MOTIF PASIEN PENYALAH GUNA ZAT DALAM KEPATUHAN BEROBAT: SUATU TINJAUAN PUSTAKA

View previous topic View next topic Go down

MOTIF PASIEN PENYALAH GUNA ZAT DALAM KEPATUHAN BEROBAT: SUATU TINJAUAN PUSTAKA

Post by auliarahardjo on Sun Nov 01, 2015 7:31 pm

REFERAT

MOTIF PASIEN PENYALAH GUNA ZAT DALAM KEPATUHAN BEROBAT: SUATU TINJAUAN PUSTAKA







Oleh :
Aulia Prajwalita Nareswari Rahardjo, S.Ked.


Pembimbing :
dr. Andri Sudjatmoko, Sp.KJ


KEPANITERAAN KLINIK PSIKIATRI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
BENGKULU
2015


PERNYATAAN PERSETUJUAN REFERAT

MOTIF PASIEN PENYALAH GUNA ZAT DALAM KEPATUHAN BEROBAT: SUATU TINJAUAN PUSTAKA



Disusun Oleh :
Aulia Prajwalita Nareswari Rahardjo
H1AP09009



Disetujui Oleh :




Pembimbing




dr. Andri Sudjatmoko, Sp.KJ
NIP. 1959042219880311001





DAFTAR ISI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Di Indonesia diperkirakan jumlah penyalah guna narkoba diperkirakan ada sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah pakai narkoba dalam setahun terakhir (current users) pada kelompok usia 10-59 tahun di tahun 2014.1 Hasil proyeksi angka prevalensi penyalahguna narkoba akan meningkat setiap tahun. Fakta tersebut di dukung oleh adanya kecenderungan peningkatan angka sitaan dan pengungkapan kasus narkoba.1
Penyalah guna narkoba merupakan masalah public yang cukup umum. Masalah biaya akibat penyalahgunaan cukup lu as, meliputi: peningkatan biaya pemeliharaan kesehatan, kematian usia muda, kehilangan pendapatan, peningkatan biaya pekerja, masalah kriminal, dan lain-lain.1
Di Indonesia, dampak sosial dan ekonomi perdagangan dan penyalahgunaan narkoba sangat mengkhawatirkan. Kerugian sosial-ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba cenderung meningkat dari tahun ke tahun, dari Rp. 23,6 trilyun di 2004 menjadi Rp. 48 trilyun (2008). Walaupun jumlah penyalahguna cenderung stabil, namun jumlah kasus narkoba yang diungkap meningkat di tahun 2012 ke 2013. Angka-angka yang dilaporkan ini hanya puncak gunung es dari masalah narkoba yang jauh lebih besar.1
Pemerintah sejauh ini mendukung adanya upaya untuk terapi pecandu narkoba.Kebijakan terkini adalah kebijakan terkait Pelaksanaan Wajib lapor Pecandu Narkotika. Kebijakan ini mengarahkan pengguna narkotika dan zat adiktif agar melakukan lapor diri untuk menjalani rehabilitasi di fasilitas atau institusi penerima wajib lapor (IPWL) yang sudah ditetapkan. Sambutan terhadap kebijakan ini sangat positif karena semua setuju bahwa penjara tidak akan meyelesaikan masalah ketergantungan dari pengguna narkoba. Kini, program penanganan narkoba telah melibatkan banyak lintas sector terkait. Telah ada beberapa peraturan menteri dan keputusan menteri yang mendukung program IPWL, khususnya dari kementerian kesehatan dan kementerian sosial.2
Meskipun efikasi dan efektivitas terapi dan rehabilitasi NAPZA telah cukup bukti menguntungkan, agar pengobatan dapat berhasil dan menguntungkan, klien harus dapat patuh dan bertahankan dalam proses ini. Hal ini merupakan suatu tantangan oleh karena tingginya tingkat putusnya terapi dan rehabilitasi.3 Misalnya, terdapat temuan bahwa sekitar sepertiga dari klien tidak kembali mematuhi program setelah menjalankan terapi dan rehabilitasi awal. Setelah klien terlibat dalam perawatan, tingkat drop-out telah dilaporkan sekitar 65% (dan sampai 75%) dan klien-klien yang meninggalkan pengobatan cenderung melakukannya di awal proses (yaitu, sebelum menyelesaikan setengah dari rejimen pengobatan) Drop-out di fase rawat jalan lebih buruk lagi, melebihi 70%.4 Retensi atau kepatuhan klien telah diidentifikasi sebagai variabel yang paling penting dengan hasil pengobatan dan dengan demikian, telah dianggap sebagai titik ukur kritis keberhasilan suatu program terapi.3
Tidak hanya luaran terapi klien yang dipengaruhi oleh retensi atau kepatuhan klien dalam program terapi dan rehabilitasi penyalahgunaan zat. Retensi klien yang buruk memiliki implikasi negatif yang jelas terhadap instansi pemberi pelayanan. Retensi yang buruk merupakan hal problematis karena drop-out di awal mengeluarkan biaya besar, dan menghabiskan waktu staf kesehatan.3 Oleh karena itu, penting untuk diketahui penyebab dari keinginan dan penyebab seseorang untuk patuh dan tidak patuh terhadap program terapi.
1.2 Tujuan

Tujuan penulisan adalah sebagai berikut:
1. Tujuan umum
Tujuan umum penulisan referat ini untuk mengetahui hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan terapi dan rehabilitasi NAPZA
2. Tujuan khusus
Tujuan khusus referat ini adalah untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal klien terapi dan rehabilitasi NAPZA dalam mencari pengobatan, hal-hal yang membuat pecandu tidak mencari pengobatan, dan hal-hal yang mempengaruhi klien untuk menyelesaikan pengobatan.

1.3 Rumusan pertanyaan

Bertolak dari latar belakang tersebut, terdapat beberapa pertanyaan yang menjadi pemicu tinjauan pustaka ini yaitu:
1. Apa saja faktor internal dan eksternal klien terapi dan rehabilitasi NAPZA yang mempengaruhi untuk mencari pengobatannya?
2. Apa saja alasan-alasan seseorang untuk tidak mencari pengobatan ketergantungan zat?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi klien untuk menyelesaikan terapi dan rehabilitasi NAPZA?

1.4 Batasan masalah

Oleh karena luasnya masalah ini, maka penulisan ini hanya sebatas identifikasi faktor internal dan eksternal klien yang menjadi motif untuk mencari pengobatan. Selain itu, referat ini juga mencantumkan prediktor keberhasilan terapi dan rehabilitasi narkoba sebatas faktor internal atau individual klien saja dan telah terbukti berhubungan langsung dengan proses kepatuhan atau kelengkapan terapi dan rehabilitasi narkoba dan zat adiktif lainnya.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Narkotika
2.1.1 Definisi
Narkotika merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.5
Menurut WHO penyalahgunaan zat adalah pemakaian terus-menerus atau jarang tetapi berlebihan terhadap suatu zat atau obat yag sama sekali tidak ada kaitannya dengan terapi medis. Zat yang dimaksud adalalah zat psikoaktif yang berpengaruh pada sistem saraf pusat (otak) dan dapat mempengaruhi kesadaran, perilaku, pikiran, dan perasaan. Sedangkan Ketergantungan NAPZA adalah keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah (toleransi), apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus zat (withdrawal symptom). Oleh karena itu ia selalu berusaha memperoleh NAPZA yang dibutuhkannya dengan cara apapun, agar dapat melakukan kegiatannya sehari-hari secara “normal”.5
2.1.2 Etiologi
Seperti pada semua gangguan psikiatrik lainnya, terdapat berbagai teori penyebab awal berkembangnya suatu gangguan yang bersumber dari model psikodinamika. Model selanjutnya meminta penjelasan perilaku, genetika, dan neurokimiawi. Model penyebab yang paling baru untuk penyalahgunaan zat memasukkan keseluruhan rentang teori-teori tersebut. 2


a. Teori Psikososial dan Psikodinamika
Pendekatan psikodinamika untuk seseorang dengan penyalahgunaan zat adalah diterima dan dinilai secara lebih luas daripada dalam pengobatan pasien alkoholik. Berbeda dengan pasien alkoholik, mereka dengan penyalahgunaan polisubstansi adalah lebih mungkin memiliki masa anak-anak yang tidak stabil, lebih mungkin mengobati diri sendiri dengan zat, dan lebih mungkin mendapatkan manfaat dari psikoterapi. Penelitian yang cukup banyak menghubungkan gangguan kepribadian dengan perkembangan ketergantungan zat.
Teori psikososial lain menjelaskan hubungan dengan keluarga dan dengan masyarakat pada umumnya. Terdapat banyak alasan untuk mencurigai suatu peranan masyarakat dalam perkembangan pola penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat. Tetapi, bahkan dalam tekanan sosial tersebut, tidak semua anak mendapatkan diagnosis penyalahgunaan zat atau ketergantungan zat, jadi mengarahkan kemungkinan adanya keterlibatan fakrot penyebab lainnya.
b. Koadiksi
Konsep koadiksi atau kodependensi telah menjadi popular dalam tahun-tahun terakhir. Koadiksi terjadi jika lebih dari satu orang, biasanya suatu pasangan, mempunyai hubungan yang terutama bertanggungjawab untuk mempertahankan perilaku adiktif pada sekurang-kurangnya satu orang. Masing-masing orang mungkin memiliki perilaku membolehkan yang dapat mengekalkan situasi, dan penyangkalan situasi diperlukan untuk berkembangnya hubungan ‘dyadic’ tersebut. Pengobatan situasi koadiktif tersebut mengarah langsung pada elemen-elemen perilaku membolehkan dan penyangkalan.
c. Teori Perilaku
Beberapa model perilaku penyalahgunaan zat telah dipusatkan pada perilaku mencari zat (substance seeking behavior), ketimbang pada gejala ketergantungan fisik. Agar suatu model perilaku memiliki relevansi dengan semua zat, model tidak boleh tergantung pada adanya gejala putus zat atau toleransi, karena banyak zat yang disalahgunakan adalah tidak disertai dengan perkembangan ketergantungan fisiologis. Prinsip pertama dan kedua adalah kualitas pendorong positif dan efek merugikan dari beberapa zat. Sebagian besar zat yang disalahgunakan adalah disertai dengan suatu pengalaman positif setelah digunakan untuk pertama kalinya; jadi, zat bertindak sebagai suatu pendorong postitif untuk perilaku mencari zat. Banyak zat juga disertai dengan efek merugikan, yang bertindak menurunkan perilaku mencari zat. Ketiga, orang harus mampu membedakan zat yang disalahgunakan dari zat lainnya. Keempat, hampir semua perilaku mencari zat disertai dengan petunjuk lain yang menjadi berhubungan dengan pengalaman menggunakan zat.
d. Teori Genetika
Bukti-bukti kuat dari penelitian pada anak kembar, anak angkat, dan saudara kandung telah menimbulkan indikasi yang jelas bahwa penyalahgunaan alkohol mempunyai suatu komponen genetika dalam penyebabnya. Terdapat banyak data yang kurang menyakinkan dimana jenis lain penyalahgunaan atau ketergantungan zat memiliki pola genetika dalam perkembangannya. Tetapi, beberapa penelitian telah menemukan suatu dasar genetika untuk ketergantungan dan penyalahgunaan zat non alkohol. Baru-baru ini, peneliti telah menggunakan teknologi RFLP (Restriction Fragment Length Polumorphism) dalam meneliti penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat, dan beberapa laporan hub ungan RFLP telah diterbitkan.
e. Teori Neurokimiawi
Untuk sebagian besar zat yang disalahgunakan, dengan pengecualian alkohol, peneliti telah menemukan neurotransmitter atau reseptor neurotransmitter tertentu dimana zat menimbulkan efeknya. Sebagai contohnya, opiat bekerja pada reseptor opiat. Jadi, seseorang yang memiliki aktivitas opiat endogen yang terlalu kecil (sebagai contohnya, konsentrasi endorphin yang terlalu rendah) atau yang memiliki aktivitas antagonis opiat endogen yang terlalu banyak mungkin berada pada risiko untuk berkembangnya ketergantungan opioid. Beberapa peneliti sedang mengikuti jenis hipotesis tersebut dalam penelitiannya. Bahkan pada seseorang dengan fungsi reseptor dan konsentrasi neurotransmitter endogen yang normal seluruhnya, penggunaan zat jangka panjang akhirnya dapat memodulasi sistem reseptor tersebut di dalam otak, sehingga otak memerlukan adanya zat eksogen untuk mempertahankan homeostasis. Proses di tingkat reseptor tersebut mungkin merupakan mekanisme untuk berkembangnya toleransi pada sistem saraf pusat. Tetapi, pada kenyataannya modulasi pelepasan neurotransmitter dan fungsi reseptor neurotransmitter terbukti sulit untuk ditunjukkan, dan penelitian terakhir memusatkan pada efek zat pada sistem pembawa pesan kedua (second messenger) dan pada pengaturan gen.
f. Jalur dan neurotransmitter
Neurotransmitter utama yang mungkin terlibat dalam perkembangan penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat adalah sistem opiat, katekolamin (khususnya dopamine), dan GABA. Dan yang memiliki kepentingan khusus adalah neuron di daerah tegmental ventral yang berjalan ke daerah kortikal dan limbic, khususnya nucleus akumbens. Jalur khusus tersebut diperkirakan terlibat dalam sensasi menyenangkan (reward sensation) dan diperkirakan merupakan mediator utama untuk efek dari zat tertentu seperti amfetamin dan kokain. Lokus sereleus, kelompok terbesar neuron adrenergic, diperkirakan terlibat dalam perantara efek opiat dan opioid.
2.1.3 Indikasi terapi dan rehabilitasi narkoba6
Indikasi seseorang untuk ditetapkan menjalankan program terapi dan rehabilitasi umumnya tidak ada criteria khusus. Akan tetapi, American Society Addiction Medicine (ASAM), menganggap penting untuk membuat suaru criteria menempatkan pasien dalam tingkat pengobatan agar diketahu situasi program yang seperti apa yang akan cocok dengan kondisi pasien. Ada enam dimensi yang harus dievaluasi dalam memutuskan penempatan bagi pasien, yaitu:
a. Kondisi intoksikasi akut atau potensi untuk terjadi putus zat
b. Kondisi medis dan penyakit komplikasi yang ada
c. Kondisi emosi, perilaku, atau kognitif dan komplikasi yang ada
d. Kesiapan untuk berubah
e. Kekambuhan, keinginan untuk tetap menggunakan, masalah lain yang potensial terjadi
f. Pemulihan lingkungan tempat tinggal.
Selain masalah indikasi, beberapa hal berikut dapat menjadi pertimbangan kriteria penempatan pasien apapkah dilakukan terapi rawat jalan atau rawat inap
Tabel 1. Pertimbangan dan indikasi penempatan pasien untuk rawat jalan atau rawat inap
Pertimbangan Indikasi
Mampu untuk datang ke klinik setiap hari Diperlukan jika rawat jalan detoksifikasi tersedia
Riwayat sebelumnya mengalami delirium tremens atau kejang karena putus zat Kontra indikasi untuk detoksifikasi rawat jalan; kondisi bisa berulang sehingga diperlukan setting detoksifikasi yang spesifik diusahakan rawat jalan sebisa mungkin
Tidak mempunyai kemampuan untuk “informed consent” Dibutuhkan detoksifikasi rawat inap dengan lingkungan yang terindikasi dapat melindungi pasien
Bunuh diri/melukau orang lain/ kondisi Psikotik Dibutuhkan detoksifikasi rawat inap dengan lingkungan yang terindikasi dapat melindungi pasien dan aman bagi orang lain
Mampu/mau untuk menjalankan rekomendasi pengobatan Detoksifikasi rawat inap dengan lingkungan terlindung idindikasina apabila tidka menjalankan rekomendasi
Kondisi dengan komplikasi medis Kondisi medis yang tidak stabil seperti diabetes, hipertensi, atau kehamilan; kontraindikasi kuat. Tidak dilakukan detoksifikasi dengan rawat jalan
Tersedia dukungan orang lain untuk membantu Tidak harus tetapi dapat disarankan untuk detoksifikasi rawat jalan

2.2 Motivasi
2.2.1 Pengertian Motivasi
Secara etimologis, motif berasal dari kata motion, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Jadi istilah motif erat kaitannya dengan gerak, yakni gerakan yang dilakukan oleh manusia disebut juga dengan perbuatan atau tingkah laku. Dalam psikologi, motif berarti rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu tingkah laku.7
Motivasi merupakan istilah yang lebih umum yang menujuk pada seluruh proses gerakan, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu, tingkah laku yang ditimbulkannya dan tujuan atau akhir dari gerakan atau perbuatan. Motivasi itu berarti membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak, menggerakkan seseorang atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu.7 Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Motivasi adalah suatu arahan, dorongan, dan sejumlah usaha yang dikeluarkan seseorang untuk mencapai tujuan yang spesifik.8
2.2.2 Jenis-jenis motivasi
Motivasi terbagi menjadi 2 (dua) jenis yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
a. Motivasi Instrinsik8
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik datang dari hati sanubari umumnya karena kesadaran yang timbul dari dalam diri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi intrinsik yaitu :
1) Kebutuhan
Seseorang melakukan aktivitas (kegiatan) karena adanya faktor-faktor kebutuhan baik biologis maupun psikologis.
2) Harapan
Seseorang dimotivasi oleh karena keberhasilan dan adanya harapan keberhasilan bersifat pemuasan diri seseorang, keberhasilan dan harga diri meningkat dan menggerakkan seseorang ke arah pencapaian tujuan.
3) Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keinginan pada suatu hal tanpa ada yang menyuruh.

b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang atau pengaruh dari orang lain sehingga seseorang berbuat sesuatu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi ekstrinsik adalah 8:
1) Dorongan Keluarga
Dorongan keluarga merupakan desakan atau anjuran yang berasal dari sanak saudara atau kaum kerabat.
2) Lingkungan
Lingkungan adalah tempat dimana seseorang tinggal. Lingkungan dapat mempengaruhi seseorang sehingga dapat termotivasi untuk melakukan sesuatu. Selain keluarga, lingkungan juga mempunyai peran yang besar dalam memotivasi seseorang dalam merubah tingkah lakunya. Dalam sebuah lingkungan yang hangat dan terbuka, akan menimbulkan rasa kesetiakawanan yang tinggi.
3) Imbalan
Seseorang dapat termotivasi karena adanya suatu imbalan sehingga orang tersebut ingin melakukan sesuatu.

2.2.3 Motivasi Kebutuhan Maslow 8
Maslow (1993) menjelaskan lima tingkat kebutuhan dalam hierarki Maslow:
a. Kebutuhan Fisiologis
Berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan utama, dasar dan esensial yang harus dipenuhi oleh tiap manusia untuk mempertahankan diri sebagai makhluk, kebutuhan ini mencakup misalnya udara, makan, minum, pakaian, tempat tinggal atau penginapan, istirahat, pemenuhan seksual.
b. Kebutuhan Keamanan
Apabila kebutuhan fisiologis cukup dipenuhi, maka kebutuhan pada tingkatan berikut yang lebih tinggi yakni kebutuhan akan keamanan, mulai mendominasi kebutuhan manusia. Kebutuhan keamanan harus dilihat dalam arti luas, tidak hanya dalam arti keamanan fisik akan tetapi keamanan fisiologi. Kebutuhan ini berkaitan dengan kebutuhan akan rasa aman dan proteksi diri, ancaman atau gangguan dari luar. Kebutuhan ini mencakup misalnya keamanan, keselamatan, kesehatan, perlindungan, kompetensi, stabilitas.
c. Kebutuhan Sosial
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan manusia untuk menjadi bagian dari kelompok, mencintai, dicintai orang lain dan bersahabat. Manusia pada dasarnya selalu ingin hidup berkelompok dan tidak seorangpun manusia ingin hidup menyendiri ditempat terpencil. Oleh karena manusia adalah makhluk sosial, maka sudah jelas menginginkan kebutuhan-kebutuhan sosial.
d. Kebutuhan Penghargaan
Kebutuhan ini berkaitan dengan keinginan manusia, untuk dihormati dan dihargai orang lain sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan ingin punya status, pengakuan serta penghargaan prestise timbul karena adanya prestasi, tetapi tidak selamanya demikian. Prestasi dan status dimanifestasikan oleh banyak hal yang digunakan sebagai simbol status. Kebutuhan ini artinya adalah respek diri dan respek orang lain, mencakup misalnya penghargaan, pengakuan, status, prestise, kekuasaan dan, perasaan dapat menyelesaikan sesuatu.
Keinginan atau hasrat kompetitif untuk menonjol, untuk melampaui prestasi orang lain lebih dikatakan merupakan sebuah sifat universal manusia. Kebutuhan pokok akan penghargaan ini, apabila dimanfaatkan secara tepat dapat menyebabkan timbulnya kinerja keorganisasian yang luar biasa. Kebutuhan akan penghargaan ini jarang sekali terpenuhi secara sempurna bahkan kita dapat mengatakan bahwa mereka kiranya tidak pernah terpuaskan.
e. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang sehingga membutuhkan penyaluran kemampuan dan potensi diri dalam bentuk nyata. Artinya tiap orang ingin tumbuh membangun pribadi dan mencapai hasil. Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang menggunakan kecakapan, kemampuan, ketrampilan dan potensi optimal untuk mencapai prestasi yang sangat memuaskan yang sulit dicapai orang lain.
Maslow mengatakan bahwa lima kebutuhan tersebut secara hierarki dari tingkat yang sangat dasar hingga tingkat yang tinggi. Artinya bila kebutuhan tingkat dasar telah terpenuhi barulah seseorang akan memenuhi kebutuhan pada tingkat diatasnya yang lebih tinggi dan seterusnya yang mengarah pada kebutuhan tingkat tinggi. Jika suatu tingkatan kebutuhan belum terpenuhi maka motif seseorang ditunjukan untuk memenuhi tingkatan kebutuhan tersebut dan kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi belum menimbulkan motivasi.8

2.2.3 Motivasi mencari pengobatan
Motivasi klien diduga menjadi faktor penting yang terkait dengan pemulihan
penyalahguna zat. Motivasi pengobatan adalah konstruksi teoritis yang kompleks yang telah disederhanakan dan dibedakan dari istilah kesiapan pengobatan di penelitian penyalahgunaan zat penelitian. Meskipun demikian, motivasi umumnya dibedakan sebagai internal atau eksternal. Motivasi internal telah dikonseptualisasikan sebagai termasuk masalah pengakuan, keinginan untuk pengobatan, dan komitmen untuk mengambil langkah-langkah perilaku terhadap perubahan. Motivasi eksternal umumnya melibatkan pemaksaan dalam pengobatan sebagaimana diminta oleh sistem peradilan pidana. Motivasi klien secara konsisten telah ditemukan berhubungan positif dengan pengobatan.3
Tingkat motivasi seorang klien pada pengobatan awal memiliki pengaruh positif terkait dengan partisipasi terapi dan aliansi terapeutik yang muncul terkait dengan peningkatan retensi dan keterlibatan pasien. Klien penyalah guna zat umumnya termotivasi eksternal atau dipaksa untuk mencari pengobatan. Misalnya, pada pasangan suami-istri, salah satu pasangan dapat mengancam untuk meninggalkan mereka jika tidak melakukan pengobatan, atau kehilangan pekerjaan yang akan datang karena penggunaan zat mendorong seseorang mencari pengobatan. Motivasi eksternal dapat membuat pasien patuh pada awal pengobatan, namun umumnya hal ini tidak akan membuat individu melakukan pengobatan, atau membantu klien secara aktif terlibat dalam proses pengobatan. Pria yang ditekan anggota keluarga untuk pengobatan rawat jalan memiliki tendensi untuk berobat dalam waktu yang lebih singkat daripada mereka yang tidak terlibat dalam pengobatan karena ultimatum keluarga. Memang, bahkan laporan dari klien yang meninggalkan pengobatan rawat jalan prematur dikarenakan kurangnya motivasi atau harapan untuk perubahan sebagai alasan yang paling konsisten untuk ketidakmampuan mereka agar menjalani pengobatan. Menariknya, temuan ini tidak muncul konsisten ketika episode pengobatan dipaksa secara hukum berdasarkan pada pelanggaran atau kegiatan ilegal lainnya. Dalam kasus ini, ketika klien sedang terlibat dalam pengobatan untuk memenuhi perintah pengadilan atau terlibat dalam sistem peradilan pidana di beberapa cara lain, mereka lebih cenderung untuk menyelesaikan pengobatan. Hal ini dapat dihipotesiskan, bagaimanapun, bahwa efek pengobatan mungkin tidak akan bertahan jika seseorang termotivasi untuk menyelesaikan pengobatan untuk memenuhi perintah pengadilan daripada keinginan internal untuk mengubah penggunaan narkoba. Telah ditemukan pula bahwa tingkat kekambuhan klien dapat meningkat secara signifikan setelah pemantauan program percobaan akhir dan klien secara hukum dipaksa untuk menghadiri pengobatan telah ditemukan untuk menunjukkan hasil yang lebih buruk.3
Secara bersama-sama, penelitian menunjukkan bahwa motivasi tampaknya menjadi faktor kritis retensi pengobatan, maka pemanfaatan teknik yang dapat meningkatkan sebuah klien motivasi untuk pengobatan substansi telah muncul. Motivasi wawancara dan Motivational Enhancement Therapy adalah dua contoh dari pendekatan semacam itu. Untuk mendukung penelitian yang menekankan pentingnya motivasi terhadap retensi terapi, studi lebih lanjut harus dilakukan untuk menemukan bahwa ketika teknik peningkatan motivasi dimanfaatkan dalam pengaturan perawatan, ditemukan untuk meningkatkan tingkat retensi awal, tingkat retensi sejauh enam bulan setelah terlibat dalam pengobatan dan kemungkinan klien memulai dan kembali untuk pengobatan.3
2.3 Gambaran Motif Pasien Penyalahguna Narkoba untuk Menjalankan Terapi dan Rehabilitasi
2.3.1 Motivasi Internal
Motivasi berikut diidentifikasi oleh Arun P dkk9:
1. Keinginan untuk menyembuhkan diri sendiri
Survey yang diadakan oleh Arun P dkk. Di tahun 2004, terdapat alasan tertinggi yang membuat seseorang untuk mencari pengobatan yaitu keinginan untuk sembuh. Hal ini dideskripsikan sebagai keinginan pasien untuk menjadi orang yang lebih baik. Umumnya mereka ingin menjaga masa depan anak-anak dan diri sendiri. Mereka tidak ingin lagi dikenal sebagai pecandu dan merasa malu telah menyiakan pendapatan untuk membeli narkoba serta untuk menghindari stigma masyarakat dan lingkungan pekerjaan.
2. Adanya riwayat gejala withdrawal
Gejala-gejala withdrawal menakutkan sebagian pasien dan hal ini membawa mereka untuk mencari pengobatan
3. Kekhawatiran akan penyakit tertentu
4. Masalah religius
2.3.2 Motivasi eksternal9
1. Ketersediaan tempat detoksifikasi
Survey yang diadakan oleh Arun P menyatakan bahwa seseorang mencari pengobatan karena ingin mencoba setelah melihat kerabat dan kenalan terdekat pernah mengakses tempat detoksifikasi narkoba ataupun dari program-program pemerintah yang disebarkan dari edaran pers pusat terapi dan rehabilitasi narkoba.
2. Tekanan keluarga
Tekanan pihak terdekat, yaitu keluarga, membuat pasien untuk menyetujui melakukan pengobatan. Tekanan tersebut meliputi masalah ekonomi keluarga, pasangan, ataupun masalah kultural. Penelitian yang dilakukan oleh Arun,dkk, menyatakan salah satu alasan untuk berhenti adalah karena pernikahan anak perempuan atau adik perempuan mereka yang dikhawatirkan dapat mengganggu kelangsungan pernikahan tersebut.
3. Penolakan sosial
Masalah ini meliputi penolakan kelompok, baik dari kelompok sosial, maupun dari pekerjaan dan pasangan.
4. Masalah finansial
5. Sulit untuk mendapat narkoba
6. Kekhawatiran kehilangan pekerjaan

2.3.3 Alasan menolak dan tidak mencari pengobatan
Alasan menolak terapi yang diidentifikasi oleh Arun dkk adalah sebagai berikut9:
1. Narkoba menyebabkan psikis menjadi lebih tenang
Alasan ini secara khusus memiliki frekuensi paling tinggi. Narkoba dan zat adiktif lain dianggap dapat membantu menyelesaikan masalah pekerjaan, keluarga, dan finansial, serta masalah kecemasan. Orang-orang ini cenderung bahagia dengan kondisinya sekarang.
2. Narkoba menyebabkan fisik lebih tenang
Narkoba dan zat adiktif lain dianggap dapat mengurangi kelelahan dan dapat menyebabkan tubuh menjadi lebih fit.
3. Keterbatasan fasilitas
Keterbatasan fasilitas menyebabkan seseorang lebih ingin untuk tidak melakukan terapi. Hal ini dikarenakan berbagai hal, tidak tahu adanya fasilitas, faktor biaya terapi dan rehabilitasi, ketersediaan fasilitas yang jauh, tidak ada dukungan keluarga untuk mencapai fasilitas, dan tidak ingin datang ke bagian psikiatri.
4. Tidak membutuhkan terapi
Pasien cenderung menganggap alkohol dan narkoba tidak membahayakan tubuh. Mereka belum pernah mengalami gejala-gejala membahayakan yang timbul.
5. Ketersediaan narkoba dan zat adiktif mudah didapat
6. Gejala “ketagihan” fisik
Gejala ketagihan fisik tersebut dianggap tidak dapat dibantu lagi
7. Tidak menerima proses pengobatan
Tidak ada kesadaran untuk melakukan pengobatan, kekhawatiran obat medis akan menyebabkan ketagihan, durasi pengobatan lama.
2.3.4 Prediktor internal keberhasilan terapi
1. Usia
Usia ditemukan menjadi prediktor signifikan secara statistik yang berkaitan dengan status penyelesaian pengobatan, jumlah hari perawatan dihadiri, dan durasi pengobatan. Lebih khusus, ditemukan bahwa dengan setiap kenaikan satu dekade usia, kemungkinan putus pengobatan turun sekitar 1 ½ kali. Ini adalah penemuan yang signifikan bila kita menganggap bahwa ada 6 dekade antara sampel. Penurunan risiko serupa, yaitu dalam peningkatkan setiap tahun usia, risiko drop-out turun sebesar 4%.3
Penelitian lain yang dilakukan oleh Satre dkk (2004) menunjukkan bahwa makin meningkatnya usia ditambah makin lama pengobatan, menyebabkan seseorang untuk lebih positif menghadapi terapi dan rehabilitasi pada pecandu alkohol.10
Hubungan positif antara usia dan waktu yang dihabiskan dalam pengobatan telah menjadi salah satu temuan yang paling kuat dalam literatur penyalahgunaan zat pengobatan. Klien yang lebih tua ditemukan lebih bertahan dalam waktu pengobatan dan secara statistik signifikan dan putus pengobatan lebih jarang daripada klien yang lebih muda, terlepas dari bagaimana modalitas pengobatan yang sedang dilakukan.3
2. Hubungan personal
Status pernikahan, dukungan keluarga, dan luasnya jejaring pertemanan, berhubungan langsung terhadap keberhasilan terapi. Klien yang memiliki "dukungan sosial yang wajar" memiliki kemungkinan keberhasilan yang lebih tinggi jika mereka menyelesaikan terapi. Tidak hidup dengan keluarga atau pasangan merupakan salah satu karakteristik yang membuat klien / pasien cenderung kambuh untuk kembali menggunakan narkoba dan zat aditif lainnya serta meningkatkan kemungkinan kegiatan kriminal jika mereka meninggalkan pengobatan.3,11
3. Status pekerjaan
Klien-klien yang tidak mendapatkan pekerjaan sebelum, selama atau setelah proses terapi dan rehabilitasi paling mungkin untuk kambuh atau terlibat kegiatan kriminal jika mereka meninggalkan pengobatan. Memiliki pekerjaan adalah salah satu faktor yang terkait dengan kesempatan klien yang lebih baik untuk klien yang telah menjalani pengobatan.11
4. Riwayat kegiatan criminal
Klien tanpa keterlibatan kegiatan kriminal cenderung memiliki hasil pengobatan yang lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor keberhasilan untuk klien yang menjalani pengobatan lengkap adalah yang memiliki "sedikit riwayat kegiatan kriminal." Klien yang memiliki banyak catatan kriminal paling mungkin untuk kembali menggunakan obat-obatan dan / atau kegiatan kriminal mereka setelah mereka selesai atau keluar dari pengobatan. 3,9,10,11
5. Jenis narkoba yang digunakan
Pengguna narkoba selain golongan opiat memiliki kemungkinan keberhasilan lebih baik dibandingkan dengan golongan opiat. Selain itu penelitian lain mengungkapkan bahwa pasien dengan riwayat pengguna narkoba jarum suntik dalam 30 hari pertama sebelum pengobatan lebih mungkin untuk tidak menyelesaikan pengobatan.3,10,11,12 Akan tetapi, di Indonesia, survey BNN 2014 menyatakan bahwa pengguna narkoba jarum suntik memiliki niat terapi paling tinggi dibandingkan dengan metode lainnya.3
6. Motivasi dan kesiapan terapi
Kesiapan mental seseorang untuk menjalankan terapi berdasarkan CMRS (circumstance, motivation, readiness and suitability), secara signifikan berhubungan dengan terhadap keterlibatan terapi klien.11 Selain itu, kejelasan komitmen, dan kepercayaan diri klien tiga bulan pasca terapi berhubungan terhadap motivasi klien di awal terapi.12
7. Keterlibatan klien dalam terapi
Klien yang memiliki rapport yang baik dengan konselor dan dokter merupakan prediktor kuat untuk menyelesaikan program. Keterlibatan klien ini juga berhubungan kuat dengan motivasi dan kesiapan terapi. Tampaknya hubungan ini merupakan komponen penting terapi ketika klien memasuki pengobatan disertai masalah psikis. Ketika klien memasuki pengobatan tanpa atau minimal tekanan psikis, hubungan dengan konselor atau pihak medis lainnya tidak terkait dengan kepatuhan berobat. Di sisi lain, ketika klien masuk pengobatan dengan gejala kejiwaan sedang atau berat, mereka yang memiliki hubungan baik dengan konselor akan tetap bertahan hingga selesai 75% dari waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian terapi.3,11,12


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Tulisan ini menunjukkan bahwa dari literature yang ada, klien terkait program terapi dan rehabilitasi NAPZA memiliki risiko putus pengobatan. Sejauh ini, penulis belum menemukan penelitian yang berkualitas mengenai risiko putus pengobatan terhadap klien terapi dan rehabilitasi NAPZA, namun sejauh ini ditemukan berbagai motif dan alasan klien mencari dan tidak mencari pengobatan. Alasan mencari pengobatan meliputi: 1) keinginan untuk sembuh, 2) ketersediaan fasilitas dan layanan, 3) mengalami gejala putus obat, 4) tekanan keluarga, 5) penolakan sosial, 6) ketakutan akan kesakitan fisik, 7) masalah financial, Cool kesulitan untuk mendapatkan NAPZA, 9) ketakutan akan kehilangan pekerjaan, dan 10) masalah religi.
Adapun alasan untuk tidak mencari pengobatan yaitu: 1) psikis dan fisik menjadi lebih tenang dengan NAPZA, 2) keterbatasan fasilitas, 3)merasa tidak membutuhkan terapi, 4) Ketersediaan narkoba dan zat adiktif mudah didapat, 5) merasa mengalami gejala “ketagihan” fisik, dan 6) tidak menerima proses pengobatan.
Faktor-faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan terapi yaitu: 1) usia lebih tua, 2) memiliki hubungan personal yang baik, 3) memiliki pekerjaan sebelum dan sesudah masa terapi dan rehabilitasi, 4) tidak memiliki riwayat criminal, 5) bukan pemakai narkoba jenis opiat atau narkoba jarum suntik, 6) motivasi dan kesiapan terapi, dan 7) keterlibatan klien dalam terapi.

3.2 Saran
Berbekal dari tulisan ini, program terapi dan rehabilitasi NAPZA dapat menyesuaikan karakteristik klien baru. Diharapkan bahwa pembaca dapat mempertimbangkan karakteristik klien terhadap kepatuhan berobat. Prediktor yang telah penulis identifikasi dapat menjadi asesmen penting untuk evaluasi pengobatan. Selain itu, penelitian dengan topik ini di Indonesia cukup penting di Indonesia di masa yang akan datang dengan metodologi berkualitas
.
DAFTAR PUSTAKA
1. BNN & Puslitkes UI. Laporan Survei Perkembangan Penyalahguna Narkoba di Indonesia Tahun Anggaran 2014. Depok: Puslitkes UI, 2015.
2. BNN. Tahapan-tahapan pemulihan pecandu narkoba. [artikel internet]. 2012 Diakses dari: http://dedihumas.bnn.go.id/read/section/artikel/2012/08/24/514/tahap-tahap-pemulihan-pecandu-narkoba, diunduh tanggal 23 Agustus 2015
3. Fuller, Shauna Elizabeth, Pretreatment Client Characteristics and Treatment Retention in an Intensive Outpatient Substance Abuse Treatment Program. Marquette University: Dissertations; 2009
4. Justus, AN, Burling, TA, & Weingardt, KR. Client predictors of treatment retention and completion in a program for homeless veterans. Substance Use & Misuse, 41, 751-762;2006
5. Kaplan, Harold, Benjamin J. S, dan Jack A G. Sinopsis psikiatri. Ed 7. Jilid I. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997
6. Deputi Rehab BNN. Petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis detoksifikasi berintegrasi pada penyalahguna narkotika di layanan terapi dan rehabilitasi. Jakarta:BNN;2010
7. Sobur, A. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia;2009
8. Nugroho P, Herani I, Akhrani LA. Motivasi berhenti menggunakan narkoba pada anak jalanan pengguna narkoba berdasarkan teori Abraham Maslow. Jurnal: UNM Malang; 2007
9. Arun P, Chavan BS,Kaur H. A Study of Reasons for not Seeking Treatment for Substance Abuse in Community. I J Psy 46(3)256-260 ; 2004
10. Satre, D. D., Mertens, J. R., Arean, P. A., & Weisner, C. Five-year alcohol and drug treatment outcomes of older adults versus middle-aged and younger adults in a managed care program. Addiction, 99, 1286-1297; 2004
11. Minister of Public Works and Government Services Canada. Methadone maintenance theraphy. Canada: Health Canada; 2002
12. Deane, F. P., Wootton, D. J., Hsu, C. & Kelly, P. J. Predicting dropout in the first 3 months of 12-step residential drug and alcohol treatment in an Australian sample. Journal of Studies on Alcohol and Drugs, 73 (2), 216-225;2012

auliarahardjo

Posts : 3
Reputation : 0
Join date : 2015-09-11
Age : 24

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum