tugas Dora

View previous topic View next topic Go down

tugas Dora

Post by Dorapra on Sat Sep 19, 2015 9:39 am

Tugas Psikiatri
NAMA : DORA PRADESA
NPM : H1AP09015

1. Jelaskan tentang afek emosi
2. Jelaskan tentang gangguan pikir

Jawab
1. Afek ialah “nada” perasaan, menyenangkan atau tidak (seperti kebanggaan, kekecewaan, kasih sayang), yang menyertai suatu pikiran dan biasanya berlangsung lama serta kurang disertai oleh komponen fisiologik. Emosi ialah manifestasi efek keluar dan disertai oleh banyak komponen fisiologik, lagipula biasanya berlangsung relatif tidak lama, (misalnya ketakutan, kecemasan, depresi, dan kegembiraan). Kadang-kadang istilah afek dan emosi itu dipakai secara bergantian. Bilamana afek dan emosi itu sudah begitu keras, sehingga fungsi individu itu terganggu,maka dikatakan telah terjadi gangguan afek atau emosi yang dapat berupa :
1) Depresi
Ciri-ciri psikologik, misalnya sedih, susah, murung, rasa tak berguna, gagal, kehilangan, tidak ada harapan, putus asa, dan penyesalan yang patologis. Ciri-ciri somatik, misalnya anoreksia, konstipasi, kulit lembab dan dingin, tekanan darah dan pols turun. Ada depresi dengan penarikan diri dan agistasi atau gelisah.

2) Kecemasan (ansietas)
Ciri-ciri psikologik, misalnya khawatir, gugup, tegang, cemas, rasa tak aman, takus, lekas terkejut. Ciri-ciri somatik, misalnya palpitasi (debaran jantung yang cepat/keras), keringat dingin pada telapak tangan, tekanan darah meninggi, peristaltik bertambah. Kecemasan dapat berubah apabila :
• Kecemasan yang mengambang (free floating anxiety)—Tidak ada hubungannya dengan pikiran.
• Agistasi—Kecemasan yang disertai dengan kegelisahan motorik yang hebat.
• Panik—Serangan kecemasan yang hebat dengan kegelisahan, kebingungan, dan hiperaktivitas yang tidak terorganisasi.

3. Eforia, Rasa riang, gembira, senang, dan bahagia yang berlebihan.
4. Anhedonia, Ketidakmampuan merasakan kesenangan
5. Kesepian, Merasa dirinya ditinggalkan.
6. Kedangkalan, Kemiskinan afek dan emosi.
7. Afek dan emosi yang tak wajar, Tertawa terkikih-kikih waktu wawancara.
8. Afek dan emosi yang labil, Tiba-tiba marah atau menangis.
9. Variasi afek dan emosi sepanjang hari, Perubahan afek dan emosi mulai sejak pagi sampai malam hari, misalnya pada psikosi-manik defresif, depresi lebih keras pada pagi hari dan menjadi lebih ringan pada sore hari.
10. Ambivalensi, Emosi dan afek yang berlawanan timbul bersama-sama terhadap suatu objek, hal, atau orang.
11. Apatis, Berkurangnya afek dan emosi terhadap semua hal dengan dirasai rasa terpencil dan tidak peduli. Dapat diartikan menurunnya kesadaran.
12. Amarah, Kemurkaan atau permusuhan, yang ditandai sifat agresif.

2. Gangguan pikir
Proses berpikir itu meliputi proses pertimbangan (“judgment”), pemahaman (”comprehension”), ingatan serta penalaran (“reasoning”). Proses berpikir yang normal mengandung arus idea, symbol dan asosiasi yang terarah kepada tujuan dan yang dibangkitkan oleh suatu masalah atau tugas dan yang menghantarkan kepada suatu penyelesaian yang berorientasi kepada kenyataan. Berbagai macam factor mempengaruhi proses berpikir itu, umpamanya factor somatic (gangguan otak, kelelahan), factor psikologik (gangguan emosi, psikosa) dan factor social (kegaduhan dan keadaan sosial yang lain) yang sangat mempengaruhi perhatian atau konsentrasi si individu. Kita dapat membedakan tiga aspek proses berpikir yaitu: bentuk pikiran, arus pikiran dan isi pikiran, ditambah dengan pertimbangan.
1. Gangguan bentuk pikiran
Dalam kategori ganggauan bentuk pikiran termasuk semua penyimpangan dari pemikiran rasional, logik, dan terarah kepada tujuan.
1. Dereisme atau pikiran dereistik, titik berat pada tidak adanya sangkut paut terjadi antara proses mental individu dan pengalamannya yang sedang berjalan. Proses mentalnya tidak sesuai dengan atau tidak mengikuti kenyataan, logika, atau pengalaman.
2. Pikiran otistik; menandakan bahwa penyebab distorsi arus asosiasi ialah dari dalam pasien itu sendiri dalam bentuk lamunan, fantasi, waham atau halusinasi. Cara berpikir seperti ini hanya akan memuaskan keinginannya yang tak terpenuhi tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya; hidup dalam alam pikirannya sendiri.
3. Bentuk pikiran yang non-realistik: bentuk pikiran yang sama sekali tidak berdasarkan kenyataan, umapamanya: menyelidiki sesuatu yang spektakuler dan revolusioner bila ditemui; mengambil kesimpulan yang aneh serta tidak masuk akal (merupakan gejala yang menonjol pada skizoprenia hebefrenik di samping tingkah laku kekanak-kanakan).
2. Gangguan arus pikiran
Gangguan arus pikiran yaitu tentang cara dan lajunya proses asosiasi dalam pemikiran yang timbul dalam berbagai jenis:
1. Perseverasi: berulang-ulang menceritakan suatu idea, pikiran atau tema secara berlebihan.
2. Asosiasi longgar: mengatakan hal-hal yang tidak ada hubungannya satu sama lain, umpama, “saya mau makan. Semua orang dapat berjalan”.
3. Inkoherensi: gangguan dalam bentuk bicara, sehingga satu kalimat pun sudah sukar ditangkap atau diikuti maksudnya. Suatu waham yang aneh mungkin diterangkan secara incoherent. Inkoherensi itu boleh dikatakan merupakan asosiasi yang longgar secara ekstrim.
4. Kecepatan bicra: untuk mengutarakan pikiran mungkin lambat sekali atau sangat cepat.
5. Benturan (“blocking”): jalan pikiran tiba-tiba berhenti atau berhenti di tengah sebuah kalimat. Pasien tidak dapat menerangkan kenapa ia berhenti.
6. Logorea: banya bicara, kata-kata dikeluarkan bertubi-tubi tanpa control mungkin coherent atau incoherent.
7. Pikiran melayang (“flight of ideas”): perubahan yang mendadak lagi cepat dalam pembicaran, sehingga suatu idea yang belum selesai diceritakan sudah disusul oleh idea yang lain. Umpamanya seorang pasien pernah bercerita, “Waktu saya datang ke rumah sakit kakak saya baru mendapat rebewes, lalu untung saya pakai kemeja biru, hingga pak dokter menanyakan bila sudah makan…”.
8. Asosiasi bunyi (“clang association”): mengucapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi, umpamanya pernah didengar, “Saya mau makan di Tarakan, seakan-akan berantakan”.
9. Neologisme: membentuk kata-kata baru yang tidak dipahami oleh umum, misalnya “Saya radiltu semua partimun”.
10. Irelevansi: isi pikiran atau ucapan yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan atau dengan hal yang sedang dibicarakan.
11. Pikiran berputar-putar (”circumstantiality”): menuju secara tidak langsung kepada idea pokok denga menambahakan banyak hal yang remeh-remeh, yang menjemukan, dan yang tidak relevant.
12. Main-main dengan kata-kata: menyajak (membuat sajak) secara tidak wajar.
13. Afasi: mungkin sensorik (tidak atau sukar mengerti bicara orang lain) atau motorik (tidak dapat atau sukar berbicara), sering kedua-duanya sekaligus dan terjadi karena kerusakan otak.
3. Gangguan isi pikiran
Dapat terjadi baik pada isi pikiran non-verbal, maupun pada isi pikiran yang diceritkan, misalnya:
1. Kegembiraan yang luar biasa atau ekstasi (“ectasy”) dapat timbul secara mengambang pada orang yang normal selama fase permulaan narkosa (anesthesia umum). Boleh juga disebabkan oleh narkotika (“feeling high” atau “fligh” sebagai logat para narkotik) atau kadang-kadang timbul sepintas lalu pada skizofrenia. Semua mengatakan bahwa isi pikiran mereka itu tidak dapat diceritakan
2. Fantasi: ialah isi pikiran tentang suatu keadaan atau kejadian yang diharapkan atau diinginkan, tetapi dikenal sebagai tidak nyata. Fantasi yang kreatif menyiapkan si individu untuk bertindak sesudahnya: fntasi dalam lamunan merupakan pelarian bagi keinginan yang tidak dapat dipenuhi. Pada psedologia fantastika (“psedologia fantastica”) orang itu percaya akan kebenaran fantasinya secara intermittent dan selama jangka waktu yang cukup lama untuk bertindak sesuai dengan itu.
3. Fobi: rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasioanl adanya. Fobi itu dapat mengakibatkan kompulsi, umpamanya fobi kotor atau fobi kuman menimbulkan kompulsi cuci-cuci tangan. Ini perlu dibedakan dari kecemasan yang mengambang (“free-floating anxiety”) atau kecemasan terhadap keadaan umum, nisalnya takut akan jatuh sakit, takut gagal dalam usahanya.
4. Obsesi: isi pikiran yang kukuh (“persistent”) timbul, biarpun tidak dikehendakinya, dan diketahuinya bahwa hal itu tidak wajar atau tidak mungkin.
5. Preokupasi: pikiran terpaku hanya pada sebuah idea saja, yang biasanya berhubungan dengan keadaan yang bernada emosional yan kuat. Ini belum merupakan, tetapi dapat menjadi obsesi.
6. Pikiran yang tidak memadai (“inadequate”): pikiran yang eksentrik, tidak cocok dengan banyak hal, terutama dalam pergaulan dan pekerjaan seseorang.
7. Pikiran bubuh diri (“suicidal thoughts/ideation”): mulai dari kadang-kadang memikirkan hal bunuh diri sampai terus-menerus memikirkan cara bagaiman ia dapat membunuh dirinya.
8. Pikiran hubungan (“ideas of reference”): pembicaraan orang lain, benda-benda atau sesuatu kejadian dihubungkannya dengan dirinya.
9. Rasa terasing (alienasi): perasaan bahwa dirinya sudah menjadi lain, berbeda, asing.
10. Pikiran isolasi social (“social isolation”: rasa terisolasi, tersekat, terkunci, terpencil dari masyarakat; rasa ditolak, tidak disukai oleh orang lain; rasa tidak enak bila berkumpul dengan orang lain; lebih suka menyendiri.
11. Pikiran rendah diri: merendahkan, menghinakan dirinya sendiri, menyalahkan dirinya tentang suatu hal yang pernah atau tidak pernah dilakukannya.
12. Merasa dirugikan orang lain
13. Merasa dingin dalam bidang seksual
14. Rasa salah
15. Pesimisme
16. Sering curiga
17. Waham : Keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaannya, biarpun dibuktika kemusyahilan hal itu.
18. Kekuatiran yang tidak wajar tentang kesehatan fisiknya


REFERENSI
Maramis, W.F., 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press: Surabaya.

Dorapra

Posts : 4
Reputation : 0
Join date : 2015-09-19

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum