Skizoafektif Tipe Campuran

View previous topic View next topic Go down

Skizoafektif Tipe Campuran

Post by fannykinasih on Thu Aug 20, 2015 4:04 pm

BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. Sv
Usia : 36 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Anak ke : 1 dari 4 bersaudara
Agama : Islam
Pendidikan : D3
Suku : Serawai
Status : Belum Menikah
Pekerjaan : Tidak bekerja
Alamat : Jl. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Bengkulu
No RM : xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Tanggal Pemeriksaan : 07/2/2015 pukul 10.00 WIB

II. Riwayat Psikiatri
A. Keluhan Utama
Sulit tidur sejak + 2 minggu yang lalu
B. Riwayat Gangguan Sekarang
AUTOANAMNESIS
• Perempuan 36 tahun, merupakan anak sulung dari empat bersaudara dan belum menikah. Pasien baru berobat ke poli pada tanggal 4 februari 2015, dengan keluhan sulit tidur sejak + 2 minggu yang lalu. Selama 2 minggu terakhir ini tidur pasien tidak nyenyak dan sering terbangun pada malam hari karena diganggu oleh bisikan- bisikan. Bisikan tersebut sudah pasien dengar pertama kali sejak tahun 2003 dan 1 tahun terakhir mulai berkurang, namun akhir- akhir ini ia mengeluhkan bisikan tersebut kembali sering mengganggunya sehingga ia sulit untuk tidur. Bisikan tersebut terdengar seperti suara laki-laki yang menghina pasien dan mengganggu aktivitas pasien sehari- hari. Pasien mengatakan bisikan tersebut terkadang membuat pasien tidak bisa solat, tidak bisa membersihkan rumah dan sulit untuk tidur karena bisikan tersebut mengendalikan pikiran pasien sehingga membuat pasien tidak bisa melakukan aktivitas tersebut jika sedang diganggu.  
Pada tahun 2001, pasien tamat kuliah dari Jambi dan kembali pulang ke Bengkulu untuk mencari pekerjaan. Di Bengkulu, pasien hanya ingin menjadi PNS dan tidak mau mencari pekerjaan lain, sehingga pasien menunggu tes CPNS yang setiap tahun diadakan oleh pemerintah. Selama menunggu tes pasien terus belajar dirumahnya, namun selama 2 tahun pasien menunggu tidak ada lowongan PNS untuk sarjana kesehatan lingkungan yang ia peroleh. Pasien mengatakan bahwa saat itu ia merasa depresi, stres menunggu tes yang belum ada sehingga sering melamun dan tidak mau keluar rumah. Pasien mulai sulit untuk tidur, terlihat murung dan stres memikirkan masa depannya. Saat itu pasien tetap mau makan dan minum walaupun terkadang tidak selera, lebih suka dirumah dan berdiam diri dikamar. Pasien saat itu belum mendengar bisikan-bisikan atau bayangan yang muncul.
Pada tahun 2003, terdapat lowongan PNS untuk jurusannya, tetapi pasien mengatakan ia tidak bisa ikut tes karena merasa terus diganggu oleh suara- suara yang menyuruhnya untuk menyerah dan tidak usah ikut tes karen tidak akan lulus. Pasien mengatakan bahawa suara tersebut mengganggu perasaan, hati, dan otak pasien, sehingga pasien tidak bisa melakukan pekerjaan apapun dan membuat pasien stres dan tidak dapat ikut tes. Pasien saat itu mengurung diri dikamar, murung tidak bersemangat, hanya diam seperti patung dikamar, sulit untuk tidur, tidak mau makan dan mandi, serta tidak mau berbicara satu kata pun. Pasien mengatakan bahwa suara bisikan tersebut menyuruh pasien tutup mulut dan menahan pita suara pasien sehingga membuat pasien tidak bisa berbicara. Bisikan tersebut menahan suara pasien, sehingga pasien tidak bersuara selama 7 tahun dan dikira bisu oleh tetangganya. Selama 7 tahun pasien hanya menggunakan bahasa isyarat jika ingin makan dan minum, pasien dimandikan oleh adik atau ayahnya dan hanya mau berdiam diri dikamar. Pasien kemudian dibawa berobat ke pengobatan alternatif di Manna, tetapi tidak ada perubahan.
Pada tahun 2010, pasien dibawa ke RSJK soeprapto karena pasien lemas tidak mau makan dan minum selama 2 hari. Pasien mengatakan bahwa yang membuat dirinya tidak bisa makan adalah suara bisikan laki-laki yang menahan mulutnya sehingga ia tidak bisa membuka mulutnya untuk makan. Pasien juga masih tetap tidak berbicara dan hanya diam kaku seperti patung saat itu. Pasien kemudian dirawat dan diberi obat di RSJ selama + 1 bulan, selama dirawat pasien mulai bisa tertawa dan tersenyum saat bercanda dengan teman- teman yang lain di bangsal. Kemudian pasien kabur dari RSJ dan pulang kerumah. Pasien sudah mulai mau berbicara satu atau dua kata, tetapi masih banyak diam. Pasien mau makan dan minum tetapi harus diambilkan, pasien mulai mau mandi jika disuruh, namun masih tetap sering berdiam diri dikamar dan melamun. Pasien tidak melanjutkan minum obat dan tidak pernah kontrol ke RSJ lagi.
Pada tahun 2012, pasien mulai mau berbicara dengan keluarganya. Pasien mengatakan bahwa ia harus sembuh dan harus melawan suara bisikan- bisikan yang mengganggunya. Suara bisikan itu masih tetap terus menyuruh pasien untuk tutup mulut, tetapi pasien melawannya dan tidak lagi menuruti perintah suara tersebut. Pasien mengatakan bahwa pasien sudah mulai berani berbicara dan melawan suara itu setelah pasien rutin dirukiah seminggu sekali oleh uztad dari Curup. Pasien juga mulai mau melakukan perawatan diri seperti mandi, makan, minum dan solat, walaupun terkadang pasien tidak bisa solat karena suara- suara yang mengganggunya. Namun pasien masih belum mau keluar rumah dan berinteraksi dengan tetangganya.
Sejak tahun 2013, pasien mulai bisa melakukan aktivitas sehari- hari dan melakukan pekerjaan rumah, seperti mencuci, menyapu, bersih- bersih rumah, dan memasak. Pasien sudah mulai berdandan dengan make up, memakai baju yang cerah, mulai ceria dan sering mengobrol dengan ayah dan adiknya. Pasien juga sudah berani keluar rumah dan pergi ke pasar untuk belanja sayuran ataupun baju baru. Suara bisikan- bisikan yang mengganggunya pun juga sudah mulai berkurang, walaupun terkadang masih mengganggu tetapi pasien masih tetap ceria dan tidak menghiraukan gangguan suara tersebut.
Sejak 2 minggu terakhir pasien merasakan bisikan laki-laki mulai semakin sering mengganggunya sehingga ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kegiatan sehari- hari pasien mulai terganggu karena suara tersebut semakin sering terdengar. Suara tersebut terdengar gaduh, terkadang marah-marah dan menghina serta menyuruh pasien untuk menyerah. Kemudian pasien meminta ayahnya untuk berobat ke poli RSJ, karena pasien ingin berobat supaya bisa tidur dengan nyenyak.
HETEROANAMNESIS
Diperoleh dari ayah kandung pasien, Tn. Sd, berusia 65 tahun, bekerja sebagai pensiunan PNS Departemen xxxxxxxx yang tinggal serumah dengan pasien dari pasien lahir hingga sekarang. Tn. Sd mengatakan bahwa pasien mengeluhkan tidurnya tidak nyenyak terutama seminggu terakhir ini, sehingga pasien memintanya untuk dibawa berobat ke RSJ supaya bisa tenang tidurnya.
Ayah pasien menceritakan bahwa pada tahun 2001, pasien sudah menyelesaikan kuliahnya di Jambi dan pulang ke Bengkulu untuk ikut tes PNS. Pasien saat itu mau tes PNS, tetapi tidak membuka lowongan untuk PNS dengan jurusan kesehatan lingkungan. Pasien sudah berharap banyak untuk bisa jadi PNS dan menjadi orang kaya, pasien juga merupakan murid terpintar dan mendapat peringkat 1 saat kuliah di Jambi, tetapi harapan pasien itu pupus karena tidak ada lowongan PNS untuk jurusannya. Pasien juga menolak untuk bekerja di perusahaan atau ditempat kerja lain, pasien hanya beriskeras ingin menjadi PNS. Sehari-hari pasien tampak murung dan sering berdiam diri di kamar, tetapi masih mau melakukan aktivitas sehari- hari seperti biasa.
Pada tahun 2003 pasien awalnya mulai mengoceh- mengoceh selama 2 hari, pasien tidak berhenti mengoceh dan berbicara sendiri, pasien juga menolak untuk makan dan minum sehingga badan pasien menjadi panas. Kemudian pasien dibawa ke RSUD M.Yunus karena ayahnya mengira ia mengigau karena demam. Namun, dokter di M.Yunus mengatakan bahwa pasien tidak ada menderita penyakit apapun, hanya saja pasien mungkin memiliki gangguan kejiwaan sehingga disarankan untuk berobat ke RSJ, namun pasien menolak untuk dibawa ke RSJ. Keesokan harinya pasien mulai diam seperti patung dikamarnya. Tubuh pasien terlihat kaku, pasien hanya diam tidur dikasur tanpa ekspresi. Pasien juga tidak berbicara dan tidak berespon ketika diajak berbicara oleh ayah dan adiknya. Pasien tidak mau makan, tidak mau mandi dan tidak mau melakukan kegiatan apapun. Jika pasien sudah merasa lapar, maka pasien biasanya menggedor- gedor pintu kamar untuk meminta makan dengan bahasa isyarat. Selama 6 tahun pasien menggunakan bahasa isyarat jika perlu sesuatu dan tidak mau berbicara satu kata pun. Pasien pernah dibawa ayahnya ke RSJ 1 kali pada tahun ketika pasien terlihat lemas karena tidak makan sama sekali selama 2 hari. Pasien pasien dirawat di RSJ selama 1 bulan kemudian pasien kabur pulang kerumah. Pasien berkata kepada ayahnya bahwa ia tidak akan sembuh, dan saat itu pasien sudah sesekali mau berbicara. Namun pasien tetap banyak diam, dan tidak melakukan kegiatan apapun. Kemudian tahun 2011 pasien dibawa berobat ke uztad untuk di rukiyah. Setelah berobat selama + 1 tahun, pasien mulai mau berbicara, mandi, makan dan melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci, menyapu dan memasak. Pasien juga sekarang sudah tampak ceria, mulai berdandan, berjalan dan berbelanja ke pasar, serta menganjurkan adiknya untuk mengecat rumahnya warna warni supaya tampak cerah.
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien belum pernah ada gangguan psikiatri sebelumnya, pasien belum pernah berobat ke rumah sakit jiwa maupun ke psikiater.
2. Riwayat Gangguan Medik
- Pasien tidak ada riwayat gangguan medis, dan pasien belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.
- Tidak ada riwayat hipertensi, tidak ada riwayat diabetes mellitus dan riwayat sakit hipotiroid.

3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol
Riwayat mengkonsumsi alkohol, rokok, dan narkoba tidak ada.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
a. Riwayat pranatal
Pasien lahir cukup bulan dengan persalinan normal ditolong bidan dirumah. Selama kehamilan dan kelahiran tidak ada masalah, ibu pasien sering mengontrol kehamilannnya dengan bidan di posyandu.
b. Riwayat masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi dan balita normal. Pasien minum ASI sejak 0 bulan sampai usia 1 tahun didampingi dengan susu formula. Saat bayi hingga balita pasien diasuh oleh nenek dan bibi nya karena ibu pasien sibuk bekerja.
c. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan padan masa ini normal. Pasien berkembang menjadi anak yang pintar, sering menang ikut lomba menggambar dan lomba cerdas cermat saat SD. Pasien merupakan anak yang pendiam, tidak banyak berbicara, jarang bermain keluar rumah, sehingga tidak memilik banyak teman.
d. Riwayat masa remaja
Pasien saat remaja tetap berkembang menjadi gadis yang pendiam dan pintar. Pasien juga pemalu, sering merasa minder karena pasien bersekolah di SMA favorit, sehingga pasien giat belajar karena pasien akan percaya diri jika ia lebih dari orang lain, terutama dalam hal prestasi di sekolah.  Pasien memiliki seorang teman dekat disekolah, pasien dalam bergaul memilih- milih teman dan tidak pernah pergi bermain keluar rumah dengan teman- teman sekolahnya. Sehari- hari pasien sering dirumah belajar, membaca novel dan buku bioagrafi serta membantu pekerjaan rumah. Pasien juga tidak mempunyai pacar atau teman laki-laki.
e. Riwayat dewasa muda
Setelah tamat SMA, pasien melanjutkan kuliah di Jambi. Pasien disana memiliki banyak teman dan tetap menjadi murid yang paling pintar dikampusnya. Pasien mengatakan bahwa disana saingannya berat, pasien juga merasa ada beberapa teman sekelasnya yang iri terhadap prestasi dirinya dikampus. Pasien juga hanya dekat dengan beberapa orang saja yang dianggap pasien baik dan tidak iri terhadap dirinya. Saat dikampus ada laki-laki yang suka kepada pasien, tapi pasien menolak untuk pacaran karena ingin fokus kuliah dan mengejar cita-citanya.
f. Riwayat pendidikan
Pasien sekolah SD, SMP, dan SMA di sekolah favorit dan selalu mendapat juara di sekolahnya. Pasien merupakan sarjana diploma ilmu kesehatan lingkungan di Universitas Jambi. Pasien tamat dengan nilai yang sangat memuaskan dan mendapat peringkat pertama di Fakultasnya.
g. Riwayat pekerjaan
Pasien setelah tamat kuliah kembali ke Bengkulu dan ingin bekerja menjadi PNS. Namun di Bengkulu tidak membuka lowongan untuk sarjana kesehatan lingkungan, pasien tidak mau mencari pekerjaan lain selain menjadi PNS di Bengkulu. Sehingga pasien merasa frustasi karena ia selama ini sekolah dan kuliah berprestasi, tetapi gagal menjadi seorang PNS. Pasien sampai sekarang tidak bekerja, kebutuhan pasien sehari- hari dipenuhi oleh ayahnya dan adiknya.
h. Riwayat pernikahan
Pasien belum menikah dan belum memiliki anak
i. Riwayat kehidupan beragama
Pasien beragama Islam dan mengaku beribadahnya kurang, pasien sering solat tetapi jarang 5 waktu.
j. Riwayat Psikoseksual
Pasien belum pernah menikah. Pasien belum pernah pacaran hingga sekarang. Saat kuliah ada teman laki-laki pasien yang naksir dan ingin mengajak pasien pacaran, tetapi pasien menolak dengan alasan pasien ingin fokus pada kuliah dan mengejar cita- cita. Saat kuliah juga ada teman sekelas yang ia taksir, tetapi tidak pasien ungkapkan, namun pasien bersikap biasa saja dan tidak merasa sedih. Pasien jarang pergi dengan teman lelaki nya, jika pergi dengan teman laki-laki biasanya hanya untuk mengantar pasien berbelanja.
k. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan terlibat dalam masalah hukum
l. Aktivitas sosial
Pasien jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan tetangga. Pasien jarang keluar rumah, pasien tidak pernah mengobrol dan bercengkrama dengan tetangga. Pasien hanya tersenyum jika ada tetangga yang menegurnya saat ia menyapu teras rumah, tetapi tidak pernah mengobrol dengan tetangga atau teman disekitar rumah.
E. Riwayat Keluarga
Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. Pasien merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Pasien memiliki 1 adik perempuan dan 2 orang adik laki-laki. Adik kedua dan ketiga pasien adalah laki – laki dan perempuan sudah menikah dan tinggal dirumah yang terpisah dengan pasien. Ibu pasien sudah lama meninggal pada tahun 1998 saat pasien kelas 3 SMA karena sakit diabetes mellitus. Saat ibu pasien meninggal pasien merasa sedih, namun tidak sampai membuat pasien depresi dan keadaan pasien baik- baik saja saat itu. Setelah ibu pasien meninggal pasien pergi kuliah ke Jambi. Selama ini pasien tinggal dengan ayah dan adik bungsu pasien yang bekerja sebagai satpam di RSUD M. Yunus. Ayah pasien kemudian menikah lagi dengan janda anak 1 pada tahun 2013 saat pasien sudah mulai berbicara dan bisa melakukan aktivitas sehari- hari. Pasien menerima kehadiran ibu tiri pasien, selama + 1 tahun pasien tinggal dirumah bersama ayah, adik bungsu pasien dan ibu tiri serta anaknya. Namun ayah pasien sudah pindah ke rumah baru bersama istri dan anak tirinya 1 bulan yang lalu. Selama 1 bulan terakhir pasien tinggal hanya berdua dengan adik bungsunya dirumah. Ayah pasien tetap rutin mengunjungi pasien 2 kali dalam seminggu.



Genogram







Keterangan :

 Pasien

 Laki- laki

 Perempuan

 Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien

 Menikah

 Meninggal
                               
F. Situasi Kehidupan Sekarang
Pasien sekarang tinggal dengan adik bungsu pasien yang laki- laki dirumah ayahnya di Panorama. Sebelumnya pasien tinggal bertiga dengan adik bungsu dan ayahnya, kemudian ayahnya 3 bulan yang lalu pindah ke rumah yang baru bersama istri dan anak tirinya. Lingkungan tempat tinggal pasien terkesan baik, pasien tinggal di daerah perumnas yang saling berdekatan rumahnya dengan tetangga, dan hubungan keluarga dengan tetangga pasien baik. Rumah Sakit Umum berada kira-kira 5 kilometer dari rumah pasien. Saat ini pasien tidak bekerja dan setiap hari melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci, menyapu, memasak dan membersihkan rumah. Dalam biaya pengobatan pasien masih umum dan belum menggunakan BPJS, sehingga dikenai biaya yang pasien dapatkan dari adiknya. Hubungan pasien dengan kedua adik dan ayahnya cukup baik, ayahnya juga rutin mengunjungi pasien 2 kali dalam seminggu. Keluarga  pasien cukup terrbuka dan mendukung kesembuhan pasien dengan berkomitmen untuk mengingatkan pasien untuk rutin minum obat hingga kontrol bila obat habis.
G. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya dan Lingkungannya
Pasien terkadang sadar bahwa dirinya sakit dan perlu pengobatan sehingga ia pergi ke Poli RSJ untuk meminta obat penenang supaya bisa tenang dan tidur dengan nyenyak. Tetapi saat diulang pertanyaannya mengenai dirinya, pasien mengatakan bahwa dirinya tidak sakit, pasien berkata bahwa dulu ia stres karena suara- suara yang mengganggunya sehingga ia tidak bisa jadi PNS, sekarang ia hanya ingin obat. Pasien berobat atas kemauan sendiri dan berkomitmen minum obat sesuai anjuran dokter dan bila obat habis pasien ingin kontrol secara suka rela.

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan di rumah pasien pada tanggal 7 Februari 2015, hasil pemeriksaan ini menggambarkan situasi keadaan pasien saat home visit.
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Perempuan berusia 35 tahun, paras sesuai umur dengan postur tubuh yang astenikus (kurus), kesan gizi pasien cukup. Rambut pasien pendek sebahu, dikuncir, dengan poni yang dipotong pendek tidak terlalu rapi. Alis pasien sudah dicukur setengah dan ditebalkan menggunakan pensil alis bewarna hitam dan tampak tidak simetris. Pasien juga memakai lisptik bewarna pink yang tidak rapi di bibirnya. Pasien menggunakan baju bewarna kuning berenda- renda dan celana biru dongker yang mengkilat. Kuku pasien bersih dipotong, tidak menggunakan kutex. Pasien tampak ceria dan tenang.

2. Kesadaran
Kompos mentis, secara kualitas berubah
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Keadaan pasien tenang. Pasien tidak memperlihatkan gerak-gerik yang tidak bertujuan, gerak berulang, maupun gerakan abnormal/involunter.
4. Pembicaraan
• Kuantitas : Pasien dapat menjawab pertanyaan dan dapat mengungkapkan isi hatinya dengan jelas.
• Kualitas : pasien menyambung jika ditanya, dan menjawab pertanyaan dengan spontan, pasien terkadang bercerita dengan spontan tetapi tiba- tiba pasien terdiam dan menunjukan ekspresi seperti ingin menangis, volume bicara terkadang kuat tetapi kadang lemah, intonasi pasien berbicara agak lambat, pengucapan kata jelas dan pembicaraan dapat dimengerti.
• Tidak ada hendaya berbahasa, pasien fasih berbahasa inggris.
5. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif, kontak mata tidak adekuat. Pasien sering kali menjawab pertanyaan tidak melihat kearah pemeriksa. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan baik, walaupun setiap menjawab pertanyaan pasien merespon agak lama dan seringkali saat ditanya terdiam, tampak menunjukkan ekspresi sedih ingin menangis kemudian meminta pemeriksa untuk mengulangi pertanyaannya
B. Keadaan Afektif
1. Mood : Hipomania
2. Afek : Labil
3. Keserasian : tidak serasi
C. Gangguan Persepsi
- Halusinasi auditorik ada  pasien mendengar suara- suara yang mengganggunya, menghina dan menyuruh pasien untuk menyerah
- Halusinasi visual, somatik, dan halusinasi lainnya tidak ada
- Ilusi tidak ada

D. Proses Pikir
1. Bentuk pikir : autistik
2. Arus pikir
a. Produktivitas : pasien dapat menjawab spontan saat diajukan pertanyaan, namun terkadang pasien saat ditanya tiba-tiba terdiam (blocking) kemudian setelah itu bertanya kembali mengenai pertanyaannya.
b. Kontinuitas : Koheren, mampu memberikan jawaban sesuai pertanyaan
c. Hendaya berbahasa : Tidak terdapat hendaya berbahasa
3. Isi pikiran : Waham kontol (+), pasien merasa bahwa pikirannya dikontrol oleh suara bisikan yang terus mengganggunya hingga sekarang.
E. Fungsi Intelektual / Kognitif
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
• Taraf pendidikan
Pasien lulusan D3 Ilmu Kesehatan Lingkungan
• Pengetahuan Umum
Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat siapa presiden Indonesia dan sistem jaminan kesehatan di Indonesia sekarang.
2. Daya konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien kurang, pasien tidak dapat mengurangkan angka 7 dikurang 100, pasien juga tidak bisa mengalikan angka seperti 4x5 atau 5x10, pasien mengatakan tidak bisa fokus merasa bahwa memorinya terganggu oleh suara-suara tersebut.
Perhatian pasien kurang, pasien bisa mengeja kata SEKOLAH tetapi tidak bisa menyebutkan benda-benda yang berawalan huruf A.
3. Orientasi
• Waktu : Baik, pasien mengetahui saat wawancara saat pagi hari
• Tempat : Baik, pasien mengetahui dia sedang berada dirumahnya, dan menjalani pengobatan di RSJ Bengkulu
• Orang : Baik, pasien mengetahui siapa saja saudaranya, siapa saja yang tinggal serumah dengannya, dan mengetahui sedang diwawancara oleh siapa.
• Situasi : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang konsultasi dan  wawancara.
4. Daya Ingat
• Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien masih dapat mengingat dimana pasien bersekolah SD
• Daya ingat jangka menengah
Baik, pasien dapat mengingat kapan ayah pasien menikah lagi
• Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien dapat mengingat makan apa tadi malam
• Daya ingat segera
Baik, pasien dapat mengingat nama pemeriksa  dan dapat mengulang 6 angka yang disebutkan oleh pemeriksa
• Akibat hendaya daya ingat pasien
Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien saat ini.
6. Kemampuan baca tulis: baik
7. Kemampuan visuospatial: baik
8. Berpikir abstrak: baik, pasien dapat menjelaskan persamaan apel dan pir
9. Kemampuan menolong diri sendiri : baik, pasien dapat melakukan perawatan diri sehari- hari secara mandiri seperti mandi, makan, minum, dan melakukan pekerjaan rumah sendiri.
F. Daya Nilai
Daya nilai sosial pasien baik. Uji daya nilai realitas pasien juga baik.
G. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien baik, selama wawancara dapat mengontrol emosinya dengan baik (tidak mengamuk atau menangis)
H. Tilikan
Tilikan derajat 2, karena pasien menyadari bahwa dirinya mengalami stres, tetapi pasien juga merasa bahwa dirinya tidak memiliki sakit dalam kejiwaannya, pasien hanya memerlukan pengobatan untuk dapat tidur dengan nyenyak tanpa diganggu oleh bisikan.
I. Taraf Dapat Dipercaya
Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya cukup akurat, pasien berkata dengan jujur mengenai peristiwa yang terjadi, dan di cross check juga dengan keterangan dari ayah pasien yang menceritakan kejadian yang serupa.

IV. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Generalis
• KU : Tampak Sehat
• Sensorium : CM   (GCS: E4 V5 M6)
Vital Sign
• TD : 120/70 mmHg
• Nadi : 72 x/menit
• RR : 20 x/menit
• Suhu : 36,8 oC

b. Status Internus
Kepala Normocephali, rambut tidak mudah dicabut, pertumbuhan rambut merata, dan warna rambut hitam-putih.
Mata Sklera ikterik -/-, conjungtiva palpbera anemis -/-, edema palpebra -/-
Hidung deformitas (-), tidak ada sekret.
Telinga deformitas (-), liang lapang, pengeluaran sekret (-).
Mulut bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), papil lidah tersebar merata, mukosa lidah merah
Leher Dalam batas normal

Thorax Tidak terdapat scar, simetris kiri dan kanan
Paru I Pernapasan Statis-Dinamis kiri = kanan.
P Tidak dilakukan
P Dalam batas normal
A Dalam batas normal
Jantung I iktus kordis tidak  terlihat
P Tidak dilakukan
P Tidak dilakukan
A Bunyi jantung normal
Abdomen I Datar, tampak benjolan (-)
A Bising usus (+)
P Timpani (+) di seluruh regio abdomen
P Nyeri tekan di reg epigastrium
Ektrimitas Pitting edema (-/-) pada ekstrimitas, akral teraba hangat.
c. Status Neurologis
i. Saraf kranial : dalam batas normal
ii. Saraf motorik : dalam batas normal
iii. Sensibilitas : dalam batas normal
iv. Susunan saraf vegetatif : dalam batas normal
v. Fungsi luhur : dalam batas normal
V. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LANJUT
- pada pasien belum dilakukan pemeriksaan penunjang
- disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah rutin dan urin lengkap
VI. FORMULASI DIAGNOSIS
 Perempuan 36 tahun, belum menikah, tidak bekerja, tinggal dirumah berdua dengan adiknya
 Penampilan manik, perawatan diri pasien baik
 Riwayat stressor : tidak dapat bekerja menjadi PNS
 Pasien kooperatif, kontak mata inadekuat, pembicaraan pasien koheren dan terdapat blocking
 Mood pasien hipomanik, afek pasien labil dan serasi
 Keluhan pertama kali muncul saat pasien berusi 23 tahun dan sudah berlangsung selama + 11 tahun.
 Gangguan pada aktivitas sosial
VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I
F 25.2 Gangguan Skizoafektif Tipe Campuran
Aksis II
Tidak ada
Aksis III
Tidak ada
Aksis IV
Tidak memperoleh pekerjaan
Aksis V
GAF scale 60 – 51
VII. PROGNOSIS
1. Faktor yang memberikan pengaruh baik:
◦ Faktor pencetus jelas yaitu: pasien tidak dapat ikut tes PNS sehingga impiannya menjadi PNS tidak tercapai.
◦ Riwayat premorbid yang baik dalam sosial dan lingkungan perkuliahan saat pasien kuliah di Jambi.
◦ Dijumpai adanya simptom depresi
◦ Adanya gejala positif yaitu adanya halusinasi dan waham
◦ Support keluarga yang baik terhadap kesembuhan pasien
2. Faktor yang memberikan pengaruh buruk:
◦ Gangguan terjadi saat usia muda
◦ Gangguan sudah terjadi selama 12 tahun
◦ Pasien memang dikenal sebagai anak yang pendiam dan tidak memilik banyak teman
◦ Tidak menikah
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah dubia ad bonam
Sehingga kesimpulan prognosis pada pasien berdasarkan wawancara diatas sebagai berikut :
Quo Ad Vitam : Ad bonam
Quo Ad Functionam : Ad bonam
Quo Ad Sanationam : Dubia Ad malam
VIII. Terapi
• Psikofarmaka
o Risperidone tablet 2 x 2 mg
o Trihexylphenidil talet 2 x 2 mg
• Psikoterapi & Edukasi
Psikoterapi yang diberikan pasien adalah psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan terapi kognitif-perilaku.
- Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens (pertahanan) pasien terhadap stres. Hal ini dilakukan mengingat toleransi (kemampuan) pasien mengahadapi stres (tekanan, kecewa, frustasi) rendah. Selain itu pasien mudah stres, mengurung diri dikamar, tidak mau makan dan minum bila ada masalah. Perlu diadakannya terapi untuk meningkatkan kemampuan pengendalian diri dan menghadapi masalah.
- Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk meningkatkan insight (pengetahuan pasien) terhadap penyakitnya serta mengembangkan kemampuannya untuk menunjang penyembuhan dirinya. Selain itu juga meningkatkan pengetahuan keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien. Peningkatan pengetahuan dilakukan dengan edukasi baik terhadap pasien maupun keluarga.
- Psikoterapi rekonstruktif bertujuan untuk dicapainya tilikan akan konflik-konflik nirsadar dengan usaha untuk mecapai perubahan struktur luas kepribadian. Membangun kembali kepercayaan diri pasien, menjelaskan kepada pasien bahwa pasien memiliki bakat (seperti fasih dalam berbahasa inggris) untuk mencari pekerjaan lain yang diminati oleh pasien. Menolak semua pikiran negatif mengenai dirinya, dan menyarankan untuk tidak menghiraukan suara halusinasi yang menggganggu tersebut. Menyarankan pasien untuk ikut kegiatan arisan, atau pengajian di mesjid untuk bisa lebih berinteraksi dengan lingkungan sekitar rumah.
Edukasi
o Menyarankan kepada keluarga untuk pentingnya dukungan kepada pasien, jangan membatasi aktivitas pasien secara wajar, ajak pasien bergembira, kurangi hal-hal yang dapat meningkatkan stresor.
o Berdiskusi terhadap pentingnya pasien untuk teratur minum obat dan kontrol selain itu kembali menyibukan diri seperti aktivitas dulu, kembali melakukan hal-hal yang menyenangkan, jangan menyimpan emosi, bila mungkin bisa kontrol ke psikiater.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

GANGGUAN SKIZOAFEKTIF
A. Definisi6
Gangguan skizoafektif adalah kelainan mental yang rancu yang ditandai dengan adanya gejala kombinasi antara gejala skizofrenia dan gejala gangguan afektif. Penyebab gangguan skizoafektif tidak diketahui, tetapi empat model konseptual telah diajukan, antara lain:
1. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu tipe gangguan mood
2. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari skizofrenia dan gangguan mood
3. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang berbeda, tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu gangguan mood
4. Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan yang pertama. 6
B. Patofisiologi
Pada prinsipnya patofisiologi dari skizoafektif sama dengan skizofrenia yaitu dimana mungkin melibatkan ketidakseimbangan neurotransmiter di otak, terutama norepinefrin, serotonin, dan dopamine.6 Namun, proses patofisiologi gangguan skizoafektif masih belum diketahui secara pasti. Penelitian yang mempelajari fungsi neurotransmitter pada penderita gangguan skizoafektif sangatlah sedikit, dan kebanyakan menggunakan sampel dari cairan serebrospinal atau plasma. Telah dilaporkan pola abnormalitas neurotransmiter yang serupa antara penderita gangguan skizoafektif, skizofrenia, dan gangguan bipolar. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kadar norepinefrin, prostaglandin E1 dan platelet 5HT pada pasien skizofrenia dan skizoafektif.1
Secara umum, penelitian-penelitian telah menemukan bahwa gangguan skizoafektif dikaitkan dengan penurunan volume otak, terutama bagian temporal (termasuk mediotemporal), bagian frontal, termasuk substansia alba dan grisea. Dari sejumlah peneltian ini, daerah otak yang secara konsisten menunjukkan kelainan adalah daerah hippocampus dan parahipocampus.1 Pada penelitian neuroimaging pasien dengan gangguan skizoafektif, ditemukan penurunan volume thalamus dan deformitas thalamus yang serupa dengan pasien skizofrenia, tetapi abnormalitas pada nucleus ventrolateral penderita gangguan skizoafektif tidak separah penderita skizofrenia. Penderita skizoafektif juga menunjukkan deformitas pada area thalamus medius, yang berhubungan dengan sirkuit mood.7
Penelitian genetik penderita gangguan skizoafektif cenderung menunjukkan adanya gangguan afek dan skizofrenia pada sanak saudara penderita. Hodgkinson dkk (2004) melaporkan bahwa penderita gangguan skizoafektif memiliki gangguan pada kromosom lq42, yaitu abnormalitas pada DISC 1 (Disrupted-In-Schizophrenia-1). DISC 1 berfungsi dalam perkembangan neuron dan diekspresikan pada lobus frontal. Abnormalitas pada gen ini juga menyebabkan disfungsi pada regulasi emosi dan proses informasi.3  
C. Pedoman Diagnostik5
Menurut PPDGJ-III
1. Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan, atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif.
2. Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda.
3. Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (depresi pasca-skizofrenia).
Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F 25.1) atau campuran dari keduanya (F 25.5). Pasien lain mengalami satu atau dua episode skizoafektif terselip diantara episode manik atau depresif (F30-33)
D. Klasifikasi5
1. Gangguan Skizoafektif Tipe Manik (F25.0)
Pedoman diagnostik:
a. Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manik yang tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe manik
b. Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tak begitu menonjol dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak.
c. Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas (sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia)
2. Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif (F25.1)
Pedoman diagnostik:
a. Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresif yang tunggal, dan untuk gangguan berulang dimana sebagian besar episode didominasi oleh skizoafektif tipe depresif
b. Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya dua gejala khas, baik depresif maupun kelainan perilaku terkait seperti tercantum dalam uraian untuk episode depresif (F.32)
c. Dalam episode yang sama, sedikitnya harus jelas ada satu, dan sebaiknya ada dua gejala khas skizofrenia (sebagaimana ditetapkan dalam pedoman diagnosis skizofrenia (F.20).
3. Gangguan skizoafektif tipe campuran (F25.2)
Gangguan dengan gejala-gejala skizofrenia berada secara bersama-sama dengan gejala-gejala afektif bipolar campuran (F31.6)
4. Gangguan skizoafektif lainnya (F25.Cool
5. Gangguan skizoafektif YTT (F25.9)
E. Penatalaksanaan
Penanganan pasien gangguan skizoafektif meliputi :
1. Farmakoterapi6
a. Gejala manik : antimanik
b. Gejala depresi : antidepresan
Pasien dengan gangguan skizoafektif, tipe depresif, harus diberikan percobaan anti depresan dan terapi elektrokonvulsan (ECT) sebelum mereka diputuskan tidak responsif terhadap terapi anti depresan.
c. Gejala bipolar : antipsikotik. harus mendapatkan percobaan lithium, carbamazepine (Tegretol), valporate (Depakene), atau suatu kombinasi obat-obat tersebut jika satu obat saja tidak efektif.
2. Psikoterapi6
a. Psikoterapi suportif
Psikoterapi ini dapat dilakukan dengan bimbingan, reassurance, serta terapi kelompok
b. Psikoterapi reedukatif
1) Terhadap Pasien :
a) Memberikan informasi kepada pasien dan edukasi mengenai penyakit yang dideritanya, gejala-gejala, dampak, faktor-faktor penyebab, pengobatan, komplikasi, prognosis, dan risiko kekambuhan agar pasien tetap taat meminum obat dan segera datang ke dokter bila timbul gejala serupa di kemudian hari
b) Memotivasi pasien untuk berobat teratur
c) Mengajarkan terapi relaksasi pada pasien saat pasien marah ataupun akan marah sehingga diharapkan pasien dapat mengontrol marahnya dan mengemukakan amarahnya dengan cara yang lebih halus.
2) Terhadap Keluarga :
a) Memberikan edukasi dan informasi mengenai penyakit pasien, gejala, faktor-  faktor pemicu, pengobatan, komplikasi, prognosis, dan risiko kekambuhan di  kemudian hari.
b) Menjelaskan kepada keluarga bahwa salah satu faktor pemicu penyakit pasien saat ini adalah keluarga pasien yang mengabaikan pasien
c) Meminta keluarga untuk mendukung pasien pada saat-saat setelah sakit agar pasien dapat mengalami remisi.
F. Prognosis
Prognosis buruk pada pasien dengan gangguan skizoafektif umumnya dikaitkan dengan sejarah premorbid yang buruk, onset yang tidak diketahui, tidak ada faktor pencetus, psikosis yang dominan, gejala negatif, onset awal, kekambuhan yang tak henti-hentinya, atau mereka yang memiliki anggota keluarga dengan skizofrenia.2


BAB III
PEMBAHASAN

Dari hasil wawancara, tidak ditemukan kelainan fisik yang berhubungan dengan gejala-gejala psikiatrik yang dialami pasien, seperti riwayat trauma atau gangguan otak.  Dengan demikian, diagnosis banding gangguan mental organik (F0) dapat disingkirkan.
Selain itu, tidak ditemukan riwayat konsumsi alkohol,merokok dan zat psikoafektif. Dengan demikian, diagnosis banding gangguan mental akibat penggunaan zat (F1) dapat disingkirkan.
Melalui hasil wawancara, ditemukan adanya gangguan psikotik yang muncul pertama kali saat pasien berusia 23 tahun yaitu sejak 12 tahun yang lalu, yaitu adanya halusinasi auditorik dan waham yang menetap selama lebih dari 1 bulan. Juga terdapat perilaku katatonik seperti stupor, mutisme, negativisme, dan perilaku rigiditas selama lebih dari 1 bulan, dimana terjadi penurunan fungsi sosial dan okupasi yang sebelumnya normal dan semua gejala diatas yang terjadi lebih dari 6 bulan. Selain memenuhi kriteria gejala skizofrenia, juga terdapat adanya gangguan afektif yang sama-sama menonjol yang terjadi bersamaan dengan fase aktif, maka dari itu diagnosis skizoafektif dapat ditegakkan.6
Pada pasien ini skizoafektif yang dialami adalah tipe bipolar episode campuran, karena menunjukkan gejala-gejala hipomanik dan tampilan yang manik, dan depresi yang bersama- sama mencolok selama episode penyakit sekarang dan telah berlangsung lebih dari 2 minggu. Pada pasien ini terlihat 1 tahun terakhir pasien mulai rajin membersihkan rumah, mencuci, dan memasak. Selain itu penampilan pasien terlihat manik dan suka memakai baju yang nyentrik serta mengubah tampilan rumahnya menjadi cat rumah yang nyentrik dan cerah. Namun, pasien juga terkadang melamun, tidak melakukan pekerjaan rumah ketika mendengar suara- suara, menarik diri dari lingkungan sosial, serta tidak ada minat lagi untuk mencari pekerjaan. Pasien juga saat diwawancara menunjukkan afek yang labil, terkadang pasien bersemangat dan tersenyum serta tertawa saat bercerita, kemudian tiba- tiba pasien tampak murung, diam dan menunduk seperti ingin menangis, sesaat kemudian kembali ceria.6
Pada pasien ini diberikan risperidon tablet yaitu antipsikotik atipikal yang memiliki efek sedasi dan efek ekstrapiramidal yang kecil. Obat ini mempunyai afinitas tinggi terhadap reseptor serotonin (5HT2) dan aktivitas menengah terhadap reseptor dopamin (D2), α1 dan α2 adrenergik, serta histamin. Dengan demikian obat ini efektif baik untuk gejala positif (waham, halusinasi), maupun gejala negatif (upaya pasien yang menarik diri dari lingkungan). Risperidon dimetabolisme di hati dan diekskresi di urin. Dengan demikian perlu diadakan pengawan terhadap fungsi hati. Secara umum risperidon ditoleransi dengan baik. Efek samping sedasi, otonomik, dan ekstrapiramidal sangat minimal dibandingkan obat antipsikosis tipikal. Dosis anjurannya adalah 2-6 mg/hari. Pada pasien ini diberikan dosis 2x3 mg/hari karena pada dosis yang lebih rendah 2x2 mg pasien tidak merasakan manfaatnya.4,8
Tablet trihexyphenidyl diberikan jika efek ekstrapiramidal muncul. Gejala tersebut seperti distonia akut, akatisia dan sindrom parkinsonisme (tremor,bradikinesia,rigiditas). Obat ini tergolong obat antikolinergik sehingga efek terhadap gejala ektrapiramidal.4
Pada pasien ini sudah tepat untuk pengobatan gejala bipolarnya dengan diberikan antipsikotik untuk menghilangkan gejala positif dan negatif yang ada pada pasien. Namun, perlu dipertimbangkan untuk penambahan obat mood stabilizer seperti lithium atau asam valproat untuk mengatasi gangguan mood atau afeknya apsien yakni episode manik dan depresif. Asam valproat diindikasikan pada gangguan afektif bipolar (kombinasi dengan litium) dan skizoafektif. Obat ini lebih efektif pada rapid cycling yang terjadi pada pasien dibandingkan litium sehingga dijadikan pilihan utama pada gangguan afektif dengan ciri rapid cycling . Pembuktian terakhir menndapatkan bahwa asam valproat lebih efektif menangani episode depresi dibandingkan litium dan karbamazepin. Mekanisme keefektivitasannya dalam gangguan psikiatri masih belum diketahui. Obat ini dimetabolisme oleh hati melalui sistim beta-oksidasi, glukuronidasi, dan sitokrom P450. Adapun efek samping yang sering terjadi antara lain gangguan gastrointestinal, hati (hepatitis), darah (trombositopenia), dan saraf (ataksia, tremor). Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan fungsi hati dan hematologi secara berkala.4,8
DAFTAR PUSTAKA

1. Abrams, DJ., Rojas, DC., Arciniegas, DB. 2008. Is Schizoaffective disorder a distinct clinical condition?. Journal of Neuropsychiatric Disease and Treatment, 4(6) 1089–1109
2. Brannon GE, MD. 2012. Schizoaffective Disorder.
   http://emedicine.medscape.com/article/294763-overview#aw2aab6b2b5aa
3. Ishizuka K, Paek M, Kamiya A, et al. 2006. A review of Disrupted-In-Schizophrenia-1 (DISC1): neurodevelopment, cognition, and mental conditions. Biol Psychiatry, 59:1189–97.
4. Maslim R. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya
5. Maslim R. (editor). 2002. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari  PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya
6. Sadock BJ, Kaplan HI, Grebb JA. 2003. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri Klinis Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.
7. Smith MJ., Wang L., Cronenwett W., Mamah D., Barch DM., Csernansky JG. 2011. Thalamic Morphology in Schizophrenia and Schizoaffective Disorder. J Psychiatr Res. 45(3): 378–385.
8. Albers J L, Hahn RK, Reist C. Handbook of Psychiatric Drugs. 2005 edition. Current Clinical Strategies Publishing. Diunduh dari: www.ccspublishing.com/ccs

fannykinasih

Posts : 7
Reputation : 0
Join date : 2015-03-08

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum