referat autis dan tatalaksana perilaku ABA

View previous topic View next topic Go down

referat autis dan tatalaksana perilaku ABA

Post by Jemi S on Sat Mar 07, 2015 3:44 pm

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Anak Autis (Autism Child) adalah keadaan anak yang mengalami gangguan autisme. Istilah autisme itu sendiri berasal dari kata “Autos”, berarti diri sendiri dan “Isme” yaitu paham.  Dengan demikian secara etimologis “autisme” berarti paham yang hanya tertarik pada dirinya sendiri.  Autism atau autisme yaitu nama gangguan perkembangan komunikasi sosial, perilaku pada anak (Leo Kanner & Asperger, 1943).  Oleh karena itu juga anak yang mengalami autisme disebut juga  Autist. Dalam kepustakaan kedokteran dan psikiologi   autisme lebih dikenal dengan sebutan  Children With ASD (Autism Spectrum Disorder). Anak autis di Indonesia diperkirakan jumlahnya mencapai lebih dari 400.000 anak. Menurut Maulana (2007), jumlah penyandang autisme akan semakin meningkat menjadi 15-20 anak atau 1 per 500 anak tiga tahun yang akan datang. Kondisi seperti ini tentulah akan sangat mempengaruhi perkembangan baik mental maupun fisik anak autis. Apabila tidak dilakukan intervensi secara dini dan tatalaksana yang tepat sulit diharapkan perkembangan yang optimal akan dapat terjadi, mereka akan semakin terisolir dari dunia luar dan hidup dalam dunianya sendiri, dengan berbagai gangguan mental dan perilaku yang semakin mengganggu dan tentunya semakin banyak dampak negatif yang akan terjadi di kemudian hari. Oleh karena itu, dalam referat ini penulis lebih menekankan intrervensi secara dini terrhadap anak autis khususnya dalam meperbaiki perilaku dari anak autis. Untuk mempermudah dan menyamakan persepsi dalam penulisan ini penulis menggunakan istilah ”anak autis” untuk anak yang mengalami gangguan autisme Referat  ini secara umum akan menyajikan  informasi mengenai pentingnya terapi edukasi bagi anak autis. Materi yang tersaji  dikemas dari berbagai sumber.

1.2. Tujuan
Referat ini memiliki tujuan untuk memaparkan manfaat dan teknik tatalaksana perilaku secara dini pada anak autis untuk mendapatkan perkembangan yang optimal dan menghindari semakin terisolir dari dunia luar dan hidup dalam dunianya sendiri, dengan berbagai gangguan mental dan perilaku yang semakin mengganggu dan tentunya semakin banyak dampak negatif yang akan terjadi di kemudian hari
1.3. Manfaat
Refererat ini diharapkan dapat beramanfaat bagi semua praktisi kesehatan maupun pasien ataupun masyarakat secara umum yang ingin menambah pemahaman tentang autis. Sehingga dapat menjadi bahan dan referensi untuk menunjang pengetahuan dan nantinya membantu proses peningkatan taraf kesehatan.


Bab II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Autis
2.1.1 Pengertian anak autis
Kata autisme berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu ‘aut’ yang berarti ‘diri sendiri’ dan ‘ism’ yang  secara tidak langsung menyatakan  ‘orientasi atau arah atau keadaan (state). Sehingga autism dapat didefinisikan sebagai kondisi seseorang yang luar biasa asik dengan dirinya sendiri (Reber, 1985 dalam Trevarthen dkk, 1998). Pengertian ini menunjuk pada bagaimana anak-anak autis gagal bertindak dengan minat pada orang lain, tetapi kehilangan beberapa penonjolan perilaku mereka. Ini, tidak membantu orang lain untuk memahami seperti apa dunia mereka.
Autis pertama kali diperkenalkan dalam suatu makalah pada tahun 1943 oleh seorang psikiatris Amerika yang bernama  Leo Kanner. Ia menemukan sebelas anak yang memiliki  ciri-ciri yang sama, yaitu tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu lain  dan sangat tak acuh terhadap lingkungan di luar dirinya, sehingga perilakunya tampak seperti hidup dalam dunianya sendiri.
Autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks yang berhubungan dengan komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya tampak pada sebelum usia tiga tahun. Bahkan apabila autis infantil gejalanya sudah ada sejak bayi. Autis juga merupakan suatu konsekuensi dalam kehidupan mental dari kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi banyak fungsi-fungsi: persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling). Autis juga dapat dinyatakan sebagai suatu kegagalan dalam penalaran sistematis (systematic reasoning). Dalam suatu analisis ‘microsociological’ tentang logika pemikiran mereka dan interaksi dengan yang lain (Durig, 1996; dalam Trevarthen, 1998), orang autis memiliki kekurangan pada ‘cretaive induction’ atau membuat penalaran induksi yaitu penalaran yang bergerak dari premis-premis khusus (minor) menuju kesimpulan umum, sementara deduksi, yaitu bergerak pada kesimpulan khusus dari premis-premis (khusus) dan abduksi yaitu peletakan premis-premis umum pada kesimpulan khusus. (Trevarthen, 1998)

DSM IV (Diagnpstic Statistical Manual yang dikembangkan oleh para psikiater dari Amerika) mendefinisikan anak autis sebagai berikut:
1. Terdapat paling sedikit enam pokok dari kelompok a, b dan c, meliputi sekurang-kurangnya: satu item dari kelompok a, sekurang-kurangnya satu item dari kelompok b, sekurang-kurangnya satu item dari kelompok c  
a. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang ditunjukkan oleh paling sedikit dua diantara berikut:
a. Memiliki kesulitan dalam mengunakan berbagai perilaku non verbal seperti, kontak mata, ekspresi muka, sikap tubuh, bahasa tubuh lainnya yang mengatur interaksi sosial
b. Memiliki kesulitan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya atau teman yang sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya.
c. Ketidakmampuan untuk berbagi kesenangan, minat, atau keberhasilan secara spontan  dengan orang lain (seperti; kurang tampak adanya perilaku memperlihatkan, membawa atau menunjuk objek yang menjadi minatnya).
d. Ketidakampuan dalam membina hubungan sosial atau emosi yang timbal balik.

b. Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi yang ditunjukkan oleh paling sedikit satu dari yang berikut:
a. Keterlambatan dalam perkembangan bicara atau sama sekali tidak (bukan disertai dengan mencoba untuk mengkompensasikannya melalui cara-cara komunikasi alternatif seperti gerakan tubuh atau lainnya)
b. Bagi individu yang mampu berbicara, kurang mampu untuk memulai pembicaraan atau memelihara suatu percakapan dengan  yang lain
c. Pemakaian bahasa yang stereotipe atau berulang-ulang atau bahasa yang aneh (idiosyncantric)
d. Cara bermain  kurang bervariatif, kurang mampu bermain pura-pura secara spontan, kurang mampu meniru secara sosial sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya

c. Pola minat perilaku yang terbatas, repetitive, dan stereotype seperti yang ditunjukkan oleh paling tidak satu dari yang berikut:
a. Keasikan dengan satu atau lebih pola-pola minat yang terbatas dan stereotipe baik dalam intensitas maupun dalam fokusnya.
b. Tampak tidak fleksibel atau kaku dengan rutinitas atau ritual yang khusus, atau yang tidak memiliki manfaat.
c. perilaku motorik yang stereotip dan berulang-ulang (seperti :memukul-mukulkan atau menggerakgerakkan  tangannya atau mengetuk-ngetukan jarinya, atau menggerakkan seluruh tubuhnya). Keasikan yang menetap dengan bagian-bagian dari benda (object).
2. Perkembangan abnormal atau terganggu sebelum usia tiga tahun seperti yang
ditunjukkan oleh keterlambatan atau fungsi yang abnormal pada paling sedikit
satu dari bidang-bidang berikut: (1) interaksi sosial, (2) penggunaan bahasa untuk berkomunikasi, (3) simbolis atau berimajinasi
3. Sebaiknya tidak dikelompokkan ke dalam Rett Disorder, Childhood Integrative Disorder, atu Asperger Syndrom.
      Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak autis yaitu anak-anak yang mengalami kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruh banyak fungsi-fungsi: persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling) yang terjadi sebelum umur tiga tahun dengan dicirikan oleh adanya hambatan kualitatif dalam interaksi sosial, komunikasi dan terobsesi pada satu kegiatan atau obyek yang mana mereka memerlukan layanan pedidikan khusus untuk mengembangkan potensinya.  
2.1.2 PRILAKU ANAK AUTIS
A. Prilaku Sosial
Perilaku sosial memungkinkan seorang individu untuk berhubungan dan berinteraksi dalam seting sosial. Tinjauan tentang kesulitan (deficits) sosial pada anak - anak autis baru-baru ini muncul (Hawlin, 1986 dalam Kathleen Ann Quill, 1995).
Anak-anak autis yang nonverbal  telah diketahui bahwa mereka mengabaikan (ignore) orang lain, memperlihatkan masalah umum dalam bergaul dengan orang lain secara sosial. Ekspresi sosial mereka terbatas pada ekspresi emosi-emosi yang ekstrim, seperti menjerit, menangis atau tertawa yang sedalam-dalamnya. Anak-anak autis tidak menyukai perubahan sosial atau gangguan dalam rutinitas sehari-hari dan lebih suka apabila dunia mereka tetap sama. Apabila terjadi perubahan mereka akan lebih mudah marah, contoh: mereka akan marah apabila mengambil rute pulang dari sekolah yang berbeda dari yang biasa dilewati, atau posisi furnitur di dalam kelas berubah dari semula. Anak-anak autis sering memperlihatkan perilaku yang merangsang dirinya sendiri (self-stimulating) seperti mengepak-ngepakkan tangan (hand flapping) mengayun-ayun tangan ke depan dan kebelakang, membuat suara-suara yang tetap (ngoceh), atau menyakiti diri sendiri (self-inflicting injuries) seperti menggaruk-garuk, kadang sampai terluka, menusuk-nusuk. Perilaku merangsang diri sendiri (self-stimulating) lebih sering terjadi pada waktu yang berbeda dari kehidupan anak atau selama situasi sosial berbeda (Iwata et all, 1982 dalam Kathleen Ann Quill, 1995). Perilaku ini lebih sering lagi terjadi pada saat anak autis ditinggal sendiri atau sedang sendirian daripada waktu dia sibuk dengan tugas-tugas yang harus dikerjakannya, dan berkurang setelah anak belajar untuk berkomunikasi. (Carr & Durrand, 1985; dalam Kathleen Ann Quill, 1995).

B. Prilaku Komunikasi
Bahasa termasuk pembentukan kata-kata, belajar aturan-aturan untuk merangkai  kata-kata menjadi kalimat dan mengetahui maksud atau suatu alasan menggunakan bahasa. Bahasa merupakan sesuatu yang abtrak. Pemahaman bahasa memerlukan fungsi pendengaran yang baik dan persepsi pendengaran yang baik pula. Bahasa pragmatis yang merupakan penerjemahan (interpreting) dan penggunaan bahasa dalam konteks sosial, secara pisik (physical) dan konteks linguistik. Pragmatis dan komunikasi berhubungan erat, untuk menjadi seorang komunikator yang berhasil seorang anak harus memiliki pengetahuan tentang bahasa yang dipergunakannya sama baiknya dengan pemahaman tentang manusia dan dimensi dunia yang bukan manusia. Komunikasi lebih daripada kemampuan untuk bicara atau kemampuan untuk merangkai kata-kata dalam urutan yang tepat (Wilson, 1987 Kathleen Ann Quill, 1995).
Komunikasi adalah kemampuan untuk membiarkan orang lain mengetahui apa yang
diinginkan oleh individu, menjelaskan tentang suatu kejadian kepada orang lain, untuk menggambarkan tindakan  dan untuk mengakui keberadaan atau kehadiran orang lain. Komunikasi dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal. Komunikasi dapat dijalin  melalui gerakan tubuh, melalui tanda isarat atau dengan menunjukkan gambar atau kata-kata. Secara tidak langsung komunikasi menyatakan suatu situasi sosial antara dua individu atau lebih.  
Dalam komunikasi orang yang membawa pesan disebut pemrakarsa (initiator) sedangkan orang yang mendengarkan pesan disebut penerima pesan. Pesan bergantian antara pemrakarsa dan penerima pesan. Untuk memenuhi kemampuan (competent) dalam keterampilan pragmatis anak harus mengetahui dan memahami kedua peran tersebut, sebagai premrakarsa dan sebagai penerima pesan. (Watson, 1987, dalam Kathleen Ann Quill, 1995). Banyak anak autis yang memiliki kesulitan dalam pragmatis (Baron, Cohen, 1988 dalam Kathleen, 1995). Untuk peran pemrakarsa dalam berkomunikasi, anak autistik memiliki kesulitan dalam memulai percakapan atau pembicaraan (Feidstein, Konstantereas, Oxman, & Webster, 1982 dalam Kathleen Ann Quill, 1995). Ketika berbicara, mereka cenderung meminta orang dewasa untuk mengambilkan mainan, makanan atau minuman, mereka jarang menyampaikan tindakan yang komunikatif seperti menjawab orang lain, mengomentari sesuatu, mengungkapan perasaan atau menggunakan etika sosial seperti pengucapan terimakasih, atau meminta maaf. Anak-anak autis yang non verbal sering menjadi penerima informasi dan merespon pada orang tua dan guru mereka meminta dengan perlakuan (deal) yang konsisten. Contoh orang dewasa bertanya:”Kamu mau makan apa?”. Dan anak mungkin
menjawab dengan memperlihatkan gambar kue atau dengan menggambar kue atau bahkan mungkin dengan kata-kata. Ini suatu peningkatan komunikasi karena anak mengakui orang dewasa sebagai teman dalam meningkatkan komunikasi dan memahami permintaan guru yang ditujukan padanya. Dalam permintaan ini anak sebagai penerima dan penjawab permintaan itu. (Kathleen Ann Quill, 1995).
Ada beberapa perilaku yang diperlukan dan harus dimiliki oleh seorang anak autis yang nonverbal agar menjadi seorang komunikator yang berhasil yaitu pemahaman sebab akibat, keinginan berkomunikasi, dengan siapa dia berkomunikasi, ada sesuatu untuk dikomunikasikan dan makna dari komunikasi. Di dalam komunikasi apabila seorang anak tidak memahami sebab, dia akan mengalami kesulitan dalam meminta seseorang untuk melakukan sesuatu atau membantunya untuk mengambil benda di tempat penyimpanan (rak) yang paling tinggi. Tanpa penalaran sebab akibat anak tidak dapat meminta suatu tindakan atau benda dari orang lain. Memiliki keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain merupakan tugas yang sulit untuk anak-anak yang nonverbal, selama satu dari tantangan utama mereka adalah ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain dalam cara yang diharapkan. Mereka tidak mengakui atau memperlihatkan ketertarikan pada orang lain. Alasan utama dari pernyataan ini karena miskinnya hubungan sebab akibat yang telah  dibicarakan di atas. Jika seorang anak tidak memahami bahwa seseorang dapat membantunya atau anak tidak memahami bahwa tindakan akan mengakibatkannya mendapatkan sesuatu. Sering kali guru berperan sebagai pemrakarsa dalam meningkatkan komunikasi dengan anak autis dan anak biasanya jadi responder. Anak harus belajar menunggu dengan sabar supaya guru menunjukkannya dan dia akan menerima yang dinginkannya.  Anak perlu kesempatan untuk meminta benda dengan bebas atau mengawali percakapan. Jika anak autis tidak memiliki sesuatu untuk dibicarakan dia akan tetap tidak berkomunikasi (noncomunicatif). Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa prilaku komunikasi anak autistik yang menghambat interaksinya dengan orang lain, dapat ditunjukkan dengan perilaku yang nampak seperti: mengabaikan orang lain (tidak merespon apabila diajak berbicara), tidak dapat mengekspresikan emosi secara tepat (tidak tertawa melihat yang lucu, tidak memperlihatkan perasaan senang, takut, atau sakit, dalam mimik mukanya), terobsesi dengan kesamaan (kaku), tidak mampu mengungkapkan keinginannya secara verbal atau mengkompensasikannya dalam gerakan, sulit untuk memulai percakapan atau pembicaraan, jarang melakukan tindakan yang komunikatif, jarang menggunakan kata-kata yang menunjukkan etika sosial, atau mengungkapkan perasaan atau mengomentari sesuatu, echolalia (membeo), nada bicara monoton, salah menggunakan kata ganti orang.

C. FAKTOR PENYEBAB
Teori awal menyebutkan, ada 2 faktor penyebab autisme, yaitu: (1). Faktor psikososial, karena orang tua “dingin” dalam mengasuh anak sehingga anak menjadi “dingin” pula; dan (2). Teori gangguan neuro-biologist yang menyebutkan gangguan neuroanatomi atau gangguan biokimiawi otak. Pada 10-15 tahun terakhir, setelah teknologi kedokteran telah canggih dan penelitian mulai membuahkan hasil. Penelitian pada kembar identik menunjukkan adanya kemungkinan kelainan ini sebagian bersifat genetis karena cenderung terjadi pada kedua anak kembar.
Meskipun penyebab utama autisme hingga saat ini masih terus diteliti, beberapa faktor yang sampai sekarang dianggap penyebab autisme adalah: faktor genetik, gangguan pertumbuhan sel otak pada janin, gangguan pencernaan, keracunan logam berat, dan gangguan auto-imun. Selain itu, kasus autisme juga sering muncul pada anak-anak yang mengalami masalah pre-natal, seperti: prematur, postmatur, pendarahan antenatal pada trisemester pertama-kedua, anak yang dilahirkan oleh ibu yang berusia lebih dari 35 tahun, serta banyak pula dialami oleh anak-anak dengan riwayat persalinan yang tidak spontan.
Gangguan autisme mulai tampak sebelum  usia 3 tahun dan 3-4 kali lebih banyak pada anak laki-laki, tanpa memandang lapisan sosial ekonomi, tingkat pendidikan orang tua, ras, etnik maupun agama, dengan ciri fungsi abnormal dalam tiga bidang: interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang, sehingga kesulitan mengungkapkan perasaan maupun keinginannya yang mengakibatkan hubungan dengan orang lain menjadi terganggu. Gangguan perkembangan yang dialami anak autistik menyebabkan tidak belajar dengan cara yang sama seperti anak lain seusianya dan belajar jauh lebih sedikit dari lingkungannya bila dibandingkan dengan anak lain.
Teori lain :
1. Faktor Genetik
Lebih kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan oleh faktor genetik. Penyakit genetik yang sering dihubungkan dengan autisme adalah tuberous sclerosis (17-58%) dan sindrom fragile X (20-30%). Disebut fragile-X karena secara sitogenetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan (fragile) yang tampak seperti patahan diujung akhir lengan panjang kromosom X 4. Sindrome fragile X merupakan penyakit yang diwariskan secara X-linked (X terangkai) yaitu melalui kromosome X. Pola penurunannya tidak umum, yaitu tidak seperti penyakit dengan pewarisan X-linked lainnya, karena tidak bisa digolingkan sebagai dominan atau resesi, laki-laki dan perempuan dapat menjadi penderita maupun pembawa sifat (carrier).   (Dr. Sultana MH Faradz, Ph.D, 2003)
2. Ganguan pada Sistem Syaraf
Banyak penelitian yang melaporkan bahwa anak autis memiliki kelainan pada hampir semua struktur otak. Tetapi kelainan yang paling konsisten adalah pada otak kecil. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel purkinye di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel purkinye diduga dapat merangsang pertumbuhan akson, glia dan myelin sehingga terjadi pertumbuhan otak yang abnormal, atau sebaliknya pertumbuhan akson yang abnormal dapat menimbulkan sel purkinye mati. (Dr.Hardiono D. Pusponegoro, SpA(K), 2003).  
Otak kecil berfungsi mengontrol fungsi luhur dan kegiatan motorik, juga sebagai sirkuit yang mengatur perhatian dan pengindraan. Jika sirkuit ini rusak atau terganggu maka akan mengganggu fungsi bagian lain dari sistem saraf pusat, seperti misalnya sistem limbik yang mengatur emosi dan perilaku.
3. Ketidakseimbangan Kimiawi
Beberapa peneliti menemukan sejumlah kecil dari gejala autistik berhubungan dengan makanan atau kekurangan kimiawi di badan. Alergi terhadap makanan tertentu,seperti bahan-bahan yang mengandung susu, tepung gandum, daging, gula, bahan pengawet, penyedap rasa, bahan pewarna, dan ragi. Untuk memastikan pernyataan tersebut, dalam tahun 2000 sampai 2001 telah dilakukan pemeriksaan terhadap 120 orang anak yang memenuhi kriteria gangguan autisme menurut DSM IV. Rentang umur antara 1 – 10 tahun, dari 120 orang itu 97 adalah anak laki-laki dan 23 orang adalah anak perempuan. Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa anak anak ini mengalami gangguan metabolisme yang kompleks, dan setelah dilakukan pemeriksaan untuk alergi, ternyata dari 120 orang anak yang diperiksa: 100 anak (83,33%) menderita alergi susu sapi, gluten dan makanan lain, 18 anak (15%) alergi terhadap susu dan makanan lain, 2 orang anak (1,66 %) alergi terhadap gluten dan makanan lain. (Dr. Melly Budiman, SpKJ, 2003).
Penelitian lain menghubungkan autism dengan ketidakseimbangan hormonal, peningkatan kadar dari bahan kimiawi tertentu di otak, seperti opioid, yang menurunkan persepsi nyeri dan motivasi
4. Kemungkinan Lain
Infeksi yang terjadi sebelum dan setelah kelahiran dapat merusak otak seperti virus rubella yang terjadi selama kehamilan dapat menyebabkan kerusakan otak. Kemungkinan yang lain adalah faktor psikologis, karena kesibukan orang tuanya sehingga tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anak, atau anak tidak pernah diajak berbicara sejak kecil, itu juga dapat menyebabkan anak menderita autisme.

E. HAMBATAN-HAMBATAN ANAK AUTIS
Ada beberapa permasalahan yang dialami oleh anak autis yaitu: Anak autis memiliki hambatan kualitatif dalam interaksi sosial artinya bahwa anak autistik memiliki hambatan dalam kualitas berinteraksi dengan individu di sekitar lingkungannya, seperti anak-anak autis sering terlihat menarik diri,  acuh tak acuh, lebih senang bermain sendiri, menunjukkan perilaku yang tidak hangat, tidak ada kontak mata dengan orang lain dan bagi mereka yang keterlekatannya terhadap orang tua tinggi, anak akan merasa cemas apabila ditinggalkan oleh orang tuanya. Sekitar 50 persen anak autis yang mengalami keterlambatan dalam berbicara dan berbahasa. Mereka mengalami kesulitan dalam memahami pembicaran orang lain yang ditujukan pada mereka, kesulitan dalam memahami arti kata-kata dan apabila berbicara tidak pada konteks yang tepat. Sering mengulang kata-kata tanpa bermaksud untuk berkomunikasi, dan sering salah dalam menggunakan kata ganti orang, contohnya menggunakan kata saya untuk orang lain dan menggunakan kata kamu untuk diri sendiri. Mereka tidak mengkompensasikan ketidakmampuannya dalam berbicara dengan bahasa yang lain, sehingga apabila mereka menginginkan sesuatu tidak meminta dengan bahasa lisan atau menunjuk dengan gerakan tubuh, tetapi mereka menarik tangan orang tuanya untuk mengambil obyek yang diinginkannya. Mereka juga sukar mengatur volume suaranya, kurang dapat menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi, seperti: menggeleng, mengangguk, melambaikan tangan dan lain sebagainya.
Anak autis memiliki minat yang terbatas, mereka cenderung untuk menyenangi lingkungan yang rutin dan menolak perubahan lingkungan, minat mereka terbatas artinya mereka apabila menyukai suatu perbuatan maka akan terus menerus mengulang perbuatan itu. anak autistik juga menyenangi keteraturan yang berlebihan.
Lorna Wing (1974) menuliskan dua kelompok besar yang menjadi masalah pada anak autis yaitu:
Masalah dalam memahami lingkungan (Problem in understanding the world)
1). Respon terhadap suara yang tidak biasa (unusually responses to sounds). Anak autis seperti orang tuli karena mereka cenderung mengabaikan suara yang sangat keras dan tidak tergerak sekalipun ada yang menjatuhkan benda di sampingnya. Anak autis dapat juga sangat tertarik pada beberapa suara benda seperti suara bel, tetapi ada anak autis yang sangat tergangu oleh suara-suara tertentu, sehingga ia akan menutup telinganya.
2). Sulit dalam memahami pembicaraan (Dificulties in understanding speech). Anak autis tampak tidak menyadari bahwa pembicaraan memiliki makna, tidak dapat mengikuti instruksi verbal, mendengar peringatan atau paham apabila dirinya dimarahi (scolded). Menjelang usia lima tahun banyak autis yang mengalami keterbatasan dalam memahami pembicaraan.
3). Kesulitan ketika bercakap-cakap (Difiltuties when talking). Beberapa anak autis tidak pernah berbicara, beberapa anak autis belajar untuk mengatakan sedikit kata-kata, biasanya mereka mengulang kata-kata yang diucapkan orang lain, mereka  memiliki kesulitan dalam mempergunakan kata sambung, tidak dapat menggunakan kata-kata secara fleksibel atau mengungkapkan ide.
4). Lemah dalam pengucapan dan kontrol suara (Poor pronunciation and voice control). Beberapa anak autis memiliki kesulitan dalam membedakan suara tertentu yang mereka dengar. Mereka kebingungan dengan kata-kata yang hampir sama, memiliki kesulitan untuk mengucapkan kata-kata yang sulit. Mereka biasanya memiliki kesulitan dalam mengontrol kekerasan (loudness) suara.
5). Masalah dalam memahami benda yang dilihat (Problems in understanding things that are seen). Beberapa anak autis sangat sensitif terhadap cahaya yang sangat terang, seperti cahaya lampu kamera (blitz), anak autis mengenali orang atau benda dengan gambaran mereka yang umum tanpa melihat detil yang tampak.
6). Masalah dalam pemahaman gerak isarat (problem in understanding gesturs). Anak autis memiliki masalah dalam menggunakan bahasa komunikasi; seperti gerakan isarat, gerakan tubuh, ekspresi wajah.
7). Indra peraba, perasa dan pembau (The senses of touch, taste and smell). Anak-anak autis menjelajahi lingkungannya melalui indera peraba, perasa dan pembau mereka. Beberapa anak autis tidak sensitif terhadap dingin dan sakit.
Cool. Gerakan tubuh yang tidak biasa (Unusually bodily movement). Ada gerakan- gerakan yang dilakukan anak autis yang tidak biasa dilakukan oleh anak-anak yang normal seperti mengepak-ngepakan tangannya, meloncat-loncat, dan menyeringai.
9). Kekakuan dalam gerakan-gerakan terlatih (clumsiness in skilled movements). Beberapa anak autis, ketika berjalan nampak anggun, mampu memanjat dan seimbang seperti kucing, namun yang lainnya lebih kaku dan berjalan seperti memiliki bebrapa kesulitan dalam keseimbangan dan biasanya mereka tidak menikmati memanjat. Mereka sangat kurang dalam koordinasi dalam berjalan dan berlari atau sebaliknya.    
Masalah gangguan perilaku dan emosi (Dificult behaviour and emotional problems).
1. Sikap menyendiri dan menarik diri (Aloofness and withdrawal). Banyak anak autis yang berprilaku seolah-olah orang lain tidak ada. Anak autis tidak merespon ketika dipanggil atau seperti tidak mendengar ketika ada orang yang berbicara padanya, ekspresi mukanya kosong.  
2. Menentang perubahan (Resistance to change). Banyak anak autis yang menuntut pengulangan rutinitas yang sama. Beberapa anak autis memiliki rutinitas mereka sendiri, seperti mengetuk-ngetuk kursi sebelum duduk, atau menempatkan objek dalam garis yang panjang.
3. Ketakutan khusus (Special fears). Anak-anak autis tidak menyadari bahaya yang sebenarnya, mungkin karena mereka tidak memahami kemungkinan konsekuensinya.
4. Prilaku yang memalukan secara sosial (Socially embarrassing behaviour). Pemahaman anak autis terhadap kata-kata terbatas dan secara umum tidak matang, mereka sering berperilaku dalam cara yang kurang dapat diterima secara sosial. anak-anak autis tidak malu untuk berteriak di tempat umum atau berteriak dengan keras di senjang jalan.
5. Ketidakmampuan untuk bermain (Inability to play). Banyak anak autis bermain dengan air, pasir atau lumpur selam berjam-jam. Mereka tidak dapat bermain pura-pura. Anak-anak autis kurang dalam bahasa dan imajinasi, mereka tidak dapat bersama-sama dalam permainan dengan anak-anak yang lain.
F. PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS DARI AUTIS
Walaupun kebanyakan anak autistik menunjukkan perbaikan dalam hubungan sosial dan kemampuan berbahasa seiring dengan meningkatnya usia, gangguan autisitik tetap meninggalkana ketidakmampuan yang menetap, mayoritas dari mereka tidak dapat hidup mandiri dan membutuhkan perawatan di institusi ataupun membutuhkan supervisi. Hasil penelitian menemukan bahwa dua - pertiga anak autis mempunyai prognosis yang buruk : tidak dapat mandiri ; seper-empat dari anak autis mempunyai prognosis sedang : terdapat kemajuan dibidang sosial dan pendidikan walaupun ada masalah perilaku ; seper-sepuluh dari anak autis mempunyai prognosis baik : mempunyai kehidupan sosisal yang normal dan berfungsi dengan baik disekolah ataupun ditempat kerja. Walaupun demikaian sangatlah jarang anak autis dapat berfungsi seperti orang dewasa: mempunyai teman dan menikah.

G. TATALAKSANA
Penatalaksanaan gangguan autistik bertujuan untuk :
1. Mengurangi masalah perilaku
2. Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembanganya terutama dalam penguasaan bahasa
3. Mampu bersosialisasi dan beradaptasi di lingkungan sosialnya
Tujuan ini dapat tercapai dengan baik melalui suatu program terapi yang menyeluruh dan bersifat individual, dimana pendidikan khusus dan terapi wicara merupakan komponen yang penting. Namun yang paling tidak boleh dilupakan adalah masing-masing individu anak adalah unik, sehingga jangan beranggapan bahwa satu metode tersebut akan berhasil pula untuk anak yang lain.
Suatu tim kerja terpadu yang terdiri dari : tenaga pendidik, tenaga medis (psikiater, dokter anak), psikolog, ahli terapi wicara, terapi okupasi, pekerja sosial, perwat ,sangat diperlukan agar dapat mendeteksi dini, dan memberi penanganan yang sesuai dan tespt waktu. Semakin dini terdeteksi dan mendapat penanganan yang tepat, akan dapat tercapai hasil yang optimal.
Pendekatan edukatif
Pada prinsipnya pendekatan edukatif sangat bergantung  pada kondisi berat/ringannya gangguan yang ada. Pada yang mempunyai intelegensi normal-tinggi sebaiknya dimasukkan ke sekolah formal umum, sedangkan yang mempunyai intelegensi dibawah rata-rata sebaiknya bersekolah di SLB-C, tentu dengan catatan perilaku dan e osinya telah terkendali.bila belum dapat dikendalikan seharusnya mendapatkan pendidikan khusus seperti Treatment and Education of Autistic and related Communication Handicapped Children (TEACCH).
Salah satu program aplikasi metode TEACCH adalah dengan menggunakan system komunikasi visual, yang mana anak berkomunikasi dengan setiap orang melalui gambar dan foto. Hal ini karena ketertarikan anak autis terhadap obyek (gambar) lebih tinggi daripada terhadap manusia. Proses timbal balik dalam suatu system komunikasi dengan gambarpun dibuat lebih mudah sehingga lebih mudah divisualisasi. seorang anak autis membawa gambar untuk meminta pertolongan, kemudian guru menghampiri, anak menunjuukkan gambar minta dan kue, kemudian gurunya memberikan kue.  Dalam aplikasi metode TEACCH, kurikulum berikut karakteristik sosial telah diobservasi selama observasi yang meliputi: proximity, (kedekatan), objects and body use (penggunaan benda dan tubuh), social response (respon sosial), social initiation (permulaan sosial), interfering (behavior), menyentuh prilaku dan adaptation to change (menyesuaikan terhadap perubahan).
1. Proximity. Pada proximity, observasi dilakukan tentang toleransi bagian tubuh, “arah” adalah aspek lain dari: apakah kita menatap dengan benar ketika sedang berbicara dengan anak autis? Apakah dia (anak autis) melihat kita ketika kita bicara kepadanya? Apakah dia memahami aktivitas? (missal: area rekreasi untuk bermain, atau sudut ruangan untuk bekerja
2. Objects and body use. Apakah anak autis memiliki banyak gerakan yang aneh? (missal: jalan berjinjit)? Apakah dia memahami bahwa sendok adalah alat yang digunakan untuk makan dengan atau tanpa bunyi ketika menggunakannya?
3. Response social. Bagaimana reaksi anak autis ketika orang lain tersenyum atau mengucapkan salam? Atau ketika teman atau saudaranya mengajak bermain? Apakah anak autis dapat berjabatan tangan?
4. Social initiation. Apakah anak autis dapat mengucapkan selamat pagi pada dirinya sendiri di pagi hari? Itu dapat menjadi suatu keterampilan hubungan masyarakat yang sangat penting di kemudian hari ketika dia sudah bekerja. Kemampuan prilaku adaptif ini dapat menentukan sikap karyawan lain untuk menghargai dan menerima orang autis. Apakah orang autis dapat menjelaskan bahwa dia kebingungan, belum mengerti sesuatu atau bahwa dia tidak mempunyai garpu dan sendok?
5. interfering behavior. Apakah anak autis menunjukkan agresi terhadap dirinya sendiri atau orang lain?
6. Adaptation to change. Apakah anak autis merasa terganggu ketika program atau posisi benda yang ada di lingkungannya berubah? Apakah dia mampu menggeneralisir keterampilan dan prilaku yang adaptif pada aktivitas situasi lain?.      
Karakteristik itu semua diamatai dalam berbagai situasi yang relevan dengan kehidupan anak autis, waktunya tersetruktur, ketika sedang bermain, waktu makan, Selama perjalanan, ketika bertemu dengan orang lain.

Contoh aplikasi metode TEACCH :
1. Seorang anak autis masuk ke dalam kelas untuk pertama kali. Dia belum terbiasa untuk belajar, dan sulit untuk duduk. Guru menyuruh dia untuk mengambil kartu dan memasukkan ke dalam kotak yang sesuai dengan warna kartu, tapi dia tidak mengerti. Dia menangis dan teriak. Dia menunjukkan ‘penolakan’  dengan tidak mengijinkan siapapun untuk mendekat.
2. Tiga minggu kemudian. Guru memberikan kartu ketika anak autis masuk ke dalam kelas, dia masih belum mengerti dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Kemudian guru menuntun dia secara fisik, memberikan dorongan pada arah yang benar, dia merespon. Dia menunjukkan penolakan tetapi tidak lama dan dia membutuhkan dorongan fisik.
3. Tiga bulan kemudian. Anak mulai memahami rutinitas kelas. Dia datang kemudian mengambil kartu dari guru dan memasukkannya pada kotak yang warnanya sama, guru berkata yang harus dilakukan oleh anak (jadwal pada hari itu), atau menunjukkan gambar yang menandakan kegiatan yang harus dilakukan oleh anak. Dia melakukan aktivitas sesuai dengan gambar yang ditunjukkan oleh guru. Pada tahap ini anak tidak memerlukan prompt fisik, tetapi memerlukan prompt khusus.
4. Beberapa bulan kemudian anak dapat melakkan aktivitasnya sendiri tanpa bimbingan dari guru atau orang lain.  
Kemandirian inilah yang diharapkan oleh guru dan orang tua, kemandirian yang tidak mengkat keterlibatan guru mendampingi anak autis lebih lama. Dia mampu menggeneralisasi prilaku adaptifnya dalam segala situasi.  

Terapi Perilaku
Dengan modifikasi perilaku yang spesifik, yang telah disesuaikan dengan kebutuhan anak, diharapkan dapat membantu anak autis untuk mempelajari perilaku yang diharapkan dan membuang perilaku yang bermasalah.
Dalam suatu penelitian dikatakan dengan terapi intensif selama 1-2 tahun anak-anak yang masih amat muda ini dapat berhasil meningkatkan IQ dan fungsi adaptasinya lebih tinggi dibanding dengan kelompok anak yang tidak memperoleh terapi yang intensif. Pada akhir dari terapi sekitar 42 % dapat masuk kesekolah umum.
Jenis terapi perilaku yang banyak digunakan :
1. Metode ABA (Apllied Behavioral Analysis) : terapi dilakukan dengan memberikan positive reinforcement  bila anak menuruti perintah terapis
2. Metode option : child centered,  dimana terapis selalu mengikuti kemauan anak.
3. Metode floor time:  terapi bermain yang dilakukan pada anak.

ABA (Apllied  Behavioral Analysis)
ABA banyak digunakan karena keberhasilanya dalam menangani anak-anak dengan kebutuhan kusus. Di dalam programnya terdapat 500 perilaku target meliputi :
1. Kemampuan bahasa
2. Kemampuan social
3. Kemampuan Emosional
4. Kemampuan akademik
5. Kemampuan bantu diri
Teknik pembelajaran dalam ABA memilki dua hal pokok, yaitu adanya penerapan prinsip proses belajar dan adanya suatu teknik mengubah perilaku berdasarkan prinsip-prinsip modifikasi perilaku. ABA bertujuan untuk meminimalkan kegagalan anak dan memaksimalkan keberhasilan anak. Sebaikny anak dapat diberi prompt( bantuan yang diberi untuk meningkatkan respon yang benar) oleh terapis agar anak mengerti apa yang diharapkan dari mereka dan belajar keterampilan baru.
Ada beberapa jenis prompt:
1. Prompt penuh
2. Prompt visual
3. Prompt lisan
4. Prompt gestural
5. Prompt model
6. Prompt  dimensional
7. Prompt posisi/letak

Metode perilaku meningkatkan belajar tidak hanya dengan mengajar anak tetapi juga mengganti perilaku bermasalah dengan yang lebih sesuai. Terapis dilatih untuk dapat meningkatkan kepatuhan dan perilaku target anak autis dengan menggunakan imbalan-imbalan. Keberhasilan anak secara ketat dimonitor oleh pengumpulan data yang rinci. Anak autis yang sudah menguasai target dimasukkan pada lembar khusus pemeliharaan (maintenance) agar anak tidak mengalami regresi saat tugas baru dikenalkan.
Secara umum program awal meliputi suatu program kesiapan belajar, prigram imitasi, program bahasa reseptif, program bahasa ekspresif dan tugas pre akademik (matching), bila terdapat kemajuan, dapat ditambahkan program lain.
Penanganan awal, mungkin anak akan berontak, keluar ruangan, menangis dan mengamuk bahkan adapula yang menunjukkan sikapagresi dan menyakiti diri sendiri seperti menggigit, mecakar, membenturkan kepala ketembok, dsb. Untuk meminimalkan dan mencegah hal tersebut, dapat dilakukan beberapa petunjuk yang sederhana
• Kenali anak secara mendalam dulu, cari tahu bagaimana perilakunya, apa kesukaanya, kebiasaannya, hal yang membuatnya senang dan sensitive melalui observasi dan wawancara
• Ajak anak adaptasi dengan lingkungan belajar terlebih dahulu tanpa dipaksa, biarkan anak bereksplorasi terhadap lingkungan baru tersebut. Perkenalkan guru-guru yang akan mengajar dan kenalkan teman-temanya supaya ia paham dengan orang-orang disekitarnya
• Susun program individual anak bersama guru, terapis dan orangtua. Bila perlu dikonsultasikan dengan konsultan individual education programe. Menyiapkan ruang belajar yang nyaman, tenang dan cukup penerangan dan ventilasi
• Mempersiapkan alat-alat peraga, lembar program dan lembar penilaian terlebih dahulu sebelum proses belajar dimulai dan jangan keluar masuk ruangan saat proses belajar sedang berlangsung
• Buat jam belajar menyenangkan, pertahankan dengan menarik, dan berikan pujian yang konstan untuk tetap tinggal di kursi. Campur tuntutan belajar dengan aktiftas bermain. Mulai dengan membuat jam belajar amat singkat (5-10 menit) dengan istirahat yang waktunya sama. Pada awalnya selama istirahat biarkan anak untuk mengerjakan apa saja yang mereka inginkan, tetapi nanti waktu istirahat selanjutnya sebaiknya menjadi suatu bagian latihan dengan sejumlah instruksi.
• Catat semua penilaian dalam belajar dan monitor kemajuan programnya, dan masukkan lembar penilaian tersebut ke dalam map khusus
• Terapis perlu meningkatkan kepatuhan, suara cukup jelas dan singkat dan selesai aktifitas harus berakhir secara positif. Artinya bagaimanapun amukan anak, harus diakhiri dengan anak menyelesaikan dengan baik suatu uji coba, walaupun sangat mudah
• Beriakan reward apabila anak mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Reward akan dihentikan secar pelan-pelan sehingga nantinya reward tersebut berupa senyum, kata-kata yang menyenangkan. Awalnya reward berupa makanan, mainan kesenangan, stiker dsbnya.
• Jam dan waktu belajara dilaksanakan dengan konsisten, rutin dan sesuai jadwal (usahakan 40 jam/ minggu)
• Aktifitas belajar tidak hanya didalam ruangan saja, perlu dilatih untuk menggeneralisasi kemampuan yang dimiliki diluar ruangan, bila perlu perlu jadwalkan outbond seminggu sekali agar anak tidak jenuh.



Metode ABA
Pedoman Kurikulum awal
Kemampuan mengikuti tugas/ pelajaran :
1. Duduk mandiri di kursi
2. Kontak mata saat dipanggil namanya
3. Kontak mata ketika diberi perintah ‚‘‘lihat ke sini“
4. Berespons terhadap instruksi ‚‘‘tangan ke bawah‘‘
kemampuan imitasi 1. Imitasi gerakan motorik kasar
2. Imitasi tindakan terhadap benda
3. Imitasi gerakan motorik halus
4. Imitasi gerakan motorik mulut
Kemampuan bahasa reseptif 1. Melakukan perintah sederhana
2. Identifikasi bagian-bagian tubuh
3. Identifikasi benda-benda
4. Identifikasi gambar-gambar
5. Identifikasi orang dekat/keluarga
6. Melakukan perintah kata kerja
7. Identifikasi kata-kata kerja pada gambar
8. Identifikasi benda-benda dilingkungan
9. Menunjuk gambar-gambar didalam buku
10. Identifikasi benda-benda menurut fungsinya
11. Identifikasi kepemilikan
12. Identifikasi suara-suara dilingkungan
Kemampuan bahasa ekspresif 1. Memunjuk sesuatu yang diingini sebagai respons dari ‘mau apa’ ?
2. Menunjuk secara serentak benda-bemda yang diingini
3. Imitasi suara dan kata
4. Menyebut benda-benda
5. Menyebut gambar-gambar
6. Mengatakan benda yang diinginkan secara verbal
7. Menyatakan atau dengan isyarat  ‘‘ya‘‘ dan ‘‘tidak‘‘ untuk sesuatu yang disukai dan tidak
8. Membuat pilihan
9. Saling menyapa
10. Menjawab pertanyaan sosial
11. Menyebutkan kata kerja digambar, orang lain, diri sendiri
12. Menyebutkan benda sesuai fungsinya
13. Menyebutkan kepemilikan
Kemampuan pre-akademik 1. Mencocokkan
a. Benda benda yang identik
b. Gambar gambar yang identik
c. Benda dengan gambar
d. Warna, bentuk, huruf, angka
e. Benda yang non identik
f. Hubungan antara berbagai benda
2. Menyelesaikan aktivitas sederhana secara mandiri
3. Identifikasi warna-warna
4. Identifikasi berbagai bentuk
5. Identifikasi huruf-huruf
6. Identifikasi angka-angka
7. Menyebut angka 1-10
8. Menghitung benda-benda
Kemampuan Bantu-diri 1. Minum dari gelas
2. Makan dan menggunakan sendok dan garpu
3. Melepas sepatu
4. Melepas kaos kaki
5. Melepas celana
6. Melepas baju
7. Menggunakan serbet/tissue
8. Toilet training untuk buang air kecil

Pedoman kurikulum menengah
Kemampuan mengikuti tugas/pelajaran 1. Mempertahankan kontak mata selama 5 detik saat dipanggil namanya
2. Menimbulkan kontak mata saat dipanggil namanya ketika bermain
3. Menimbulkan kontak mata saat dipanggil namanya dari kejauhan
4. Bertanya ‘‘ apa?‘‘ ketika namanya di panggil
Kemampuan imitasi (meniru) 1. Meniru gerakan motorik kasar dengan posisi berdiri
2. Meniru gerakan motorik kasar secara berurutan
3. Meniru aksi-aksi beruruttan dengan berbagai benda
4. Meniru aksi-aksi bersamaan dengan kata-kata
5. Meniru pola-pola balok
6. Menyalin gambar sederhana

Kemampuan bahasa reseptif
1. Identifikasi kamar-kamar
2. Identifikasi emosi
3. Identifikasi tempat-tempat
4. Melakukan perintah dua tahap
5. Memberi dua benda
6. Menemukan benda-benda yang tak terlihat
7. Identifikasi atribut (kata sifat)
8. Identifikasi petugas-petugas di masyarakat
9. Berpura-pura
10. Identifikasi katregori(kelompok)
11. Identifikasi kata ganti
12. Melakukan instruksi dengan kata depan
13. Identifikasi benda yang terlihat ketika diberikan gambar/rinciannya
14. Menempatkan kartu sesuai urutannya
15. Identifikasi jenis kelamin
16. Identifikasi barang yang tidak tampak
17. Menjawab pertanyaan (apa, siapa, kemana, dimana, kapan, bagaimana) mengenai gambar dan benda
18. Menjawab ya/tidak sebagai jawaban atas pernyataan mengenai benda
Kemampuan bahasa ekspresif 1. Imitasi ungkapan dua/tiga kata
2. Meminta benda yang diingin dengan menggunakan kalinat jawaban ‚‘‘mau apa“?
3. Meminta benda yang diingini secara spontan dengan menggunakan kalimat
4. Memanggil orang tua dari kejauhan
5. Menyebutkan nama benda berdasarkan fungsi
6. Menyebutkan fungsi dari benda
7. Menyebutkan nama serta mmenunjuk bagian tubuh sesuai fungsinya
8. Menyebutkan fungsi bagian-bagian tubuh
9. Menyebutkan nama tempat-tempat
10. Menyebutkan emosi
11. Menyebutkan kategori
12. Menggunakan kalimat sederhana (ini adalah, saya melihat , saya mempunyai)
13. Saling berbalasan informasi (saya mempunyai, saya melihat, informasi social)
14. Menyatakan “saya tidak tahu” jika diminta untuk menyebutkan nama benda yang tidak dikenal
15. Menanyakan peranyaan 5W1H
16. Menyebutkan kata depan
17. Menyebutkan kata ganti
18. Menjawab pertanyaan pengetahuan umum
19. Menyebutkan sesuai jenis kelamin
20. Menceritakan gambar dalam kalimat
21. Menceritakan benda-benda yang terlihat menggunakan atribut
22. Menceritakan kembali apa yang baru saja dikerjakan
23. Menjawab pertanyaan  ‚‘‘kapan...?‘‘
24. Menyebutkan nama benda-benda yang ada dikamar
25. Menyebutkan fungsi kamar-kamar
26. Menyebutkan fungsi petugas di masyarakat
27. Menjawab pertanyaan “dimana?“
28. Menceritakan urutan gambar
29. Menyampaikan pesan
30. Bermain peran dengan boneka
31. Menawarkan bantuan
Kemampuan    pre-akademik 1. Mencocokkan benda-benda dari kategori yang sama
2. Memberikan sejumlah tertentu dari benda-benda
3. Mencocokkan nomor dengan jumlah
4. Mencocokkan huruf besar dengan huruf kecil
5. Mencocokkan kata-kata yang sama
6. Identifkasi lebih dengan kurang
7. Mengurutkan kata atau huruf
8. Menyelesaikan lembar kerja sederhana
9. Menyalin huruf dan angka
10. Identifikasi nama yang tertulis
11. Menggambar sederhana
12. Menulis nama
13. Merekatkan/melem
14. Menggungting
15. Mewarnai dalam satu batas/tepi
Kemampuan bantu-diri 1. Memakai celana
2. Memakai baju
3. Memakai jas/mantel/jaket
4. Memakai sepatu
5. Memakai kaos kaki
6. Mencuci tangan
7. Toilet taraining untuk buang air besar
8. Inisiatif sendiri untuk kekamar mandi

Pedoman kurikulum lanjut
Kemampuan mengikuti tugas/pelajaran 1. Melakuakan kontak mata saat percakapan
2. Melakukan kontak mata saat instruksi kelompok
Kemampuan imitasi 1. Meniru aktivitas kompleks berurutan
2. Meniru anak sebaya bermain
3. Meniru respons verbal anak sebaya
Kemampuan bahasa reseptif 1. Melakukan perintah tiga tahap
2. Melakukan instruksi kompleks dari kejauhan
3. Menyebutkan nama orang, tempat atau benda saat diberikan gambaran/rinciannya
4. Menyebutkan nama benda ketika diperlihatkan sebagian
5. Identifikasi benda-benda yang sama
6. Identifikasi benda-benda yang berbeda
7. Identifikasi benda yang tidak termasuk dalam kelompok atribut (kata sifat) atau kategori(kelompok)
8. Identifikasi tunggal dan jamak
9. Menjawab perttanyaan 5W 1 H tentang cerita pendek
10. Menjawab perttanyaan 5W 1 H tentang suatu topic
11. Melakukan instruksi ‘tanya…’ atau ‘katakan/bilang ke...‘
12. Menemukan benda yang tersembunyi sat diberikan gambaran/rincian lokasinya
13. Membedakan kapan saat bertnsys dan kapan saat memberikan informasi berbalasan
Kemampuan bahasa ekspresif 1. Menyatakan tidak tahu terhadap pertanyaan yang ttdak dimengerti
2. Menyatakan nama kategori suatu benda
3. Menyebutkan nama benda pada suatu kategori
4. Menceritakan kembali suatu cerita
5. Memberikan gambaran /rincian suatu benda yang tidak terlihat dengan atribut
6. Memberikan gambaran/rincian berbagai topic
7. Bercerita (tentang dirinya sendiri)
8. Menyatakan kebingungan/ketidaktahuan dan bertanya untuk klarifikasi
9. Menggunakan kata ganti kepemilikan lanjut
10. Menggunakankata kerja dengan benar
11. Bertanya kemudian meneruskan/menyampaikan informasi tersebut
12. Mendengarkan percakapan dan menjawab pertanyaan –pertanyaan yang berhubungan dengan perakapan tersebut
13. Menyatakan/mempertahankan pengetahuannya
14. Menjawab pertanyaan-pertanyaan pengetahuan umum lanjut
15. Menerangkan/memberi rincian bagaimana cara mengerjakan/melakukan sesuatu
16. Memperinci persamaan dan perbedaan antara berbagai benda
17. Menjawab pertanyaa“(...) yang sama ....“
18. Menanya pertanyaan 5W1H ketika diberikan informasi yang tidak jelas
Bahasa abstrak 1. Menjawab pertanyaan ‚‘mengapa/kenapa‘‘
2. Menjawab pertanyaan ‚‘jika/kalau/bila/..
3. Melengkapi kalimat dengan logis
4. Memperinci kesalahan pada gambar
5. Menjawab ya/tidak
6. Menerangkan apa yang akan/mungkin terjadi kemudian/ berikutnya/setelahnya\
7. Menduga/memperlkirakan apa yang dipikirkan/dirasakan seseorang
8. Memberi penjelasan
9. Memisahkan suatu benda berdasarkan atribut dan kategorinya
Kemampuan akademik 1. Mendefinisikan (menguraikan mengenai) orang ,tempat, dan benda
2. Melengkapi suatu pola
3. Matching kata tertulis ke benda dan sebaliknya
4. Membaca kata-kata yang umum
5. Menyebutkan huruf-huruf
6. Menyebutkan kata yang diawali suatu huruf
7. Mengucapakan konsonan di awal, tenga, akhir
8. Menjelaskan arti suatu kata
9. Identifikasi sinonim sedrhana
10. Identifikasi hubungan-hubungan sementara
11. Identifikai bilangan ordinal
12. Identifikasi kata-kata yang berpantun/bersajak
13. Menulis kata-kata sederhana dari ingatan
14. Menjumlah angka-angka satuan
Kemampuan sosial 1. Meniru aksi anak sebaya
2. Melakukan instruksi dari anak sebaya
3. Menjawab pertanyaan-pertanyaan anak sebaya
4. Berespons pada ajakan main anak sebaya
5. Bermain permaianan pada papan dengan anak sebaya
6. Mengajak main teman
7. Berbalasan informasi dengan anak sebaya
8. Berkomnetar pada teman main sebaya saat bermain
9. Meminta bantuan pada teman sebaya
10. Menawarkan bantuan pada teman sebaya
Kesiapan sekolah 1. Menunggu giliran
2. Memperlihatkan respon-respon baru sepanjang observasi
3. Melakukan instruksi dalam satu kelompok
4. Berbalasan informasi sosial dalam suatu kelompok
5. Menyanyikan lagu lagu dalam suatu kelompok
6. Menjawab saat dipanggil
7. Mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan
8. Mendengarkan cerita dan menjawab oertanyaa tentang cerita tersebut
9. Mendemonstrasikan dan menceritakan
Kemampuan bantu-diri 1. Menggosok gigi
2. Menutup resleting
3. Mengancing
4. Memasang kancing jepret
Farmakoterapi
Pada sekelompok anak autistic dengan gejala-gejala seperti temper tantrums, agresivitas, melukai diri sendir, hiperaktivitas dan stereotip, pemberian obat-obatan yang sesuai dapat merupakan salah satu bagian dari program terapi yang komprehensif.
Obat obat yang digunakan antara lain:
1. Antipsikotik (memblok reseptor dopamin)
a. Risperidone
b. Olanzapine
c. aripiprazole
2. SSRI
a. Fluoxetine
b. setraline
3. Methylpenidate (menurunkan hiperaktivitas, inatensi)
4. Naltrexone (antagonis opioida)
5. Clomiperamine (antidepresan)



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
 
Mengingat beragamnya faktor etiologi, kompleksnya gejala dan prognosis yang dapat bervariasi pada autisme, perlu kiranya penanganan yang komprehensif dari satu tim tetpadui yang berasal dari berbagai disiplin ilmu-dokter,pendidik, psikolog, ahli terapi wicara, terapi okupasi, pekerja sosial, juga perawat. Diharapkan dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, serta pesatnya kemajuan dibidang teknoloi kedokteran, akan didapat hasil perkembangan yang optimal bagi anak-anak ini. Anak akan meninggalkan dunianya sendiri dan menikmati kehidupan diluarnya.





DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association, Diagnostik and Statistical Manual of Mental   Disorders,Washington DC.: American Psychiatric Association Publisher.

Budiman, Melly, (2003), Gangguan Metabolisme pada Anak Autistik di Indonesia,  (makalah), Jakarta: Konferensi Nasional Autisme-I.

Hidayat. (2004), Aplikasi Metode TEACCH dan Multisensori-Fernald dalam Optimasi  Kemampuan Kognitif dan Prilaku Adaptif Anak Autis, (makalah).  

Peeters, Theo, (1998), Autism From Theoritical Understanding to Educational Intervention, London: Whurr Publisher Ltd.

Pusponegoro, Hartono D, (2003), Pandangan Umum mengenai Klasifikasi Spektrum  Gangguan Autistik dan Kelainan Susunn saraf Pusat (makalah), Jakarta: Konferensi Nasional Autisme-I

Sasanti,  Yuniar, (2003), Masalah Perilaku pada Gangguan Spektrum Autism (GSA) (makalah), Jakarta: Konferensi Nasional Autisme-I

Threvarthen, Colwyn, (1999), Children With Autism, Second Edition, Philadelphia: Jessica Kingsley Publisher.

Wing, Lorna, (1974), Autistik Children A Guide for Parents and Professionals, New Jersey: The Chitadel Press

Jemi S

Posts : 7
Reputation : 0
Join date : 2015-03-07

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum