Gangguan Obsesif Kompulsif

View previous topic View next topic Go down

Gangguan Obsesif Kompulsif

Post by nandar on Wed Dec 02, 2015 6:58 am

Referat

GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF








Oleh:

Muhnandar Kurniawan
H1AP09033



Dosen Pembimbing:
dr. Andri Sudjatmoko, SpKJ


BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA
RUMAH SAKIT KHUSUS JIWA SOEPRAPTO BENGKULU
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015







BAB I
PENDAHULUAN

     Gangguan obsesif – kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan. Gangguan ini prevalensinya diperkirakan 2 – 3% dari populasi.
     Gangguan obsesif – kompulsif menduduki peringkat keempat dari gangguan jiwa setelah fobia, gangguan penyalahgunaan zat dan gangguan depresi berat. Kebanyakan pasien dengan gangguan obsesif – kompulsif datang ke beberapa dokter sebelum mereka ke psikiater dan umumnya 5-10 tahun mendapat terapi, baru kemudian mendapat diagnosis yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa dokter selain psikiater penting untuk mendapat diagnosis yang benar.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Definisi

     Istilah obsesi menunjuk pada suatu idea yang mendesak ke dalam pikiran. Istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu (Maramis, W.F., 2005). Suatu obsesi adalah pikiran, perasaan, gagasan atau sensasi yang berulang dan mengganggu. Suatu kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari, standar, dan berulang, seperti menghitung, memeriksa atau menghindar (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010). Menurut Maramis (2005) terdapat beberapa persamaan antara obsesi dan kompulsi, yaitu :
1. Suatu pikiran atau dorongan mendesak ke alam sadar secara gigih dan terus menerus.
2. Timbul perasaan takut yang hebat dan penderita berusaha untuk menghilangkan pikiran atau dorongan itu.
3. Obsesi dan kompulsi itu dirasakan sebagai asing, tidak disukai, tidak dapat diterima dan tidak dapat ditekan.
4. Penderita tetap sadar akan gangguan ini, ia tetap mengenal bahwa hal ini tidak wajar dan tidak rasional, biarpun obsesi atau kompulsi itu sangat hebat.
5. Penderita merasakan suatu kebutuhan yang besar untuk melawan obsesi dan kompulsi itu.


2.2 Epidemiologi


     Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2 sampai 3 persen. Sejumlah peneliti memperkirakan bahwa gangguan ini ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat jalan di klinik psikiatri. Gambaran ini membuat gangguan obsesif-kompulsif menjadi diagnosis psikiatri keempat terbanyak setelah fobia, gangguan terkait zat, dan gangguan depresif berat (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010). Prevalensi gangguan obsesif kompulsif di Amerika Serikat sebesar 2,5 % dan berada di rentang 1,7 – 4% (Greenberg, W.M. and David, B., 2015). Lebih dari 2% populasi di Amerika Serikat sekurangnya 1 dari 40 orang didiagnosis mengalami gangguan obsesif kompulsif selama kehidupannya (NAMI, 2015).
Di antara orang dewasa, laki-laki dan perempuan sama-sama cenderung terkena, tetapi di antara remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan perempuan. Usia rerata awitan sekitar 20 tahun, walaupun laki-laki memiliki usia awitan sedikit lebih awal (laki-laki sekitar 19 tahun) daripada perempuan (rerata sekitar 22 tahun). Secara keseluruhan, gejala pada sekitar dua pertiga orang yang terkena memiliki awitan sebelum usia 25 tahun, dan gejala pada kurang dari 15 persen pasien memiliki awitan setelah usia 35 tahun (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
     Awitan gangguan dapat terjadi pada remaja atau masa kanak-kanak, pada sejumlah kasus, awitannya sedini usia 2 tahun. Orang lajang lebih sering mengalami gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan orang yang menikah walaupun temuan ini mungkin mencerminkan kesulitan yang dimiliki orang dengan gangguan ini untuk mempertahankan suatu hubungan. Gangguan obsesif-kompulsif lebih jarang terjadi pada orang kulit hitam dibandingkan kulit putih (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
   Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif lazim terkena gangguan jiwa lain. Prevalensi seumur hidup gangguan depresif mayor pada orang dengan gangguan obsesif-kompulsif sekitar 67 persen dan untuk fobia sosial sekitar 25 persen. Diagnosis psikiatrik komorbid yang lazim lainnya pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan penggunaan alkohol, gangguan ansietas menyeluruh, fobia spesifik, gangguan panik, dan gangguan makan, dan gangguan kepribadian. Insiden gangguan Tourette pada pasien dengan gangguan obsesif –kompulsif adalah 5-7%, dan 20-30% pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif memiliki riwayat tik (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).


2.3 Etiologi

a. Faktor Biologis
    Neurotransmiter serotonin.  Banyak uji coba kinis yang telah dilakukan menyokong hipotesis bahwa suatu disregulasi serotonin terlibat di dalam pembentukan gejala obsesi dan kompulsi pada gangguan ini. Data menunjukkan bahwa obat serotonergik lebih efektif dibandingkan obat yang mempengaruhi sistem neurotransmiter lain. Tetapi tidak jelas apakah serotonin terlibat sebagai penyebab gangguan obsesif-kompulsif (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
  Neurotransmitter noradrenergik. Baru-baru ini, lebih sedikit bukti yang ada untuk disfungsi sistem noradrenergik pada gangguan obsesif kompulsif. Laporan tidak resmi menunjukkan sejumlah perbaikan gejala gangguan obsesif-kompulsif dengan klonidin oral (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
    Neuroimunologi. Terdapat hubungan positif antara infeksi streptokokkus dengan gangguan obsesif kompulsif. Infeksi streptokokkus grup A beta hemolitik dapat menyebabkan demam reumatik dan sekitar 10-30% pasien mengalami chorea sydenham dan menunjukkan gejala obsesif kompulsif. Awitan infeksi biasanya terjadi pada usia sekitar 8 tahun untuk menimbulkan gejala sisa itu. Keadaan ini disebut pediatric autoimmune neuropsychiatric disorder associated with streptococcal infection (PANDAS) (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010). Beberapa penelitian melaporkan kejadian gangguan obsesif-kompulsif dengan atau tanpa gejala tik pada anak dan dewasa muda mengikuti infeksi streptokokkus grup A. Sedikit laporan yang menyampaikan bahwa virus herpes simpleks menjadi penyebab timbulnya gangguan obsesif kompulsif (Greenberg, W.M. and David, B., 2015).
   Penelitian pencitraan otak. Berbagai penelitian pencitraan otak fungsional, sebagai contoh PET ( positron emission tomography), telah menunjukkan peningkatan aktifitas (contohnya, metabolisme dan aliran darah) di lobus frontalis, ganglia basalis (terutama kaudatus), dan cingulum pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Terapi farmakologis dan perilaku dilaporkan dapat membalikkan abnormalitas ini. Baik tomografi komputer (CT scan) dan pencitraan resonansi magnetik (MRI) telah menemukan berkurangnya ukuran kaudatus bilateral pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Prosedur neurologis yang melibatkan singulum kadang-kadang efektif dalam pengobatan pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010). Temuan ini menunjukkan hipotesis bahwa gejala OCD didorong oleh gangguan penghambatan intracortical dari sirkuit orbitofrontal-subkortikal spesifik yang menengahi emosi yang kuat dan respon otonom untuk emosi (Greenberg, W.M. and David, B., 2015).
  Genetik. Data genetik yang tersedia mengenai gangguan obsesif kompulsif menyokong hipotesis bahwa gangguan ini memiliki komponen genetik yang signifikan. Meskipun demikian, data ini belum membedakan pengaruh budaya dan efek perilaku terhadap transmisi gangguan ini. Studi kembar untuk gangguan ini secara konsisten menemukan angka kejadian bersama yang lebih tinggi bermakna untuk kembar monozigot dibandingkan kembar dizigot. Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif kompulsif telah menemukan bahwa 35 persen kerabat derajat pertama pasien gangguan obsesif-kompulsif juga mengalami gangguan ini (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).


b. Faktor Perilaku

     Menurut ahli teori pembelajaran, obsesi adalah stimulus yang dipelajari. Stimulus yang relatif netral menjadi dikaitkan dengan rasa takut atau kecemasan melalui proses pembelajaran responden yaitu dengan memasangkannya dengan peristiwa yang berbahaya sifatnya atau menimbulkan kecemasan. Dengan demikian objek dan pikiran yang sebelumnya netral menjadi stimulus yang dipelajari yang mampu mencetuskan kecemasan atau ketidaknyamanan (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
    Kompulsi dibentuk dengan cara yang berbeda. Ketika seseorang menemukan bahwa suatu tindakan tertentu mengurangi kecemasan yang melekat dengan pikiran obsesional, ia akan mengembangkan strategi menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku kompulsif atau ritualistik untuk mengendalikan kecemasannya. Secara bertahap, karena efisiensinya dalam mengurangi dorongan sekunder yang menyakitkan (kecemasan), strategi penghindaran menjadi terfiksasi seperti pola perilaku kompulsif yang dipelajari (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).


c. Faktor Psikososial

     Faktor kepribadian. Gangguan obsesif-kompulsif berbeda dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. Sebagian besar orang dengan gangguan obsesif-kompulsif tidak memiliki gejala kompulsif pramorbid dan ciri kepribadian seperti itu tidak perlu atau tidak cukup untuk menimbulkan gangguan obsesif-kompulsif. Hanya kira-kira 15 sampai 35 persen pasien gangguan obsesif-kompulsif memiliki ciri obsesional pramorbid (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
     Faktor psikodinamik. Sigmund Freud asalnya mengonsepkan keadaan yang sekarang kita sebut gangguan obsesif kompulsif sebagai neurosis obsesif kompulsif. Ia menganggap terdapat kemunduran defensif dalam menghadapi dorongan oedipus yang mencetuskan kecemasan. Ia mendalilkan bahwa pasien dengan neurosis obsesif kompulsif mengalami regresi perkembangan psikoseksual ke fase anal.
   Walaupun terapi psikoanalitik tidak akan mengubah obsesi atau kompulsi yang berkaitan dengan penyakit secara langsung, tilikan psikodinamik dapat memberikan banyak bantuan dalam memahami masalah dengan kepatuhan terapi, kesulitan interpersonal, dan masalah kepribadian yang menyertai gangguan aksis I.
   Meskipun gejala gangguan obsesif kompulsif dapat didorong secara biologis, pasien dapat menjadi tertarik untuk mempertahankan simtomatologi karena adanya keuntungan sekunder. Contohnya, pasien laki-laki yang ibunya tinggal di rumah untuk merawatnya, secara tidak sadar dapat ingin bertahan pada gejala gangguan obsesif kompulsifnya karena gejala tersebut berarti ibunya tetap memperhatikannya.
   Kontribusi pemahaman psikodinamik lannya melibatkan dimensi interpersonal. Sejumlah studi menunjukkan bahwa kerabat akan mengakomodasi pasien melalui partisipasi aktif di dalam ritual atau modifikasi kegiatan rutin sehari-hari yang signifikan. Bentuk akomodasi keluarga ini berhubungan dengan tekanan di dalam keluarga, sikap penolakan terhadap pasien, dan fungsi keluarga yang buruk. Seringkali anggota keluarga terlibat dalam upaya mengurangi kecemasan pasien atau mengendalikan ekspresi kemarahan pasien. pola keterkaitan ini dapat terinternalisasi dan dimunculkan ketika pasien memasuki lingkungan terapi (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
   Akhirnya satu kontribusi pemikiran psikodinamik lainnya adalah mengenali presipitan yang memulai atau memperberat gejala. Seringkali kesulitan interpersonal meningkatkan kecemasan pasien sehingga juga meningkatkan simtomatologi pasien. Riset mengesankan bahwa gangguan obsesif kompulsif dapat dicetuskan oleh sejumlah stressor lingkungan khususnya yang melibatkan kehamilan, kelahiran anak, atau perawatan anak oleh orang tua. Pengertian akan stresor tersebut membantu klinisi dalam rencan terapi keseluruhan yang membuat stres itu sendiri atau maknanya bagi pasien (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
    Faktor psikodinamik lainnya. Pada teori psikoanalitik klasik, gangguan obsesif-kompulsif dianggap sebagai regresi dari fase oedipus ke fase perkembangan psikoseksual anal. Ketika pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif merasa terancam oleh kecemasan, mereka akan mengalami regresi ke tahap yang berhubungan dengan fase anal.
   Salah satu ciri yang menonjol pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif adalah derajat preokupasi yang mereka alami terhadap agresi atau kebersihan baik secara nyata dalam gejala maupun hubungan yang terletak dibaliknya. Dengan demikian psikogenesis gangguan obsesif kompulsif dapat terletak pada gangguan pertumbuhan dan perkembangan normal terkait fase perkembangan anal-sadistik (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
    Ambivalensi. Ambivalensi adalah hasil langsung perubahan ciri kehidupan impuls. Ambivalensi merupakan ciri penting pada anak normal selama fase perkembangan anal-sadistik; yaitu anak merasakan cinta dan kebencian yang kejam pada objek yang sama, kadang-kadang bersamaan. Pasien dengan gangguan obsesif kompulsif sering secara sadar mengalami cinta dan benci pada suatu objek. Konflik emosi yang berlawanan ini terlihat pada pola perilaku melakukan dan tidak melakukan pola perilaku dan di dalam keraguan yang melumpuhkan dalam menghadapi pilihan (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
   Pikiran magis. Di dalam pikiran magis, regresi membuka cara berpikir awal bukannya impuls; yaitu fungsi ego, dan juga fungsi id, dipengaruhi oleh regresi. Kelekatan terhadap pikiran magis merupakan omnipotensi pikiran. Banyak pasien dengan gangguan obsesif kompulsif yakin bahwa hanya dengan memikirkan suatu peristiwa di dunia eksternal, mereka dapat menyebabkan suatu peristiwa terjadi tanpa tindakan fisik perantara. Perasaan ini menyebabkan mereka takut memiliki pikiran agresif (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).


2.4 Gambaran Klinis

    Gangguan obsesif kompulsif merupakan lingkaran setan. Sebagai pikiran obsesif menyebabkan kecemasan seseorang meningkat, dan membuatnya menjadi dikepung oleh pikiran obsesif. Bahkan kata 'obsesi' berasal dari bahasa Latin 'obsidere' yang berarti 'mengepung'. Tentu penderita tidak ingin atau menyambut pikiran obsesif dan akan berusaha keras untuk memblokir dan melawannya (OCD-UK, 2015).
    Orang dengan gangguan obsesif kompulsif menyadari bahwa pikiran obsesif mereka tidak rasional, tetapi mereka percaya satu-satunya cara untuk meringankan kecemasan yang disebabkan oleh obsesi adalah untuk melakukan perilaku kompulsif, sering untuk mencegah bahaya yang dirasakan terjadi pada diri mereka sendiri atau lebih sering daripada tidak. Sayangnya, kelegaan apapun akibat perilaku kompulsif hanya bersifat sementara dan sering memperkuat obsesi asli, menciptakan siklus yang memburuk secara bertahap (OCD-UK, 2015).

Gambar 2.1. Siklus gangguan obsesif kompulsif


Obsesif dan kompulsi memiliki ciri tertentu yang sama secara umum:
• Suatu gagasan atau impuls masuk ke dalam kesadaran seseorang secara menetap dan paksa.
• Suatu perasaan takut dan cemas yang menyertai manifestasi utama dan sering menyebabkan orang mengambil tindakan balasan terhadap gagasan atau impuls awal.
• Obsesi atau kompulsi merupakan ego-alien, yaitu dirasakan sebagai sesuatu yang asing bagi pengalaman diri sebagai makhluk psikologis.
• Tidak peduli sedemikian kuat dan memaksanya obsesi atau kompulsi, orang tersebut biasanya mengenalinya sebagai sesuatu yang aneh dan tidak rasional.
• Orang yang menderita akibat obsesi dan kompulsi biasanya merasakan keinginan yang kuat untuk menahannya

   Meskipun demikian, sekitar separuh dari semua pasien memberikan sedikit tahanan yang terhadap kompulsi walaupun sekitar 80 persen pasien yakin bahwa kompulsi itu tidak rasional. Kadang-kadang pasien terlalu menilai lebih obsesi dan kompulsi. Contohnya, seorang pasien dapat memaksa bahwa kebersihan kompulsif secara moral adalah benar walaupun ia dapat kehilangan pekerjaan karena waktu yang dihabiskan untuk membersihkan (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
   Tampilan obsesi dan kompulsi heterogen pada orang dewasa, pada anak-anak dan remaja. Gejala seorang pasien dapat bertumpang tindih dan berubah seiring waktu, tetapi gangguan obsesif-kompulsif memiliki empat pola gejala yang utama. Pola yang paling sering ditemukan adalah suatu obsesi tentang kontaminasi, diikuti kegiatan mencuci atau disertai penghindaran kompulsif objek yang diduga terkontaminasi. Objek yang ditakuti sering sulit dihindari (contoh feses, urin, debu atau kuman). Pasien mungkin mengelupas kulit tangan dengan mencuci tangan secara berlebihan atau mungkin tidak mampu meninggalkan rumah karena takut kuman. Walaupun kecemasan adalah respon utama yang lazim terhadap objek yang ditakuti, rasa malu dan rasa jijik yang obsesif juga lazim. Pasien dengan obsesi kontaminasi biasanya yakin bahwa kontaminasi disebarkan dari objek ke objek atau orang ke orang bahkan melalui kontak terkecil (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
    Pola kedua yang sering adalah obsesi keraguan, diikuti kompulsi memeriksa. Obsesi ini sering melibatkan suatu bahaya kekerasan (seperti lupa mematikan kompor atau tidak mengunci pintu). Sebagai contoh, pemeriksaan ini dapat berupa bolak-balik ke rumah untuk memeriksa kompor. Pasien memiliki obsesi keraguan terhadap diri sendiri dan selalu merasa bersalah karena lupa atau melakukan sesuatu (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
     Pola ketiga yang tersering adalah pikiran obsesif yang mengganggu tanpa suatu kompulsi. Obsesi seperti itu biasanya merupakan pikiran berulang mengenai tindakan seksual atau agresif yang tercela bagi pasien. Pasien yang terobsesi dengan pikiran tindakan agresif atau seksual dapat melaporkan dirinya sendiri ke polisi atau mengaku pada pendeta (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
    Pola keempat yang tersering adalah kebutuhan akan simetris atau ketepatan yang dapat menyebabkan kompulsi mengenai kelambatan. Pasien dapat memakan waktu berjam-jam untuk makan atau mencukur wajahnya (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
     Pola gejala lainnya yaitu obsesi religius dan kompulsi menumpuk suatu lazim ditemukan pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Trikotilomania (kompulsi menarik-narik rambut) dan menggigit-gigit kuku dapat merupakan kompulsi yang berhubungan dengan gangguan obsesif-kompulsif (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
    Berdasarkan Greenberg, W.M. and David, B (2015) gambaran klinis pada kulit penderita dengan gangguan obsesif kompulsif yaitu (1) dermatitis erupsi yang berkaitan dengan mencuci tangan secara berlebihan, (2) rambut rontok yang berkaitan dengan trikotilomania, (3) ekskoriasi berkaitan dengan neurodermatitis.
2.5 Diagnosis
Kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif-kompulsif menurut DSM IV-TR:
1. Baik obsesi atau kompulsi
   Obsesi seperti yang dijelaskan sebagai berikut:
• Pikiran, impuls, atau bayangan yang berulang dan menetap yang dialami pada suatu waktu selama terjad gangguan, sebagai sesuatu yang mengganggu dan tidak sesuai, serta dapat menimbulkan kecemasan atau distres yang nyata.
• Pikiran, impuls, atau bayangan bukanlah kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata.
• Orang tersebut berupaya untuk mengabaikan atau menekan pikiran, impuls, atau bayangan tersebut, atau menghilangkannya dengan pikiran atau tindakan lain.
• Orang tersebut menyadari bahwa pikiran, impuls, atau bayangan obsesional itu adalah hasil pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran).
Kompulsi seperti yang dijelaskan sebagai berikut:
• Perilaku berulang (misalnya, mencuci tangan, melakukan urutan, memeriksa) atau tindakan mental (misalnya berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata dalam hati) yang membuat orang tersebut terdorong untuk melakukannya sebagai respon terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan yang harus diterapkan secara kaku.
• Perilaku atau tindakan mental tersebut ditujukan untuk mencegah atau mengurangi penderitaan atau mencegah peristiwa atau situasi yang menakutkan, meskipun demikian perilaku atau tindakan mental tersebut tidak berkaitan secara realistik dengan apa yang awalnya hendak dihilangkan atau dicegah.

2. Pada suatu titik selama perjalanan gangguan, penderita telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsi mereka berlebihan atau tidak beralasan. Catatan: hal ini tidak berlaku bagi anak-anak

3. Obsesi atau kompulsi menyebabkan distres yang nyata, menghabiskan waktu (menghabiskan lebih dari satu jam sehari), atau secara bermakna mengganggu rutinitas normal, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau aktifitas maupun hubungan sosial secara signifikan.

4. Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas pada hal tersebut (misalnya preokupasi terhadap makanan dengan adanya gangguan makan, menarik-narik rambut dengan adanya trikotilomania, peduli dengan penampilan dengan adanya gangguan dismorfik tubuh, preokupasi memiliki penyakit berat dengan adanya hipokondriasis, preokupasi terhadap dorongan atau fantasi seksual dengan adanya parafilia, atau berpikir mendalam akan rasa bersalah dengan adanya gangguan depresif berat).

5. Gangguan ini tidak disebabkan efek fisiologis langsung suatu zat (misalnya penyalahgunaan obat, pengobatan) atau kondisi medis umum.
Tentukan jika:
Dengan tilikan buruk : jika untuk sebagian besar waktu selama episode saat ini, orang tersebut tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsinya berlebihan atau tidak beralasan (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).
Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III:
• Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif, atau kedua-duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut.
• Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita.
• Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut:
o Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri.
o Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
o Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas.
o Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive)
• Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif, dengan depresi. penderita gangguan obsesif kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala depresif, dan sebaliknya penderita gangguan depresi berulang (F33,-) dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama episode depresif-nya.
Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut, meningkat atau menurunnya gejala depresif umumnya dibarengi secara paralel dengan perubahan gejala obsesif.
Bila terjadi episode akut dari gangguan tersebut, maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang timbul lebih dahulu.
Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan depresif pada saat gejala obsesif kompulsif tersebut timbul.
Bila dari keduanya tidak adayang menonjol, maka baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Pada gangguan menahun, maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain menghilang.
• Gejala obsesif ”sekunder” yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom Tourette, atau gangguan mental organk, harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut (Maslim, R., 2001).
F42.0 Predominan Pikiran Obsesif atau Pengulangan
Pedoman Diagnostik
• Keadaan ini dapat berupa gagasan, bayangan pikiran, atau impuls (dorongan perbuatan), yang sifatnya mengganggu (ego alien);
• Meskipun isi pikiran tersebut berbeda-beda, umumnya hampir selalu menyebabkan penderitaan (distress) (Maslim, R., 2001).
F42.1 Predominan Tindakan Kompulsif ( Obssesional Rituals)
Pedoman Diagnostik
• Umumnya tindakan kompulsif berkaitan dengan: kebersihan (khususnya mencuci tangan), memeriksa berulang untuk meyakinkan bahwa suatu situasi yang dianggap berpotensi bahaya tidak terjadi, atau masalah kerapian dan keteraturan.
Hal tersebut dilatar-belakangi perasaan takut terhadap bahaya yang mengancam dirinya atau bersumber dari dirinya, dan tindakan ritual tersebut merupakan ikhtiar simbolik dan tidak efektif untuk menghindari bahaya tersebut.
• Tindakan ritual kompulsif tersebut menyita banyak waktu sampai beberapa jam dalam sehari dan kadang-kadang berkaitan dengan ketidakmampuan mengambil keputusan dan kelambanan (Maslim, R., 2001).
F42.2 Campuran Pikiran dan Tindakan Obsesif
Pedoman Diagnostik
• Kebanyakan dari penderita obsesif-kompulsif memperlihatkan pikiran obsesif serta tindakan kompulsif.
Diagnosis ini digunakan bilamana kedua hal tersebut sama-sama menonjol, yang umumnya memang demikian.
• Apabila salah satu memang jelas lebih dominan, sebaiknya dinyatakan dalam diagnosis F42.0 atau F42.1. hal ini berkaitan dengan respon yang berbeda terhadap pengobatan. Tindakan kompulsif lebih responsif terhadap terapi perilaku (Maslim, R., 2001)
F42.8 Gangguan Obsesif Kompulsif Lainnya
F42.9 Gangguan Obsesif Kompulsif YTT
2.6 Diagnosis Banding

    Berdasarkan Sadock B.J. and Virginia, A.S. (2010) diagnosis banding untuk penderita dengan gangguan obsesif kompulsif yaitu:
Kondisi medis
   Gangguan neurologis utama yang dipertimbangkan dalam diagnosis banding adalah gangguan Tourette, gangguan “tic” lainnya, epilepsi lobus temporalis, dan kadang-kadang trauma serta komplikasi pascaensefalitis.
Gejala khas gangguan Tourette adalah tik motorik dan vokal yang sering terjadi bahkan setiap hari. Gangguan Tourette dan gangguan obsesif kompulsif memiliki awitan dan gejala yang serupa. Sekitar 90 persen orang dengan gangguan Tourette memiliki gejala kompulsif dan sebanyak dua pertiga memenuhi kriteria diagnostik gangguan obsesif kompulsif.
Kondisi Psikiatri Lain
   Pertimbangan psikiatrik utama di dalam diagnosis banding gangguan obsesif-kompulsif adalah skizofrenia, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, fobia, dan gangguan depresif. Gangguan obsesif kompulsif biasanya dapat dibedakan dengan skizofrenia yaitu tidak adanya gejala skizofrenik lain, sifat gejala yang kurang bizar, dan tilikan pasien terhadap gangguannya. Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif tidak memiliki derajat hendaya fungsional yang berhubungan dengan gangguan obsesif-kompulsif. Fobia dibedakan yaitu tidak adanya hubungan antara pikiran obsesif dan kompulsi. Gangguan depresif berat kadang-kadang dapat disertai gagasan obsesif, tetapi pasien yang hanya dengan gangguan obsesif-kompulsif gagal memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan depresif berat.
   Kondisi psikiatrik lain yang dapat berhubungan erat dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah hipokondriasis, gangguan dismorfik tubuh, dan kemungkinan gangguan pengendalian impuls lainnya, seperti kleptomania dan judi patologis. Pada semua gangguan ini, pasien memiliki pikiran yang berulang (contoh kepedulian akan tubuh) atau perilaku berulang (contohnya mencuri).
   Berdasarkan Maramis (2005) diagnosis banding orang dengan gangguan obsesif kompulsif yaitu:
Nerosa fobik : Pada nerosa obsesif kompulsif dan pada nerosa fobik terdapat kecemasan. Pada umumnya penderita dengan nerosa fobik takut akan bahaya yang datang dari obyek atau keadaan luar dan mengawasi ketakutannya dengan menghindari obyek atau keadaan itu. Pada nerosa obsesif kompulsif, pikiran dan dorongan yang menimbulkan rasa takut itu timbul dari dalam penderita dan ia menghilangkan ketakutannya dengan menuruti pikiran dan dorongan itu. Kadang-kadang memang sukar untuk membedakan dengan jelas antara nerosa fobik dan nerosa obsesif kompulsif.
Depresi : pada penderita obsesi dan kompulsi kadang-kadang timbul juga depresi, tetapi penderita dengan depresi telah menyerah dan tidak mempunyai harapan lagi, penderita dengan obsesi dan kompulsi masih melawan dan masih mempunyai harapan. Penderita dengan depresi cenderung menarik diri dari pergaulan. Pada penderita obsesi dan kompulsi hubungan emosional dengan orang lain masih tetap, hanya ia ambivalent.
Skizofrenia : penderita tidak sadar akan gangguannya, ia yakin akan kebenaran pikiran dan tindakannya. Isi pikiran seseorang dengan obsesi kompulsi kadang-kadang bizar (aneh), tetapi ia tetap ada hubungan dengan kenyataan, tidak menarik diri dari pergaulan dan afeknya tetap wajar. Penderita dengan nerosa obsesif kompulsif yang keras kadang-kadang memang sepintas lalu mirip skizofrenia.
2.7 Terapi
   Terapi yang dapat diberikan pada orang dengan gangguan obsesif kompulsif berdasarkan Maramis (2005) yaitu dapat dipakai psikoterapi suportif, penerangan dan pendidikan. Obat psikotropik berguna untuk mengurangi ketakutan secara simptomatik (misalnya kombinasi medazepam dan perfenazin; dan antidepresant bila perlu). Terapi perilaku juga dapat diusahakan dengan berbagai macam teknik.
Terapi yang dapat diberikan pada orang dengan gangguan obsesif kompulsif menurut Sadock B.J. and Virginia, A.S. (2010) yaitu:
• Farmakoterapi
    Data yang tersedia menyatakan bahwa semua obat yang digunakan untuk mengobati gangguan depresif atau gangguan mental lain, dapat digunakan dalam rentang dosis yang biasanya. Efek awal biasanya terlihat setelah 4 sampai 6 minggu pengobatan, walaupun biasanya diperlukan waktu 8 sampai 16 minggu untuk memperoleh keuntungan terapeutik yang maksimal. Terapi dengan obat antidepresan masih kontroversial, dan suatu proporsi signifikan  pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif yang berespon terhadap pengobatan dengan antidepresan cenderung kambuh jika terapi obat dihentikan.
   Pendekatan standarnya adalah memulai dengan obat selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) atau clomipramine (Anafranil) dan kemudian berpindah ke farmakologis lain jika obat spesifik serotonin tidak efektif. Obat serotonergik meningkatkan persentase pasien dengan gangguan obsesif kompulsif yang cenderung memberikan respon terhadap terapi hingga kisaran 50-70 persen.
   Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI). Fluoxetin (Prozac), sitalopram (celexa), escitalopram (Lexapro), fluvoksamin (Luvox), paroksetin (Paxil), sertralin (Zoloft) – telah disetujui U.S Food and Drug Administration (FDA) untuk terapi gangguan obsesif kompulsif. Dosis yang lebih tinggi lebih sering diperlukan untuk memberikan efek yang menguntungkan, seperti fluoxetin 80 mg per hari. Walaupun SSRI dapat menyebabkan gangguan tidur, mual, dan diare, sakit kepala, ansietas, dan kegelisahan, efek samping ini sering sementara dan umumnya tidak terlalu menyulitkan daripada efek samping obat trisiklik, seperti clomipramine (anafranil). Hasil klinis terbaik didapatkan ketika SSRI dikombinasikan dengan terapi perilaku.
   Clomipramine. Dari semua obat trisiklik dan tetrasiklik, clomipramine adalah yang paling selektif untuk ambilan kembali serotonin versus ambilan kembali norepinefrin, dan dalam hal ini hanya dilebihi oleh SSRI. Potensi ambilan kembali serotonin oleh clomipramine dilampaui hanya oleh sertralin dan paroksetin. Clomipramine adalah obat pertama yang disetujui U.S FDA untuk terapi gangguan obsesif kompulsif. Penggunaan dosisnya harus dititrasi meningkat selama 2 hingga 3 minggu untuk menghindari efek samping gastrointestinal dan hipotensi ortostatik serta seperti obat trisiklik lainnya, obat ini menimbulkan sedasi dan efek antikolinergik yang bermakna, termasuk mulut kering dan konstipasi. Seperti SSRI, hasil terbaik berasal dari kombinasi obat dengan terapi perilaku.
    Obat lain. Jika terapi dengan clomipramine atau SSRI tidak berhasil, banyak terapis memperkuat obat pertama dengan penambahan valproat (Depakene), litium (Eskalith), atau karbamazepin (Tegretol). Obat lain yang dapat dicoba dalam terapi gangguan obsesif kompulsif adalah venlafaksin (Effexor), pindolol (Visken), dan MAOI, khususnya fenelzin (Nardil). Agen farmakologis lain untuk terapi pasien yang tidak responsif mencakup buspiron (BuSpar), 5-hidroksitriptamin (5-HT), L-triptofan, dan klonazepam (Klonopin). Agen antipsikotik dapat membantu ketika juga terdapat gangguan”tic” atau sindrom Tourette.
• Terapi Perilaku
    Walaupun baru sedikit perbandingan satu per satu yang telah dilakukan, terapi perilaku sama efektifnya dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif, dan sejumlah data menunjukkan bahwa efek menguntungkan bertahan lama dengan adanya terapi perilaku. Dengan demikian, banyak klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai terapi pilihan untuk gangguan obsesif-kompulsif. Terapi perilaku dapat dilakukan di lingkungan rawat inap maupun rawat jalan. Pendekatan perilaku yang penting pada gangguan obsesif-kompulsif adalah pajanan dan pencegahan respon. Desensitisasi, penghentian pikiran, pembanjiran, terapi implosi, dan aversive conditioning juga telah digunakan pada pasien gangguan obsesif kompulsif. Dalam terapi perilaku pasien harus benar-benar berkomitmen terhadap perbaikan.
• Psikoterapi
    Psikoterapi suportif secara pasti memiliki tempat, khususnya untuk pasien gangguan obsesif-kompulsif, walaupun gejalanya memiliki berbagai keparahan yang beragam, mampu bekerja dan melakukan penyesuaian sosial. Dengan kontak yang reguler dan terus-menerus dengan orang yang profesional, tertarik, simpatik, dan memberi semangat, pasien mungkin mampu berfungsi dengan bantuan ini, yang tanpanya, gejala tersebut dapat menjadikan mereka lemah. Kadang-kadang ketika ritual obsesional dan kecemasan mencapai intensitas yang tidak dapat ditoleransi, pasien perlu dirawat inap sampai tempat singgah di institusi dan penjauhan dari stres lingkungan mengurangi gejala sampai tingkat yang dapat ditoleransi.
    Anggota keluarga pasien sering didorong ke ambang keputusasaan karena perilaku pasien. Setiap upaya keras psikoterapi harus mencakup perhatian anggota keluarga melalui pemberian dukungan emosional, penenangan, penjelasan dan saran untuk mengatur berespons terhadap pasien.
• Terapi lain
    Terapi keluarga sering berguna dalam mendukung keluarga, membantu mengurangi perpecahan perkawinan akibat gangguan ini, dan membangun hubungan kerjasama terapi dengan anggota keluarga untuk kebaikan pasien. Terapi kelompok berguna sebagai sistem dukungan untuk sejumlah pasien.
    Untuk kasus ekstrim pada pasien yang sangat resisten terhadap pengobatan, terapi elektrokonvulsif (ECT) dan bedah psiko (psychosurgery) harus dipertimbangkan. ECT tidak seefektif bedah psiko tetapi kemungkinan harus dicoba sebelum pembedahan. Prosedur psychosurgery yang paling sering dilakukan untuk gangguan obsesif kompulsif adalah eingulotomi, yang berhasil dalam mengobati 25 sampai 30 persen pasien yang tidak responsif terhadap pengobatan lain. Komplikasi yang paling sering dari psychosurgery adalah timbulnya kejang, yang hampir selalu dikendalikan dengan pengobatan Phenytoin (Dilantin). Sejumlah pasien yang tidak berespon dengan psychosurgery saja dan tidak berespon terhadap farmakoterapi atau terapi perilaku sebelum operasi, berespon terhadap farmakoterapi atau terapi perilaku setelah psychosurgery.
2.8 Perjalanan Gangguan dan Prognosis
     Lebih dari separuh pasien dengan gangguan obsesif kompulsif memiliki onset gejala yang tiba-tiba. Kira-kira 50 sampai 70 persen pasien terjadi setelah suatu peristiwa yang penuh tekanan, seperti kehamilan, masalah seksual, dan kematian kerabat. Karena banyak orang tetap merahasiakan gejalanya, sering terdapat penundaan 5 sampai 10 tahun sebelum pasien datang untuk mendapatkan perhatian psikiatri, walaupun penundaan mungkin memendek dengan meningkatnya kewaspadaan terhadap gangguan ini. Perjalanan gangguan biasanya lama tetapi bervariasi. Beberapa pasien mengalami perjalanan gangguan yang berfluktuasi, sedangkan pasien lain mengalami perjalanan gangguan yang konstan.
     Kira-kira 20 sampai 30 persen pasien memiliki perbaikan gejala yang signifikan dan 40-50 persen mengalami perbaikan sedang, sisa 20-40 persen tetap sakit atau mengalami perburukan gejala. Sekitar sepertiga hingga separuh pasien dengan gangguan obsesif kompulsif memiliki gangguan depresif berat dan bunuh diri merupakan risiko untuk semua pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Prognosis buruk ditunjukkan dengan menyerah (bukan menahan) kompulsi, onset pada masa kanak, kompulsi yang aneh (bizzare), kebutuhan akan perawatan di rumah sakit, gangguan depresif berat yang juga timbul bersamaan, keyakinan waham, adanya penilaian berlebihan terhadap gagasan (yaitu penerimaan obsesi dan kompulsi), dan adanya gangguan kepribadian (terutama gangguan kepribadian skizotipal). Prognosis yang baik ditunjukkan dengan adanya penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik, adanya peristiwa yang mencetuskan, dan sifat episodik gejala. Isi obsesional tampaknya tidak berhubungan dengan prognosis (Sadock B.J. and Virginia, A.S., 2010).




BAB III



KESIMPULAN

     Gangguan obsesif – kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan (distress). Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala – gejala obsesif atau tindakan kompulsif, atau kedua – duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya 2 minggu berturut – turut.
Beberapa faktor berperan dalam terbentuknya gangguan obsesif-kompulsif diantaranya adalah faktor biologi seperti neurotransmiter, pencitraan otak, genetika, faktor perilaku dan faktor psikososial, yaitu faktor kepribadian dan faktor psikodinamika. Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk penatalaksanaan gangguan obsesif – kompulsif antara lain terapi farmakologi (farmakoterapi) dan terapi perilaku. Prognosis pasien dinyatakan baik apabila kehidupan sosial dan pekerjaan baik, adanya stressor dan gejala yang bersifat periodik



DAFTAR PUSTAKA

1. Greenberg, W.M. and David, B., 2015. Medscape. Obssesive-Compulsive Disorder. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/1934139-overview#a5 [Accessed 24th September 2015].
2. Maramis, W.F., 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press: Surabaya.
3. Maslim, R., 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ – III. PT Nuh Jaya: Jakarta
4. National Alliance on Mental Illness (NAMI), 2015. Obsessive-Compulsive Disorder. Available at: https://www.nami.org/Learn-More/Mental-Health-Conditions/Obsessive-Compulsive-Disorder/Overview [Accessed 24th September 2015].
5. Obssessive Compulsive Disorder-United Kingdom, 2015. Understanding What Drives OCD. Available at: http://www.ocduk.org/understanding-ocd [Accessed 24th September 2015].
6. Sadock, B.J. and Virginia, A.S., 2010. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. EGC: Jakarta.

nandar

Posts : 6
Reputation : 0
Join date : 2015-09-19
Age : 25

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum