Gangguan Persepsi dan Tilikan

View previous topic View next topic Go down

Gangguan Persepsi dan Tilikan

Post by Wily Ar on Mon Sep 21, 2015 11:38 pm

1. Gangguan Persepsi
Persepsi ialah daya mengenal barang, kualitas, atau hubungan serta perbedaan antara hal melalui proses mengamati, mengetahui, dan mengartikan setelah panca indranya mendapat rangsangan. Jadi persepsi itu dapat terganggu oleh gangguan otak (karena kerusakan otak, keracunan, obat halusinogenik) oleh ganggaun jiwa (emosi tertentu dapat mengakibatkan ilusi; psikosa dapat menimbulkan halusinasi) atau oleh pengaruh lingkungan sosiobudaya (mempengaruhi persepsi karena penilaian yang berbeda dan orang dari lingkungan sosiobudaya yang berbeda pula.)

Halusinasi ialah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar / bangun dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik.
Halusinasi itu banyak jenisnya, misalnya:
a. Halusinasi penglihatan (visual, optik): tak berbentuk (sinar, kilapan atau pola cahaya) atau berbentuk (orang, binatang atau barang lain yang dikenalnya), berwarna atau tidak;
b. Halusinasi pendengaran (auditif-akustik): suara manusia, hewan atau mesin, barang, kejadian alamiah dan musik;
c. Halusinasi pencium (olfaktorik): mencium sesuatu bau;
d. Halusinasi pengecap (gustatorik): merasa/mengecap sesuatu;
e. Halusinasi peraba (taktil): merasa diraba, disentuh, ditiup, disinari atau seperti ada ulat bergerak dibawah kulitnya.
f. Halusinasi kinestetik: merasa badannya bergerak dalam sebuah ruang, atau anggota badannya bergerak (umpamanya anggota badan bayangan atau “phantom limb”);
g. Halusinasi viseral: perasaan tertentu timbul di dalam tubuhnya;
h. Halusinasi hipnagogik: terdapat ada kalanya pada seorang yang normal, tepat sebelum tertidur persepsi sensorik bekerja salah;
i. Halusinasi hipnopompik: seperti pada point “h” tetapi terjadi tepat sebelum terbangun sama sekali dari tidurnya; Disamping itu ada pula pengalaman halusinatorik dalam impian yang normal;
j. Halusinasi histerik: timbul pada nerosa histerik karena konflik emosional.
Isi halusinasi itu merupakan tema halusinasi, termasuk interpretasi pasien tentang halusinasinya (mengancam, menyalahkan, keagamaan, menghinakan, kebesaran, sexual, membesarkan hati, membujuk atau yang baik-baik saja).
Keyakinan tentang halusinasi ialah sejauh manakah pasien itu yakin bahwa halusinasinya merupakan kejadian yang benar, umpamanya mengetahui bahwa hal itu tidak benar, ragu-ragu atau yakin sekali bahwa hal itu benar adanya.
Halusinasi itu dapat timbul pada skizofrenia dan pada psikosa fungsional yang lain, pada sindroma otak organik, epilepsi (sebagai aura), nerosa histerik, intoksikasi atropin atau kecubung, zat halusinogenik dan pada deprivasi sensorik.
Ilusi adalah interpretasi atau penilaian yang salah tentang pencerapan yang sungguh terjadi karena rangsang pada panca indra. Umpanya; bunyi angin didengarnya seperti dipanggil namanya, bayangan daun dilihatnya seperti orang penjahat. Adapun ilusi itu sangat dipengaruhi oleh emosi pada suatu waktu tertentu dan biasanya yang bersangkutan dapat mengoreksinya sesudahnya. Ilusi itu dibedakan dari “halusinasi” dari “pikiran hubungan” dan dari “disorientasi”.
Depersonalisasi adalah perasaan aneh tentang dirinya atau perasaan bahwa pribadinya sudah tidak seperti biasa lagi, tidak menurut kenyataan. Umpamanya; rasa seperti sudah diluar badanya (misalnya; pengalaman di luar tubuh atau “OBE” , “out of the body experiences”) atau sesuatu bagian tubuhnhya sudah bukan kepunyaannya lagi. Ini dibedakan dari “waham hipokhodrik” dan dari disorientasi terhadap dirinya sendiri. Depersonalisasi itu ada kalanya ditemukan juga pada sindroma lobus parietalis.
Derealisasi; perasaan aneh tentang lingkungannya dan tidak menurut kenyataan. Umpamanya; segala sesuatu dialaminya seperti didalam impiannya. Ini dibedakan dari “kesadaran berubah”.
Gangguan somatosensorik pada reaksi konversi : sering secara simbolik menggambarkan suatu konflik emosional, dibedakan dari gangguan psikofisiologik (bagian yang terkena disarafi oleh susunan saraf vegetatif), dari penipuan atau simulasi (dilakukan secara sadar) dan dari gangguan neurologik (tanda-tandanya sesuai dengan anatomi susunan saraf). Jika sudah pasti bahwa reaksi itu merupakan reaksi konversi, baru dicatat dan dicantumkan jenis reaksi tersebut, misalnya:
a. Anasthesia: kehilangan indera peraba pada kulit pasien; tetapi tidak sesuai dengan anatomi saraf;
b. Parasthesia: indera peraba yang berubah, umpamanya merasa seperti ditusuk-tusuk jarum, seperti ada semut berjalan, merasa panas atau tebal pada kulitnya.
c. Gangguan penglihatan atau pendengaran,
d. Perasaan nyeri
e. Imakropsia: benda-benda kelihatan lebih besar dari yang sebenarnya, kadang-kadang begitu besar, sehingga mengerikan; terdapat pada nerosa histerik;
f. Mikropsia; benda-benda kelihatan lebih kecil dari yang sesungguhnya, dapat berganti-ganti dengan makropsia pada histeria (atau dapat timbul pada delirium tremens).
Gangguan psikofisiologik ialah gejala atau gangguan pada bagian tubuh yang dipersarafi oleh susunan saraf vegetatif dan yang disebabkan oleh gangguan emosi. Perubahan fisiologik ini biasanya menyertai keadaan emosi tertentu; pada umumnya reversibel dan biasanya tidak mengakibatkan kerusakan jaringan yang permanen. Gangguan seperti ini mungkin terjadi pada:
a. Kulit: dermatitis, urtikaria, pruritus, dan hiperhidrosis.
b. Otot dan tulang: otot tegang sampai kaku: “tension headache”, “low back pain”
c. Alat pernapasan: sindroma hiperventilasi (bernafas berlebihan sehingga dapat menimbulkan rasa pusing, kepala enteng, paresthesia pada tangan dan sekitar mulut, merasa berat di dada, napas rasanya pendek/kurang panjang, tenggorokan kering, perut kembung, tetani) dan asthma bronchiale
d. Jantung dan pembuluh darah: palpitasi, hipertensi, “vascular headache”
e. Alat pencernaan: lambung perih, nausea, dan muntah-muntah, meteorismue, konstipasi, diare.
f. Alat kemih dan kelamin: sering kencing, enuresis, eyakulasioprekox, disparenia, dismenore, frigiditas dan impotensi.
g. Panca-indera: mata berkunang-kunang dan tinitus.

( Sumber: Maramis, W.F. 2005. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press).


2. Tilikan
Kemampuan seseorang untuk memahami sebab sesungguhnya dan arti suatu situasi (termasuk di dalamnya dari gejala itu sendiri). Dalam arti luas, tilikan sering disebut sebagai wawasan diri, yaitu pemahaman seseorang terhadap kondisi dan situasi dirinya dalam konteks realitas sekitarnya. Dalam arti sempit merupakan pemahaman pasien terhadap penyakitnya. Tilikan terganggu artinya kehilangan kemampuan untuk memahami kenyataan obyektif akan kondisi dan situasi dirinya. Jenis-jenis tilakan:
a. Tilikan derajat 1: penyangkalan total terhadap penyakitnya.
b. Tilikan derajat 2: ambivalensi terhadap penyakitnya.
c. Tilikan derajat 3: menyalahkan faktor lain sebagai penyebab penyakitnya.
d. Tilikan derajat 4: menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan namun tidak memahami penyebab sakitnya.
e. Tilikan derajat 5: menyadari penyakitnya dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakitnya namun tidak menerapkan dalam perilaku praktisnya.
f. Tilikan derajat 6 (sehat): menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya.

(Sumber: Elvira, Sylvia D., dkk. 2013. Buku Ajar Psikiatri, Edisi Kedua. Jakarta: FKUI).

Wily Ar

Posts : 1
Reputation : 0
Join date : 2015-09-21

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum