Gangguan Bipolar

View previous topic View next topic Go down

Gangguan Bipolar

Post by Inka Okta Elhusnah on Tue Dec 29, 2015 3:06 pm

Referat
GANGGUAN BIPOLAR




9

Oleh
Inka Okta Elhusnah
H1AP09024


Pembimbing:
dr. Lucy Marturia Bangun, SpKJ



KEPANITERAAN KLINIK ILMU PSIKIATRI
RSKJ SOEPRAPTO BENGKULU
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015


DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL i
DAFTAR ISI ii
I. PENDAHULUAN........................................................................ 1
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Bipolar............................................................. 2
2.2 Epidemiologi Bipolar 2
2.3 Etiologi Gangguan Bipolar 2
2.3.1 Faktor Genetik............................. 2
2.3.2 Faktor Biologi............................. 3
2.3.3 Faktor Lingkungan ............................... 3
2.4 Klasifikasi Gangguan Bipolar 3
2.5 Kreteria Gangguan Bipolar 5
2.6 Diagnosis 6
2.7 Diferensial Diagnosis 11
2.8 Penatalaksanaan 11
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................. 28
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 29




BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan bipolar terdiri dari afek yang meningkat, dan juga aktivitas yang berlebih (mania atau hipomania), dan dalam jangka waktu yang berbeda terjadi penurunan afek yang disertai dengan penurunan aktivitas (depresi).2
Sebagian besar orang yang mengalami manik, setidaknya sekali dalam hidup mereka di lain waktu akan memiliki gangguan depresi. Kombinasi dari dua episode, yang berada di kutub yang berlawanan dari suasana hati, disebut gangguan bipolar atau gangguan afektif bipolar. Jarang terjadi, beberapa orang menunjukkan fitur dari kedua manik dan depresi pada saat yang sama. Mereka hiperaktif sementara juga mengalami suasana hati yang depresi. Pasien tersebut dikatakan memiliki gangguan afektif campuran.3
Jumlah kejadian setiap tahun dari gangguan bipolar dalam populasi diperkirakan antara 10-15 per 100000 di antara manusia. Angka ini lebih tinggi di kalangan wanita dan bahkan dapat mencapai 30 per 100000. Kondisi ini dapat mempengaruhi orang dari hampir semua usia, dari anak-anak sampai usia lanjut. Prevalensi serupa terjadi pada pria maupun wanita.10
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Bipolar
Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitu gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan, dan proses berfikir. Disebut Bipolar karena penyakit kejiwaan ini didominasi adanya fluktuasi periodik dua kutub, yakni kondisi manik (bergairah tinggi yang tidak terkendali) dan depresi.2

2.2. Epidemiologi Bipolar
Dapat dikatakan insiden gangguan bipolar tidak tinggi, berkisar antara 0,3-1,5%. Namun, angka itu belum termasuk yang misdiagnosis. Risiko kematian terus membayangi penderita bipolar. Biasanya kematian itu dikarenakan mereka mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri. Risiko bunuh diri meningkat pada penderita bipolar yang tidak diterapi yaitu 5,5 per 1000 pasien. Sementara yang diterapi hanya 1,3 per 1000 pasien.4
Gangguan pada lelaki dan perempuan sama, biasanya timbul di usia remaja atau dewasa. Hal ini paling sering dimulai sewaktu seseorang baru menginjak dewasa, tetapi kasus-kasus gangguan bipolar telah didiagnosis pada remaja dan bahkan anak - anak.6

2.3 Etiologi Gangguan Bipolar
a. Faktor Genetik
Penelitian keluarga telah menemukan bahwa kemungkinan menderita suatu gangguan mood menurun saat derajat hubungan kekeluargaan melebar. Penurunan gangguan bipolar kira-kira 50% pasien memiliki satu orang tua dengan suatu Gangguan mood, paling sering Gangguan depresif berat. Jika satu orang tua menderita gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 25% bahwa anaknya menderita suatu Gangguan mood. Jika kedua orangtua menderita Gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 50-75% anaknya menderita Gangguan mood.2-4
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara Gangguan bipolar dengan kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari kromosom tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22-q23, dan 21q22. Yang menarik dari studi kromosom ini, ternyata penderita sindrom Down (trisomi 21) beresiko rendah menderita Gangguan bipolar.2-4
Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar, peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmitter dengan Gangguan bipolar. Neurotransmitter tersebut adalah dopamine, serotonin, noradrenalin. Gen-gen yang berhubungan dengan neurotransmitter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase, cathecol-ometiltransferase (COMT), dan serotonin transporter (5HTT). 2-4
b. Faktor Biologis
Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography (PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada amygdale dan hippocampus. Korteks prefrontal, amygdale, dan hippocampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek).2-4
c. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang sangat berperan pada kehidupan psikososial dari pasien dapat menyebabkan stress yang dipicu oleh faktor lingkungan. Stress yang menyertai episode pertama dari Gangguan bipolar dapat menyebabkan perubahan biologik otak yang bertahan lama dan menyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberian signal intraneuronal. Perubahan mungkin termasuk hilangnya neuron dan penurunan besar dalam kontak sinaptik. 2-4

2.4 Klasifikasi Gangguan Bipolar
Dua pola gejala dasar pada Gangguan bipolar yaitu, episode depresi dan episode mania.2-4
2.4.1 Episode manik/mania
Paling sedikit satu minggu (bisa kurang) pasien mengalami mood yang elasi, ekspansif, atau iritabel. Pasien memiliki, secara menetap, tiga atau lebih gejala berikut (empat atau lebih bila hanya mood iritabel) yaitu :4,5
- Grandiositas atau percaya diri berlebihan
- Berkurangnya kebutuhan tidur
- Cepat dan banyaknya pembicaraan
- Lompatan gagasan atau pikiran berlomba
- Perhatian mudah teralih
- Peningkatan social dan hiperaktivitas psikomotor
- Meningkatnya aktivitas bertujuan (social, seksual, pekerjaan dan sekolah)
- Tindakan sembrono (ngebut, boros, investasi tanpa perhitungan yang matang)
Gejala derajat berat dikaitkan dengan penderitaan, gambaran psikotik, hospitalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain, serta adanya Gangguan fungsi social dan pekerjaan. Pasien hipomania kadang sulit didiagnosa sebab beberapa pasien hipomania justru memiliki tingkat kreativitas dan produktivitas yang tinggi. Pasien hipomania tidak memiliki gambaran psikotik (halusinasi, waham atau perilaku atau pembicaraan aneh) dan tidak memerlukan hospitalisasi.4,5
2.4.2 Episode Depresi
Pada semua tiga variasi dari episode depresif khas yang tercantum di bawah ini, ringan, sedang, dan berat, individu biasanya menderita suasana perasaan (mood) yang depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya enersi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktivitas. Gejala lazim lainnya adalah :
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang;
b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
c. Gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada episode tipe ringan sekali pun);
d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis;
e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri;
f. Tidur terganggu;
g. Nafsu makan berkurang.4.5


2.4.3 Episode Campuran
Paling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi yang terjadi secara bersamaan. Misalnya, mood tereksitasi (lebih sering mood disforik), iritabel, marah, serangan panic, pembicaraan cepat, agitasi, menangis, ide bunuh diri, insomnia derajat berat, grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar dan kadang-kadang bingung. Kadang-kadang gejala cukup berat sehingga memerlukan perawatan untuk melindungi pasien atau orang lain, dapat disertai gambaran psikotik, dan mengganggu fungsi personal, social dan pekerjaan.4,5
Siklus Cepat
Siklus cepat yaitu bila terjadi paling sedikit empat episode – depresi, hipomania, atau mania – dalam satu tahun. Seseorang dengan siklus cepat jarang mengalami bebas gejala dan biasanya terdapat hendaya berat dalam hubungan interpersonal atau pekerjaan.4,5
Siklus Ultra Cepat
Mania, hipomania, dan episode depresi bergantian dengan sangat cepat dalam beberapa hari. Gejala dan hendaya lebih berat bila dibandingkan dengan siklotimia dan sangat sulit diatasi.4,5
Sindrom Psikotik
Pada kasus berat, pasien mengalami gejala psikotik. Gejala psikotik yang paling sering yaitu waham dan halusinai..4,5

2.5 KRITERIA BIPOLAR
Berdasarkan DSM-IV, Gangguan bipolar digolongkan menjadi 4 kriteria :6
 Gangguan bipolar I
Terdapat satu atau lebih episode manik. Episode depresi dan hipomanik tidak diperlukan untuk diagnosis tetapi episode tersebut sering terjadi.
 Gangguan bipolar II
Terdapat satu atau lebih episode hipomanik atau episode depresif mayor tanpa episode manik.
 Siklotimia
Adalah bentuk ringan dari Gangguan bipolar. Terdapat episode hipomania dan depresi yang ringan yang tidak memenuhi kriteria episode depresif mayor.
 Gangguan bipolar YTT
Gejala-gejala yang dialami penderita tidak memenuhi kriteria Gangguan bipolar I dan II. Gejala-gejala tersebut berlangsung tidak lama atau gejala terlalu sedikit sehingga tidak dapat didiagnosa Gangguan bipolar I dan II.6

2.6 DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria dalam DSM-IV atau ICD-10. Instrumen yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi symptom Gangguan bipolar adalah The Structured clinical Interview for DSM-IV (SCID). The Present State Examination (PSE) dapat pula digunakan untuk mengidentifikasi simptom sesuai dengan ICD-10.4,6 Pembagian menurut DSM-IV :
Gangguan mood bipolar I
 Gangguan mood bipolar I, episode manic tunggal
A. Hanya mengalami satu kali episode manik dan tidak ada riwayat depresi mayor sebelumnya.
B. Tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, skizoafektif, Gangguan waham, atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
C. Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum
D. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, episode manik sekarang ini
A. Saat ini dalam episode manik
B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu kali episode manik, depresi, atau campuran.
C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
D. Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum.
E. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, episode campuran saat ini
A. Saat ini dalam episode campuran
B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode manik, depresi atau campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizifreniform, Gangguan waham, atau Gangguan psikotik yang tidak diklasifikasikan
D. Gejala-gejala tidak disebabkan efek oleh fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum
E. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, episode hipomanik saat ini
A. Saat ini dalam episode hipomanik
B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manik atau campuran
C. Gejala mood menyebabkan penderita yang secara klinik cukup bermakna atau hendaya social, pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya
D. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, dan dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
 Gangguan mood bipolar I, episode depresi saat ini
A. Saat ini dalam episode depresi mayor
B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode manik dan campuran
C. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, dan dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
D. Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum
E. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, Episode Yang tidak dapat diklasifikasikan saat ini
A. Criteria, kecuali durasi, saat ini, memenuhi kriteria untuk manik, hipomanik, campuran atau episode depresi.
B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manik atau campuran.
C. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain.
D. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.
Ganggguan Mood Bipolar II
Satu atau lebih episode depresi mayor disertai paling sedikit satu episode hipomanik.
Gangguan Siklotimia
A. Paling sedikit selama dua tahun, terdapat beberapa periode dengan gejala-gejala hipomania dan beberapa periode dengan gejala-gejala depresi yang tidak memenuhi criteria untuk Gangguan depresi mayor. Untuk anak-anak dan remaja durasinya paling sedikit satu tahun.
B. Selama periode dua tahun di atas penderita tidak pernah bebas dari gejala-gejala pada kriteria A lebih dari dua bulan pada suatu waktu.
C. Tidak ada episode depresi mayor, episode manik, episode campuran, selama dua tahun Gangguan tersebut.
Catatan : setelah dua tahun awal, siklotimia dapat bertumpang tindih dengan manik atau episode campuran (diagnosis GB I dan Gangguan siklotimia dapat dibuat) atau episode depresi mayor (diagnosis GB II dengan Gangguan siklotimia dapat ditegakkan).
D. Gejala-gejala pada kriteria A bukan skizoafektif dan tidak bertumpangtindih dengan skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau dengan gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
E. Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum.
F. Gejala-gejala di atas menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya.

Pembagian menurut PPDGJ III:
F31 Gangguan Afek bipolar
• Gangguan episode berulang (minimal dua episode) afek dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Episode manik mulai tiba-tiba dan berlangsug antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, episode depresi berlangsung lebih lama (6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut. 7
• Termasuk: gangguan atau psikosis manik-depresif.
Tidak termasuk: Gangguan bipolar, episode manik tunggal (F30).
F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Klinik Hipomanik
• Episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania (F30); dan
• Harus ada sekurangnya satu episode afektif lain di masa lampau.7
F31.1 Gangguan afektif Bipolar, Episode kini Manik Tanpa Gejala Psikotik
• Episode sekarang harus memenuhi kriteria mania tanpa gejala psikotik (F30.1); dan
• Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif, atau campuran) di masa lampau.7
F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan gejala psikotik
• Episode sekarang harus memenuhi kriteria mania dengan gejala psikotik (F30.2); dan
• Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain di masa lampau.7

F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Ringan atau Sedang
• Episode sekarang harus memenuhi kriteria episode depresi ringan (F32.0) atau sedang (F32.1); dan
• Harus ada sekurangya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di masa lampau.7
F31.4 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
• Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2); dan
• Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di masa lampau.7
F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
• Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3); dan
• Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran dimasa lampau.7
F31.6 Gangguan Afektif Bipolar Campuran
• Episode sekarang menunjukkan gejala manik, hipomanik, dan depresif yang tercampur atau bergantian dengan cepat (gejala mania/hipomania dan depresif yang sama-sama mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang sekarang, dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu); dan
• Harus ada sekurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di masa lampau.7
F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, kini dalam Remisi
• Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan terakhir, tetapi pernah mengalami sekurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran di masa lampau dan ditambah sekurangnya satu episode afektif lain.7
F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya
F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT

Gangguan Bipolar pada Anak-anak
Anak-anak dengan gangguan bipolar sebaiknya tidak diberikan “label” tertentu yang dapat membuat mereka terhindar dari pergaulannya. Anak-anak tersebut juga beresiko tinggi menderita gangguan kecemasan dan juga Attention Deficit-Hyperactivity Disorder (ADHD).7

2.7 DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Gangguan mental lain yang memiliki gejala sama dengan gangguan bipolar seperti skizofrenia, skizoafektif, intoksikasi obat, gangguan skizofreniform, dan gangguan kepribadian ambang.4,8

2.8 PENATALAKSANAAN
Farmakoterapi Pada Gangguan Bipolar
Sehingga ke masa ini masih belum ada yang sudah pengobatan untuk bipolar yang tuntas. Oleh kerna penyakit bipolar bisa menyebabkan rekurensi ia menyebakan pengobatannya berlaku sepanjang hayat. Pasien juga bias mendapat tim perawatan yang terdiri dari psikolog , pekerja sosial, perawat psikater. Perawatan primer yang bisa berupa dalam bentuk obat, konseling peribadi, keluarga atau kelompok. Atau bisa juga edukasi dan support group.9,10
Paramedis mungkin akan mengambil langkah untuk merawat inapkan pasien dengan indikasi jika pasien bertingkah berbahaya, atau pasien ingin bunuh diri atau menjadi psikotik. Obat yang digunakan adalah obat yang berguna untuk menstabilkan mood dengan segera.9,10
Pengobatan rumatan digunakan untuk mencegah penyakit bipolar dalam jangka yang panjang. Jika pasien mempunyai masalah penyalahgunaan zat atau alkohol, pengobatannya juga akan berbeda karena harus memperbaiki keadaan penyalahgunaan zat. Jika tidak, pengobatan akan menjadi lebih sulit karena pengobatan harus memperkirakan zat yang disalahgunakan.9,10

Pengobatan bipolar adalah termasuk menstabilkan mood pasien agar tidak berada dikutub mood yaitu episode mania dan episode depresi. Oleh karena itu mood stabilizer diperlukan dalam pengobatan, dan juga pengobatan yang dapat meghilangkan anxietas dan depresi. Berikut adalah obat-obatan yang dapat digunakan pada gangguan bipolar :9,10
Lithium
Lithium (lithobid) adalah merupakan obat yang efektif dalam menstabilkan mood dan mencegah pasien berada di episode mania dan episode depresi. Umumnya pengobatan lini pertama untuk pengobatan bipolar. Lithium (escalith atau lithobid) merupakan mood stabilizer yang pertama yang diluluskan oleh FDA di tahun 1970 untuk pengobatan episode mania. Penggunaan litium ini begitu efektif dalam mengawal symptom episode manik dan mencegah terjadinya rekuren episode manik dan episode depresi. Penggunaan lithium haruslah disertai dengan pemeriksaan darah rutin karena pengunaan litihium pada jangka panjang bisa menyebabkan kegagalan ginjal dan masalah tiroid.4,9,10
Farmakologi
Sejumlah kecil lithium terikat dengan protein, diekskresikan dalam bentuk utuh melalui ginjal.
Indikasi
Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan sebagai terapi rumatan GB.9,12
Dosis
Respons lithium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan berkisar antara 1,0-1,4 mEq/L. Perbaikan terjadi dalam 7-14 hari. Dosis awal yaitu 20 mg/kg/hari. Terapi rumatan, dosis berkisar antara 0,4-0,8 mEq/L. Dosis kecil dari 0,4 mEq/L, tidak efektif sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejala toksisitas litium dapat terjadi bila dosis 1,5 mEq/L.9,10,12
Efek samping
Efek samping berupa mual, muntah, tremor, somnolen, penambahan berat badan, dan penumpulan kognitif. Neurotoksisitas, delirium, dan ensefalopati dapat pula terjadi akibat lithium dan bersifat irreversible. Akibat intoksikasi litium, defisit neurologi permanen dapat terjadi misalnya, ataksia, deficit memori, dan gangguan pergerakan. Untuk mengatasi intoksikasi litium, hemodialisis harus segera dilakukan. Litium dapat merusak tubulus ginjal. Faktor resiko kerusakan ginjal adalah intoksikasi litium, polifarmasi dan adanya penyakit fisik yang lainnya. Pasien yang mengkonsumsi litium dapat mengalami poliuri dan dianjurkan banyak meminum air.9,12
Pemeriksaan laboratorium
Sebelum memberikan litium, fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) dan fungsi tiroid, harus diperiksa terlebih dahulu. Untuk pasien yang berumur di atas 40 tahun, pemeriksaan EKG harus dilakukan. Fungsi ginjal harus diperiksa setiap 2-3 bulan dan fungsi tiroid dalam enam bulan pertama. Setelah enam bulan, fungsi ginjal dan tiroid diperiksa sekali dalam 6-12 bulan atau bila ada indikasi.9,12
Wanita hamil
Penggunaan litium pada wanita hamil menimbulkan malformasi janin. Kejadiannya meningkat bila janin terpapar pada kehamilan yang lebih dini. Pemeriksaan USG untuk memantau janin, dan harus disupervisi oleh ahli kebidanan dan psikiater. 4

Valproat
Valproat merupakan obat antiepilepsi yang disetujui oleh FDA sebagai antimania. Asam valproat atau divaproex (depatoke) diluluskan oleh FDA pada tahun 1995 dignakan untuk mengobati mania, ia merupakan pengobatan yang popular karena bisa mengantikan litium untuk pengobatan bipolar karena ia juga berfungsi sebagai mood stabilizer. Dari segi efektifitas asam valproat juga sama efektif dengan menggunaan lithiumValproat tersedia dalam bentuk :9,10,2
1. Preparat oral;
a. Sodium divalproat, tablet salut, proporsi antara asam valproat dan sodium valproat adalah sama (1:1)
b. Asam valproat
c. Sodium valproat
d. Sodium divalproat, kapsul yang mengandung partikel-partikel salut dapat dimakan secara utuh atau dibuka dan ditaburkan ke dalam makanan.
e. Divalproat dalam bentuk lepas lambat, dosis sekali sehari
2. Preparat intravena
3. Preparat sipusitoria
Farmakologi
Terikat dengan protein. Diserap dengan cepat setelah pemberian oral. Konsentrasi puncak plasma valproat sodium dan asam valproat dicapai dalam dua jam sedangkan sodium divalproat dalam 3-8 jam. Awitan absorbsi divalproat lepas lambat lebih cepat bila dibandingkan dengan tablet biasa. Absorbsi menjadi lambat bila obat diminum bersamaan dengan makanan. Ikatan valproat dengan protein meningkat bila diet mengandung rendah lemak dan menurun bila diet mengandung tinggi lemak.9,12
Dosis
Dosis terapeutik untuk mania antara 45 -125 mg/mL. Untuk GB II dan siklotimia diperlukan divalproat dengan konsentrasi plasma < 50 mg/mL. Dosis awal untuk mania dimulai dengan 15-20 mg/kg/hari atau 250 – 500 mg/hari dan dinaikkan setiap 3 hari hingga mencapai konsentrasi serum 45- 125 mg/mL. Efek samping, misalnya sedasi, peningkatan nafsu makan, dan penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi bila konsentrasi serum > 100 mg/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat dalam plasma yang dianjurkan adalah antara 75-100 mg/mL.9,10,12
Indikasi
Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut, terapi rumatan GB, mania sekunder, GB yang tidak berespons dengan litium, siklus cepat, GB pada anak dan remaja, serta GB pada lanjut usia.9,12
Efek Samping
Efek samping yang dapat terjadi, misalnya anoreksia, mual, muntah, diare, dispepsia, peningkatan (derajat ringan) enzim transaminase, sedasi, dan tremor. Efek samping ini sering terjadi pada awal pengobatan dan bekurang dengan penurunan dosis.9,12

Lamotrigin
Lamotrigin efektif untuk mengatasi episode bipolar depresi. Ia menghambat kanal Na+. Selain itu, ia juga menghambat pelepasan glutamat.4,9,10

Farmakokinetik
Lamotrigin oral diabsorbsi dengan cepat melewati sawar otak dan mencapai konsentrasi puncak dalam 2-3 jam. Sebanyak 10% lamotrigin dieksresikan dalam bentuk utuh.9,12
Indikasi
Efektif untuk mengobati episode depresi, GB I dan GB II, baik akut maupun rumatan. Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus cepat.
Dosis
Berkisar antara 50-200 mg/hari.9,12
Efek Samping
Sakit kepala, mual, muntah, pusing, mengantuk, tremor, dan berbagai bentuk kemerahan di kulit.9,12

Antipsikotika Atipik
Antipsikotika atipik, baik monoterapi maupun kombinasi terapi, efektif sebagai lini pertama untuk GB. Beberapa antipsikotika atipik tersebut adalah olanzapin, risperidon, quetiapin, dan aripiprazol.4,9,12
Risperidon
Risperidon adalah derivat benzisoksazol, Ia merupakan antipsikotika atipik pertama yang mendapat persetujuan FDA setelah klozapin.9,12
Absorbsi
Risperidon diabsorbsi cepat setelah pemberian oral, dimetabolisme enzim hepar yaitu CYP 2D6.9,12
Dosis
Untuk preparat oral, yaitu tablet dan cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan hingga mencapai dosis 4 mg/hari. Sebagian besar pasien membutuhkan 4-6 mg/hari. Risperidon injeksi jangka panjang (RIJP) dapat pula digunakan untuk terapi rumatan GB. Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap dua minggu. Bila tidak berespons dengan 25 mg, dosis dapat dinaikkan menjadi 37,5 mg - 50 mg per dua minggu.9,10,12
Indikasi
Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk terapi rumatan.10,11
Efek Samping
Sedasi, fatig, pusing ortostatik, palpitasi, peningkatan berat badan, berkurangnya gairah seksual, disfungsi ereksi lebih sering terjadi pada risperidon. Peningkatan berat badan dan prolaktin dapat pula terjadi pada pemberian risperidon.9,12

Olanzapin
Olanzapin merupakan derivat tienobenzodiazepin yang memiliki afinitas terhadap dopamin (DA), D2, D3, D4, dan D5, serotonin 2 (5-HT2); muskarinik, histamin 1(H1), dan a1- adrenergik.4,9,12
Indikasi
Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut mania dan campuran. Selain itu, olanzapin juga efektif untuk terapi rumatan GB.9,12
Dosis
Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari.9,10,12
Efek Samping
Sedasi dapat terjadi pada awal pengobatan tetapi berkurang setelah beberapa lama. Efek antikolinergik dapat pula terjadi tetapi kejadiannya sangat rendah dan tidak menyebabkan penghentian pengobatan. Risiko terjadinya diabetes tipe-2 relatif tinggi bila dibandingkan dengan antipsikotika atipik lainnya. Keadaan ini dapat diatasi dengan melakukan psikoedukasi, misalnya merubah gaya hidup, diet dan latihan fisik.9,12


Quetiapin
Mengurangkan simptom episode manik yang berat dan episode manik dengan tiba-tiba. Quetiapin merupakan suatu derivat dibenzotiazepin yang bekerja sebagai antagonis 5-HT1A dan 5 -HT2A, dopamin D1, D2, histamin H1 serta reseptor adrenergik a1 dan a2. Afinitasnya rendah terhadap reseptor D2 dan relatif lebih tinggi terhadap serotonin 5-HT2A.9,12
Dosis
Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hari. Tersedia dalam bentuk tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg, 100 mg, 200 mg, dan 300 mg, dengan pemberian dua kali per hari. Selain itu, juga tersedia quetiapin-XR dengan dosis 300 mg, satu kali per hari.9,10,12
Indikasi
Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi, campuran, siklus cepat, baik dalam keadaan akut maupun rumatan.9,12
Efek Samping
Sedasi merupakan efek samping yan sering dilaporkan. Peningkatan berat badan lebih kecil bila dibandingkan dengan antipsikotika tipik.9,12

Aripiprazol
Merupakan antipiskotik dengan episode campuran dan episode manik, juga digunakan untuk pengobatan rumatan penyakit bipolar, dan mempunyai sediaan injeksi yang digunakan sebagai usaha dalam penatalaksanaan pada saat darurat. Ia juga digunakan pada episode manik yang datang dengan tiba-tiba dan juga pada keadaan manik yang berat. Aripiprazol adalah stabilisator sistem dopamin-serotonin.4,9,12
Farmakologi
Aripiprazol merupakan agonis parsial kuat pada D2, D3, dan 5-HT1A serta antagonis 5- HT2A. Ia juga mempunyai afinitas yang tinggi pada reseptor D3, afinitas sedang pada D4, 5-HT2c, 5-HT7, a1-adrenergik, histaminergik (H1), dan serotonin reuptake site (SERT), dan tidak terikat dengan reseptor muskarinik kolinergik.9,12

Dosis
Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg. Kisaran dosis efektifnya per hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal yang direkomendasikan yaitu antara 10 - 15 mg dan diberikan sekali sehari. Apabila ada rasa mual, insomnia, dan akatisia, dianjurkan untuk menurunkan dosis. 9,10,12
Indikasi
Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran akut. Ia juga efektif untuk terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagai terapi tambahan pada GB I, episode depresi.9,12
Efek Samping
Sakit kepala, mengantuk, agitasi, dispepsia, anksietas, dan mual. Akatisia dapat terjadi dan sangat mengganggu pasien sehingga sering mengakibatkan penghentian pengobatan.9,12

Antidepresan
Antidepresan efektif mengobati GB, episode depresi. Penggunaannya harus jangka pendek. Penggunaan jangka panjang berpotensi meginduksi hipomania atau mania. Untuk menghindari terjadinya hipomania dan mania, antidepresan dikombinasi dengan stabilisator mood atau dengan antipsikotika atipik. Efek samping anti depresan yang sering adalah penurunan kegairahan sex dan masalah untuk mencapai orgasme. 13

Symbyax
Kombinasi antidepresan fluoxetine dan atipsikotik olanzepin, berfungsi sebagai penggobatan depresi dan penstabil mood/mood stabilizer. Efek samping termasuk peningkatan berat badan, pusing dan peningkatan nafsu makan sserta masalah seksual.13


Benzodiazepin
Benzodiazepin suatu obat anti anxietas, berfungsi mengurangkan anxietas dan memperbaiki kualitas tidur. Contoh obat golongan benzodiazepin termasuk clonezepam (klonopin), lorazepam (ativan), diazepam (valium), chlordiazepoxide (Librium) dan alprozolam (niravam, xanax). Benzodiazepin pada umumnya digunakan untuk mengurangkan anxietas hanya pada jangka waktu yang pendek. Efek samping benzodiazepine antaranya pusing, penurunan koodinasi otot, masalah keseimbangan dan memori.9-12
FDA-approved Bipolar Disorder Treatments
Agents Manic Mixed Depression Maintenance
MOOD STABILISER
Lithium √ – – √
Divalproex DR √ – – –
Divalproex ER √ √ – –
Carbamazepine ER √ √ – –
ATYPICALS –
Risperidone √ √ – –
Olanzapine √ √ – √
Quetiapine √ – √ √
Ziprasidone √ √ – –
Aripiprazole √ √ – √
OTHER
Lamotrigine – – – +
Olanzapine/fluoxetine – – √ –
- Drugs listed in order of approval for a bipolar disorder indication. This chart does not imply comparable efficacy or tolerability profiles. Physicians’ Desk Reference®. 60th ed. Montvale, NJ: Medical Economics Co; 2006
Mencari pengobatan yang sesuai
Pengobatan sentiasa dimonitor oleh dokter dan perawat dan distribusi terapi dengan obat haruslah diawasi oleh dokter yang merawat. Bertujuan mengevaluasi gagal dan berhasilnya terapi serta mengurangkan simptom dan menghindari efek samping yang disebabkan oleh obat-obatan tertentu. Untuk menilai keberhasilan pengobatan dokter yang merawat haruslah memiliki grafik dan catatan untuk simptom mood, pengobatan, pola tidur, dan peristiwa dalam kehidupan yang bisa membantu dokter menilai pengobatan. 12

Pengobatan ketika dalam tempoh kehamilan
Banyak obat yang digunakan pada terapi ganngguan bipolar bisa menyebabakan defek kongenital pada janin. Dokter yang merawat haruslah mempertimbangkan pengobatan dan resiko pada janin, namun jika terapi obat-obatan dihentikan, ia dapat menyebabkan simptom bipolar timbul ketika usia kehamilan masih berjalan. Dan kebanyakkan obat-obatan untuk gangguan bipolar bisa menebusi ASI. 4,11
Berikut merupakan efek samping pengobatan pada wanita yang sedang hamil :
• Asam valproate mempunyai resiko kepada fetus dan mempengaruhi perkembangan.
• Carbamazepine mempunyai limitasi dalam efektifitas dan mempunyai resiko membahayakan fetus.
• Lithium mempunyai resiko kepada bayi seperti masalah jantung.
• Iamotrigine mempunyai risko membahayakan fetus.
• Paroxetine memiliki reskio kepada fetus seperti masalah kadiovaskular malformation.
• Penggunanaan jangka masa panjang benzodiazepine bisa menyebabkan masalah kepada anak seperti cleft plate dan floppy baby syndrome.

Penatalaksanaan Kedaruratan Agitasi Akut Pada Gangguan Bipolar3,12
Lini 1, terapi:
- Injeksi IM aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi pada pasien dengan episode mania atau campuran akut. Dosis adalah 9,75 mg/injeksi. Dosis maksimum adalah 29,25 mg/hari (tiga kali injeksi perhari dengan interval dua jam). Berespon dalam 45-60 menit.3,12
- Injeksi IM olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien dengan episode mania atau campuran akut. Dosis 10 mg/injeksi. Dosis maksimum adalah 30 mg/hari. Berespon dalam 15-30 menit. Interval pengulangan injeksi adalah dua jam. Sebanyak 90% pasien menerima hanya satu kali injeksi dalam 24 jam pertama. Injeksi lorazepam 2 mg/injeksi. Dosis maksimum Lorazepam 4 mg/hari. Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi IM Aripiprazol atau Olanzapin. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik karena mengganggu stabilitas antipsikotika.
Lini 2, terapi:
- Injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat diulang setelah 30 menit. Dosis maksimum adalah 15 mg/hari.
- Injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi. Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi haloperidol IM. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik.

Penatalaksanaan Terapi Farmakologi Pada Mania Akut3,12
Lini 1, terapi:
- Litium, diivalproat, olanzapin, risperidon, quetiapin, quetiapin XR, aripiprazol, litium atau divalproat + risperidon, litium atau divalproat + quetiapin, litium atau divalproat + olanzapin, litium atau divalproat + aripiprazol.3,12
Lini 2, terapi:
- Karbamazepin, Terapi Kejang Listrik (TKL), litium + divalproat, paripalidon
Lini 3, terapi:
- Haloperidol, klorpromazin, litium atau divalproat haloperidol, litium +karbamazepin, klozapin

-













Tabel 1. Algoritma Terapi Mania Akut pada Gangguan Bipolar

Penatalaksanaan Episode Depresi Akut pada Gangguan Bipolar 13,12
Lini 1, terapi:
- Litium, lamotrigin, quetiapin, quetiapin XR, litium atau divalproat + SSRI, Olanzapin + SSRI, litium + divalproat.3,12
Lini 2, terapi:
- Quetiapin + SSRI, divalproat, litium atau divalproat + lamotrigin



Lini. terapi:
- Karbamazepin, olanzapin, litium + karbamazepin, litium atau divalproat + venlafaksin, litium + MAOI, TKL, Litium atau divalproat atau AA + TCA, litium atau divalproat atau karbamazepin + SSRI + Lamotrigin, penambahan topiramat.3,12
Obat-obat yang tida direkomendasikan :
- Gabapentin monoterapi, aripiprazol mono terapi
Tabel 2. Algoritma terapi Episode Depresi pada Gangguan Bipolar.

Rekomendasi terapi rumatan pada gangguan bipolar 13,12
Lini 1, terapi:
- Litium, lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapin, litium atau divalproat + quetiapin, risperidon injeksi jangka panjang (RIJP), penambahan RIJP, aripiprazol
Lini, terapi:
- Karbamazepin, litium +divalproat, litium + karbamazepine, litium + divalproat + olanzapin, litium + risperidon, litium + lamotrigin, olanzapin + fluoksetin
Lini 3, terapi:
- Penambahan fenitoin, penambahan olanzapin, penambahan ECT, penambahan topiramat, penambahan asam lemak omega-3, penambahan okskarbazepin
Obat-obatan yang tidak direkomendasikan:
- Gabapentin, topiramat atau antidepresan monoterapi.3,12

Penatalaksanaan Depresi akut pada Gangguan Bipolar II3,12
Lini 1, terapi:
- Quetiapin
Lini 2, terapi:
- Litium, lamotrigin, divalproat, litium atau divalproat + antidepresan, litium + divalproat, antipsikotika atipik + antidepresan.
Lini 3, terapi:
- Antidepresan mono terapi (terutama untuk pasien yang jarang mengalami hipomania).

Rekomendasi Terapi Rumatan pada Gangguan Bipolar II3,12
Lini 1, terapi:
- Litium, lamotrigin
Lini 2, terapi:
- Divalproat, litium atau divalproat atau antipsikotika atipik + antidepresan, kombinasi dua dari: litium, lamotrigin, divalproat, atau antipsikotika atipik.3,12
Lini 3, terapi:
- Karbamazepin, antipsikotika atipik, ECT
Obat-obatan yamg tidak dianjurkan:
- Gabapentin.
Intervensi Psikososial
1. Penyuluhan Psikososial
Informasikan kepada orang dengan gangguan bipolar (tidak dalam episode manik akut) dan pada anggota keluarga pasien gangguan bipolar.7
• Penjelasan : gangguan bipolar ialah suatu keadaan alam perasaan yang ekstrim dimana dapat merasa sangat depresi, lemah, lesu kemudian beralih pada keadaan energik, sangat semangat.
• Diperlukan cara untuk mengawasi alam perasaan dalam waktu 1 hari yang dapat terjadi marah, sensitif dan kesenangan yang berlebihan .
• Penting untuk mengatur pola tidur yang normal.
• Kekambuhan perlu dicegah dengan mengenali gejala, seperti berkurangnya waktu tidur, menghabiskan uang atau merasa lebih enegik dari biasanya dan segera mulai terapi jika hal tersebut terjadi.
• Pasien yang berada dalam keadaan manik tidak sadar akan penyakit yang sedang dideritanya dan merasa hebat serta energi yang meluap-luap, jadi pengasuh sangat perlu menjadi bagian dalam upaya pencegahan.
• Hindari penggunaan alkohol maupun zat psikoaktif
• Perubahan gaya hidup terus dilanjutkan dan perlu diupayakan serta direncanakan
• Pasien harus diberikan semangat untuk mencari dukungan setelah kejadian yang menyedihkan dan mebicarakannya pada keluarga dan sahabat.
• Perencanaan untuk kembali bekerja atau bersekolah dapat menghindari pengurangan waktu tidur, memperbaiki hubungan dukungan sosial, berdiskusi serta meminta pendapat tentang keputusan penting misalnya tentang uang atau keputusan penting lainnya
• Kesehatan fisik, sosial, jiwa anggota keluarga juga patut diperhatikan.
• Bangun kepercayaan: rasa percaya antara pasien dan staf perawat memegang peranan penting dalam perawatan pasien dengan gangguan bipolar, dimana hubungan saling percaya secara medis ikut membantu pemulihan pasien secara simultan.



2. Membangun hubungan sosial
• Mencari tahu kegiatan pasien, dapat mebantu secara langsung maupun tidak langsung dukungan psikososial.
• Secara aktif memberi semangat kepada pasien untuk memulai kembali segala kegiatan sosial yang pernah dijalaninya serta menasehati keluarga tentang ini.7
3. Rehabilitation
• Memfasilitasi kesempatan kepada pasien dan perawatnya untuk berpartisipasi dalam kegitan ekonomi, pendidikan serta kesenian di lingkungannya baik secara formal maupun informal.
• Menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang sulit dalam usaha untuk mencari pekerjaan yang baik.7
4. Follow-up
• Follow yang berkesinambungan wajib diperlukan. Tingkat kekambuhannya tinggi dan pasien yang berada dalam keadaan manik seringkali tidak sadar untuk mencari pengobatan bagi dirinya, jadi pengobatan serta perawatan yang tidak dilakukan secara bersamaan sangat merugikan pada saat tertentu
• Pada setiap follow up, gejala serta efek samping dari pengobatan dan kebutuhan akan intervensi psikososial perlu dicantumkan.
• Pasien dengan gangguan manik sebaiknya melakukan evaluasi secara berkala. Evaluasi harus lebih sering sampai episode manik berakhir.
• Kumpulkan informasi mengenai penyakit serta terapi dari pasien dan perawatnya, khususnya gejala dan tanda serta pengelolaan terapi secara bersamaan.7

Psikoterapi
Terapi keluarga diperlukan untuk mengajarkan keluarga tentang gangguan mood serius yang dapat terjadi pada anak saat stress keluarga yang berat. Pendekatan psikoterapetik bagi anak terdepresi adalah pendekatan kognitif dan pendekatan yang lebih terarah dan lebih terstruktur dibandingkan yang biasanya digunakan pada orang dewasa. Karena fungsi psikososial anak yang terdepresi mungkin tetap terganggu untuk periode yang lama, walaupun setelah episode depresif telah menghilang, intervensi keterampilan sosial jangka panjang adalah diperlukan. Psikoterapi adalah pilihan utama dalam pengobatan depresi. Beberapa jenis psikoterapi yaitu :7,13
a. Cognitive behavioral therapy (CBT) membantu penderita gangguan bipolar untuk mengubah pola pikir dan perilaku negative.
b. Family-focused therapy melibatkan anggota keluarga. Terapi ini juga memfokuskan pada komunikasi dan pemecahan masalah.
c. Interpersonal and social rhythm therapy membantu penderita gangguan bipolar meningkatkan hubungan sosial dengan orang lain dan mengatur aktivitas harian mereka.
d. Psychoeducation mengajarkan pada penderita gangguan bipolar mengenai penyakit yang mereka derita beserta dengan penatalaksanaannya. Membantu penderita mengenali gejala awal dari episode sehingga mereka bisa mendapatkan terapi sedini mungkin.3

Pendidikan dan Pencegahan
Pencegahan primer dilakukan apabila diketahui bahwa dalam keluarga mengalami gangguan ini, maka diharapkan pasien dan atau keluarganya melakukan antisipasi. 3,13,14

PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada penggunaan obat-obatan dengan dosis yang tepat, pengetahuan komprehensif mengenai penyakit ini dan efeknya, hubungan positif dengan dokter dan therapist, kesehatan fisik. Semua faktor ini merujuk ke prognosis bagus.
Prognosis pasien gangguan bipolar I lebih buruk dibandingkan dengan pasien dengan gangguan depresif berat. Kira-kira 40%-50% pasien gangguan bipolar I memiliki episode manik, kedua dalam waktu dua tahun setelah episode pertama. Kira-kira 7% dari semua pasien gangguan bipolar I tidak menderita gejala rekurensi, 45% menderita lebih dari satu episode, dan 40% menderita gangguan kronis. Pasien mungkin memiliki 2 sampai 30 episode manik, walaupun angka rata-rata adalah Sembilan episode. Kira-kira 40% dari semua pasien menderita lebih dari 10 episode.4,13


BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitu gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan, dan proses berfikir. Gangguan pada lelaki dan perempuan sama, biasanya timbul di usia remaja atau dewasa
Penyebab gangguan bipolar multifaktor dan menncakup aspek bio-psikososial yaitu :
• Faktor Genetik
• Factor Biologi
• Faktor Lingkungan
Klasifikasi bipolar dibagi menjadi eposide manik, episode depresi dan episode campuran. Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar dibedakan menjadi, gangguan bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan episode manik, sedangkan gangguan bipolar II ditandai dengan hipomanik dan depresi. Siklotimia yaitu bentuk ringan dari Gangguan bipolar serta gangguan bipolar YTT yaitu gejala-gejala yang dialami penderita tidak memenuhi kriteria Gangguan bipolar I dan II.
Pengobatan bipolar adalah termasuk menstabilkan mood pasien agar tidak berada dikutub mood yaitu episode mania dan episode depresi. Oleh karena itu mood stabilizer diperlukan dalam pengobatan, dan juga pengobatan yang dapat meghilangkan anxietas dan depresi. Berikut adalah obat-obatan yang dapat digunakan pada gangguan bipolar.


DAFTAR PUSTAKA

1. Margaret Chan. Psychosis and Bipolar disorder, bab II and III in mhGAP Intervention Guide for mental, neurological and substance use disorders in non-specialized health settings. Version 1.0. Switzerland: World Health Organization. 2008. p 18-30.
2. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan dan sadock Buku ajar psikiatri klinis. Edisi 2. Jakarta: Penerit Buku EGC; 2010.h.366-85.
3. Dell’Osso, L., Pini, S., Cassano, G.B., Mastrocinque, C., Seckinger, R.A., Saettoni, M. et al. 2002. Insight into illness in patients with mania, mixed mania, bipolar depression and major depression with psychotic features. Bipolar Disorders, 4, 315-322.
4. Bipolar disorder. National Institute of Mental Health.
5. Bipolar disorders. The Merck Manuals: The Merck Manual for Healthcare Professionals.
6. Mood disorders. In: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders DSM-IV-TR. 4th ed. Arlington, Va.: American Psychiatric Association; 2000.
7. Practice parameter for the assessment and treatment of children and adolescents with bipolar disorder. Washington, D.C.: American Academy of Child and Adolescent Psychiatry.
8. Joska JA. Mood disorders. In: Hales RE, et al. The American Psychiatric Publishing Textbook of Psychiatry. 5th ed. Washington, D.C.: American Psychiatric Publishing; 2008.
9. Martinez M, et al. Psychopharmacology. In: Hales RE, et al. The American Psychiatric Publishing Textbook of Psychiatry. 5th ed. Washington, D.C.: American Psychiatric
10. Ketter TA. Diagnostic features, prevalence, and impact of bipolar disorder. J Clin Psychiatry. Jun 2010;71(6):e14
11. Andreescu C, et al. Complementary and alternative medicine in the treatment of bipolar disorder: A review of the evidence. Journal of Affective Disorders. 2008;110:16.
12. Sarris J, et al. Bipolar disorder and complementary medicine: Current evidence, safety issues, and clinical considerations. The Journal of Alternative and Complementary Medicine. 2011;17:881.
13. Hall-Flavin DK (expert opinion). Mayo Clinic, Rochester, Minn. Des. 8, 2015.
14. Yatham LN, et.al., Canadian Network for Mood and Anxiety Treatments (CANMAT) guidelines for the management of patients with bipolar disorder: update 2007, Bipolar Disorders 2006: 8: 721–739

Inka Okta Elhusnah

Posts : 7
Reputation : 0
Join date : 2015-12-28
Age : 26
Location : jl. Hibrida 9 A, Kota Bengkulu

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum