Skizofrenia Paranoid

View previous topic View next topic Go down

Skizofrenia Paranoid

Post by nurafni on Sat Nov 28, 2015 6:46 pm

Laporan Kasus

SKIZOFRENIA PARANOID








Disusun Oleh:
Epi Nurafni, S.Ked


Pembimbing:
dr. Andri Sudjatmoko, Sp.KJ



KEPANITERAAN  KLINIK KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI BENGKULU – RSKJ SOEPRAPTO BENGKULU
2015
 

BAB I
LAPORAN KASUS
Riwayat psikiatri diperoleh dari autoanamnesis dan heteroanamnesis (istri pasien). Kebenaran anamnesis dapat dipercaya.
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. AR
Usia : 43 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Anak ke : 6 dari 8 bersaudara
Agama : Islam
Pendidikan : S2
Suku : Bengkulu
Status : Menikah
Pekerjaan : PNS
Alamat : xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Bengkulu
No RM : xxxxxxxxxxxxxxx
Tanggal Pemeriksaan : 23 Oktober 2015, pukul 10.00 WIB

II. RIWAYAT PSIKIATRI
A. Keluhan Utama
Marah-marah dan memecahkan kaca lemari. sejak ???
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Autoanamnesis
Laki-laki 43 tahun, merupakan anak keenam dari delapan bersaudara dan telah menikah. Pasien baru berobat ke poliklinik RSKJ Soeprapto pada tanggal 23 Oktober 2015, dengan keluhan marah-marah di rumah sejak 4 bulan yang lalu sampai sekarang. Pasien sering cemburu dengan istrinya sejak istrinya pernah chattingan dengan mantan pacarnya di facebook. Pasien menjadi sering curiga terutama kepada istrinya. 2 bulan kemudian, pasien sering mendengarkan suara-suara aneh namun pasien tidak mengetahui dari mana sumber suara tersebut. Suara itu merupakan suara laki-laki dan perempuan yang mengatakan bahwa istrinya selingkuh dengan mantan pacarnya. Suara tersebut juga pernah menyuruh pasien membanting handphone istrinya karena lagu-lagu di handphone istrinya menunjukkan bahwa istrinya benar-benar selingkuh dan juga mengatakan bahwa istrinya sudah memasukkan laki-laki lain ke kamar mereka saat ia sedang tidak di rumah. Selama mengalami keluhan berupa suara-suara ini, pasien menyangkal melihat adanya objek yang lewat atau muncul berupa bayangan atau orang yang terlihat oleh matanya. Pasien sering terbangun saat tidur karena suara-suara tersebut.
Selain itu, pasien merasa semua orang membicarakan dan mengejek dirinya karena ia tidak bisa menjaga istrinya sehingga ia menjadi mudah tersinggung terhadap pembicaraan orang lain dan tidak mau keluar rumah. Pasien menjadi tidak semangat untuk bekerja dan lebih banyak di rumah. Pasien sering melamun dan merasa memiliki beban pekerjaan yang berat, pikiran kacau dan sering marah-marah.
Sejak 1 bulan terakhir, pasien tidak tidur karena merasa ada yang akan memasuki rumahnya. Pasien juga sering merasa lemas dan tidak berdaya disebabkan oleh energi yang ia punya diambil atau disedot dari tubuhnya oleh laptop yang biasa ia gunakan untuk mengerjakan pekerjaan sampingannya. Kejadian itu tidak berlangsung lama, dan berhenti secara tiba-tiba. Sejak saat itu ia jarang menggunakan laptop. Pasien jadi merasa sangat bersalah karena ia tidak bisa menyelesaikan pekerjaan yang orang lain percayakan padanya (membuatkan skripsi).
Menurut pasien, selain membanting handphone istrinya ia juga telah dituduh menghancurkan barang yang ada di rumah. Tetapi pasien menyangkal telah melakukan tindakan tersebut. Pasien merasa tubuhnya dikendalikan oleh energi dari luar. Pasien sering mengalami hal tersebut dan menyangkal bahwa dirinya yang telah melakukan suatu tindakan.
Heteroanamnesis
Diperoleh dari istri pasien, Ny. NM, berusia 38 tahun, bekerja sebagai ibu rumah tangga, tinggal serumah dengan pasien dan sangat mengenal pasien.Ny. NM mengatakan bahwa perilaku suaminya mulai berubah sejak 4 bulan yang lalu saat rumah mereka kemalingan termasuk laptop yang ia gunakan untuk membuatkan skripsi orang lain (pekerjaan sampingan) juga hilang, sedangkan semua data-data penting berkaitan dengan pekerjaannya tersebut ada di dalam laptop. Sejak saat itu, pasien sering marah-marah tanpa alasan dan selalu merasa curiga dengan orang-orang yang datang ke rumahnya. Pasien  selalu menghabiskan waktu di depan laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya, bahkan di malam haripun pasien tidak tidur.
Kemudian istrinya mengaku bahwa ± 3 bulan yang lalu, mantan pacarnya pernah chatting di facebook satu kali menanyakan kabar. Setelah suaminya mengetahui hal tersebut, suaminya semakin sering marah-marah. Pasien selalu mencurigai perilaku istrinya. Handphone nya dibanting oleh suaminya. Ia juga tidak boleh keluar rumah sejak saat itu. Mantan pacarnya tersebut tinggal di Bogor dan sudah berkeluarga.Tetapi suaminya mengira mantan pacar istrinya tersebut datang ke Bengkulu dan menemui istrinya.
Menurut istrinya, pasien mulai sering bicara dan tertawa sendiri sejak 2 bulan ini. Tetapi pasien masih pergi ke Sekolah untuk mengajar. Kemudian 1 bulan terakhir, pasien tidak tidur. Ia hanya mondar-mandir dan berbicara sendiri. Kemudian tiba-tiba pasien memecahkan kaca lemari. Pasien juga tidak mau pergi mengajar dan tidak mau keluar rumah. Suaminya juga tidak pernah lagi menyentuh laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien belum pernah ada gangguan psikiatri sebelumnya, pasien belum pernah berobat ke rumah sakit jiwa maupun ke psikiater.

2. Riwayat Gangguan Medik
- Pasien tidak ada riwayat gangguan medis (trauma dan gangguan otak), dan pasien belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.
- Tidak ada riwayat hipertensi, tidak ada riwayat diabetes mellitus dan riwayat sakit hipertiroid.
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif/ Alkohol
Riwayat mengkonsumsi alkohol dan narkoba tidak ada. Pasien merokok ± 1 bungkus per hari.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat prenatal
Belum dapat digali secara heteroanamnesis karena istri pasien tidak tahu secara pasti. Pasien juga tidak tahu tentang kelahirannya. Pasien merupakan anak ke enam dari delapan bersaudara.
2. Riwayat masa kanak-kanakawal (0-3 tahun)
Belum dapat digali secara heteroanamnesis karena istri pasien tidak tahu secara pasti.Pasien juga mengatakan kalau dia tidak ingat tentang masa kanak-kanaknya.
3. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan padan masa ini normal. Pasien berkembang menjadi seperti anak lain biasanya. Pasien baik dan memiliki banyak teman.
4. Riwayat masa remajadan dewasa
Saat remaja, pasien tumbuh dan berkembang menjadi orang yang baik, suka menolong orang lain.Pasien banyak bergaul dan memiliki banyak teman.
5. Riwayat pendidikan
Pasien menyelesaikan pendidikan S2 nya di Padang. Prestasi di bidang akademik selama pendidikan ada. Saat SD sampai SMA ia biasa mendapatkan peringkat 10 besar. Ia menyelesaikan S1 nya dengan IPK 3,40 dan S2 dengan IPK 3,68.
6. Riwayat pekerjaan
Pasien bekerja sebagai guru (PNS) SMP di Suka Raja, Seluma.
7. Riwayat pernikahan
Pasien sudah menikah satu kali dan memiliki 3 orang anak, 2 orang perempuan (14 tahun dan 10 tahun) dan  1 orang laki-laki (17 tahun). Hubungan pasien dengan istri dan anak-anak baik.
8. Riwayat kehidupan beragama
Pasien beragama Islam dan mengaku beribadahnya kurang, pasien sering shalat tetapi jarang 5 waktu.
9. Riwayat Psikoseksual
Pasien tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan seksual yang menyimpang.
10. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan jarang terlibat dalam masalah hukum.
11. Aktivitas sosial
Pasien sering bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan tetangga tetapi pasien kurang akrab dengan tetangga di kompleks perumahannya.
E. Riwayat Keluarga
Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. Pasien 8bersaudara.Anak ke 3 dan ke 6 laki-laki, selebihnya perempuan.Orang tua pasien sudah meninggal dunia.Pasien memiliki 1 istri dan 3 anak. Hubungan pasien dengan istri dan anak-anaknya baik.Pasien dan anak-anaknya tinggal dengan tingkat ekonomi menengah ke atas.
Genogram







Keterangan :

 Laki- laki

 Perempuan

 Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien

 Pasien
 Menikah

 Meninggal

F. Situasi Kehidupan Sekarang
Pasien sekarang tinggal bersama seorang istri dan ketigaanaknya Perumnas Griya Betungan, Bengkulu. Lingkungan tempat tinggal tidak padat penduduk dan saling berdekatan rumahnya dengan tetangga, hubungan keluarga pasien dengan tetangga sekitar rumah baik. Saat ini pasien hanya beraktivitas di rumah dan sesekali pergi ke Sekolah. Dalam biaya pengobatan pasienmenggunakan BPJS sehingga tidak dikenai biaya. Istri pasien sangat terbuka dan mendukung kesembuhan pasien.
G. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya dan Lingkungannya
Pasien mengaku dirinya tidak sakit, tidak mengalami gangguan jiwa. Semua kejadian yg dialami pasien adalah hal yang nyata dan bertujuan untuk membuktikan kebenaran bahwa istrinya telah berselingkuh.Pasien merasa dirinya baik-baik saja.



III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan di rumah pasien pada tanggal 24 Oktober 2015, hasil pemeriksaan ini menggambarkan situasi keadaan pasien saat home visite.
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Laki-laki berusia 43 tahun, paras sesuai umur dengan postur tubuh yang astenikus, gizi pasien cukup. penampilan kurang rapi dengan rambut pasien pendek lurus.
2. Kesadaran
Kompos mentis, secara kualitas berubah
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Keadaan pasien tenang. Cara berjalan biasa. Setiap ± 10 menit sekali pasien memperlihatkan gerakan seperti orang tersentak dan saat ditanya pasien seperti itu karena ada suara-suara yang sedang berbicara padanya.
4. Pembicaraan
• Kuantitas:Pasien dapat menjawab pertanyaan dan dapat mengungkapkan isi hatinya dengan jelas.
• Kualitas: pasien menyambung jika ditanya, dan menjawab pertanyaan dengan spontan, pasien berbicara dengan intonasi agak lambat, pengucapan kata jelas dan pembicaraan dapat dimengerti. Terkadang pasien menjawab tidak sesuai dengan pertanyaan.
• Tidak ada hendaya berbahasa, pasien fasih berbahasa Indonesia.
5. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif, kontak mata adekuat. Pasien jarang melihat kearah pemeriksa. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan baik.
B. Keadaan Afektif
1. Mood : iritabel
2. Afek : depresif
3. Keserasian : serasi
C. Gangguan Persepsi
- Halusinasi auditorik ada pasien mendengar suara-suara yang mengganggunya, membicarakan istrinya dan menyuruh pasien untuk melakukan sesuatu.

D. Proses Pikir
1. Bentuk pikir : nonrealistik
2. Arus pikir
a. Produktivitas: Pasien dapat menjawab spontan saat diajukan pertanyaan, pasien terkadang memberikan ide-ide yang berpindah-pindah dimana ide tersebut tidak berhubungan (asosiasi longgar)
b. Kontinuitas: Inkoheren, terkadang pasien menjawab tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan.
c. Hendaya berbahasa: Tidak terdapat hendaya berbahasa
3. Isi pikiran
- Waham kontrol pasien merasa bahwa dirinya dikontrol oleh energi atau kekuatan dari luar.
- Waham kejar   pasien merasa ada yang akan memasuki rumahnya setiap malam dan semua orang membicarakan dan mengejek dirinya.
- Waham bizarre  pasien merasa laptop menarik energi dari tubuhnya.
- Waham cemburu  pasien merasa istrinya telah berselingkuh dengan mantan pacarnya.

E. Fungsi Intelektual / Kognitif
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
• Taraf pendidikan
Pasien lulusan S2
• Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat siapa presiden Indonesia dan warna Bendera Indonesia.
2. Daya konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien kurang, pasien tidak dapat mengurangkan angka 150 dikurang 7 dan kelipatannya, pasien juga tidak bisa mengalikan angka seperti 25x5 pasien mengatakan tidak bisa fokus
Perhatian pasien kurang, pasien bisa mengeja kata KULIAH tetapi tidak bisa menyebutkan benda-benda yang berawalan huruf A.

3. Orientasi
• Waktu :Baik, pasien mengetahui saat wawancara saat sianghari
• Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada di RSKJS Provinsi Bengkulu
• Orang : Baik, pasien mengetahui siapa saja saudaranya, siapa saja yang tinggal serumah dengannya, dan mengetahui sedang diwawancara oleh siapa.

4. Daya Ingat
• Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien masih dapat mengingat dimana pasien bersekolah dan kehidupan sekolahnya.
• Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat persis kejadian-kejadian beberapa minggu terakhir
• Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat makan apa tadi malam
• Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa  dan dapat mengulang 6 angka yang disebutkan oleh pemeriksa
• Akibat hendaya daya ingat pasien
Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien saat ini.
6. Kemampuan baca tulis: baik
7. Kemampuan visuospatial: baik
8. Berpikir abstrak: baik, pasien dapat menjelaskan persamaan apel dan pir
9. Kemampuan menolong diri sendiri : kurang baik, sejak 1 minggu terakhir pasien melakukan perawatan diri sehari-hari seperti mandi, makan, minum dengan arahan.

F. Daya Nilai
Daya nilai sosial pasien baik. Uji daya nilai realitas pasien juga baik.
G. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien baik, selama wawancara dapat mengontrol emosinya dengan baik (tidak mengamuk atau menangis).
H. Tilikan
Tilikan derajat 1, karena pasien menyangkal secara penuh bahwa dirinya sakit
I. Taraf Dapat Dipercaya
Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup akurat, pasien berkata dengan jujur mengenai peristiwa yang terjadi.

IV. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Generalis
• KU : Tampak Sehat
• Sensorium : CM   (GCS: E4 V5 M6)
Vital Sign
• TD : 120/80 mmHg
• Nadi : 80 x/menit
• RR : 20 x/menit
• Suhu : 36,80C




b. Status Internus
Kepala Normocephali, rambut tidak mudah dicabut, pertumbuhan rambut merata, dan warna rambut hitam-putih.
Mata Skleraikterik -/-, conjungtivapalpberaanemis-/-, edemapalpebra -/-
Hidung deformitas (-), tidak ada sekret.
Telinga deformitas (-), liang lapang, pengeluaran sekret (-).
Mulut bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal

Thorax Tidak terdapat scar, simetris kiri dan kanan
Paru I Pernapasan Statis-Dinamis kiri = kanan.
P Stemfremitus kanan=kiri
P Sonor
A Vesikuler, wheezing -/-, rhonki -/-
Jantung I iktuskordis tidak  terlihat
P Iktuskordis tak teraba
P Batas atas jantung ICS II, batas kanan jantung lineaparasternalisdektra, batas kiri jantung ICS V LMC sinistra
A Bunyi jantung I,II regular, gallop (-), Murmur(-)
Abdomen I Datar, benjolan (-)
A Bising usus (+) normal
P Timpani (+) di seluruh regio abdomen
P Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
Ekstrimitas Pitting edema (-/-) pada ekstrimitas, akralteraba hangat.

c. Status Neurologis
i. Saraf kranial : dalam batas normal
ii. Saraf motorik : dalam batas normal
iii. Sensibilitas : dalam batas normal
iv. Susunan saraf vegetatif : dalam batas normal
v. Fungsi luhur : dalam batas normal

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT
- pada pasien belum dilakukan pemeriksaan penunjang

VI. FORMULASI DIAGNOSIS
 Laki-laki 43 tahun, menikah, PNS, tinggal dirumah bersama istri dan ketiga anaknya
 Penampilan kurang rapi, perawatan diri pasien kurang baik
 Pasien kooperatif, kontak mata inadekuat, pembicaraan pasien inkoheren
 Mood pasien iritabel, afek pasien depresif dan serasi
 Keluhan pertama kali muncul sejak 2 bulan yang lalu
 Gangguan pada aktivitas sosial
Dari  hasil anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan pada pasien didapatkan  kelainan pola perilaku dan psikologis yang secara klinis bermakna yang dapat menyebabkan timbulnya distress dan disabilitas dalam fungsi sehari-hari maka pasien dikatakan menderita gangguan jiwa.


Diagnosis aksis I
 Tidak terdapat riwayat trauma kepala dan kelainan fisik pada pasien yang menyebabkan disfungsi otak, sehingga pasien ini bukan penderitagangguan mental organik (F.0)
 Pasien tidak pernah  menggunakan obat psikoaktif (NAPZA),  tidak terdapat riwayat mengkonsumsi alkohol sehingga pasien ini bukan menderita gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif (F.1)
 Pada pasien  ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita, yang ditandai dengan adanya halusinasi sehingga pasien ini dikatakan menderita gangguan psikotik(F.2)
 Gangguan berupa halusinasi  sudah berlangsung selama kurang lebih 2 bulan, sehingga pasien adalah penderita skizofrenia (F.20)
 Pada pasien ini terdapat halusinasi auditorik dan waham yang baru berlangsung selama kurang lebih 2 bulan, maka pasien ini dikatakan menderita gangguan Skizofrenia Paranoid (F.20)
Diagnosis Aksis II
Tumbuh kembang normal, sejak sebelum sakit bahkan sekarang saat masih mengalami gangguan, pasien bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain sebagaimana orang normal lainnya. Tidak ada gangguan kepribadian dan  retardasi mental pada pasien. Pasien juga menyelesaikan sekolahnya sampai S2, tidak terdapat retardasi mental. Pada pasien ini aksis II tidak ada diagnosis.


Diagnosis Aksis III
Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan. Pada pasien ini aksis III tidak ada diagnosis.
Diagnosis Aksis IV
Hubungan pasien dengan keluarga inti dan keluarga besar pasien baik. Pasien tinggal dengan seorang istri dan 3 orang anaknya. Perekonomian keluarga saat ini cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan biaya sekolah anaknya dan keluarga sudah memiliki rumah sendiri. Namun pasien mengaku merasa terganggu dengan istrinya yang berselingkuh, merasa bersalah karena pekerjaannya tidak selesai dan masih enggan untuk berinteraksi dengan orang lain. Aksis IV pada pasien ini adalah masalah keluarga, masalah pekerjaan dan masalah sosial.
Diagnosis Aksis V
Pada pasien didapatkan beberapa gejala sedang (moderate), disabilitas sedang. Maka pada aksis V didapatkan GAF Scale 60-51.

VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I
F 20.0 Skizofrenia Paranoid
Aksis II
Tidak ada
Aksis III
Tidak ada
Aksis IV
Masalah keluarga, masalah pekerjaan dan masalah sosial
Aksis V
GAF scale 60 – 51, gejala sedang disabilitas sedang
VI. DIAGNOSIS BANDING
◦ F25.1 Gangguan Skizoafektif tipe depresif
◦ F32.3 Episode depresif berat dengan gejala psikotik
VII. PROGNOSIS
Faktor yang memberikan pengaruh baik:
1. Awitan lambat
2. Awitan akut
3. Faktor pencetus jelas yaitu: data-data penting yang hilang di laptop dan mencurigai bahwa istrinya selingkuh, istri mendukung sepenuhnya untuk pengobatan dan kesembuhan pasien, pertemanan dengan mantan pacarnya di facebook sudah di blokir. Saat ini pasein sudah memiliki laptop baru untuk memulai kembali pekerjaan sampingannya.
4. Riwayat sosial, seksual, dan pekerjaan pramorbid baik
5. Menikah
6. Gejala positif
Faktor yang memberikan pengaruh buruk:
1. Perilaku autistik, menarik diri
2. Gejala negatif
3. Terdapat perilaku menarik diri, lingkungan masyarakat yg sulit bergaul.
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah dubia ad bonam. Sehingga kesimpulan prognosis pada pasien berdasarkan wawancara diatas sebagai berikut:
Quo Ad Vitam : Ad bonam
Quo Ad Functionam : Ad bonam
Quo Ad Sanationam : Dubia Ad bonam

VIII. TERAPI
• Psikofarmaka
Risperidone 2x2 mg
• Psikoterapi & Edukasi
Psikoterapi yang diberikan pasien adalah psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan terapi kognitif-perilaku.
- Psikoterapi suportif  bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens (pertahanan), mendukung fungsi-fungsi ego, memperluas mekanisme pengendalian, perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan.
- Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk meningkatkan insight (pengetahuan pasien) terhadap penyakitnya serta mengembangkan kemampuannya untuk menunjang penyembuhan dirinya. Selain itu juga meningkatkan pengetahuan keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien. Peningkatan pengetahuan dilakukan dengan edukasi baik terhadap pasien maupun keluarga.
- Psikoterapi rekonstruktif bertujuan untuk dicapainya tilikan akan konflik-konflik nirsadar dengan usaha untuk mecapai perubahan struktur luas kepribadian. Membangun kembali kepercayaan diri pasien, menjelaskan kepada pasien bahwa pasien memiliki untuk mencari pekerjaan lain yang diminati oleh pasien. Menolak semua pikiran negatif mengenai dirinya, dan menyarankan untuk tidak menghiraukan suara halusinasi yang mengganggu tersebut. Menyarankan pasien untuk ikut kegiatan social atau berinteraksi dengan lingkungan sekitar rumah.
Edukasi
o Menyarankan kepada keluarga untuk pentingnya dukungan kepada pasien, jangan membatasi aktivitas pasien secara wajar, ajak pasien bergembira, kurangi hal-hal yang dapat memperburuk keadaan pasien.
o Berdiskusi terhadap pentingnya pasien untuk teratur minum obat dan kontrol selain itu kembali menyibukan diri seperti aktivitas dulu, kembali melakukan hal-hal yang menyenangkan, jangan menyimpan emosi, bila mungkin bisa kontrol ke psikiater.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Skizofrenia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.Skizofrenia merupakan suatu sindrom psikotik kronis yang ditandai oleh gangguan pikiran dan persepsi, afek tumpul, anhedonia, deteriorasi, serta dapat ditemukan uji kognitif yang buruk.

2.2 Etiologi
Sampai saat ini penyebab dari gangguan skizofrenia masih belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab skizofrenia, antara lain :
a. Faktor biologis: dapat ditemukan gangguan organik berupa pelebaran ventrikel tiga dan lateral, atropi bilateral lobustemporomedial dan girusparahipokampus serta penurunan korteks prefrontal dorsolateral.
b. Faktor biokimia: gejala psikotik pada pasien skizofrenia timbul diperkirakan adanya gangguan neurotransmitter sentral, yaitu peningkatan aktivitas dopamine. Teori lain mengungkapkan adanya peningkatan serotonin dan norepinefrin pada sistim limbic.
c. Faktor genetik: angka kejadian skizofrenia meningkat pada keluarga dengan riwayat yang sama dan diturunkan secara bermakna, kompleks serta poligen.


2.3 Psikopatologi
Penelitian mutakhir menyebutkan bahwa perubahan-perubahan pada neurotransmiter dan resptor di sel-sel saraf otak (neuron) dan interaksi zat neurokimia dopamin dan serotonin, ternyata mempengaruhi alam pikir, perasaan, dan perilaku yang menjelma dalam bentuk gejala-gejala positif dan negatif skizofrenia.
Gejala negatif Gejala positive
Alogia Halusinasi
Afek datar Delusi
avolition – apatis Tingkah laku aneh
anhedonia – asociality Gangguan berfikir positif formal
Gangguan attensi
Selain perubahan-perubahan yang sifatnya neurokimiawi di atas, dalam penelitian dengan menggunakan CT Scan otak, ternyata ditemukan pula perubahan pada anatomi otak pasien, terutama pada penderita kronis. Perubahannya ada pada pelebaran lateral ventrikel, atrofi korteks bagian depan, dan atrofi otak kecil (cerebellum)
2.4 Manifestasi Klinis
• Gangguan proses pikir: asosiasi longgar, neologisme, klang asosiasi, ekolalia, konkritisasi, alogia.
• Gangguan isi pikir: waham kejar, waham kebesaran, waham rujukan, though of insertion, though of broadcasting.
• Tilikan yang buruk terhadap penyakitnya
• Gangguan persepsi: halusinasi audiotorik, visual, penghidu, ilusi, depersonalisasi, dan derealisasi.
• Gangguan emosi: afek tumpul atau datar, afek tak serasi dan labil



2.5 Diagnosis
DSM IV mempunyai kriteria diagnosis resmi dari American Psychiatric Association untuk skizofrenia:
Kriteria Diagnostik Skizofrenia
1. Berlangsung paling sedikit 6 bulan
2. Penurunan fungsi yang cukup bermakna yaitu dalam bidang pekerjaan, hubungan interpersonal, dan fungsi kehidupan pribadi
3. Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selama periode tersebut
4. Tidak ditemui gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafekif, gangguan mood mayor, autism, atau gangguan organic.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ-III):
• Minimal ada satu gejala dari criteria dibawah ini yang sangat jelas, atau 2 gejala bila tidak terlalu jelas:
1. Thought of echo, thought insertion, thought withdrawl, thought broadcasting
2. Delusion of control, delusion of influence, delusion of passivity, delusion perception.
3. Halusinasi audiotorik
4. Waham yang menetap
• Atau minimal terdapar dua gejala dari criteria di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
1. Halusinasi yang menetap dari pancaindera
2. Arus pikiran yang terputus, atau mengalami sisipan sehingga mengalami inkoherensi
3. Gejala katatonik seperti gaduh gelisah, gangguan postur, flexibilitascerea, negativism, mutism dan stupor.
4. Gejala negative seperti sikap apatis, jarang bicara, respon emosional yang menumpul atau tidak wajar.
• Gejala diatas berlangsung dalam jangka waktu satu bulan atau lebih
• Terdapat perubahan yang konsisten dan bermakna dari aspek perilaku pribadi.
Skizofrenia paranoid : diagnose ini ditegakkan pada penderita usia remaja atau dewasa muda. Pedoman diagnostik PPDGJ-III:
• Memenuhi pedoman diagnostik umum skizofrenia
• Sebagai tambahan:
Halusinasi dan/ atau waham yang harus menonjol:
a. Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing);
b. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol;
c. Waham dapat berupa hamper setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau “passivity” (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas;
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relative tidak nyata/ tidak menonjol.

2.6 Penatalaksanaan
Pengobatan harus secepat mungkin, karena keadaan psikotik yang lama menimbulkan kemungkinan lebih besar penderita menuju ke kemunduran mental.
2.6.1 Farmakoterapi
Indikasi pemberian obat antipsikotik pada skizofrenia adalah untuk mengendalikan gejala aktif dan mencegah kekambuhan. Obat antipsikotik mencakup dua kelas utama: antagonis reseptor dopamin, dan antagonis serotonin-dopamin.

a. Antagonis Reseptor Dopamin
Antagonis reseptor dopamin efektif dalam penanganan skizofrenia, terutama terhadap gejala positif. Obat-obatan ini memiliki dua kekurangan utama. Pertama, hanya presentase kecil pasien  yang cukup terbantu untuk dapat memulihkan fungsi mental normal secara bermakna. Kedua, antagonis reseptor dopamin dikaitkan dengan efek samping yang mengganggu dan serius. Efek yang paling sering mengganggu adalah akatisia dan gejala lir-parkinsonism berupa rigiditas dan tremor. Efek potensial serius mencakup diskinesia tarda dan sindrom neuroleptik maligna.
b. Antagonis Serotonin-Dopamin (SDA)
SDA menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang minimal atau tidak ada, berinteraksi dengan subtipe reseptor dopamin yang berbeda di banding antipsikotik standar, dan mempengaruhi baik reseptor serotonin maupun glutamat. Obat ini juga menghasilkan efek samping neurologis dan endokrinologis yang lebih sedikit serta lebih efektif dalam menangani gejala negatif skizofrenia. Obat yang juga disebut sebagai obat antipsikotik atipikal ini tampaknya efektif untuk pasien skizofrenia dalam kisaran yang lebih luas dibanding agen antipsikotik antagonis reseptor dopamin yang tipikal. Golongan ini setidaknya sama efektifnya dengan haloperidol untuk gejala positif skizofrenia, secara unik efektif untuk gejala negatif, dan lebih sedikit, bila ada, menyebabkan gejala ekstrapiramidal. Beberapa SDA yang telah disetujui di antaranya adalah klozapin, risperidon, olanzapin, sertindol, kuetiapin, dan ziprasidon. Obat-obat ini tampaknya akan menggantikan antagonis reseptor dopamin, sebagai obat lini pertama untuk penanganan skizofrenia.
Pada kasus sukar disembuhkan, klozapin digunakan sebagai agen antipsikotik, pada subtipe manik, kombinasi untuk menstabilkan mood ditambah penggunaan antipsikotik. Pada banyak pengobatan, kombinasi ini digunakan mengobati keadaan skizofrenia.

APG II dalam klinis praktis, memiliki empat keuntungan, yaitu:
1. APG II menyebabkan EPS jauh lebih kecil dibandingkan APG I, umunya pada dosis terapi sangat jarang terjadi EPS.
2. APG II dapat mengurangi gejala negatif  dari skzofrenia dan tidak memperburuk gejala negatif seperti yang terjadi pada pemberian APG I.
3. APG II menurunkan gejalan afektif dari skizofrenia dan sering digunakan untuk pengobatan depresi dan gangguan bipolar yang resisten.
4. APG II menurunkan gejala kognitif pada pasien skizofrenia dan penyakit Alzheimer.
Kategori obat: Antipsikotik – memperbaiki psikosis dan kelakuan agresif.
Nama Obat
Haloperidol (Haldol) dan Clorpromazin
Digunakan untuk manajemen psikosis, saraf motorik dan suara pada anak dan orang dewasa. Mekanisme tidak secara jelas ditentukan, tetapi merupakan competively blocking postsynaptic dopamine (D2)reseptor dalam sistem mesolimbik dopaminergik, dengan meningkatnya pergantian dopamin untuk efek penenang. Dengan terapi subkronik, depolarisasi dan D2 postsinaptik dapat memblokir aksi antipsikotik.
Risperidone (Risperdal) Monoaminergik selektif mengikat reseptor D2 dopamin selama 20 menit, afinitasnya lebih rendah dibandingkan reseptor 5-HT2. Juga mengikat reseptor alfa1-adrenergik dengan afinitas lebih rendah dari H1-histaminergik dan reseptor alpha2-adrenergik. Memperbaiki gejala negatif pada psikosis dan menurunkan kejadian pada efek ekstrpiramidal.
Olanzapine (Zyprexa) Antipsikotik atipikal dengan profil farmakologis yang melintasi sistem reseptor (seperti serotonin, dopamin, kolinergik, muskarinik, alpha adrenergik, histamin). Efek antipsikotik berupa perlawanan terhadap dopamin dan reseptor serotonin tipe-2. Diindikasikan untuk pengobatan psikosis dan gangguan bipolar.
Clozapine (Clozaril) Memblokir aktifitas reseptor D2 dan D1, tetapi memiliki efek dalam menghambat nonadrenolitik, antikolinergik, antihistamin secara signifikan, tepatnya antiserotonin. Resiko terbatasnya penggunaan agranulositosis pada pasien nonresponsif atau agen neuroleptik klasik tidak ditoleransi.
Quetiapine (Seroquel) Antipsikotik terbaru untuk penyembuhan jangka panjang. Mampu melawan efek dopamine dan serotonin. Perbaikan lebih awal antipsikotik termasuk efek antikolinergik dan kurangnya distonia, parkinsonism, dan tardif diskinesia.
Aripiprazole (Abilify) Memperbaiki gejala positif dan negatif skizofrenia. Mekanisme kerjanya belum diketahui, tetapi hipotesisnya berbeda dari antipsikotik lainnya. Aripiprazole menimbulkan  parsial dopamin (D2) dan serotonin (5HT1A) agonis, dan antagonis serotonin (5HT2A).

Nama Obat Sediaan Dosis Anjuran
Haloperidol (Haldol) Tab. 2 – 5 mg 5 – 15 mg/hari
Clorpromazin Tab 100 mg 100 – 1000 mg/hari
Risperidone (Risperdal) Tab. 1 – 2 – 3 mg 2 – 6 mg/hari
Olanzapine (Zyprexa) Tab. 5 – 10 mg 10 – 20 mg/hari
Clozapine (Clozaril) Tab. 25 – 100 mg 25 – 100 mg/hari
Quetiapine (Seroquel) Tab. 25 – 100 mg
200 mg 50 – 400 mg/hari
Aripiprazole (Abilify) Tab. 10 – 15 mg 10– 15 mg/hari

2.6.2 Terapi Psikososial
c. Terapi perilaku
Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan  sosialuntuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi  diri sendiri, latihan praktis,dan komunikasi interpersonal.Perilaku  adaptif  adalah  didorong denganpujian atau hadiah  yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa dan pas jalan di rumah sakit.1
d. Terapi berorientasi keluarga
Terapiini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali  dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluarga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga  yang singkat namun intensif  (setiap  hari). Setelah periode pemulangan  segera, topik penting  yang dibahas didalam terapi keluarga  adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya.Seringkali,anggota  keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang  terkena  skizofrenia  untuk melakukan  aktivitas  teratur  terlalu  cepat.
Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan  tentang sifat skizofreniadan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya. Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia  tanpa menjadi  terlalu mengecilkan  hati.1
e. Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana,masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin  terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau  tilikan,  atau  suportif. Terapi  kelompok  efektif  dalam menurunkan isolasi  sosial,  meningkatkan rasa persatuan, dan  meningkatkan  tes  realitas  bagi  pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam carainterpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.1
f. Psikoterapi individual
Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien  non-psikotik.  Pengamatan  yang  cermat dari  jauh  dan  rahasia,  perintah  sederhana,  kesabaran,  ketulusan  hati,  dan  kepekaan  terhadap kaidah  sosial  adalah  lebih  disukai  daripada  informalitas  yang  prematur  dan  penggunaan  nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.
g. Perawatan di Rumah Sakit
Indikasi  utama  perawatan  rumah  sakit  adalah  untuk  tujuan  diagnostik,  menstabilkan medikasi,  keamanan  pasien  karena  gagasan  bunuh  diri  atau  membunuh,  prilaku  yang  sangat kacau termasuk ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Perawatan di rumah  sakit menurunkan  stres  pada  pasien  dan membantu mereka menyusun aktivitasharian mereka. Lamanya perawatan rumah  sakit tergantung dari keparahan penyakit pasiendan tersedianya fasilitas  pengobatan rawat jalan. Rencana pengobatan di rumah sakit harus  memiliki orientasi praktis ke arah masalah kehidupan, perawatan  diri,  kualitas hidup, pekerjaan, dan hubungan sosial. Perawatan  di  rumah  sakit  harus diarahkan untuk  mengikat pasien  dengan  fasilitas  perawatan  termasuk  keluarga  pasien. Pusat  perawatan  dan  kunjungan keluarga pasien kadang membantu pasien dalam memperbaiki kualitas hidup.
h. Terapi kejang listrik. Terapi ini dilakukan dengan menempelkan 2 buah electrode di bagian temporal kepala dan mengalirinya dengan listrik. Diharapkan dengan adanya aliran listrik itu akan merangsang kejang seperti pada epilepsi granmal.






















BAB III
PEMBAHASAN
Dari hasil wawancara tidak terdapat riwayat trauma kepala dan kelainan fisik pada pasien yang menyebabkan disfungsi otak, sehingga pasien ini bukan penderita gangguan mental organik (F.0)
Pasien tidak pernah  menggunakan obat psikoaktif (NAPZA),  tidak terdapat riwayat mengkonsumsi alkohol sehingga pasien ini bukan menderita gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif (F.1).
Melalui hasil wawancara, ditemukan adanya gangguan proses pikir berupa asosiasi longgar, gangguan isi pikir berupa: waham kejar, waham control, waham curiga, waham cemburu dan waham bizarre. Terdapat gangguan persepsi berupa halusinasi audiotorik. Gangguan emosi berupa mood iritabel dan afek tumpul. sehingga pasien ini dikatakan menderita gangguan psikotik(F.2).
Diagnosis skizofrenia pada pasien ini sudah tepat menurut pedoman diagnostik PPDGJ-III dimana ditemukan delusion of control, halusinasi auditorik dan waham yang menetap; halusinasi yang menetap dari pancaindera, arus pikiran yang tidak stabil; gejala berlangsung selama 2 bulan; dan terdapat perubahan yang konsisten dan bermakna dari aspek perilaku pribadi sehingga pasien adalah penderita skizofrenia (F.20). Pada pasien ini, skizofrenia yang dialami adalah tipe paranoid karena perilaku pasien yang merasa bahwa semua orang membicarakan dan mengejek dirinya, merasa bahwa ada orang yang akan memasuki rumahnya dan perasaan bahwa dirinya dikendalikan oleh kekuatan dari luar, dengan afek tumpul dan disorganisasi proses pikir. Maka pasien ini dikatakan menderita gangguan Skizofrenia Paranoid (F.20).
Tumbuh kembang normal, sejak sebelum sakit bahkan sekarang saat masih mengalami gangguan, pasien bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain sebagaimana orang normal lainnya. Tidak ada gangguan kepribadian dan  retardasi mental pada pasien. Pasien juga menyelesaikan sekolahnya sampai S2, tidak terdapat retardasi mental. Pada pasien ini aksis II tidak ada diagnosis.
Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan. Pada pasien ini aksis III tidak ada diagnosis.
Hubungan pasien dengan keluarga inti dan keluarga besar pasien baik. Pasien tinggal dengan seorang istri dan 3 orang anaknya. Perekonomian keluarga saat ini cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan biaya sekolah anaknya dan keluarga sudah memiliki rumah sendiri. Namun pasien mengaku merasa terganggu dengan istrinya yang berselingkuh, merasa bersalah karena pekerjaannya tidak selesai dan masih enggan untuk berinteraksi dengan orang lain. Aksis IV pada pasien ini adalah masalah keluarga, masalah pekerjaan dan masalah sosial.
Pada pasien didapatkan beberapa gejala sedang (moderate), disabilitas sedang. Maka pada aksis V didapatkan GAF Scale 60-51.
Pasien ini diberikan terpai risperidone yang merupakan monoaminergik selektif mengikat reseptor D2 dopamin selama 20 menit, afinitasnya lebih rendah dibandingkan reseptor 5-HT2. Juga mengikat reseptor alfa1-adrenergik dengan afinitas lebih rendah dari H1-histaminergik dan reseptor alpha2-adrenergik. Memperbaiki gejala negatif pada psikosis dan menurunkan kejadian pada efek ekstrpiramidal.
SDA menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang minimal atau tidak ada, berinteraksi dengan subtipe reseptor dopamin yang berbeda di banding antipsikotik standar, dan mempengaruhi baik reseptor serotonin maupun glutamat. Obat ini juga menghasilkan efek samping neurologis dan endokrinologis yang lebih sedikit serta lebih efektif dalam menangani gejala negatif skizofrenia. Obat ini tampaknya efektif untuk pasien skizofrenia dalam kisaran yang lebih luas dibanding agen antipsikotik antagonis reseptor dopamin yang tipikal. Golongan ini setidaknya sama efektifnya dengan haloperidol untuk gejala positif skizofrenia, secara unik efektif untuk gejala negatif, dan lebih sedikit, bila ada, menyebabkan gejala ekstrapiramidal. Beberapa SDA yang telah disetujui di antaranya adalah klozapin, risperidon, olanzapin, sertindol, kuetiapin, dan ziprasidon. Obat-obat ini tampaknya akan menggantikan antagonis reseptor dopamin, sebagai obat lini pertama untuk penanganan skizofrenia.
Pada kasus sukar disembuhkan, klozapin digunakan sebagai agen antipsikotik, pada subtipe manik, kombinasi untuk menstabilkan mood ditambah penggunaan antipsikotik. Pada banyak pengobatan, kombinasi ini digunakan mengobati keadaan skizofrenia.
APG II dalam klinis praktis, memiliki empat keuntungan, yaitu:
1. APG II menyebabkan EPS jauh lebih kecil dibandingkan APG I, umunya pada dosis terapi sangat jarang terjadi EPS.
2. APG II dapat mengurangi gejala negatif  dari skzofrenia dan tidak memperburuk gejala negatif seperti yang terjadi pada pemberian APG I.
3. APG II menurunkan gejalan afektif dari skizofrenia dan sering digunakan untuk pengobatan depresi dan gangguan bipolar yang resisten.
4. APG II menurunkan gejala kognitif pada pasien skizofrenia dan penyakit Alzheimer.
Tablet trihexyphenidyl dapat diberikan  jika efek ekstrapiramidal muncul. Gejala tersebut seperti distonia akut, akatisia dan sindrom parkinsonisme (tremor,bradikinesia,rigiditas). Obat ini tergolong obat antikolinergik sehingga efek terhadap gejala ektrapiramidal.
Rencana terapi selanjutnya sudah tepat dimana diperlukan psikoterapi dan edukasi serta terapi kejang listrik.
Diagnosis banding dari masalah kejiwaan pasien adalah gangguan skizoafekif tipe depresif (F.25.1), dimana dari gejala-gejala skizofrenia dan afektif yang sama – sama menonjol.  Gejala skizofrenia yang muncul seperti waham curiga menetap, halusinasi audio, adanya delusion of control, delusion of passivity, serta gejala afek depresi yang terlihat murung, malas keluar melakukan aktifitas, tidak percaya diri, gangguan tidur, nafsu  makan berkurang.  Selain itu diagnosis banding kedua yang mungkin adalah Episode depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3).  gejala yang terlihat seperti adanya 3 gejala khas depresi disertai gejala depresif tambahan, kemudian disertai dengan waham, halusinasi.  Berdasarkan gejala yang muncul tersebut maka kedua diagnosis banding tersebut dapat ditegakkan.




























BAB IV
LAPORAN HOME VISIT

A. RIWAYAT GANGGUAN SEKARANG
Saat ini pasien masih marah-marah di rumah dan cemburu dengan istrinya pasien juga masih mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa istrinya selingkuh.
1 minggu ini, pasien masih belum bersemangat untuk melakukan aktivitas seperti mengajar seperti biasanya. malas untuk masuk kerja Kemudian menurut istrinya, sesekali pasien masih terlihat mondar-mandire pada malam hari. Ia juga masih belum mau menghadapi laptop.

B. IDENTIFIKASI KELUARGA PASIEN
Keluarga pasien merupakan keluarga inti yang harmonis, dimana istri dan anak-anak pasien sangat mendukung semua kegiatan pasien. Hubungan antar keluarga harmonis, saling mengasihi dan menyayangi. Istri pasien merupakan ibu rumah tangga yang menhabiskan waktu untuk melayani suaminya di rumah..

C. KEADAAN SOSIAL EKONOMI
Keadaaan sosial ekonomi pasien menengah ke atas, pasien tinggal di rumah bersama istri dan kedua anaknya. Rumah pasien merupakan rumah milik sendiri, keadaan rumah bersih dan rapi, luas rumah kira-kira 10x20 m2 , rumah berada di lingkungan yang baik, kegiatan sosial di sekitar rumah aktif diikuti oleh pasien. Pasien mengenal tetangga di sekitar rumah, hubungan pasien dengan tetangga baik, tetapi kurang akrab.

D. SIKAP KELUARGA TERHADAP ANGGOTA KELUARGA YANG MENDERITA SKIZOFRENIA
Istri pasien mengantar suaminya pergi berobat ke RSKJ Soeprapto. setelah mengetahui bahwa suaminya sering marah, berbicara sendiri dan memecahkan kaca lemari. Setelah mengetahui pasien menderita skizofrenia istri pasien sangat mendukung kesembuhan pasien, dan akan mengingatkan pasien untuk minum obat secara teratur serta akan membantu pasien untuk menghilangkan depresinya.  

E. EDUKASI KEPADA KELUARGA
- Diberikan informasi mengenai penyebab penyakit yang dialami pasien sehingga keluarga dapat membantu dalam proses pengobatan pasien yaitu dengan cara meyakinkan pasien bahwa suara-suara yang ia dengar sebenarnya tidak ada sama sekali, memberi motivasi kepada pasien untuk sembuh dan membantu menghilangkan stress yang di alami pasien serta membantu mengontrol kepatuhan pasien minum obat.
- Menyarankan kepada keluarga untuk pentingnya dukungan kepada pasien, jangan membatasi aktivitas pasien secara wajar, ajak pasien bergembira, kurangi hal-hal yang dapat meningkatkan stresor.

F. LAMPIRAN









DAFTAR PUSTAKA
1. Buchanan RW, Carpenter WT. Concept of Schizophrenia. In: Sadock BJ, Sadock VA, eds. Kaplan & Sadock`s Comprehensive Textbook of Psychiatry. 8th ed. Philadhelpia: Lippincott Williams & Wilkins, 2005.p.1329.
2. Elvira, Sylvia dan GitayantiHadisukanto. Buku Ajar Psikiatri. Edisi ke-2. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. 2013. P.173-185.
3. Diatri, Hervita dan SeltiRosani. Skizofrenia dalam Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV jilid II. Jakarta : Media Aesculapius. 2014. P.910-912.
4. Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis gangguan Jiwa-PPDGJ III. Jakarta: Badan Ilmu Kedokteran Jiwa FK-UnikaAtmajaya. 2003

nurafni

Posts : 7
Reputation : 0
Join date : 2015-10-22

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum