tugas wilta

View previous topic View next topic Go down

tugas wilta

Post by Wizi Agustin on Sun Nov 29, 2015 9:50 pm

Nama : Wilta zirda gustin
Tugas psikiatri

Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belu diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau “deteriorating” yang luas, serta sejumlah aikibat ang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, sosial dan budaya. Pada umumnya ditandai oleh penympangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inapproriate) or tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciusness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walawpun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.
Pedoman diagnostik
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) :
a. - Thought of echo = isi pikaran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walawpun isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau
- Though insertion or withdrawal = isi pikirn yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal) dan
- - Thought of broadcasting = isi pikirannya tersebar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya.

b. - Delution of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delution of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delution of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang “dirinya” = secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus);
- Delusional perception = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;

c. Halusinasi auditorik
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau
- Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau
- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh

d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
e. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus-menerus;
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
g. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
h. Gejala-gejala “negatif”, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal);
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri(self absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

Referensi :
Maslim, R., 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III. PT Nuh Jaya: Jakarta.

Pembagian Mood
Suasana perasaan yang menetap bersifat pervasif dan bertahan lama, yang mewarnai persepsi seseorang terhadap kehidupannya.
- Mood eutimia
Suasana perasaan dalam rentang normal yakni individu mempunyai penghayatan perasaan yang luas dan serasi dengan irama hidupnya
Mood hipotimia
Suasana perasaan yang secara pervasif diwarnai dengan kesedihan dan kemurungan.
- Mood disforia
Menggambarkan suasana perasaan yang tidak menyenangkan.
- Mood hipertimia
Suasana perasaan yang secara pervasif memperlihatkan semangat dan kegairahan yang berlebihan terhadap berbagai aktivitas kehidupan
- Mood euforia
Suasana perasaan gembira dan sejahtera secara berlebihan
- Mood ekstasia
Suasana perasaan yang diwarnai dengan kegairahan yang meluap-luap
- Aleksitimia
Suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk menghayati suasana perasaannya
- Anhedonia
Suatu suasana perasaan yang diwarnai dengan kehilangan minat dan kesenangan terhadap berbagai aktivitas kehidupan.
- Mood kosong
Kehidupan emosi yang sangat dangkal, tidak atau sangat sedikit memiliki penghayatan suasana perasaan
- Mood labil
Suasana perasaan yang berubah dari waktu ke waktu
- Mood iritabel
Suasana perasaan yang sensitif, mudah tersinggung, mudah marah, dan seringkali bereaksi berlebihan terhadap suasana yang tidak disenanginya

Referensi
Sadock, B.J. and Virginia, A.S., 2010. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. EGC: Jakarta.

Gangguan Kemauan
Banyak penderita dengan skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan. Mereka tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan. Mereka selalu memberikan alasan, meskipun alasan itu tidak jelas/tepat, umpamanya ditanyai mengapa tidak maju dengan pekerjaan atau mengapa terus tiduran saja atau mereka menganggap hal itu biasa saja dan tidak perlu diterangkan.
Kadang-kadang penderita melamun berhari-hari lamanya, bahkan berbulan-bulan. Perilaku demikian erat hubungannya dengan otisme dan stupor katatonik.
Negativisme : sikap atau perbuatan yang negatif atau berlawanan terhadap suatu permintaan.
Ambivalensi kemauan : menghendaki dua hal yang berlawanan pada waktu yang sama, umpamanya mau makan dan tidak mau makan, atau tangan diulurkan untuk berjabat tangan, tetapi belum sampai tangannya sudah ditarik kembali; hendak masuk ke dalam ruangan tetapi sewaktu melalui pintu ia mundur, maju mundur. Jadi sebelum suatu perbuatan selesai sudah timbul dorongan yang berlawanan.
Otomatisme : penderita merasa kemauannya dipengaruhi oleh orang lain atau oleh tenaga dari luar sehingga ia melakukan sesuatu secara otomatis.

Referensi
Maramis, W.F., 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press: Surabaya.

Wizi Agustin

Posts : 7
Reputation : 0
Join date : 2015-11-26

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum