya efektif untuk pasien skizofrenia dalam kisaran yang lebih luas dibanding agen antipsikotik antagonis reseptor dopamin yang tipikal. Golongan ini setidaknya sama efektifnya dengan haloperidol untuk gejala positif skizofrenia, secara unik efektif untuk gejala negatif, dan lebih sedikit, bila ada, menyebabkan gejala ekstrapiramidal. Beberapa SDA yang telah disetujui di antaranya adalah klozapin, risperidon, olanzapin, sertindol, kuetiapin, dan ziprasidon. Obat-obat ini tampaknya akan menggantikan antagonis reseptor dopamin, sebagai obat lini pertama untuk penanganan skizofrenia (American Psychiatric Association 2013).
Pada kasus sukar disembuhkan, klozapin digunakan sebagai agen antipsikotik, pada subtipe manik, kombinasi untuk menstabilkan mood ditambah penggunaan antipsikotik. Pada banyak pengobatan, kombinasi ini digunakan mengobati keadaan skizofrenia.
Tabel 1. Kategori obat: Antipsikotik – memperbaiki psikosis dan kelakuan agresif (American Psychiatric Association 2013).
Nama Obat
Haloperidol (Haldol) Digunakan untuk manajemen psikosis, saraf motorik dan suara pada anak dan orang dewasa. Mekanisme tidak secara jelas ditentukan, tetapi merupakan competively blocking postsynaptic dopamine (D2) reseptor dalam sistem mesolimbik dopaminergik, dengan meningkatnya pergantian dopamin untuk efek penenang. Dengan terapi subkronik, depolarisasi dan D2 postsinaptik dapat memblokir aksi antipsikotik.
Risperidone (Risperdal) Monoaminergik selektif mengikat reseptor D2 dopamin selama 20 menit, afinitasnya lebih rendah dibandingkan reseptor 5-HT2. Juga mengikat reseptor alfa1-adrenergik dengan afinitas lebih rendah dari H1-histaminergik dan reseptor alpha2-adrenergik. Memperbaiki gejala negatif pada psikosis dan menurunkan kejadian pada efek ekstrpiramidal.
Olanzapine (Zyprexa) Antipsikotik atipikal dengan profil farmakologis yang melintasi sistem reseptor (seperti serotonin, dopamin, kolinergik, muskarinik, alpha adrenergik, histamin). Efek antipsikotik berupa perlawanan terhadap dopamin dan reseptor serotonin tipe-2. Diindikasikan untuk pengobatan psikosis dan gangguan bipolar.
Clozapine (Clozaril) Memblokir aktifitas reseptor D2 dan D1, tetapi memiliki efek dalam menghambat nonadrenolitik, antikolinergik, antihistamin secara signifikan, tepatnya antiserotonin. Resiko terbatasnya penggunaan agranulositosis pada pasien nonresponsif atau agen neuroleptik klasik tidak ditoleransi.
Quetiapine (Seroquel) Antipsikotik terbaru untuk penyembuhan jangka panjang. Mampu melawan efek dopamine dan serotonin. Perbaikan lebih awal antipsikotik termasuk efek antikolinergik dan kurangnya distonia, parkinsonism, dan tardif diskinesia.
Aripiprazole (Abilify) Memperbaiki gejala positif dan negatif skizofrenia. Mekanisme kerjanya belum diketahui, tetapi hipotesisnya berbeda dari antipsikotik lainnya. Aripiprazole menimbulkan  parsial dopamin (D2) dan serotonin (5HT1A) agonis, dan antagonis serotonin (5HT2A).

3. Terapi Psikososial
A. Terapi Perilaku.
Latihan keterampilan perilaku (behavioral skills training) sering kali dinamakan terapi keterampilan sosial (social skills therapy), terlepas dari namanya, terapi dapat secara langsung membantu dan berguna bagi pasien dan merupakan tambahan alami bagi terapi farmakologis. Di samping gejala personal dari skizofrenia, beberapa gejala skizofrenia yang paling terlihat adalah menyangkut hubungan pasien dengan orang lain, termasuk kontak mata yang buruk, keterlambatan respons yang tidak lazim, ekspresi wajah yang aneh, tidak adanya spontanitas dalam situasi sosial, dan persepsi yang tidak akurat atau tidak adanya persepsi emosi terhadap orang lain. Perilaku tersebut secara spesifik dipusatkan di dalam latuhan keterampilan perilaku. Latihan keterampilan perilaku melihatkan penggunaan kaset video orang lain dan pasien, permainan simulasi (role playing) dalam terapi, dan pekerjaan rumah tentang keterampilan yang telah dilakukan (Sadock & Sadock 2007).  

B. Terapi berorientasi keluarga.
Berbagai terapi berorientasi keluarga cukup berguna dalam pengobatan skizofrenia. Karena pasien skizofrenia sering kali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluarga di mana pasien skizofrenia kembali sering kali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat tetapi intensif (setiap hari). Pusat dari terapi harus pada situasi segera dan harus termasuk mengidentifikasi dan menghindari situasi yang kemungkinan menimbulkan kesulitan. Jika masalah memang timbul pada pasien di dalam keluarga, pusat terapi harus pada pemecahan masalah secara cepat (Sadock & Sadock 2007).

C. Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin  terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau  tilikan,  atau  suportif. Terapi  kelompok  efektif  dalam menurunkan isolasi  sosial,  meningkatkan rasa persatuan, dan  meningkatkan  tes  realitas  bagi  pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia (Sadock & Sadock 2007).

D. Psikoterapi individual
Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien  non-psikotik.  Pengamatan  yang  cermat dari  jauh  dan  rahasia,  perintah  sederhana,  kesabaran,  ketulusan  hati,  dan  kepekaan  terhadap kaidah  sosial  adalah  lebih  disukai  daripada  informalitas  yang  prematur  dan  penggunaan  nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi (Sadock & Sadock 2007).

1.5. Prognosis
Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa selama periode 5 sampai 10 tahun setelah rawat inap psikiatrik yang pertama untuk skizofrenia, hanya sekitar 10 sampai 20% pasien yang dapat dideskripsikan memiliki hasil akhir yang baik. Lebih dari 50% pasien digambarkan memiliki hasil yang buruk dengan rawat inap berulang, eksaserbasi gejala, episode gangguan mood mayor, dan percobaan bunuh diri.
Angka pemulihan yang dilaporkan berkisar dari 10 sampai 60%, dan taksiran yang masuk akal adalah bahwa 20 sampai 30% dari semua pasien skizofrenia mampu menjalani kehidupan yang kurang lebih normal. Sekitar 20 sampai 30% pasien terus mengalami gejala sedang, dan 40 sampa 60% pasien tetap mengalami hendaya secara signifikan akibat gangguan tersebut selama hidup mereka.

Tabel 2. Prognosis pasien skizofrenia
Prognosis Baik Prognosis Buruk
Awitan lambat
Ada faktor presipitasi yang jelas
Awitan akut
Riwayat sosial, pekerjaan dan seksual pramorbid baik
Gejala gangguan mood
Menikah
Riwayat keluarga dengan gangguan mood
Sistem pendukung baik
Gejala positif Awitan muda
Tidak ada faktor presipitasi
Awitan insidius
Riwayat sosial, pekerjaan dan seksual pramorbid buruk
Perilaku autistik, menarik diri
Lajang, cerai, janda/duda
Riwayat keluarga dengan skizofrenia
Sistem pendukung buruk
Gejala negatif
Berulang kali relaps
Riwayat melakukan tindakan penyerangan
Tanda dan gejala neurologis
Tanpa remisi dalam 3 tahun


2. Aktivitas Fisik
2.1. Definisi
Aktivitas fisik didefinisikan sebagai segala bentuk pergerakan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi (WHO 2011). Energi yang dikeluarkan oleh aktivitas fisik dapat digambarkan dalam kilojoules (kJ) atau kilo kalori (kcal); dimana 4,184 kJ sama dengan 1 kcal. Aktivitas fisik berbeda dengan olahraga, dimana aktivitas fisik merupakan : 1. Pergerakan tubuh melalui otot rangka, 2. Mengeluarkan suatu energi, 3. Energi yang dihasilkan bervariasi dari rendah hingga tinggi, 4. Berkorelasi positif dengan ketahanan fisik. Sedangkan olahraga merupakan : 1. Pergerakan tubuh melalui otot rangka, 2. Mengeluarkan suatu energi, 3. Energi yang dihasilkan bervariasi dari rendah hingga tinggi, 4. Sangat berkorelasi positif dengan ketahanan fisik, 5. Berencana, terstruktur, dan pergerakan tubuh dilakukan berulang, 6. Tujuannya untuk meningkatkan atau mempertahankan ketahanan fisik (Caspersen & Christenson 1985).

2.2. Tipe-tipe Aktivitas Fisik
Terdapat tiga tipe/ macam/ sifat aktivitas fisik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan ketahanan fisik berdasarkan American Collage of Sport Medicine (Edwing et al. 2011) :
a. Ketahanan (Endurance)
Aktivitas fisik yang bersifat untuk ketahanan, dapat membantu jantung, paru-paru, otot, dan sistem sirkulasi darah agar tetap sehat dan membuat lebih bertenaga. Rekomendasi menurut ACSM agar dapat meningkatkan ketahanan fisik adalah :
1. Frekuensi dilakukan selama > 5 hari dalam satu minggu dengan tipe olahraga sedang (MET 3,0 - 5,9), atau > 3 hari dalam satu minggu dengan tipe olahraga berat (MET 6,0 – 8,7).
2. Waktu yang dihabiskan untuk melakukan olahraga adalah 30-60 menit dalam satu hari (150 menit dalam satu minggu) untuk aktivitas fisik sedang, atau 20-60 menit dalam satu hari (75 menit dalam satu minggu) untuk aktivitas fisik berat.
3. Target volume dari olahraga adalah > 500-1000 MET/menit dalam satu minggu.
4. Target waktu harian dapat dicapai dengan satu sesi olahraga atau dalam beberapa sesi yang berbeda selama masih dalam satu hari yang sama.
5. Dapat dilakukan peningkatan target sacara bertahap untuk mencapat target akhir, hal ini dapat mengurangi resiko cedera otot dan mencegah terjadinya serangan jantung.

b. Kelenturan (Flexibility)
Aktivitas fisik yang bersifat untuk kelenturan, dapat membantu pergerakan lebih mudah, mempertahankan otot lebih lemas (lentur) dan menjaga agar sendi berfungsi dengan baik. Rekomendasi menurut ACSM agar dapat mempertahankan dan meningkatkan range of motion (ROM) adalah :
1. Frekuensi dilakukan selama >2-3 hari dalam satu minggu, sebaiknya dilakukan sebelum melakukan olahraga.
2. Regangan dilakukan hingga titik dimana dirasakan agak tidak nyaman pada daerah regangan.
3. Regangan ditahan secara statik selama 10-30 detik pada orang dewasa.
4. Dapat dilakukan static flexibility, dynamic flexibility, ballistic flexibility, dan perioceptive neuromuscular facilitation flexibility.

c. Kekuatan (Strength)
Aktivitas fisik yang bersifat untuk kekuatan dapat membantu kerja otot tubuh dalam menahan suatu beban yang diterima, menjaga kekuatan tulang, dan menjaga bentuk tubuh seseorang. Rekomendasi menurut ACSM agar dapat mempertahankan dan meningkatkan kekuatan adalah :
1. Setiap kelompok otot utama dilatih dalam 2-3 hari selama satu minggu
2. Pada seseorang yang melakukan aktivitas fisik kekuatan untuk pertama kalinya atau bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ketahanan dapat dilakukan intensitas 40%-50% dari 1RM ( one repetition maximum, kemampuan maksimal otot dalam menahan suatu beban dalam satu kontraksi otot maksimal), sedangkan untuk orang yang sudah biasa melakukan aktivitas fisik kekuatan, dapat dilakukan intensitas dari 60% hingga > 80%  dari 1RM.
3. Belum ada literatur yang secara pasti menjelaskan berapa lama waktu yang disarankan untuk meningkatkan kekuatan otot.
4. Repetisi yang dianjurkan adalah 8-12 repetisi untuk meningkatkan ketahanan otot dan 15-20 repetisi untuk meningkatkan kekuatan otot. Repetisi ini dilakukan dalam dua hingga empat set.
5. Istirahat dilakukan selama 2-3 menit dalam setiap interval antara perpindahan set. Kelompok otot yang telah dilatih ketahanan harus diistirahatkan selam 48 jam sebelum latihan berikutnya.

Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan dengan tipe aktivitas fisik sedang dan berat (Public Health Agency of Canada 2013; CDC 2000; Ainsworth et al. 2000):
Tabel 3 contoh tipe aktivitas fisik sedang dan berat.
Aktivitas Fisik Sedang
MET 3,0 – 6,0
(3,5 hingga 7 kcal/menit) Aktivitas Fisik Berat
MET > 6,0
(Lebih dari 7 kcal/menit)
Berjalan dengan kecepatan rata-rata 5-7 km/jam baik didalam maupun diluar ruangan Berjalan dengan kecepatan 8 km/jam
Bersepeda dengan kecepatan 8 km/jam hingga 14 km/ jam dengan kondisi medan yang datar dan sedikit menanjak Bersepeda dengan kecepatan diatas 10km/jam atau bersepeda dimedan yang berbukit
Yoga, Senam, melakukan aktivitas rumah tangga, menggunakan alat pemotong rumput Push up, pull up, karate, judo, tae kwon do, lompat tali.
Softball, basket (melempar bola ke ring) Olahraga yang bersifat kompetitif, sepak bola, basket, volli
Menyikat lantai, memindahkan perabotan rumah tangga yang ringan, membuang sampah dari rumah ke tempat pembuangan Mendorong atau memindahkan perabotan rumah tangga yang berat (> 35kg), mengangkat beban dengan berat lebih dari 12kg


Gambar 2 contoh aktivitas fisik mingguan yang disankan oleh pemerintah Inggris.
2.3. Aktivitas Fisik Pada Pasien Skizofrenia
Seperti yang telah disampaikan diatas, bahwa aktivitas fisik memiliki keuntungan terhadap kesehatan fisik. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa aktivitas fisik pada pasien skizofrenia, selain meningkatkan kesehatan fisik juga meningkatkan kesehatan jiwa. Sistematik review yang dilakukan oleh Faulker pada tahun 2012 yang bertujuan untuk mencari bukti hubungan antara aktivitas fisik dengan kesehatan jiwa pada pasien skizofrenia, menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang diberikan pada pasien skizofrenia dapat mengurangi gejala skizofrenia terutama gejala negatif dimana diantaranya depresi, tingkat kepercayaan diri yang rendah, dan penarikan diri dari sosial (Faulkner et al. 2013).
Acil pada tahun 2008, melakukan studi program aktivitas fisik pada pasien skizofrenia selama 10 minggu, dengan frekuensi 3 sesi dalam satu minggu, setiap sesi berdurasi sekitar 40 menit. Hasilnya didapatkan bahwa terjadi pengurangan secara signifikan gejala negatif dan positif pada pasien yang dinilai dengan menggunakan Scale for the Assessment of Negative Symptoms, Scale for the Assessment of Positive Symptoms, dan Brief Symptom Inventory. Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok terapi dalam hal peningkatan Quality of Life yang dinilai menggunakan World Health Organization Quality of Life Scale-Turkish Version (Acil & Dogan 2008).
Studi yang dilakukan oleh Marzolini, Jensen, dan Melville pada 2009, mengkombinasikan antara aktivitas fisik yang bersifat ketahanan dan kekuatan pada pasien skizofrenia. Pada studi ini, pasien secara random dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok dengan kombinasi aktivitas fisik ketahanan dan kekuatan dengan kelompok “terapi seperti biasa”, kelompok dengan kombinasi aktivitas fisik ketahanan dan kekuatan mendapatkan latihan sebanyak 2 sesi dalam satu minggu selama 12 minggu, dimana setiap sesinya selama 90 menit. Aktivitas fisik dipimpin oleh dokter rehabilitasi medik, dilakukan aktivitas streching, pemanasan, kekuatan, ketahanan, dan pendinginan. Hasil akhir dari penelitian ini menunjukkan adanya perubahan antara kelompok yang melakukan aktivitas fisik kombinasi dengan kelompok yang “terapi seperti biasa”, pada pasien kelompok terapi kombinasi terjadi perbaikan terhadap depresi, gejala positif, dan ansietas dibanding kelompok “terapi seperti biasa”, tetapi sayangnya pada penelitian ini tidak signifikan secara statistik (Clow & Edmunds 2014).
Beberapa penelitian di India melakukan perbandingan antara yoga dengan aktivitas fisik yang bersifat ketahanan dan kelenturan. Didapatkan bahwa kedua kelompok mengalami perbaikan terhadap gejala skizofrenia, tetapi peningkatan tertinggi terdapat pada pasien dengan aktivitas yoga. Penelitian yang dilakukan oleh Duraiswamy pada tahun 2007 contohnya, didapatkan bahwa pasien yang melakukan yoga 5 kali selama 1 jam dalam satu minggu selama 3 bulan memiliki jumlah skor PANSS yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol (Clow & Edmunds 2014).
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Scheewee pada tahun 2013 masih merupakan penelitian tentang pengaruh aktivitas fisik terhadap kesehatan fisik dan mental yang memiliki subjek terbanyak, yaitu 63 pasien dengan parameter yang dinilai terbanyak, baik dari segi kesehatan jiwa dan kesehatan fisik. Penelitian ini membagi pasien skizofrenia menjadi dua kelompok, yaitu kelompok dengan terapi okupasi dan kelompok dengan terapi olahraga. Pasien pada kelompok aktivitas fisik, akan melakukan latihan selama satu jam, sebanyak dua kali seminggu, selama enam bulan. Sedangkan pasien pada kelompok terapi okupasi, akan melakukan kegiatan terapi okupasional berupa melukis, membaca, dan aktivitas komputer. Pasien okupasi diperbolehkan melakukan aktivitas fisik 60 menit dalam satu minggu. Setelah dilakukan follow up  selama 6 bulan, didapatkan bahwa terapi olahraga selama satu hingga dua jam selama seminggu terbukti meningkatkan kesehatan mental, ketahanan kardiovaskular, dan menurunkan tingkat kebutuhan perawat pada pasien skizofrenia dan terapi olahraga baik dijadikan sebagai terapi tambahan pada pasien dengan skizofrenia (Tw et al. 2013).

2.4. Mekanisme Aktivitas Fisik Terhadap Gejala Skizofrenia
Bagaimana mekanisme aktivitas fisik dalam menurunkan gejala positif dan negatif pada pasien skizofrenia masih belum dimengerti secara sepenuhnya (Tw et al. 2013). Aktivitas fisik yang dilakukan selama 30 menit sebanyak 3 kali dalam seminggu selama 12 minggu pada pasien skizofrenia, terbukti meningkatkan plastisitas hipokampus. Plastisitas hipokampus ini terjadi karena meningkatnya peredaran darah menuju dan dari hipokampus dan meningkatnya growth factor. Efek ini diduga dapat meningkatkan neurogenesis dan angiogenesis daerah hipokampus pada pasien skizofrenia (Pajonk et al. 2010) . Pada depresi, diduga aktivitas fisik berperan pada perubahan fisiologis dari  neurotransmiter (Tw et al. 2013), systematic review yang dilakukan oleh Romain dan Kenny terhadap 20 literatur yang melakukan penelitian pengaruh aktivitas fisik terhadap perubahan neurotransmiter otak pada hewan uji mencit dan/ atau tikus mendapatkan hasil bahwa (Meeusen & De Meirler 2009) :
1. Studi yang memeriksa level dari noradrenalin pada seluruh bagian otak setelah episode aktivitas fisik akut seperti lari atau berenang, mendapatkan hasil bawha terjadi penurunan signifikan dari level neradrenalin. Peningkatan neuroadrenalin terjadi jika aktivitas fisik dilakukan secara kronik. Beberapa studi lain yang memeriksa level noradrenalin berdasarkan lokasi spesifik dari otak mendapatkan bahwa, aktivitas fisik akut yang dilakukan akan menyebabkan penurunan level noradrenalin pada: batang otak, hippocampus, pons-medula, otak tengah, dan hipotalamus.
2. Studi yang memeriksa level dopamin pada otak terhadap aktivitas fisik mendapatkan hasil bahwa pada subjek yang tidak terlatih melakukan aktivitas fisik, lalu melakukan aktivitas fisik selama 8 minggu, berpengaruh terhadap penurunan level dopamin. Sedangkan pada subjek yang telah terlatih, terjadi peningkatan metabolisme dopamin pada daerah hipotalamus otak.
3. Studi yang memeriksa level serotonin pada otak terhadap aktivitas fisik yang berjangka akut (berenang selama 1 jam) dan kronik (berenang selama 1 jam, 6 kali dalam satu minggu, selama 4 minggu) menunjukkan adanya peningkatan sintesis dan metabolisme dari serotonin pada daerah batang otak, hipotalamus, dan hippokampus.



2.5. Penerapan Latihan Fisik

Pelatihan fisik adalah suatu usaha atau proses yang sistematik terhadap organ atau alat tubuh yang dilakukan berulang-ulang dengan penambahan beban pelatihan dan pekerjaannya secara progresif dan fungsinya yang bertujuan untuk mengoptimalkan penampilan dan kinerja. Prinsip pelatihan fisik adalah suatu petunjuk dan peraturan yang sistematik, dengan pemberian beban yang ditingkatkan secara progresif, yang harus ditaati dan dilaksanakan agar tercapai tujuan pelatihan. (Rarick 1980). Pelatihan  fisik merupakan suatu aktivitas komplek, suatu kinerja yang dilakukan secara sistematik dalam durasi yang panjang, progresif dan berjenjang, tujuan yang akan dicapai dari pelatihan fisik, yaitu meningkatkan potensi fisik serta meningkatkan kemampuan biomotor agar mencapai hasil yang maksimal (Bompa & Gregory 2009).
Pelatihan fisik merupakan suatu gerakan fisik dan atau aktivitas mental yang dilakukan secara sistematik dan berulang-ulang (repetitif) dalam jangka waktu (durasi) yang lama, dengan pembebanan yang meningkat secara progresif (bertahap) dan individual, dengan tujuan untuk memperbaiki sistema serta fungsi fisiologis dan psikologis tubuh agar pada waktu melakukan aktivitas olahraga dapat mencapai penampilan yang optimal (Boreham et al. 2006).
Belum ada tinjauan pustaka yang memberikan syarat atau ketentuan secara pasti pasien skizofrenia dengan kondisi bagaimana yang boleh melakukan latihan fisik, tetapi dari beberapa penelitian terdapat beberapa kriteria inklusi dalam memasukan subjek penelitian dalam suatu kelompok terapi olahraga, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Scheewe pada tahun  2013 : 1. Subjek penelitian merupakan pasien skizofrenia sesuai dengan kriteria DSM IV, 2. Pasien stabil, kooperatif, dan telah mengkonsumsi obat anti psikotik selama minimal 4 minggu, 3. Tidak ada penyakit lain yang menyertai pada pasien, 4. Tidak memiliki ketergantungan dengan alkohol atau penyalah gunaan obat, 5. IQ > 70, dan 6. Tidak memiliki riwayat atau menderita penyakit kardiovaskuler (Tw et al. 2013).
Pelatihan fisik yang akan diterapkan pada referat ini adalah pelatihan senam ayo bergerak Indonesia. Senam dipilih karena pada setiap ruangan rawat inap di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto telah terdapat alokasi waktu olah raga pada pukul 08.00 hingga 09.00. Senam memberikan stres fisik terhadap tubuh secara teratur, sistematik, berkesinambungan sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kemampuan di dalam melakukan kerja secara teratur atau meningkatkan kebugaran fisik secara nyata (Sylvia 2013). Senam memiliki volume 7 MET/menit saat memasuki fase latihan inti, pada senam ayo bergerak Indonesia latihan inti berlangsung selama 20 menit, jika dilakukan sebanyak 4 kali dalam satu minggu maka aktivitas ini telah memenuhi volume target METS menurut ACSM untuk meningkatkan kesehatan fisik (Edwing et al. 2011). Senam terdiri dari pemanasan, latihan inti, dan pendinginan. Pemanasan merupakan upaya tubuh untuk menyesuaikan diri dengan peningkatan sirkulasi secara bertahap serta meminimalkan kekurangan oksigen dan pembentukan asam laktat. Latihan inti bertujuan untuk meningkatkan denyut jantung dan masuk ke dalam zona latihan, menggerakan seluruh otot, tulang dan persendian tubuh untuk mencapai kebugaran fisik yang diinginkan. Pendinginan berguna untuk memulihkan dan melemaskan otot-otot yang digunakan dalam latihan dan mengeluarkan sisa pembakaran  (Kusmana 2007).
Senam Ayo Bergerak termasuk senam aerobik low impact dan banyak melibatkan anggota gerak tubuh dan persendian . Senam ini mengandung gerakan inti yang banyak memuat variasi teknik bela diri khas berbagai daerah, di mana gerakan-gerakan tersebut meningkatkan pelatihan kekuatan, kontraksi otot dan persendian. Banyak kontraksi otot yang terjadi, dan setiap gerakan memiliki variasi yang bertumpu pada berbagai otot tubuh, yaitu pada otot tangan, otot kaki, otot dada, perut, tungkai kaki dan punggung. Hal ini selain memberi keuntungan pada kekuatan otot, juga akan memberi keuntungan pada jantung dan paru. Otot jantung akan bertambah kuat sehingga dapat memompa d arah lebih banyak, curah jantung meningkat sehingga dapat berdenyut lebih banyak. Di samping itu peningkatan suplai darah ke jantung semakin sempurna dengan berkembangnya pembuluh darah baru pada jantung sehingga jantung mendapat lebih banyak oksigen dan mengakibatkan fisik tidak mudah lelah (Sylvia 2013).
Senam Ayo Bergerak merupakan senam kebugaran fisik yang dirumuskan oleh Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (FORMI) dan baru dirilis pada akhir tahun 2012. Sekarang Senam Ayo Bergerak sedang disosialisasikan ke berbagai instansi pendidikan, pemerintah, swasta, organisasi masyarakat dan segenap masyarakat Indonesia yang menyukai senam. Senam ini diciptakan dan dikemas dengan memadukan gerakan otot yang kuat, kencang, lincah dan melibatkan pergerakan otot-otot besar dan ruang lingkup persendian yang cukup luas dengan tujuan mengoptimalkan peningkatan kebugaran fisik (Sylvia 2013).

1. Pemanasan
Pemanasan diiringi ketukan musik 138 kali permenit dengan durasi 15 menit 22 detik. Diawali dengan posisi sikap sempurna, yaitu :
a. Berdiri tegak, tumit rapat dengan ujung jari kaki terbuka.
b. Telinga, bahu, pinggul, lutut dan mata kaki berada dala satu garis tegaklurus dengan lantai.
c. Pandangan lurus ke depan.
d. Kedua lengan lurus di samping badan, telapak tangan menghadap ke dalam rapat di samping paha, jari-jari rapat dan siap untuk olahraga.







2. Latihan Inti
Latihan inti diiringi ketukan musik 140 – 143 per menit dengan durasi 20 menit 40 detik.







3. Latihan Pendinginan
Pendinginan diiringi ketukan musik 125 per menit dengan durasi 6 menit 30 detik.
























BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa yang memiliki karakteristik khusus. Skizofrenia dijelaskan sebagai deskripsi sindrom dengan variasi penyebab, yang ditandai dengan penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi serta oleh afek yang tumpul atau tidak wajar. Sampai saat ini penyebab dari gangguan skizofrenia masih belum diketahui secara pasti, namun diduga berkaitan dengan : genetik, biokimia, psikososial, dan neurologikal.
2. Aktivitas fisik didefinisikan sebagai segala bentuk pergerakan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi, berdasarkan American Collage of Sport Medicine, untuk mencapai target kesehatan fisik, dapat dilakukan aktivitas yang bersifat ketahanan / endurance. Aktivitas fisik dilakukan selama > 5 hari dalam satu minggu dengan tipe olahraga sedang dan waktu yang digunakan untuk melakukan olahraga adalah 30-60 menit dalam satu hari, target volume dari olahraga adalah > 500-1000 MET/menit dalam satu minggu.
3. Penerapan aktivitas fisik sesuai dengan rekomendasi dari ACSM pada pasien skizofrenia dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mengurangi gejala positif dan negatif, serta gejala depresi.
4. Mekanisme aktivitas fisik dalam meningkatkan kesehatan fisik dan kesehatan mental pada pasien skizofrenia belum diketahui secara pasti, namun beberapa studi telah menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan aliran darah menuju hipokampus, meningkatkan regenerasi dan angiogenesis. Aktivitas fisik juga menurunkan level dari noradrenalin, meningkatkan serotonin, dan meningkatkan metabolisme dopamin.
5. Banyak penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik berpengaruh secara positif terhadap pasien skizofrenia, sehingga terapi olahraga dapat dipertimbangkan untuk menjadi tambahan terapi pada pasien skizofrenia selain tetap psikofarmaka menjadi terapi utama.

3.2. Saran

1. Dari kesimpulan diatas, perlu kiranya dipertimbangkan untuk menerapkan latihan fisik pada pasien skizofrenia yang dirawat inap di RSKJ Soeprapto Bengkulu, mengingat pada jadwal setiap ruangan rawat inap telah dialokasikan waktu selama satu jam pada pukul 08.00 – 09.00 setiap harinya untuk melakukan olahraga. Aktivitas senam selama 60 menit setiap 4 kali dalam satu minggu dapat meningkatkan kesehatan fisik dan jiwa pada pasien skizofrenia.
2. Perlu dilakukan edukasi dan pelatihan terhadap petugas medis yang ada di RSKJ Soeprapto Bengkulu tentang pentingnya aktivitas fisik terhadap peningkatan kesehatan fisik dan jiwa pada pasien skizofrenia.
3. Penulis merasa banyak terdapat kekurangan pada tinjauan pustaka ini, sehingga dibutuhkan lebih banyak sumber tinjauan pustaka yang lain guna mendukung penerapan latihan fisik pada pasien skizofrenia yang dirawat di RSKJ Soeprapto Bengkulu.


Luqman Hadi

Posts : 8
Reputation : 0
Join date : 2016-02-20

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum